Menikahi Calon Iparku

Menikahi Calon Iparku
kisah Dinda


__ADS_3

assalamualaikum semuanya, semoga kabar kalian sehat. sebelum baca eps ini jangan lupa untuk like dan komen biar tambah semangat up nya 🌹πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ˜πŸ˜πŸŽ‰πŸ˜πŸŽ‰πŸ˜


kalau ada salah dalam penulisannya mohon di maklumi πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ˜ mungkin author nya nggak fokus πŸŽ‰πŸ˜πŸ˜oke langsung aja ke cerita nya πŸŽ‰πŸ˜πŸ˜ let's go happy ready ☺️☺️


...SELAMAT MEMBACA...


matahari mulai terbenam, menandakan malam telah tiba. sedangkan Amel dan Farhan tengah sibuk dengan ketiga buah hatinya.


"bukan gitu mas pakaikan popok Kenzo" ucap Amel sembari menggeleng, bukan karena apa sejak tadi Farhan membuka plastik dan langsung sobek.


"pusing aku Ra, dulu kayaknya aku nggak pernah pakai popok deh" ucap Farhan sembari membuka bungkus popok yang baru.


"memangnya mas Farhan ingat?" tanya Amel sibuk menidurkan baby kenza.


entah kenapa anak keduanya itu berbeda dengan kakak dan adiknya, kenza sering menangis jika Amel tidak sedang memberi asi Kepada Kenzo maupun kenzie.


"ya udah Ra, kamu urusin Kenzo biar aku yang gendong kenza" ucap Farhan.


Amel mengangguk, ia menyerahkan baby kenza kepada tangan Farhan. mungkin akan lebih tenang bersama dengan papahnya.


"hey anak ganteng nya mamah, belum di ganti ya popoknya sama papah" ucap Amel tersenyum melihat baby Kenzo.


"jangan lupa kalau udah besar jadi seperti papah ya kenza" guman Farhan sembari menimang nimang baby kenza yang perlahan mulai tertidur.


drrrrrttttttt drtttttttttt


"siapa mas?" tanya Amel mendengar ponsel milik Farhan bergetar.


"Kevin Ra"


"hallo ada apa Vin? nggak tau apa orang lagi sibuk ganggu aja kamu!" ucap Farhan.


"maaf pak, saya nggak tau kalau lagi sibuk cuma mau bilang sesuatu"


"Bu Dinda kok belum pulang ya pak? rumah nya sepi kira-kira bapak tau Dimana" tanya Kevin di seberang telepon.


"nggak tau, lagian kamu dari tadi cari Dinda ada apa? jangan bilang mau selingkuh ya?" selidik Farhan menautkan kedua alisnya.


"bukan pak, saya cuma mau kembaliin dompet nya Bu Dinda" jelas Kevin.


"apa mungkin belum pulang dari kapal tadi? soalnya saya hubungi nomornya tidak aktf"


"ya mana saya tau? bukannya tadi kamu juga main? lebih baik lapor polisi!!" titah Farhan.


"saya kesana sekarang!" jelas Farhan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari kevin.


Amel yang terlihat kebingungan mendekati Farhan setelah mengganti, popoknya baby Kenzo.


"ada apa mas?"


"Dinda katanya hilang, saya kesana sekarang mau lapor polisi"


"dan jangan cemburu, karena tadi kita sempat meeting! jadi kalau terjadi apa apa sama Dinda bisa menyeret nama perusahaan" jelas Farhan lagi dan memegang kedua bahu Amel.


Amel tersenyum, ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham.


"iya mas, siapa juga yang cemburu"


"kamu nggak cemburu?" tanya Farhan penuh selidik.


Amel menggeleng, untuk apa cemburu kepada Dinda. Amel percaya wanita karier elegan seperti Dinda. tidak akan mungkin menyukai suaminya yang dinginnya tingkat provinsi.


"kamu nggak cinta sama mas?" tanya Farhan mulai lesu.


"astaga bukan gitu mas, aku percaya sama mas Farhan nggak mungkin khianati aku" jawab Amel mengulas senyum nya.


"pasti"


"jangan pulang malam malam mas" pesan Amel sebelum Farhan melangkah pergi dari nya.

__ADS_1


sekarang Kenzo dan kenza sudah tidur pulas, sedangkan baby girl kenzie bersama mama ayu dan pak Wijaya. mungkin kedua orang tua itu ingin menghabiskan waktu bersama cucu perempuannya, wajar saja mama ayu dan pak Wijaya hanya mempunyai dua putra lelaki.


*


di pinggir lautan lepas, sejak tadi alvan dan Dinda duduk memikirkan bagaimana keadaan selanjutnya.


