Menikah Tak Harus Cinta

Menikah Tak Harus Cinta
Jam Makan Siang


__ADS_3

Hari berikutnya Lala masuk kerja seperti biasa.Nanti sore Lala berencana untuk menemani ibunya menjaga Pak Fajar di rumah sakit, bergantian dengan Mas Fadil.


Ada yang mengetuk pintu ruangan Lala, kemudian kepala Riris menyembul dari balik pintu.


"Ayo ke kantin, sudah jam makan siang," ajak Riris.


Lala melongo.


"Tumben kamu ngajak aku ke kantin, ngga takut sama Adit?"


"Memangnya dia ada? Bukankah dari pagi dia tidak kelihatan?"


"Benarkah?" Lala balik bertanya.


"Kok bisa kamu sampai ngga tau Adit ngga ada?"


Kenapa dia? Bukankah kemarin dia bilang hanya tidak masuk sehari? Ah ... Biarkan saja.Lagi pula aku harus menjauhinya mulai dari sekarang.


Begitu banyak hal memenuhi pikiran Lala hingga dia tidak menyadari jika sejak pagi dia belum bertemu Adit.


"Malah ngelamun ... Woii ayo ke kantin!"


"Eh ... Iya." Lala segera melangkah bersama Riris menuju kantin.


Suasana kantin tidak begitu ramai karena banyak pegawai yang libur saat weekday.Kebanyakan pegawai Plaza Z pantang libur saat weekend kecuali bagian administrasi dan kantor.


"Kamu ada masalah?" Riris mulai bertanya sambil menikmati makan siangnya.


"Apa begitu kelihatan?"


Riris mengangguk.


"Sudah dari kemarin aku perhatikan wajahmu murung.Aku tahu kamu pasti ada masalah.Ceritalah ... Mungkin aku bisa bantu!"


Lala diam sebentar.


"Bapak masuk rumah sakit," ucap Lala lirih.


"Sejak kapan? Sakit apa?" tanya Riris kaget.


"Sejak kemarin siang.Sebenarnya bukan itu saja yang ingin kuceritakan, tapi aku tidak bisa cerita di sini.Banyak sekali masalah hingga rasanya aku tidak sanggup lagi."


"Bagaimana kalau nanti sepulang kerja kita makan es krim? Biasanya itu bisa membuatmu rileks?"


Lala menggeleng.


"Tidak bisa, nanti sore aku mau menunggu bapak di rumah sakit."


"Oh ... Maaf, aku lupa."


* * * *


Adit uring-uringan sendiri di kamarnya.Ruam merah di sekujur tubuhnya belum sepenuhnya hilang.Jadi dia tidak berani berangkat kerja karena Lala pasti membullynya.


"Ah ... Sial! Kenapa sih ini ngga ilang-ilang?"Adit terlihat kesal memandangi tubuhnya di cermin.

__ADS_1


"Kemana dia? Ini kan jam makan siang, kenapa dia tidak menanyakan keberadaanku? Apa dia tidak merasa kehilangan aku?" Adit bicara dengan bayangannya sendiri di cermin.


"Aku memikirkannya siang dan malam tapi dia bahkan tidak ingat padaku sama sekali.Awas saja nanti kalaunaku sudah berangkat kerja!" Kekesalan Adit semakin menjadi-jadi.


"Adit ... Mama mau bicara!" Terdengar suara Nyony Andreas memanggil dari luar pintu.


Mau apa lagi dia?


Adit mendengus kesal tapi tetap berjalan membuka pintu kamarnya.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Nyonya Andreas yang masih berdiri di depan kamar Adit.


"Bicara saja," jawab Adit malas.


"Aku menunda kedatangan Denise ke sini.Kita tunggu sampai ruam di tubuhmu itu hilang."


"Aku tidak peduli."


Nyonya Andreas mengambil nafas dalam.Dia berusaha bersabar menghadapi sikap Adit.


"Ada yang lain?" tanya Adit dingin.


"Adit!!! Tidak bisakah kamu sopan sama Mama?!" tanya Nyonya Andreas.Dia sudah hampir kehilangan kesabarannya.


Adit diam.Dia memalingkan wajahnya, seolah tidak ingin menatap wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Aku mau tidur!" Adit hampir menutup pintu kamarnya.


"Apa ini karena gadis kecilmu itu?" tanya Nyonya Andreas sinis.


"Jangan campuri urusan pribadiku!" Adit menekankan suaranya.


"Jadi benar kamu punya hubungan dengan gadis itu?" tanya Nyonya Andreas.Pertanyaan itu semakin memancing kemarahan Adit.


