
halo gaes π₯°πππ₯° jangan lupa untuk like dan komen πβΊοΈπβΊοΈ dukungan dari kalian begitu berarti untuk karya ini π₯°π₯°π₯°πππ₯°
...SELAMAT MEMBACA...
pak Wijaya sudah mengerahkan seluruh orang suruhannya untuk mencari keberadaan Farhan, dan Fano. tetapi hasilnya saat ini tidak berhasil.
Amel mondar mandir, ia sungguh khawatir dengan keadaan Farhan saat ini. setelah Kevin memberitahunya kalau Farhan mendapatkan teror.
*
ditempat lain Amara mengoceh kesal, baru saja ia seminggu di Jakarta sudah sial. saat ini ia tengah berjalan menyusuri jalanan pinggir kota. setelah tadi mengejar jambret bermotor, dompet nya di curi. walaupun ia masih memiliki kartu card di hotelnya namun sekarang ia pulang dengan cara apa?
"sial, jambret kurang ajar! nggak tau apa cari duit itu susah!" geram Amara ia menendang beberapa kerikil di jalan, dan melihat sekitarnya terdapat gedung tua terbengkalai.
Amara menggidikan bahunya ngeri, melihat bangunan itu mungkin sudah angker.
"TOLONG"
Amara menerjapkan matanya, apakah ia tadi salah mendengar? ia jelas mendengar seseorang meminta tolong dan itu berasal dari gedung tua di hadapannya.
"TOLONG"
Amara membulatkan matanya, ia tidak salah mendengar kali ini. ia benar benar mendengar orang meminta tolong, Amara berjalan mendekat ke arah gerbang tua itu. ia melihat bangunan yang telah usang, namun pandangan nya teralihkan ke salah satu ruangan yang ada cahaya, walaupun itu tamaram.
*
"Diam sialan! kau berisik sekali!" geram viola melihat Fano terus meronta ronta agar dilepaskan, sedangkan Farhan. lelaki itu sudah terbujur lemas tak berdaya, kepala nya mengeluarkan darah segar. itu karena Farhan meronta ronta, dan jatuh di lantai hingga kepalanya berdarah.
"dasar manusia iblis!" geram Farhan.
"Ck, aku ini bidadari mu honey" ucap viola tersenyum sinis. ia meletakkan pistol nya di meja dan memandang wajahnya di balik pantulan cermin.
"aku cantik, seksi apalagi yang kurang? sampai kau memilih modelan seperti Amel hm?" tanya viola.
"kau memang cantik viola, tetapi cara mu tidak bisa menghargai orang lain!" geram Farhan.
"kamu mau di hargai seperti apa sih sayang hm?"
sedangkan di tempat lain, Amara terus berjalan menuju lorong demi lorong. ia tidak takut dengan penjahat manapun, yang ia takutkan adalah hantu dan tuhan.
tiba tiba banyak kecoa yang mengangetkan ia, lantas Amara dengan segera langsung menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara.
"kecoa sialan! beraninya ngagetin!" umpat Amara dalam hatinya.
ia segera berjalan mendekati arah gedung itu, pintu utama tidak di kunci Amara meraih balok untuk berjaga-jaga, siapa tau setan penghuni gedung ini mengagetkan nya. Amara jadi bisa melemparkan balok itu ke arah setan.
"TOLONG"
Amara mendengar suara itu, sepertinya memang ada penyekapan di gedung tua terbengkalai ini. dengan langkah pelan ia menaiki tangga demi tangga, sungguh nyalinya benar benar tinggi.
"kalau gue mati, setidaknya keren" gumam Amara sembari terkekeh geli dengan ucapannya barusan, "gue mati nyelamatin orang langsung otw ke surga nih"
disaat genting seperti itu, bisa bisanya Amara memikirkan mati masuk surga. yang benar saja.
__ADS_1
"BRAK"
Amara langsung mendobrak pintu itu, ruangan yang hanya di isi oleh cahaya tamaram, matanya membulat bukan main. ketika melihat seseorang yang ia temui di cafe sewaktu itu, dan lebih parahnya lagi dia di ikat.
"AMEL?" pekik Farhan membulatkan matanya lebar-lebar, istrinya saat ini sedang ada di sini. begitu pun dengan Fano, ia kaget bukan main ketika melihat Amel berada disini.
"Amel?" ucap viola mematung melihat Amel berada disini.
Amara melihat ke arah mereka namun tiba-tiba pandangan nya teralihkan ke orang kekar yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah marah.
"*BUGH"
"BUGH"
"BUGH"
"BUGH*"
tanpa henti hentinya, Amara memukuli kedua pria itu hingga babak belum menggunakan kayu, sebelumnya ia sudah melemparkan balok ke arah orang kekar itu. dan dengan tepat sasaran, balok akhirnya berhasil mengenai kepala pria itu hingga memekik kesakitan. tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Amara memukul pria yang satunya.
Farhan,Fano serta viola yang melihat itu terkejut dengan tingkah Amel, dengan segera viola meraih pistolnya dan mengarahkan tepat di kepala Farhan.
"BERHENTI!" teriak viola.
lantas Amara yang sudah berhasil mengalahkan kedua pria itupun perhatian nya teralihkan ke arah viola.
"Amel sampai kamu kesini, suamimu akan habis di tangan ku saat ini juga" ucap viola tenang, ia menetralkan nafasnya sembari tersenyum ke arah gadis yang masih mematung di tempatnya.
Amara membenarkan jaketnya, ada sedikit kotor karena debu dari balok itu. ia tersenyum ke arah viola yang menyodorkan pistol ke arah lelaki yang tengah terikat itu.
"iya mel, saya mohon demi keselamatan mel juga" mohon Fano.
