
Lala tiba tempat kost Nova.Lala mengedarkan pandangannya.Mungkin sekitar lima kamar berjajar mengahadap ke depan dan lima lagi menghadap ke samping seperti membentuk huruf L dengan bentuk dan warna yang hampir semuanya terlihat sama dari luar.
Lala berdiri di depan salah satu kamar tersebut.Mulai sekarang dia akan tinggal di sini bersama Nova, suaminya.Saat ini dia hanya membawa beberapa buah baju ganti karena besok masih akan pulang ke rumahnya untuk mengurus banyak hal.
Nova mempersilahkannya masuk.Lala bergegas masuk dan memandangi sekeliling.Tidak begitu luas, ada kamar mandi di sudut kamar, kasur berukuran sedang, sebuah lemari.Tidak ada TV apalagi AC, yang ada hanya sebuah kipas angin berukuran kecil.
"Kamu tidak keberatan kan tinggal di sini?" tanya Nova.
"Tidak ... tidak apa-apa," jawab Lala sambil terus memandangi sekeliling.
"Kita akan pindah nanti jika aku sudah punya uang."
"Kamu punya uang, tapi kamu berikan padaku untuk membeli keperluan pernikahan." Lala mengambil dompetnya dan mengeluarkan kartu ATM yang beberapa waktu lalu diberikan oleh Nova.
"Ini aku kembalikan, mungkin tinggal beberapa juta saja di dalamnya.Maaf ... aku sudah menghabiskan uangmu," ucap Lala lirih.
"Tidak apa-apa, kamu simpan saja.Mulai sekarang kamu yang pegang kartu itu.Tiap bulan gajiku dari Plaza Z ditransfer ke rekening itu.Kamu boleh menggunakannya."
Sebenarnya Lala masih punya sedikit tabungan.Gajinya dulu di Plaza Z bisa tiga kali lipat gaji Nova.Dan tabungannya itu bisa digunakan untuk mencari tempat tinggal atau sekedar kontrakan yang lebih luas dan layak dibandingkan kamar kost Nova sekarang.
Tapi Lala tidak mau menyinggung perasaan Nova.Menawarkan tabungannya untuk mencari tempat tinggal lain mungkin bisa dianggap merendahkan harga diri Nova sebagai seorang laki-laki.Lala akan bertahan di sini.Nova adalah suaminya sekarang, jadi dia akan mengikuti dimana suaminya tinggal.
Nova diam-diam memperhatikan Lala.Dia menyadari jika Lala kurang begitu nyaman dengan kamar kost ini.
Bertahanlah di sini.Aku hanya ingin menguji mu sebentar.Kita akan ke rumah Oma jika sudah waktunya. Batin Nova.
"Nova ... apa nanti aku boleh kerja?" tanya Lala. Dia harus minta ijin suaminya atas hal apapun sekarang.
"Tentu saja, kamu boleh melakukan apapun yang kamu suka.Memangnya kamu sudah tau mau kerja dimana setelah ini?"
Lala menggeleng."Tapi aku yakin akan segera mendapat pekerjaan," katanya mantap.
"Kamu bisa tetap membantu bapak dan ibu di toko kalau kamu mau."
"Sepertinya tidak bisa, nanti aku tidak bisa mandiri dan terus bergantung pada orang tuaku."
"Kalau begitu kamu bisa melamar kerja di Hotel X, itu kalau kamu mau ..., sepertinya mereka membuka lowongan pekerjaan."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Coba saja besok kirim surat lamaranmu kesana."
"Baiklah."
"Ini sudah malam, kamu pasti capek ... Kamu tidurlah di kasur, biar aku tidur di sini," Nova menunjuk karpet di samping kasur busa mereka.
Lala hanya mengangguk.Antara lega dan penasaran.Lega karena dia memang belum siap untuk melakukan hubungan suami istri dengan Nova, tapi hatinya juga terus bertanya kenapa Nova tidur terpisah darinya, apakah Nova tidak ingin menyentuhnya.
Ini seharusnya jadi malam pertama mereka tapi dua orang ini justru menghabiskan waktunya untuk mengobrol.Tapi ini adalah hal yang baik menurut Nova, setidaknya untuk bisa mendapatkan hati Lala.
