
Hari ini Nova tidak pergi kemana-mana.Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Lala karena besok adalah hari ulang tahun istrinya itu.
"Apa kamu ingin merayakan ulang tahunmu?" tanya Nova. "Kita bisa membuat pesta di sini."
"Aku tidak suka pesta Nova, lagian aku juga tidak punya teman di sini."
"Kita bisa mengundang teman-temanmu kesini.Bapak ibu juga."
"Benarkah? Apa tidak apa-apa?" Lala mengerutkan keningnya. "Sepertinya tidak perlu," lanjutnya.Kemudian wajahnya terlihat murung.Nova menyadari perubahan raut wajah istrinya.
"Lalu kamu ingin apa untuk ulang tahunmu nanti?"
"Kamu akan mengabulkannya?"
Nova mengangguk.
"Boleh aku membuat bingkisan untuk anak-anak panti seperti waktu itu?"
"Kamu ingin itu?" Lala mengangguk mantap.
"Tidak perlu menunggu hari ulang tahunmu kalau untuk memberi anak-anak bingkisan.Kamu bisa memberinya kapanpun kamu mau."
"Tapi aku ingin membuat sendiri bingkisannya dan memilih sendiri barang-barangnya.Boleh?"
"Terserah kamu saja."
"Kali begitu aku harus mulai mencatat apa saja yang harus ku beli." Lala bergegas mengambil kertas kosong dan mulai menulis apa yang dia inginkan.Sementara Nova hanya memperhatikan tingkah istrinya itu.
Setelah selesai mencatat Lala langsung menunjukkannya kepada Nova. "Ini barang-barang yang ingin aku beli."
"Kamu ingin kita membelinya sekarang?"
Lala mengangguk antusias. "Iya sekarang, besok kan sudah harus diberikan ke panti."
"Baiklah, aku akan mengantarmu.Kamu siap-siap dulu, aku akan minta sopir menyiapkan mobil."
* * * *
Lala dan Nova sudah kembali dari berbelanja barang-barang yang tadi dicatat oleh Lala.Barang-barang itu kini memenuhi ruang keluarga dan siap untuk dikemas menjadi bingkisan yang menarik dan pasti disukai anak-anak.
Lala segera mengemasi barang-barang tersebut.Dibantu beberapa pelayan di rumah dan juga Nova.
"Bukankah kita bisa pesan yang sudah jadi? Banyak yang menawarkan paket bingkisan seperti ini, jadi kita tidak perlu repot-repot begini." Nova terlihat kesal karena sejak tadi bingkisan yang dia buat tidak menunjukkan hasil yang rapi.
__ADS_1
"Kalau ngga mau bantu ngga usah bantu!" Lala mengambil paksa bingkisan yang sedang dikerjakan oleh Nova.
"Siapa yang bilang aku ngga mau bantu? Aku cuma tidak ingin kamu kecapekan." Nova ngeles. "Ini tinggal sedikit lagi selesai."
Akhirnya semua selesai dikemas.Lala tersenyum memandangi bingkisan yang sekarang tersusun rapi memenuhi ruang keluarga.Entah kenapa ulang tahun kali ini terasa istimewa baginya.
"Sebaiknya kita membersihkan diri setelah itu makan malam.Yang lain biar nanti dibereskan pelayan." Nova menunjuk sampah kertas dan plastik yang masih berserakan di sana.
Saat makan malam...
"Oma senang kamu masih ingat dengan anak-anak panti.Apa kamu berencana mengunjungi panti?Bingkisan yang di ruang keluarga itu untuk mereka kan?"
Nova mengangguk. "Ulang tahun Lala Oma, dia yang minta."
"Benarkah? Kapan hari ulang tahunmu? Maaf Oma tidak tahu." Oma menatap ke arah Lala.
"Besok Oma."
"Kalau begitu kamu ingin kado apa dari Oma?"
"Terima kasih, aku tidak ingin apa-apa Oma, bingkisan untuk anak-anak panti itu sudah cukup."
"Tidak, Oma tetap harus membelikan kamu sesuatu.Besok Oma akan mengajakmu ke mall.Kamu boleh beli apapun yang kamu inginkan."
"Bukankah besok kita akan ke panti?" Nova mengingatkan.
"Oh ... iya, aku lupa."
"Ya sudah kalau begitu setelah makan malam ini kita ke mall."
"Tidak bisa.Hari ini dan besok, dia milikku Oma.Aku sudah mengosongkan jadwalku agar bisa menemaninya."
