Menikahi Calon Iparku

Menikahi Calon Iparku
cap katak


__ADS_3

assalamualaikum semuanya πŸ˜πŸŽ‰πŸ₯° semoga kabar kalian sehat wal Afiat πŸ˜πŸŽ‰πŸ₯°oke kita lanjut cerita yaπŸ˜πŸŽ‰πŸ₯° maaf bila ada salah dalam pengetikan kata πŸ˜πŸŽ‰ mohon dimaklumi ya πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸ₯° let's go


...selamat membaca...


...cinta itu seperti layangan, jika memang ia ditakdirkan untuk kita maka kita mudah mengendalikan layangan itu. tetapi, jika dia memang tidak ditakdirkan untuk kita maka tali layangan putus dan kita harus merelakan nya pergi...


.......


"terus ini kita gimana? pakai dayung aja?" tanya Dinda cemas ia benar benar Bingung saat ini, berada di tengah lautan bersama mantan kekasih buaya nya yang ngeselin.


"sini biar gue dayung" titah alvan lalu meraih dayung itu.


"nggak gue aja, menurut Lo gue nggak bisa dayung?"


Dinda bersikeras tidak memberikan dayung itu, alvan menarik rambut nya sebagai tanda frustasi.


"stress" gumam Dinda menahan tawanya.


"udah biar gue aja, gue pengen cepat ke daratan"


Alvan kembali mencoba meraih dayung itu, begitu pun Dinda ia tidak rela dayung satu satunya itu di pegang oleh alvan.


"nggak!"


"Lo tuh batu banget sih dari dulu!" geram alvan.


"terserah! ini dayung gue, Lo dayung pakai tangan aja biar di makan sama hiu sekalian" jawab Dinda santai.


"bawa sini nggak itu dayung!!" geram alvan.


"nggak!!"


"sini!!!"


"gue bilang enggak ya enggak!!! kurang jelas??" jawab Dinda tetap memegang erat dayung itu.


mereka tidak berhenti sampai di situ, terus memperebutkan dayung satu satunya. seperti mereka memperebutkan ponsel tadi.


"byur"


"tuh kan kecemplung lagi!!! terus sekarang mau pakai apa pulang nya??" tanya alvan dibuat geram oleh sikap Dinda.


"ya ampun dayung gue, udah jadi duyung sekarang" wajah Dinda seketika melemas, bukan karena tidak bisa pulang. tetapi lebih tepatnya harus bersama mantan kekasih buaya nya.


Alvan akhirnya duduk di pinggir perahu, diikuti oleh Dinda duduk di sampingnya. keduanya sama sekali tidak berani mengatakan apapun, terlarut dalam pikiran masing masing.


"Lo kan buaya!! sana nyemplung ke laut terus geret nih perahu sampai ke tepian" titah Dinda masih dengan dada yang bergemuruh.


alvan menarik nafasnya dalam dalam, ia mengalihkan pandangannya ke arah lautan lepas.


Alvan yang di kenal mempunyai sifat lemah lembut terhadap perempuan, dan selalu menggoda para wanita. hingga dinobatkan sebagai buaya cap katak, siapa sangka justru lebih terbuka oleh Dinda. seorang wanita karier yang mempunyai multitalenta hebat.


"ini di tengah laut, Lo tau kan gue habis keluar dari penjara?" tanya alvan lembut, namun berhasil membuat Dinda ketakutan.


"oke oke, gue harus tenang menghadapi napi di sini oke" batin Dinda.


Dinda segera masuk ke dalam, ia duduk dan tangan nya bertumpu di wajah nya.


"terus kita gimana ini?" teriak Dinda dari dalam setelah berhasil menetralkan degup jantungnya.


"ngikutin ombak! bawa kapal ini sampai mana" jawab alvan santai sembari melihat sekeliling lautan lepas.


"kapal! kapal! kapal!" gumam Dinda mengulangi kata-kata alvan.