"Itu bukan urusan Mama! Jangan ganggu dia!"


"Mama tidak bisa janji kalau kamu tetap seperti ini!" Nyonya Andreas bicara dengan nada mengancam kemudian pergi meninggalkan Adit.


Adit mengepalkan tangannya, menahan emosi yang membara di dadanya saat ini.Dia tahu ancaman mamanya tidak pernah main-main.Mamanya bisa saja melakukan hal buruk pada Lala.


* * * *


Triing... Notifikasi pesan masuk.


Lala membuka hpnya, membaca pesan yang baru saja dia terima.


"Sayang ... Makan dulu ..."


Bisa ditebak siapa pengirimnya.Lala mendengus.


"Menambah beban pikiranku saja," gerutunya kesal.Lala menutup hpnya kembali.Raut wajahnya semakin terlihat murung.


"Ada apa lagi?" tanya Riris.


"Mas Juna sering mengirimiku pesan akhir-akhir ini."

__ADS_1


Riris melongo, "kamu serius?"


Lala mengangguk.


"Apa dia benar-benar tidak punya malu? Aku sudah bilang padamu pasti ancamanmu waktu itu tidak akan berhasil.Apa isi pesan-pesannya?"


"Sekedar basa-basi, sudah makan belum, lagi apa, aku kangen, semacam itu," jawab Lala.


Dulu setiap kali aku menerima pesan darinya , hatiku berbunga-bunga.Seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutku.Seperti ratusan bunga matahari mekar bersamaan di hatiku.Andai saja dia dulu sering mengirimiku pesan seperti yang dia lakukan saat ini, pasti aku akan rela menunggunya seumur hidupku.Dan sekarang sudah terlambat.Pesan-pesan yang sekarang dia kirimkan sudah tidak ada artinya bagiku.


"Dan kamu membalasnya?"


"Tentu saja tidak.Aku sama sekali tidak ada niat untuk kembali padanya.Tapi ...." Lala tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tapi apa?"


"Sudahlah ... Lupakan ...."


Bagaiman jika penyakit bapak tidak sembuh? Bagaimana jika usia bapak sudah tidak lama lagi dan aku masih belum menikah? Aku tidak mungkin menikah dengan Adit, apalagi Rizal.Apa aku harus kembali pada Juna? Setidaknya aku pernah mencintainya.Dan pesan-pesan ini, bukankah ini tanda kalau dia masih ingin bersamaku?


"La ... Kamu ngga apa-apa?" Suara Riris membangunkan Lala dari lamunanya.


"Eh ... Iya ... Ada apa?"


"Kamu ngelamun lho barusan."


"Benarkah?"


"Kok malah nanya? Kan kamu yang ngelamun?"


"Oh ... mungkin saja." Lala jadi seperti orang ling-lung.


"Sebaiknya kita kembali ke kantor," ajak Riris.Lala mengangguk.


Di ruang kerja Lala,


"Sekarang ceritalah! Jangan dipendam sendiri," bujuk Riris.


Lala sendiri bingung mau cerita dari mana.


"Kemarin Nyonya Andreas ke sini.Dia memintaku untuk menjauhi Adit karena Adit sudah tunangan."


"Tunggu ... tunggu ... Memangnya apa hubungannya kamu sama Adit?" Riris tidak mengerti maksud Lala.


"Aku juga tidak tahu hubunganku dengan Bang Adit.Kami dekat tapi kami tidak pacaran.Dia menyatakan cintanya padaku dan aku juga menyayanginya.Tapi itu sebelum aku tahu kalau dia sudah punya tunangan."


"Dan Nyonya Andreas mengetahui hubungan kalian?"


"Sepertinya begitu.Nyonya Andreas tahu apa yang kulakukan bersama Adit, dia juga tahu kemana saja aku pergi bersama Adit."


"Oh ... Jadi benar berita yang beredar di group, ada yang melihat Nyonya Andreas kemarin."


"Sebenarnya ini yang kedua kalinya Nyonya Andreas menemuiku.Sebelumnya dia sudah pernah memperingatkanku untuk menjauhi Adit.Tapi waktu itu aku masih ragu dengan perasaanku kepada Adit, jadi aku bilang saja kalau aku dan Adit hanya teman.Dan Nyonya Andreas percaya."


"Sejak awal aku sudah curiga.Dari cara Adit memandangmu itu mengungkapkan semuanya.Jadi, kamu mau bagaimana sekarang?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, insiden dengan kekasih Rizal, peringatan dari Nyonya Andreas kemudian bapak masuk rumah sakit, semuanya terjadi hampir bersamaan membuatku tidak bisa berpikir jernih."


__ADS_2