
maaf bila ada salah dalam pengetikan kata mohon dimaklumi ya ππππ₯° jangan lupa untuk like dan komen π₯°π₯°π₯° selamat membaca π₯°ππππ₯°π₯°ππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
*
di apartemen milik Fano, Ratna membuka lemari ia bingung harus menggunakan pakaian apa, karena perutnya yang sudah memasuki usia 5 bulan.
"pakai baju apa gue" gumam Ratna mengacak acak semua pakaian nya isi lemari, saat ini ia hanya memakai handuk.
"Untung aja Curut ga ada, kalau ada bisa kacau!!"
namun tidak disangka tiba tiba pintu kamar apartemen dibuka, dan melihat kan Fano sedang berdiri di ambang pintu, ia mematung melihat Ratna hanya menggunakan sehelai handuk yang melilit di tubuhnya.
"curut!!"
Ratna yang melihat Fano berada di ambang pintu segera meraih baju baju yang berserakan untuk menutupi tubuhnya.
"Lo APAIN lemari gue!!!" geram Fano lalu mendekat.
"Lo sendiri ngapain kesini? bukannya kerja!!!"
jelas Ratna ia benar-benar terkejut dengan kedatangan Fano secara tiba-tiba.
"gue mau ambil laptop" ucap Fano mengalihkan pandangannya, matanya sudah ternodai dengan tubuh indah Ratna.
"Lo ngeliatin apa!!!" sembari melirik Fano tajam.
"Lo sendiri ngapain nggak ganti baju, malah acak acakin seluruh pakaiannya"
jujur Fano tergoda dengan tubuh indah Ratna, apalah daya nya yang imannya hanya sebatas kardus bekas.
"nggak ada baju" jawab Ratna simpel.
"h-ha? Lo buta?? baju sebanyak ini Lo bilang nggak ada??" tanya Fano melihat tumpukan baju yang berada di ranjang.
"bajunya nggak muat, ini juga karena anak Lo!!" geram Ratna memegangi perutnya.
"anak Lo juga!!"
Fano langsung meraih ponselnya, ia memesan beberapa daster untuk ibu hamil di temannya mungkin sekitar 2 jam lagi sampai.
"Udah gue pesenin daster mungkin sampainya 2 jam lagi" jelas Fano.
"WHAT? dua jam? terus gue sekarang mau pakai apa Curut!!! dingin tau"
telinga Fano ingin pecah rasanya, ia mendekati Ratna yang masih mengomel hingga Ratna terdiam tanpa berkutik, jantungnya saat ini benar-benar di luar kendali.
"plis jantung, jangan copot dulu gue nggak mau mati cuma gara gara ditatap sama curut ini" batin Ratna.
"Lo mau yang anget?" bisik Fano ditelinga Ratna.
"nggak" jawab Ratna ia benar-benar sedang dilanda gelebah yang ada di hatinya.
"gue bisa kasih, dengan cara yang alami!! mau?" tawar Fano memegang dagu Ratna.
namun belum juga memulai aksinya tiba-tiba ponsel milik Fano berdering, ia segera meraih benda pipih itu dengan kesal.
"iya ada apa Vin?" tanya Fano.
"Lo kemana aja!!! kerjaan numpuk, pak Farhan ngga bisa datang hari ini!!! buk Amel melahirkan, Lo cepat kesini gue kewalahan!!!"
"buk Amel melahirkan?" tanya Fano di sambungan telepon.
"iya, buruan Lo kesini!!!" ucap Kevin lalu segera mematikan layar ponselnya*.
Ratna yang mendengar ucapan Fano segera memegang lengan kekar itu, apakah benar yang ia katakan? Amel melahirkan?
"Amel melahirkan?" tanya Ratna.
"iya katanya kevin, ya udah gue mau pergi kantor dulu" jelas Fano lalu meraih laptopnya.
segera Ratna berlari kecil menghadang langkah Fano, ia mau meminta izin melihat kondisi Amel.
"gue izin mau lihat Amel boleh ya?" mohon Ratna.
Fano membuang nafas kasar, batu beberapa bulan urusan rumah tangga Farhan dan Amel membaik sekarang sudah mau ada ular lagi.
"nggak!! Lo nggak boleh kesana!! Lo tau akibatnya bukan??"
"gue cuma mau lihat keadaan Amel, gue Janji ga akan nyentuh ataupun nyakitin dia" ucap Ratna mengangkat dua jarinya.
"gue nggak percaya, udah Lo di rumah aja, lagian kalo Lo pergi mau pakai baju apa? handuk?? ha??" tanya Fano.
Ratna terdiam yang Fano ucapkan memang benar, kalaupun ia menjenguk Amel mungkin ia akan diusir dari sana.