"gimana caranya gue pulang? gue pengen pulang?" ucap Dinda lirih.


alvan menoleh ke arah mantan kekasihnya itu, sedangkan matahari sudah hampir terbenam dan tinggal menunggu bulan tampak memancarkan sinarnya.


"gue bingung, lagian kenapa Lo harus pulang? bukannya Lo hidup sebatang kara?" tanya alvan. karena setahu Alvan, Dinda korban perceraian kedua orang tuanya.


"gue kalau nggak pulang tetap di cariin kali! walaupun hidup sendiri!! beda sama Lo pulang nggak pulang keluarga Lo bodoh amat" jelas Dinda.


"iya memang, keluarga gue hancur! dan itu juga karena ulah gue" jelas alvan sembari tersenyum tipis.


"lagian Lo bego banget sih! udah tau keluarga Wijaya seperti apa! Lo masih bandel aja!! nurutin kemauan nya bidadari vio vio itu"


Dinda mengeluarkan semua kata katanya, yang di katakan oleh Dinda memang benar adanya.


"lo suka sama Farhan?" tanya alvan menatap wajah Dinda.


seketika Dinda terdiam, awalnya memang iya menyukai Farhan. sewaktu mereka pertama kali bertemu, mungkin itu yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.


tetapi Dinda juga menyadari kalau cinta nya kepada farhan hanya membawa Malapetaka, ia tidak akan pernah mau merusak karier nya yang dibangun susah payah. Hanya karena merebut suami orang.


"suka, tapi itu dulu Sekarang udah enggak" jelas Dinda.


"alasannya Lo suka sama Farhan?" tanya alvan penasaran, karena sekian banyak wanita entah kenapa lebih tertarik dengan adiknya itu. dibandingkan dengan dirinya.


"dulu gue suka karena dia itu cool, seorang CEO muda! tampan, berwibawa, serta tau cara menghormati seorang wanita tapi sayangnya dia dingin"


"Sekarang gue nggak suka karena simpel aja I don't want to hurt a girl's heart , karena gue tau di selingkuhin gimana rasanya" jelas Dinda tersenyum.


"dan satu lagi! Farhan bukan termasuk kedalam tipikal pria Incaran gue!" ucap Dinda.


"I want a man who knows my true nature! itu impian gue"


"tapi bukannya kebanyakan dari lelaki nggak tau sifat asli Lo? mereka lebih tau Lo elegan, seorang wanita muda yang begitu lugas cara bicaranya"


"ya justru itu gue cari lelaki yang tau sifat asli gue! kebanyakan dari mereka memandang gue itu pintar,cara bicaranya sopan! nyatanya gue seperti ini. cerewet, dan diluar ekspektasi mereka" jelas Dinda.


"okay"


"yaudah sekarang pikiran gimana caranya kita pulang! gue nggak mau disini", jelas Dinda menepuk beberapa nyamuk.


"mendingan Lo buang jauh-jauh pikiran kita pulang sekarang! karena nggak mungkin kita pulang sekarang! malam udah mau tiba, Sekarang mending Lo cari kayu kita bikin api unggun di sini biar nggak kedinginan" titah alvan.


"dih nyuruh Lo? cari sendiri lah" balas Dinda.


"oh ya udah! Lo tunggu sini gue yang nyari! kalau ada apa-apa jangan salahin gue!"


alvan buru buru melangkah masuk kedalam hutan lumayan luas, entah kenapa pulau seperti ini bisa di tumbuhi pepohonan.


"gue di tinggal?" gumam Dinda melihat sekeliling yang begitu sepi.


"kira kira disini ada setan nggak ya?" Dinda melihat beberapa pohon dan ranting ranting, serta hamparan laut luas. high heels nya sudah terlempar jauh entah kemana.


"kaki gue sakit gara gara sepatu sialan itu!" Dinda terus memijat pergelangan kakinya.


"kalau bukan karena nyokap dan bokap gue!! gue nggak Sudi jadi wanita karier yang mandiri!! mendingan jadi atlet bultang" gumam Dinda.


singkat cerita Dinda korban perceraian kedua orang tuanya, papah Dinda memutuskan pergi ke luar negeri. sedangkan mamahnya pergi ke luar kota! Dinda sejak umur lima tahun tinggal bersama neneknya. meskipun begitu kedua orang tuanya itu tidak pernah ketinggalan memberikan nafkah untuk putrinya, padahal yang di harapkan Dinda hanya satu. yaitu kumpul seperti keluarga lain, namun itu sangat susah untuk di gapai.


nenek Dinda meninggal ketika dia berumur kelas tiga SMP, karena usianya yang sudah remaja. Dinda tetap hidup seorang! papah Dinda beralasan karena tidak bisa pulang, bisnis yang dikerjakan tidak bisa di tinggalkan.


sedangkan mama Dinda, dia sudah menikah lagi dan mempunyai keluarga baru! itu sebabnya Dinda bertekad menjadi seorang wanita karier multitalenta. ia ingin membuktikan kepada mereka bahwa ia kuat, ia mampu berdiri tanpa bantuan dukungan mental dari kedua orang tuanya. jujur saja, Dinda sudah lelah seperti ini.


