
maaf bila ada salah dalam pengetikan kata mohon dimaklumi ya π₯°π₯°π₯°π jangan lupa like dan komen π₯°π₯°π₯° selamat membaca π₯°ππ₯°ππππ₯°π₯°π₯°ππ₯°ππππ₯°π₯°
*
setelah cukup lama bidan Dita dan melati sampai di puskesmas dengan mengendarai angkot.
"ayo bidan melati antar" ucap melati menunjukkan ruangan yang sekarang sedang berada Amel.
"permisi" sapa bidan Dita.
"Bu bidan tolong istri saya" ucap Farhan menunjuk ke arah Amel.
bidan Dita mengangguk paham, ia menyuruh semua orang untuk keluar agar mudah baginya memeriksa keadaan Amel.
semua orang keluar begitu pun Farhan, ia mondar mandir berjalan kesana kemari memikirkan keadaan istrinya.
"kamu pasti kuat Ra" gumam Farhan.
melati yang melihat kecemasan di wajah Farhan ia mengalihkan pandangannya, ternyata penantian yang ia tunggu selama ini terbuang sia sia.
"Han boleh kita bicara sebentar?" tanya melati.
Farhan menoleh ke arah melati ia mengangguk, melati mengajak Farhan untuk bicara di luar puskesmas karena di situ ada dokter Ali.
"ada apa ti?" tanya Farhan bingung, kenapa dengan melati.
"kamu ternyata udah nikah Han?" tanya melati.
"iya ti, maaf ya nggak undang kamu karena pernikahan nya dadakan" jelas Farhan.
melati tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain, hatinya benar benar hancur saat ini.
"Ndak PP kok Han, hanya saja penantian ku selama ini terbuang sia sia" jelas melati.
"penantian?" tanya Farhan, ia tidak tau maksud dari perkataan melati.
"iya Han, selama ini aku suka sama sampean tapi karena kamu udah nikah lebih baik ku kubur dalam-dalam perasaan ini" jelas melati mencoba tersenyum.
wajah Farhan tidak percaya jadi selama ini melati teman masa kecilnya mempunyai perasaan terhadapnya, ia sudah menganggap melati adiknya sendiri.
"aku nggak tau kamu punya perasaan sama aku ti" jelas Farhan.
"iya Ndak PP Han, lupain aja sekarang aku harus terima perjodohan dari orang tuaku" jelas melati lagi ia lalu pamit pergi.
Farhan membiarkan melati pergi, ia tidak mungkin mencegah ia karena jika Farhan mencegahnya itu akan membuat melati merasa lebih berharap.
Farhan kemudian masuk kedalam puskesmas lagi untuk melihat keadaan Amel, yang tadi kram.
bidan Dita keluar dari ruangan itu, ia memanggil Farhan untuk masuk membicarakan tentang keadaan Amel saat ini.
"bagaimana Bu keadaan istri saya?" tanya Farhan.
"Alhamdulillah janinnya masih selamat, kalau tidak segera ditangani seperti tadi mungkin ibu Amel akan keguguran tapi Ndak PP ini sudah lebih baik" jelas bidan Dita.
__ADS_1
Farhan mengangguk aslinya tadi kalau Farhan tidak melarang dokter Ali memeriksa keadaan Amel, mungkin sekarang keadaan nya lebih membaik.
"ya udah kulo pamit nggeh, permisi" ucap bidan Dita.
Farhan sangat berterimakasih kasih kepada bidan Dita, kemudian dokter Ali masuk kedalam untuk melihat keadaan Amel.
"yaudah yuk Ra kita pulang" ucap Farhan.
Amel mengangguk, ia menurut saat Farhan menggendong nya.
"loh udah Mau pulang to? memangnya keadaan nya sudah membaik?" tanya dokter Ali.
"Alhamdulillah sudah dok" jawab Amel tersenyum, walaupun dokter Ali tidak melakukan apapun tapi Amel sangat berterimakasih kasih karena telah memanggil bidan untuknya.
Farhan membawa Amel keluar, untuk urusan administrasi itu akan diurus oleh papanya, ia tidak membawa dompet apapun karena dalam keadaan panik.
"kamu ngapain tadi sok akrab sama dokter itu" sungut Farhan sembari melajukan mobilnya.
"h-ha? akrab? tadi aku hanya terimakasih mas karena udah bantu aku" jelas Amel.
Farhan terdiam tidak menggubris perkataan istrinya, ia cemburu dengan dokter itu.
"terus mas Farhan tadi kenapa sok akrab sama perempuan itu?" tanya Amel melemparkan pertanyaan itu kepada farhan.
"oh itu melati yang aku mau kenalin ke kamu Ra" jelas Farhan.