__ADS_1
"paham kan?" tanya Fano.
Ratna mengangguk mungkin lebih baik baginya ia tidak dekat dengan Amel terlebih dahulu, walaupun ia ingin melihat kondisi adik sambungnya itu.
*
di penjara khusus wanita, keadaan viola selama beberapa bulan ini kacau, dari makanan yang tidak higienis membuat perutnya sakit.
"aduh perut gue kenapa lagi" gumam viola memegangi perutnya yang sangat sakit.
tiba-tiba keluar bercak darah dari celananya, ia pun bingung apa mungkin ia sedang datang bulan? tetapi selama beberapa bulan ini ia tidak datang bulan, dan mual mual terus.
"aduh sakit" teriak viola.
pengawas yang sedang bertugas menghampiri viola, dan melihat darah keluar dari rahimnya segera membawa nya ke rumah sakit terdekat.
*
Farhan mengguncang bahu Widia untuk mengatakan keadaan Amel saat ini, ia benar benar khawatir dengan istrinya itu.
"kok kamu diam aja Wid!! bagaimana keadaan istriku!!!" ucap Farhan.
"kondisi Amel kritis Han, dia kehilangan banyak darah dan darahnya saat ini rendah ini terjadi karena faktor usia!! Amel sangat muda untuk hamil anak kembar" jelas Widia.
tubuh Farhan lemas, rasa sedih bahagia campur aduk di hatinya saat ini.
"lalu kenapa kamu masih disini!!! kenapa nggak obatin Amel Wid!!!" geram Farhan.
"iya Wid! tolong selamatkan menantu Tante"
mama ayu sudah lemas saat ini, mendengar keadaan Amel yang kondisinya kritis.
"stok darah Amel nggak ada Tante, darah Amel sangat langka" jelas Widia.
"kamu bilang apa? langka? ini rumah sakit besar!! bagaimana kita bisa kekurangan stok darah!!!" ucap pak Wijaya.
"maaf om, di bank darah pun habis stok nya!! Widia udah kasih tau ke rumah sakit lain tapi tetap aja stok nya kosong" jelas Widia.
"apa perlu saya tutup rumah sakit ini!!" geram pak Wijaya langsung pergi, untuk bertemu dengan manager rumah sakit nya.
"memangnya darah Amel apa nak?" tanya mama ayu.
"O negatif, darah Amel O negatif Tante" jelas Widia.
"kalau begitu Widia pamit dulu ya Tante" pamit Widia ia harus mengecek keadaan Amel lagi.
mama ayu pun menanyakan kepada teman teman arisannya siapa yang mempunyai darah itu.
tiba-tiba ponsel Farhan berdering, segera ia mengangkatnya siapa tau ada pendonor darah yang darahnya persis dengan Amel.
"maaf ini dengan pak Farhan? yang mencari darah dengan golongan O negatif?" tanya wanita itu.
"iya betul itu saya! masih ada stoknya?" tanya Farhan.
"oh masih pak silakan anda datang ke bank darah***** tersisa satu kantung plastik" jelas wanita tsb*.
tanpa pikir panjang Farhan segera berlari, ia tidak perduli menabrak seseorang yang sedang berjalan.
segera Farhan menancapkan mobilnya, pak Wijaya yang melihat putranya berlari seperti itu meyakini mungkin Farhan mendapatkan darah itu.
"kalian ini gimana? darah di rumah sakit ini saja kekurangan!!! apa perlu saya tutup biar kalian tidak bisa bekerja lagi?" tanya pak Wijaya dengan tegasnya berhadapan manager rumah sakit ini.
"maaf tuan Wijaya, tapi kita memang kehabisan stok" ucap manager tsb.
"kalau menantu saya kenapa Napa, kalian akan saya pecat!!"ancam pak Wijaya langsung pergi.
sedangkan manager itu dan asisten nya hanya diam, ia pun bingung harus bagaimana
Farhan sampai di bank darah yang telah disebutkan, Buru buru ia masuk dan meminta darah itu.
"apakah masih ada darah dengan golongan O negatif?" tanya Farhan.
"oh ini pak Farhan yang tadi ya? ini masih ada pak" jelas wanita tsb lalu memberikan darah itu.
*
ditempat lain viola tengah berada di ruangan IGD, papah viola serta pengacara viola datang ke rumah sakit itu setelah mendapatkan kabar.
"dok apa yang terjadi dengan saya?" tanya viola.
"maaf buk, kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di kandungan ibu" jelas wanita tsb.
"janin?"
__ADS_1
"iya betul, ibu sedang mengandung selama 8 Minggu ini, namun maaf janin nya tidak bisa terselamatkan akibat gizi yang tidak seimbang" jelas dokter itu.