"jelas jelas ini perahu! mana ada kapal sekecil ini"


*


"curut!!!" teriak Ratna di dalam ruangan Fano, Fano tengah sibuk mengotak Atik layar laptopnya. sepeninggal Farhan dan Kevin meeting, Fano di sibukkan beberapa pekerjaan.


"woy, gue panggilin nggak mau jawab!!" gerutu Ratna.


"Lo berisik banget sih? gue sibuk nih!!"

__ADS_1


"gue mau sesuatu" jawab Ratna mengusap perut yang membuncit nya itu.


"apa"


"gue mau Lo ambilin jambu" jelas Ratna melongok ke jendela gedung paling atas, ia melihat ke bawah dan di sana ada pohon jambu tepat di taman kantor.


"ya udah ambil sendiri" cecar Fano santai.


"ish.... gue maunya Lo yang ambilin suamiku tersegleng" ucap Ratna mengukir senyum paling manis.


"gue sibuk" jawab Fano santai terus mengetik di keyboardnya.


Ratna melangkah kan kakinya mendekati meja Fano, dengan segera ia menutup laptop itu. hingga membuat jari Fano hampir kejepit, akibat ulahnya itu.


"Lo apa apaan sih uler???" tanya Fano menatap tajam ke arah Ratna.


"bukan gue! anak Lo yang pengen jambu"


Fano menyandarkan kepalanya di kursi putar nya, kepala nya benar benar pusing saat ini.


"Lo yang makan, anak gue yang di salahin" gerutu Fano segera berdiri dan melangkah keluar ruangan meninggalkan Ratna sendirian.


"ANAK LO JUGA IKUT MAKAN CURUT!!!!" teriak Ratna melenggang di sepanjang jalan.


*


kapal pesiar itu sudah berada di pinggir daratan, tempat semula. Farhan segera keluar dari kapal dan Kevin mungkin akan menyusul nya nanti.


...***room chat***...


^^^Humaira ku^^^


...mas kamu udah makan siang belum? mau aku kesana bawain makan siang?...


Farhan Wijaya


nggak perlu Ra, nanti si kembar cemburu kamu ke sini


^^^Humaira ku^^^


Farhan Wijaya


pasti, demi kamu sama si kembar. jangan lupa istirahat dan jangan kecapean! untuk apa aku bayar baby sister kalau nggak mau kerja


^^^Humaira ku^^^


^^^iya mas jangan pulang malam malam^^^


Farhan tersenyum melihat chat nya dengan Amel, entah kenapa semenjak kehadiran si kembar, ia ribut selalu ingin pulang.


"pak pak" teriak Kevin dari kejauhan hingga membuat Farhan terkejut.


Kevin berhenti tepat di samping Farhan, dengan tangan memegang tulut karena berlari mengejar bossnya itu.


"kenapa? dikejar setan?" tanya Farhan datar, wajahnya yang tadinya merah seketika lenyap begitu saja.


"buβ€” bukan" jawab nya dengan nafas yang masih memburu.


"lalu?"


"itu tadi, siapa ituβ€”"


"ngomong yang jelas!!" Bentak Farhan.


"dindasayacariindaritadingggkketemupak"


"kalau ngomong pakai tanda koma, nggak pernah belajar bahasa Indonesia ya?"


"maaf habisnya panik"


"Dinda, saya cariin nggak ada di kapal" jelas kevin.


"lalu?" tanya Farhan santai.

__ADS_1


"kemana perginya pak? apa hilang?" tanya Kevin.


"ya mana saya tau? mungkin sudah pulang dari tadi"


"lagian memangnya kenapa? nanti istri kamu cemburu" jelas Farhan lagi dan melenggang pergi meninggalkan Kevin.


"cemburu? siapa yang mau selingkuh? orang cuma mau ngasih ini" jelas Kevin membuka telapak tangan nya yang ada dompet Dinda.


*


"aduh sakit" lirih Dinda mengusap kepala nya yang terbentur palang.


ia melihat sekeliling, apa mungkin perahu sialan ini sudah ke tepian? dan dia bebas? tanpa pikir panjang. Dinda langsung keluar.


melihat nuansa sore yang begitu hangat, tanpa disangka-sangka ia menepi di sebuah pulau.