"oh cantik juga ya mas, manis, pantas saja di bilang kembang desa" jelas Amel mengalihkan pandangannya ke kaca mobil.
"cantikan kamu Ra, walaupun banyak wanita yang cantik di Dunia ini hanya Humaira ku yang paling cantik" jelas Farhan, ia mengusap kepala istrinya.
"enggak Ra, nggak pernah sama sekali" jelas Farhan.
*
ditempat lain Ratna membuka pintu apartemen dengan kencang, pagi hari begini ia sudah dibuat emosi.
Fano yang melihat itu pun Heran dengan sikap istri ularnya saat ini, apakah Ratna kesurupan?
"kenapa ular?" tanya Fano.
"itu tuh mantan kamu, Jambak jambakin rambut ku!!! dasar buaya betina!!!" geram Ratna.
"siapa?" tanya Fano, ia tidak pernah mempunyai mantan kalau orang yang ia sukai ada tetapi kalau mantan tidak ada.
"buaya betina!!" jawab Ratna singkat lalu duduk di sofa sembari meraih remote AC.
"maaf ya, tapi gue nggak pernah punya mantan buaya!! ogah banget punya mantan buaya nanti di gigit" jelas Fano merinding.
"ish_______ maksud gue VIOLA ANGGELINA KONGLOMERAT ITU!!!" geram Ratna.
"viola? kenapa dengan dia?" tanya Fano.
"kenapa dengan dia!!! kenapa dengan dia!!! perhatian sama buaya seperti itu" gerutu Ratna sembari menirukan ucapan Fano.
__ADS_1
"Lo cemburu?" tanya Fano menahan senyumnya.
"nggak!!" jawab Ratna lalu memilih meraih handuk dan mandi, kepalanya sudah sangat panas akibat ulah viola.
Fano lalu memegang tangan milik Ratna, ia menatap Ratna yang masih kesal.
"ada apa dengan kalian berdua?", tanya Fano lembut.
Ratna menarik nafasnya untuk menceritakan panjang lebar tentang kejadian tadi.
"jadi tadi gue lari pagi, terus ketemu sama buaya betina itu lagi duduk di pinggir taman ya gue sebagai seorang musuh yang baik yang di sapa dong, gue tanya ngapain buaya betina disini dengan rambut acak-acakan? nggak mampu perawatan kah? smoothing kek Apa kek!! eh dia malah Jambak rambut gue yang alami ini!! ya gue bales dong terus____" jelas Ratna.
"SHUT____ STOP cukup udah jelasinnya panjang bener" ucap Fano.
Ratna membuang nafas nya, ia sedikit lega bisa mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"udah ah gue mau mandi" ucap Ratna langsung masuk ke kamar mandi.
Fano tersenyum, ia akhirnya bisa melihat ekspresi Ratna yang kesal saat ini.
"acak-acakan?" gumam Fano memikirkan kata kata dari Ratna.
*
mobil Farhan memasuki halaman rumah milik Oma Ningsih, Farhan membantu Amel untuk turun dari mobilnya, mereka disambut oleh mama ayu dan pak Wijaya di depan teras.
"assalamualaikum" sapa keduanya.
"waalaikumsalam" jawab mama ayu dan pak Wijaya.
"bagaimana keadaan mu nak? ada yang luka? kehamilan mu bagaimana?" tanya mama ayu panik.
"Alhamdulillah mah, Amel baik baik aja calon debay nya juga" jelas Amel tersenyum.
"Alhamdulillah" ucap kedua orang tua itu.
mama ayu dan pak Wijaya mengajak Amel untuk masuk dan beristirahat, sedangkan Farhan yang mencari keberadaan Oma Ningsih tidak kelihatan.
"pah kemana Oma?" tanya Farhan mencegah langkah pak Wijaya.
"ke___ ke kamar Oma lagi nangis" ucap pak Wijaya.
"nangis?" tanya Farhan.
"iya" jawab pak Wijaya, setelah kepergian Farhan dan Amel tadi Oma merenungkan kata kata mama ayu, ternyata ia sudah salah menilai Amel.
tanpa pikir panjang Farhan ingin segera menemui Oma Ningsih, mungkin perkataan nya tadi telah menyakiti hati Oma Ningsih.
Farhan membuka lirih pintu kamar milik Oma, ia melihat Oma sedang duduk di kursi tua sembari menatap kearah jendela.
"Oma" ucap Farhan lirih.
Oma Ningsih menoleh ke arah Farhan, ia langsung membuang arah pandangan nya.
__ADS_1
jangan lupa baca eps selanjutnya ya gaesss salam happy ππ₯°ππ₯°π see you π₯°πππ₯°π₯°π₯°π₯°π₯°ππππ₯°ππ₯°ππ₯°π₯°ππ₯°