Menikahi Calon Iparku

Menikahi Calon Iparku
kram


__ADS_3

maaf bila ada salah dalam pengetikan kata mohon dimaklumi ya πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰ jangan lupa like dan komen πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯° selamat membaca πŸ₯°πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


*


keadaan di meja makan hanya diam, Farhan yang menyadari istrinya sejak tadi hanya murung ia mencoba untuk menghibur nya.


"Ra mau nggak nanti setelah makan main ke kebun kopi?" tanya Farhan.


"boleh mas" jawab Amel tersenyum, ia hendak berdiri namun Oma yang sedang minum menumpahkan air tsb di lantai.


"BRUK"


Amel terpeleset perutnya tiba-tiba jeram Akibat benturan itu, semua orang terkejut termasuk Farhan yang berada di sampingnya.


"Astaga Ra" ucap Farhan lalu membantu istrinya.


"mas, perut ku kram" ringis Amel kesakitan.


"oma gimana sih kok bisa tumpahin air!!!" geram Farhan.


"Oma nggak tau, tangan Oma licin" jawab Oma Ningsih.


"astaghfirullah sayang, cepat angkat istrimu bawa ke klinik" ucap mama ayu mencoba membantu Amel berdiri.


"mas sakit, perutku" ucap Amel sembari memegangi perutnya.


"iya Ra ayo ke klinik"


Farhan mendekati Oma Ningsih yang masih duduk di kursi.


"sampai terjadi sesuatu sama Amel, Farhan nggak akan maafin Oma!!" jelas Farhan.


Oma Ningsih terdiam melihat tingkah Farhan, baru pertama kali ini Farhan mengatakan itu, dulu Farhan orang yang sangat baik dan nurut tetapi ini?


Farhan segera menggendong Amel dan langsung pergi keluar rumah, namun sampai di depan ia lupa mobilnya sedang di perbaiki dan hanya ada motor, mana mungkin ia membawa istrinya naik motor dalam keadaan seperti ini.


"astaga gimana ini" gumam Farhan kebingungan.


"mas perutku" ringis Amel.


tak berapa lama mobil pak Wijaya memasuki halaman rumah, pak Wijaya turun dan melihat anaknya sedang menggendong Amel.


"pah mana kontaknya", ucap Farhan.


"itu di mobil, ada apa dengan Amel?" tanya pak Wijaya melihat menantunya kesakitan memegangi perutnya.


tanpa menjawab pertanyaan pak Wijaya Farhan segera meraih kunci mobil itu dan segera melajukan dengan kecepatan tinggi, ia tidak peduli jalan yang begitu sempit.


"mas perutku kram" ucap Amel.


Farhan mengusap kepala Amel, ia terus melajukan mobilnya sembari melihat ke arah Amel yang sedang meringis.


sepeninggal Farhan dan Amel pak Wijaya masuk ke rumah, ia ingin menanyakan kepada istrinya apa yang sedang terjadi.


setelah sampai ke dapur mama ayu dan Oma Ningsih tampak diam, wajah gelisah mama ayu jelas terpampang disana.


"mah, ada apa ini?" tanya pak Wijaya.


"pah" jawab mama ayu segera mendekati suaminya itu.


"Amel pah, dia terpeleset tadi" ucap mama ayu, ia gelisah dengan keadaan Amel saat ini, namun tidak dengan Oma Ningsih ia sama sekali tidak peduli dengan cucu menantunya itu.


"astaga kok bisa mah?" tanya pak Wijaya terkejut.


"tadi Oma tumpahin air" ucap mama ayu terbata bata.


"IBU?" tegas pak Wijaya mendekati ke arah Oma Ningsih.

__ADS_1


"KALIAN SAMA SAJA, SELALU BELAIN WANITA ITU!!! DASAR ANAK MANJA KRAM SEDIKIT AJA UDAH NANGIS!!" tegas Oma Ningsih.


mama ayu mendekati ke arah Oma Ningsih, Oma Ningsih dari dulu tidak pernah berubah.


"asalkan ibu tau, Amel tidak manja seperti yang di tuduhkan oleh Oma!! yang memasak semua makanan ini AMEL BUK!!" ucap mama ayu di selingi tangisnya, ia bingung harus mengucapkan apalagi mulutnya tidak kuat.


"ibu jangan begitu sama Amel, Amel istrinya Farhan cucu ibu, Amel tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya ia anak angkat buk" ucap pak Wijaya pelan, ia tidak mau membuat ibunya tersinggung dengan kata katanya.


"maksudmu?" tanya Oma Ningsih.


"Amel dan Ratna tidak sedarah!! walaupun sedarah ibu tidak boleh melakukan itu setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda" jelas pak Wijaya lagi.


"Amel dan Ratna tidak sekandung?" tanya Oma Ningsih terkejut.


"iya Buk, Amel anak yang baik" ucap mama ayu.


air mata Oma Ningsih menetes, selama ini ia sudah salah sangka terhadap Amel, yang ia kira anak manja dan tidak tau pekerjaan.


"jadi selama ini saya salah memperlakukan gadis itu?" gumam Oma Ningsih.


"iya buk" jawab mama ayu.


*


akhirnya mobil Farhan memasuki klinik, atau bisa disebut puskesmas di desa ini, Farhan segera menggendong tubuh istrinya itu untuk segera mendapatkan penanganan.