Pagi harinya Nova terbangun tidak mendapati Lala di tempat tidur.Sepertinya Lala sedang di kamar mandi.Tak berapa lama Lala keluar dari kamar mandi.
Dia hanya mengenakan handuk yang dia lilitkan ke badannya.Pundaknya yang putih terekspose sempurna, di tambah rambutnya yang basah membuat Lala terlihat semakin seksi.Nova yang baru saja bangun tidur tidak berkedip melihat Lala.Naluri kejantanannya muncul dan tentu saja membuat juniornya menegang.
"Kamu sudah selesai?"
Lala mengangguk.Nova segera berlari masuk kamar mandi, bukan karena "panggilan alam" tapi karena panggilan juniornya yang meronta-ronta setelah melihat Lala.Nova terpaksa menyalurkannya sendiri di kamar mandi.
"Bisa gila aku kalau lama-lama melihatnya seperti itu," gumam Nova di dalam kamar mandi.
Nova keluar dari kamar mandi setelah menyalurkan kebutuhan batinnya.Dia melihat Lala sudah berdandan rapi.
"Di gang depan ada warung makan yang buka pagi.Kamu di rumah saja biar aku belikan."
"Oke ..." Lala tersenyum.
Tak berapa lama Nova sudah pulang membawa dua buah nasi bungkus.
"Kamu doyan makanan seperti ini kan?" tanya Nova ragu.
"Pertanyaan apa itu Nov, aku doyan apapun selama itu bisa dimakan."
Nova tersenyum.Sebenarnya tidak ada yang perlu diragukan dari Lala.Dia benar-benar tidak seperti gadis kebanyakan.
"Kamu sudah rapi sekali," ucap Nova.
"Sesuai saranmu semalam, aku akan memasukkan surat lamaran ke hotel X.Setelah itu aku akan ke rumah ibu.Boleh kan?"
"Tentu saja boleh.Mau aku temani?"
__ADS_1
"Kamu tidak bekerja?"
"Aku masuk siang."
"Kalau begitu biar aku ke rumah ibu sendirian saja.Aku akan lama di sana."
"Terserah kamu saja ... Katakan padaku kalau kamu butuh sesuatu."
Lala hanya mengangguk.
"Aku pergi dulu," ucap Lala setelah menghabisakan sarapannya.
Sebenarnya agak kikuk tapi Lala mengulurkan tangannya.Nova sendiri awalnya tidak mengerti maksud Lala, hingga akhirnya dia paham, Lala hanya ingin bersalaman dan mencium tangannya sebelum pergi.Mungkin Nova lupa,dia adalah suami Lala sekarang.
Setelah kepergian Lala, nova meraih hpnya.dan menghubungi orang kepercayaannya di hotel X.
"Halo ..."
"Sebentar lagi istriku akan ke sana memasukkan surat lamaran.Langsung terima saja dan tempatkan di bagian yang tidak banyak bertemu orang."
"Baik Tuan."
Nova menutup telefonnya.Hotel X adalah milik almarhum mamanya dan sudah diwariskan padanya.Hanya saja Nova belum berniat untuk mengurusnya dan selama ini di urus oleh pamannya.
Sementara itu Lala sudah sampai di Hotel X untuk memasukkan lamaran kerjanya.Dia masuk lewat pintu khusus karyawan.
Entah hanya perasaan Lala saja atau memang seperti ini cara kerja mereka, tapi Lala seperti di sambut di sana.Dua orang security menunggunya di depan pintu dan mempersilahkan dia masuk.Mereka ramah sekali dan memperlakukan Lala dengan hormat.
Lala langsung diantar ke bagian personalia dan langsung di interview.
. . . .
"Baiklah Viola ... Kamu diterima, nanti di tempatkan di bagian pembukuan dan besok pagi sudah bisa mulai bekerja."
"Baik Bu." Lala mengangguk walaupun sedikit bingung.
Pertanyaan yang diajukan hanya pertanyaan standar dan Lala langsung di terima bekerja.Sangat aneh sekali menurutnya.Lala pernah di posisi personalia, dia tahu prosedur penerimaan pegawai baru dan ini sama sekali tidak sesuai prosedur.
Terserah saja, yang penting besok aku sudah mulai kerja. Batin Lala.
__ADS_1