Amara menaikkan satu alisnya, saat ini ia bingung bukan main apa yang dimaksud dengan mereka? Amel? Mel? Ra? mereka seakan akan kenal dengan nya. padahal Amara sama sekali tidak mengenali nya.
malas memikirkan itu, akhirnya Amara mengangkat kedua tangan nya sebagai tanda menyerah, viola pun tersenyum miring melihat itu.
"akhirnya menyerah juga kamu!" ucap viola.
Amara mundur beberapa langkah, hingga ia jatuh tersandung oleh badan kekar lelaki yang sudah di tumbangkan nya. dengan langkah cepat ia langsung meraih sebilah pisau di tangan pria itu dan melemparkannya ke arah mereka bertiga.
"clek"
pisau itu Berhasil menancap sempurna di sebuah lukisan, viola langsung menoleh ke arah bingkai itu dengan sorot mata tidak percaya. begitu pun dengan farhan dan Fano.
Amara langsung meraih pistol yang ada di saku celana pria kekar satunya, lalu berlari mendekati viola yang masih terdiam. Amara menodongkan pistol itu tepat di samping kepala viola, hingga membuat viola terdiam membeku.
"sebelum anda menembak pria ini, peluru yang ada di pistol saya akan menembus ke dalam kepala anda dan akhirnya anda kehilangan kesadaran dalam waktu selama lamanya" ucap Amara tersenyum.
tangan viola bergetar hebat, hingga bulir bulir bening mengalir di pelipis nya saat ini.
"lepasin suami Lo buat gue! gue janji nggak akan ganggu Lo lagi!" ucap viola.
Amara tersenyum ke arah viola, ia melihat buliran keringat terus berjatuhan di pelipis viola. "Anda gugup? tidak pernah memegang pistol sebelumnya?" tanya Amara.
__ADS_1
viola hanya Geming, ia menyiapkan pistol hanya untuk menakut-nakuti Farhan mungkin tidak ada pelurunya. ah ia Ingat, ia sama sekali tidak mengisi peluru di pistol itu.
"gue nggak gugup Amel! pistol yang Lo pegang nggak ada pelurunya begitupun punya gue, jadi turunin pistol itu sekarang!" titah viola.
Amara menaikkan bahunya, ia langsung mengarahkan pistol itu ke kaca jendela gedung.
"dor"
"PRANG"
viola membulatkan matanya lebar-lebar, ketika melihat sebuah peluru keluar dari pistol yang di pegang oleh Amel. hingga kaca tersebut pecah berhamburan di lantai bawah.
"CK, pistol saya ternyata ada pelurunya. coba punya anda ada pelurunya tidak?" tanya Amara lalu mencium pistol itu, dan mengarahkan kembali ke kepala viola.
viola meneguk Saliva nya, dan langsung mengarahkan pistol itu ke hadapan Amel dengan cepat ia langsung menembakkan nya.
hening
"krek,krek,krek"
Amara yang awalnya mengangkat tangan nya karena sebentar lagi ia akan di tembak, ternyata tidak ada peluru yang keluar dari pistol itu. sontak ia pun terkekeh pelan.
"mana nih pelurunya? kok nggak kerasa?"
tubuh viola kaku saat ini, ia benar-benar bingung sekarang. orang suruhannya memang kurang benar bekerja, bisa bisanya mereka mengisi pistol itu dengan peluru.
"aku tau kamu nggak akan mau bunuh aku kan Mel, Amel yang aku kenal baik hati" ujar viola dengan wajah melasnya.
Amara justru menggeleng kan kepala nya, ia membenarkan rambutnya yang tergerai panjang itu terkena hembusan angin malam.
"oh baik ya? sebaik apa sih Amel yang anda kenal?" tanya Amara tersenyum. jujur saja ia tidak tau maksud mereka memanggilnya dengan sebutan Amel.
"kamu nggak mungkin tembak aku, aku mohon lepasin aku. aku janji nggak akan ikut campur lagi urusan rumah tangga kamu" mohon viola disertai Isak tangisnya.
"CK, Nangis tuh jangan disini. saya tidak bawa tissue" ujar Amara ia memainkan pistol itu dan memutarnya. "lepasin mereka, buang talinya atau tiga peluru mendarat sempurna di tubuh anda" lanjutnya lagi.
viola langsung beranjak mendekati Farhan dan Fano, mereka babak belur namun Farhan masih bisa melihat tingkah Amel. yang sudah berani melawan viola.
setelah lepas, viola di bebaskan keluar. hanya menyisakan Farhan Fano dan Amara di ruangan itu, kedua pria kekar itupun sudah tumbang pingsan akibat pukulan balok dari amara.
"Ra" ujar Farhan langsung memeluk tubuh istrinya.
Amara yang merasa di peluk pun meronta ronta, ia mendorong tubuh lemah Farhan dengan Sulut mata emosi.
"tolong ya mas, saya disini cuma bantu saja!" geram Amara.
Farhan mengerutkan keningnya bingung, apa yang dimaksud oleh istrinya ini?.
"kamu ngomong apa sih Ra? aku Farhan suamimu!"
Amara menggelengkan kepalanya, ia melemparkan pistol yang di pegang nya itu kesembarang arah.
"mimpi Anda! sejak kapan saya menikah? punya pacar saja saya TINGGALIN! maaf ya mas saya disini cuma kebetulan bantuin!" ujar Amara ia langsung pergi meninggalkan gedung itu.
__ADS_1
dengan cepat Farhan mengejarnya walaupun kakinya terasa sakit. karena tadi sempat mendapatkan siksaan, dan Fano menyusulnya. Fano pun bingung dengan sikap Amel.
jangan lupa baca eps selanjutnya ya π₯°π₯°π₯°ππ₯°π₯°π see you π₯°ππ₯°ππ₯°ππ₯°