"SUS SUS SUSTER" teriak Farhan, ia bingung kenapa puskesmas ini sepi mungkin karena keadaan masih pagi.


melati yang selesai mengantarkan sahabat nya ke puskesmas, pandangan nya teralihkan oleh Farhan yang menggendong wanita hamil.


"Farhan?" gumam melati lalu mendekati Farhan.


"Farhan? sampean disini?" tanya melati, ia melihat ke arah Amel yang sedang memegangi perutnya.


"eh ti, dimana suster?" tanya Farhan panik.


"ini istriku, dimana suster ti!!!"


"istri?" batin melati, hatinya terasa sakit penantian yang selama ini untuk Farhan sekarang sudah lenyap, Farhan sudah menikah dan istrinya sedang hamil.


"TI!!" ucap Farhan menyadarkan melati yang melamun.


"eh iya Han, ada apa?" tanya melati.


"ASTAGA TI, KOK MALAH MELAMUN SIH!!! DIMANA DOKTER NYA? ATAU SUSTER?" tegas Farhan.


"itu disana mari tak antar" ucap melati berjalan menuju ruangan dokter umum, sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes tanpa permisi.


"ini silahkan masuk Han" ucap melati membukakan pintu.


"ya makasih" jawab Farhan lalu masuk kedalam.


Amel yang tidak tau menahu tentang wanita itu, yang ia pikirkan hanyalah bayi yang ada dalam kandungan nya saat ini.


"DOKTER TOLONG ISTRI SAYA PERUTNYA KRAM" ucap Farhan membaringkan tubuh Amel ke ranjang.


"ya" jawab dokter itu langsung menoleh kebelakang.


mata Farhan membulat, ternyata dokternya lelaki, ia tidak akan pernah rela sampai dokter itu menyentuh istrinya.


"keluhannya apa?", tanya dokter muda yang bernama Ali.


"jangan di periksa dok" cegah Farhan.


"h-ha?" ucap dokter Ali.


"lalu bagaimana saya mau memeriksa istri bapak?" tanya dokter muda Ali bingung.

__ADS_1


"panggil dokter perempuan!!!" tegas Farhan.


"maaf pak bidan disini sedang ada praktek di kabupaten, jadi yang bertugas hari ini saya" ucap dokter Ali.


"MELATI!!!" teriak Farhan dari ruangan nya.


melati yang sedang duduk di depan ruangan nya segera bangkit, ia masuk kenapa Farhan memanggilnya.


"ada apa Han?" tanya melati.


"ini kenapa dokternya laki??? memangnya puskesmas ini tidak ada yang wanita?" tanya Farhan.


"biasanya hari ini suster wanita berangkat nya jam 08.00 sedangkan ini masih jam 07.00 kurang 1 jam lagi Han" ucap melati.


"TELEPON!! SAYA TIDAK MAU SAMPAI ISTRI SAYA DI SENTUH LELAKI LAIN!!" tegas Farhan.


melati dan dokter Ali saling pandang, namanya juga dokter ya pasti akan memeriksa keadaan pasiennya dengan menyentuh.


"lalu bagaimana bisa mengetahui apa penyebabnya Han? kalau nggak disentuh?" tanya melati.


Amel yang melihat perdebatan diantara mereka berdua terus memegangi perutnya, suaminya ini aneh bagaimana bisa seorang dokter tidak menyentuh pasiennya.


"TELEPON TI!!" tegas Farhan menyerahkan ponselnya.


"oke saya telepon" jelas melati namun sinyal disini sangat susah, apalagi kalau cuacanya sedang pagi hati begini banyak kabut tebal.


"sinyal nya susah Han" jelas melati.


"astaga" geram Farhan.


"udah mas di periksa aja" jelas Amel.


"ENGGAK!! NGGAK ADA YANG BOLEH SENTUH KAMU SELAIN AKU RA!!" tegas Farhan.


"astaga mas" ucap Amel lirih.


"yasudah ti saya minta tolong panggilkan bidan Dita di desa sebelah ya" ucap dokter Ali.


"iya dok" ucap melati.


"eh ini ti, kunci mobilnya Pakai mobil biar cepat!!" jelas Farhan memberikan kunci tsb.


"aku Ndak bisa pakai mobil Han" jelas melati.


"ASTAGA!! yaudah pakai motor" ucap Farhan.


"Ndak bisa juga" jelas melati, ia hanya bisa mengendarai sepeda.


"terus pakai apa?" tanya Farhan dengan suara lemah.


"sepeda, saya Janji bakal cepet goes nya" jelas melati langsung berlari.


"CEPETAN TI!!!" teriak Farhan.


"kamu yang sabar ya Ra" lirih Farhan.


"oke sembari menunggu bidan Dita saya membantunya tanpa menyentuh ya" ucap dokter Ali.


"awas sampai sentuh istri saya!!" ancam Farhan.


"iya Ndak bakal" ucap dokter Ali tersenyum ia baru melihat lelaki yang begitu sayang terhadap istrinya, sampai sampai tidak boleh ada yang menyentuhnya.


"tarik nafas ya mbak" ucap dokter Ali.


Amel mulai menarik nafasnya, dan mengembuskan nya sesuai arahan dokter Ali.


jangan lupa baca eps selanjutnya ya gaesss πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰ salam happy 😍πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸ₯°πŸŽ‰ see you πŸ₯°πŸ˜πŸ˜πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2