"jadi selama ini gue hamil?" batin viola, apa mungkin anak yang dikandung viola anak alvan.
"dan sekarang udah nggak ada?" gumam viola memegangi perutnya yang rata, air matanya menetes.
"ini semua gara-gara kalian!!! kalian yang udah buat anakku meninggal!!!" geram viola, walaupun ia tidak mau menerima bayi itu tetapi rasa bersalah terus membuncah di hatinya.
dokter itu pun pergi, ia tidak mau mengganggu viola mungkin viola shyok kehilangan bayinya.
"nggak!! nggak!! aku nggak akan maafin kalian!!! lihat saja nanti!!! apa yang akan aku perbuat untuk balaskan dendam ku!!!" geram viola.
ia lantas mengusap air mata, ia benar benar dirundung amarah saat ini.
pintu terbuka dan melihatkan papah viola serta pengacara yang disewanya atas kasus yang menimpa anaknya ini.
"papah" rengek viola langsung memeluk papahnya, air matanya tumpah saat itu juga.
"are you okay?? tenang vio papah ada disini" ucap papah Reno.
viola mengusap air matanya, ia tidak mau papahnya sampai tau bahwa ia hamil di luar nikah sampai bayi itu keguguran.
"bagaimana keadaan mu?" tanya Reno.
"vio tidak baik baik saja, mereka menghukum ku!!! aku mau pulang saja" jelas viola.
Reno menoleh ke arah pengacaranya, seketika pengacara yang bernama Mahesh itu langsung membuka beberapa berkas.
"bagaimana perkembangannya?" tanya Reno.
"kasus nona vio rumit tuan, ia terlibat dalam kasus penculikan walaupun ia tidak menyakiti atau menyentuh korban yaitu Amel, tetapi ia dibalik dalang nya" jelas Mahesh.
"STOP!! saya minta kamu mencari jalan keluarnya!! bukan malah menjelaskan kesalahan putri saya!!!" tegas Reno.
"maaf" ucap pengacara itu.
"ya!! lanjutkan!!" titah Reno.
Mahesh mengangguk ia harus sabar menghadapi klien seperti ini.
"jalan keluarnya, kita harus meminta maaf langsung kepada korban agar bisa mencabut tuntutan nya! atau tidak membayar denda kepada pihak yang berwajib" jelas Mahesh.
"itu bisa membuat nona vio bebas dalam kurung waktu dekat ini" lanjutnya lagi.
"WHAT? minta maaf? vio nggak mau pah" ucap viola, ia tidak akan Sudi meminta maaf kepada Amel.
"iya sayang papah ngerti!! lebih baik kita memberikan uang seberapa pun kepada polisi untuk membayar denda!!" jelas Reno.
Mahesh mengangguk paham, ia hanya seorang pengacara yang bisa membantu meringankan dan memberikan saran.
*
Farhan masuk ke rumah sakit dengan membawa sekantung darah untuk istrinya.
"moga aja cukup" batin Farhan.
segera ia menuju ruangan operasi Dimana keberadaan istrinya itu, pak Wijaya dan mama ayu mengucapkan syukur akhirnya Farhan membawakan darah itu.
"ini Wid darahnya" ucap Farhan memberikan sekantung darah itu.
"iya kalo begitu aku masuk dulu" jelas Widia, kali ini ia mempunyai dua kantung darah yang satunya dari rumah sakit lainnya.
"semoga kamu cepat sadar Ra" gumam Farhan.
pak Wijaya menepuk pundak Farhan seakan akan memberikan semangat untuk putranya itu.
Widia keluar dari ruangan itu, dan membawa Amel ke ruangan rawat ia tidak bisa memastikan keadaan Amel baik baik saja.
"gimana Wid keadaan Amel?" tanya Farhan.
"aku belum bisa mastiin Han, kita nunggu 1Γ24 jam ya Han Untuk melihat perkembangan nya, sekarang dia di ruang rawat VVIP" jelas Widia.
"apa perlu saya bawa ke Singapura Wid?" tanya pak Wijaya.
"kita nunggu dulu ya om, semoga ada perkembangan nya alat alat disini juga tidak kalah lengkap dengan Singapura" ucap Widia.
"boleh aku lihat Amel?" tanya Farhan.
"boleh Han, satu satu ya karena Amel butuh istirahat" jelas Widia.
semuanya mengangguk paham, Farhan segera menuju ruang rawat dimana istrinya terbaring lemah.
"kalau begitu Widia pamit dulu, permisi" pamit Widia kepada pak Wijaya dan mama ayu.
__ADS_1
jangan lupa baca eps ya gaes πππ salam happy ππ₯°π see you π₯°ππ₯°π₯°π₯°π₯°πππππππππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°