"ngapain sih gue bayangin mereka! ingat Dinda mereka udah bahagia sama kehidupannya sendiri" gumam Dinda meneteskan air mata.

__ADS_1


siapa yang tidak kuat, seorang gadis muda yang berhasil mewujudkan mimpi kedua orang tuanya. setelah semuanya berhasil, justru mereka tidak pernah bertemu dengan nya. ada rasa kerinduan, belaian seorang ibu. dan dukungan seorang ayah.


"dasar brengsek!!!" umpat Dinda kesal, bisa bisanya ia meneteskan air mata disaat seperti ini. mungkin alvan akan meledeknya jika melihat.


buru buru Dinda menghapus jejak air matanya itu, ia harus terlihat normal saat ini.


*


mobil yang dikendarai Farhan telah sampai di depan rumah Dinda, disana sudah ada kevin yang menunggunya.


"gimana?"


"gimana apanya pak?" tanya Kevin.


"please kevin! jangan buat saya emosi! sudah kamu lapor polisi?" tanya Farhan.


"oh sudah pak, katanya tunggu 24 jam" jelas kevin.


Farhan mengangguk, ia melihat sekeliling rumah Dinda. terlihat sepi, apa mungkin kedua orangtuanya tidak tinggal bersamanya?


"ini rumah nya sepi?" tanya Farhan, melihat rumah minimalis modern tapi terasa hanya hawa dingin yang menyeruak.


"menurut warga, Dinda tinggal sendiri sejak neneknya meninggal. dan orangtuanya di luar kota dan luar negeri" jelas kevin.


Farhan mengangguk, ia tidak tahu banyak tentang keluarga Dinda. karena Farhan tidak mau menganggu private Dinda, hanya sebatas rekan bisnis biasa baginya. jadi untuk apa harus mengenal jauh tentang Dinda.


"oh, kalau tidak ada yang mau di bicarakan saya pulang"


"buru buru banget pak" ucap Kevin.


"kamu tau kamu tadi telepon saya lagi ngapain? saya lagi gantβ€”"


"TI popok baby kenza, bener kan pak?" tanya Kevin sembari nyengir.


"salah! yang benar saya lagi ganti popok baby Kenzo!!" jelas Farhan.


"sama aja pak, cuma beda satu huruf aja! lagian punya anak kembar tutor dong pak gimana caranya?" tanya Kevin dengan mata berbinar-binar.


"bikin"


"iya saya tau tapi gimana cara nya?" tanya Kevin.


Farhan yang sudah malas menanggapi ocehan dari sekretaris nya ini hanya menggeleng kepalanya, apakah harus di kasih tau caranya?


"cari di google" jawab Farhan lalu melajukan mobilnya meninggalkan Kevin sendiri.


"Kenapa nggak sekalian di YouTube, atau mungkin di play store di download sekalian" kesal Kevin menatap kepergian mobil Farhan, yang sudah menghilang di tikungan jalan.


tapi kata kata Farhan ada benarnya juga, dengan segera Kevin meraih ponselnya dan langsung menuju halaman google.


"google kan maha benar"


"cara mendapatkan anak kembar"


"genetik?" gumam Kevin.


*


"Lo nangis?" tanya alvan langsung menurunkan beberapa batang kayu kering siap untuk di bakar.


"Lo halu kali, mendingan cepat di nyalain gue kedinginan nih" titah Dinda bersedekap.


"pakai apa?" tanya alvan.


"ya pakaiβ€” pakai batu lah" jelas Dinda, mana mungkin mereka mempunyai korek gas dalam keadaan seperti ini.


"tebakan Lo salah!! ya pakai korek lah! nggak zaman pakai batu" jawab alvan lalu dengan segera mengeluarkan korek gas dari saku celananya.


terimakasih sudah mau mampir ke Novelku ini πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰β˜ΊοΈ jangan lupa dukungannya ya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯° salam happy 😍πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰ see you 😍πŸ₯°πŸŽ‰ wassalamu'alaikum πŸ₯°πŸ˜πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2