"WHAT? PULAU?" teriak Dinda segera turun dari perahu itu, kaki berbalut high heels itu menyentuh pasir putih.


ia masih fokus melihat sekeliling, dimana hanya ada hutan yang lumayan lebat mungkin ini pulau Sangat terpencil yang ia tidak ketahui.


"ASTAGA!!!" teriak alvan dari kejauhan, dengan segera Dinda menoleh ke arah semak semak di mana Alvan muncul.


"berisik banget sih Lo" gerutu Dinda dan menutupi kedua telinga nya itu.


"Lo yang Gila! perahunya lo makan?" ucap alvan dan berlari mendekati laut dengan membawa sebuah pisang.


"ha?"


"peβ€”perahunya kemana?" tanya dinda terkejut melihat perahunya sudah jauh berlayar di tengah laut terseret ombak.


"ke Jonggol" jawab alvan lalu berlalu Duduk di pasir.


Dinda pun ikut duduk di sebelah Alvan, jelas sekali mimik wajah alvan terlihat sangat cemas.


"maaf"


Dinda meminta maaf, mungkin kali ini memang salahnya.


"ya memang Lo salah pantas minta maaf!!" geretak Alvan.


"ish....Lo kok dibaikin malah gitu sih!! lagian kalau Lo bilang perahu itu bakal nepi gue juga bakal bangun dan jagain, lagian itu juga salah Lo kenapa nggak di tali" ucap Dinda ngomel-ngomel.


alvan menatap Dinda malas, ia mengangkat tinggi-tinggi pisang yang dibawa nya tadi.


"Lo mau mati? gue lagi cari makan!!! lagian Lo tadi tidur nya nyenyak banget bukan karena kasihan positif thinking aja mungkin Lo pingsan" jelas alvan dengan nada bicaranya yang kelewat santai.


"ya Lo bangunin gue juga kan biβ€”"


"hush!!! berisik" serobot alvan menghentikan ucapan cerewet Dinda.


"yang kita pikirkan sekarang, gimana caranya pulang tanpa perahu itu!!" jelas alvan seraya memakan pisang yang tadi di petiknya.


"gue bingung, otak gue ngeleg" jawab Dinda dan juga ikut memakan pisang tsb.


"katanya wanita karier, kok bisa ngeleg otaknya?"


"namanya juga lagi panik, apalagi dalam keadaan genting seperti ini!!" gerutu Dinda.


"Dinda yang gue kenal itu elegan, bertutur kata sopan, lurus hanya melihat kedepan!! dan sekarang mirip emak emak kompleks aja ngomel-ngomel terus" jelas alvan.


"ini Sifat asli gue, ya kali gue mau ngamuk ngamuk di depan Klein ganteng ganteng bisa bisa dia ilfiel"


"dan Lo juga!! alvan yang gue kenal itu buaya!! mentingin diri sendiri!! selalu merayu wanita dengan kata kata manis nya yang nyatanya pahit!! dan sekarang yang gue lihat, Lo tempramen, egois, nggak bisa kontrol emosi" jelas Dinda lagi.


"ya ini Sifat asli gue, itu namanya mempunyai kepribadian ganda" jawab alvan santai.


"kepribadian ganda dari sedotan!! itu namanya memanipulasi sifat" jelas Dinda.


"Lo juga"


"gue mah demi kepentingan bisnis, lah Lo demi cewek cewek cantik di luaran sana" serobot Dinda tidak mau kalah.


"biarin, namanya juga gue ganteng pasti jadi incaran betina" jelas alvan dengan bangganya.

__ADS_1


"dasar buaya cap katak"


terimakasih sudah mau mampir di novel ku ini πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰ jangan lupa baca eps ya gaes πŸ₯°πŸŽ‰πŸ₯°πŸŽ‰ see you πŸ₯°πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2