Lala melirik ke arah Nova. Sejak kapan dia jadi posesif begini?
"Oma hanya ingin mengajaknya ke mall.Heran deh, seperti Oma mau merebut Lala dari kamu saja."
* * * *
Setelah sarapan dan semuanya sudah siap mereka berangkat menuju panti.Seperti biasa, Lala dan Nova pergi dengan mengendarai motor sport Nova, sementara bingkisan dan barang-barang lain untuk disumbangkan ke panti diangkut menggunakan mobil terpisah.
Seperti yang sudah Lala duga sebelumnya, anak-anak itu sangat bahagia menerima bingkisan ulang tahun Lala. Mereka lebih bahagia lagi karena ada Nova yang bersedia mengajak mereka bermain bersama.
Oma Rusdi sudah menyambut mereka di depan pintu utama sepulang kunjungan mereka dari panti asuhan.Mata Lala membulat sempurna ketika melihat Vespa keluaran terbaru terparkir di depan pintu yang yang dililit pita cantik berwarna merah.
__ADS_1
"Ini kado dari Oma."
"Ini untukku?" tanya Lala sambil berlari mendekati Vespa tersebut.
"Kamu suka?" tanya Oma. "Nova bilang kamu suka motor, jadi Oma belikan kamu motor.Tapi hati-hati ya mengendarainya."
Lala mengangguk diiringi senyum yang mengembang.
"Terima kasih Oma." Lala memeluk Oma.
"Kamu bisa jalan-jalan sendiri sekarang jika aku tidak di rumah.Tapi jangan jauh-jauh.Hanya sekitar rumah saja.Kalau mau pergi agak jauh bilang dulu.Kamu tahu kan rumah kita jauh dari lingkungan perumahan dan perkampungan.Nanti kamu tersesat." Nova bicara panjang lebar.
Oma tertegun melihat Nova bicara panjang lebar seperti ini karena ini sangatlah jarang, sementara Lala menganggapnya biasa saja karena Nova memang tidak sependiam itu kepadanya.
Mendengar ocehan Nova, Lala hanya menggelengkan kepalanya. "Please Nova, berapa kali aku bilang, ada Maps?"
"Pokoknya ngga boleh jauh-jauh!"
"Iya ... iya ... Boleh aku coba sekarang?" tanya Lala.
"Tentu saja, itu milikmu," balas Oma.
"Ayo Oma ikut ..."
"Tidak ... tidak ... Oma tidak berani naik motor."
"Sama aku saja," ucap Nova yang sudah duduk di atas motor.
Akhirnya Lala dibonceng oleh Nova berkeliling mengendarai motor baru tersebut.Hanya di dekat rumah Oma tapi rasanya sudah seperti mau ke pelosok karena rumah Oma terletak menyendiri di pinggiran kota bahkan cukup jauh dari kampung.Pemandangan di kiri kanan jalan di dominasi oleh kebun yang dipenuhi dengan pohon rindang dan terkesan teduh.Di sisi kiri jalan terdapat sungai yang airnya mengalir sangat jernih.Benar-benar lingkungan yang masih asri.Sudah hampir dua bulan tinggal di sini tapi Lala sama sekali belum mengetahui daerah ini.
Lala meminta Nova menepi dan menghentikan motornya.Dia ingin menikmati pemandangan sungai dan duduk di rumput di pinggir sungai itu.Tentu saja keinginan Lala itu dituruti oleh Nova.
"Kita duduk di sini sebentar." Lala sudah meletakkan badannya di rumput.Nova mengikutinya. "Kenapa tidak bilang kalau disini pemandangannya seindah ini?"
"Ini biasa menurutku." Nova lebih memilih memandangi Lala.
"Iya, karena kamu sudah terbiasa di sini.Bagiku ini sangat cantik." Tidak sadar sedang dipandangi oleh Nova.Dia sedang terpana memandangi sekelilingnya.
"Kamu lebih cantik." Masih belum mengalihkan pandangannya.
"Eh ... jangan mulai!" Lala tahu arah kalimat Nova.Dia baru sadar sejak tadi Nova memandangi wajahnya.
"Memang kamu cantik." Sekarang disertai senyum jahilnya.
__ADS_1
"Nova hentikan itu!" Wajah Lala mulai merona.Hampir setiap hari digoda oleh Nova, dia tetap saja salah tingkah.Dan semakin merah wajah Lala, semakin Nova menggodanya.