Menikahi Calon Iparku

Menikahi Calon Iparku
dalangnya ternyata...


__ADS_3

HALLO SEMUANYA MAAF LAMA UP, JANGAN LUPAKAN LIKE DAN KOMENTAR


...SELAMAT MEMBACA...


19.00


waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Farhan sudah bersiap menuju lokasi yang dikirimkan oleh peneror itu. Fano yang tadinya berniat membantu mengawasi dari jauh, karena pesan dari peneror itu Farhan harus sendirian.


mobil Farhan meluncur bebas di jalanan kota, keringat sudah bercucuran sedari tadi. ia hanya takut peneror itu benar benar mengancam istrinya. karena sebelum Farhan berangkat tadi, peneror itu mengirimkan foto istrinya di balik jendela. dan memfoto pistol serta pelurunya. itu semakin membuat rasa rendah di diri Farhan terus bergejolak.


"brengsek!"


hingga pada akhirnya mobil Farhan sampai di sebuah gedung tua, tempat terpencil di pinggiran kota. gedung itu sejenis pabrik yang sudah lama di tinggal. Farhan memarkirkan mobilnya, sebelum ia masuk ia menghubungi Fano untuk memantau nya jika terjadi sesuatu di luar dugaan. Fano tidak sendirian, pria itu bersama bodyguard disewanya. rencananya malam ini Farhan dan Fano langsung menangkap peneror itu.


Farhan masuk melalui gerbang, gerbang itu sengaja tidak di kunci mungkin memang agar Farhan bisa langsung masuk. ia melihat sekeliling bangunan, hanya terdapat hamparan rumput yang tidak terawat.


"siap siap saja" gumamnya lirih.


Farhan masuk ke dalam bangunan itu, namun ketika membuka pintu pertama kepalanya terasa pusing. pandangan nya mendadak buram. namun ia masih bisa melihat siapa yang berada di belakangnya.


"bugh"


satu pukulan berhasil, mendarat sempurna di punggung leher Farhan. Farhan kehilangan kesadarannya ia ambruk di lantai yang kotor itu.


"angkat, bawa dia dan ikat!" titah seseorang.


tubuh Farhan di angkat dan di geret menuju ke dalam sebuah ruangan serba putih itu. seseorang sedang menunggunya sadar.


*


Amel sedari tadi tidak bisa menghubungi Farhan, ponsel lelaki itu mendadak tidak aktif. baby Kenzo dan Kenza juga sedari tadi tidak berhentinya menangis. kenza baby yang biasanya anteng, saat ini mendadak tidak bisa berhenti menangis. padahal Amel sudah memberikan ASI-nya.


pintu terbuka melihatkan mama ayu yang sedang menggendong baby Kenzie, bayi perempuan itu juga tidak kalah hebatnya dalam menangis. mama ayu juga sangat kewalahan, begitupun juga dengan pak Wijaya.


"Farhan belum pulang nak?" tanya mama ayu sembari menimang baby Kenzie.


Amel menggeleng pelan, ia juga tidak tau dimana keberadaan suaminya saat ini. tak berapa lama pak Wijaya masuk ke dalam kamar, raut wajahnya terlihat sangat khawatir.


"gimana pah, Farhan ada di kantor?" tanya mama ayu.


"kata salah satu karyawan sama satpam, Farhan sudah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu" ujar pak Wijaya, ia mendekati brangkar baby Kenzo lalu menggendongnya.


"ponselnya dari tadi, nggak bisa di hubungi!'' ujar Amel.


Wijaya mencoba menghubungi fano, untuk menanyakan perihal Farhan. biasanya pria itu tau dimana keberadaan putra keduanya.


sambungan terjawab, terdengar diseberang sana suara klakson motor dan mobil.


"hallo fan, kamu dimana Sekarang"


"hallo Om, Fano sekarang lagi di lampu merah mau keβ€”"


belum sempat berbicara sambungan terputus, Wijaya terus menghubungi nomer Fano namun ternyata hasilnya nomor tersebut tidak bisa di hubungi.


*


"Brak"


mobil Fano di tabrak keras dari arah belakang, hingga membuat ponselnya terjungkal di bagian pedal gas.dan terselip ia mencoba meraih Nya. namun ponsel milik nya sudah hancur pecah, Fano keluar dan membanting pintu mobil. ia menuju mobil belakang yang menabraknya tadi, mobil milik Fano bagian belakang terlihat lecet dan penyok.


"woy! keluar Lo!" geram Fano.


namun tidak ada sahutan sama sekali dari dalam mobil. Fano terus mengetuk kaca jendela bagian depan. tak berapa lama seseorang membukakan pintu, dengan masker hitam dan topi. Fano mendekat ke arahnya, namun tiba-tiba dari arah belakang seseorang memberikan sesuatu seperti kain berisikan obat bius, kesadaran Fano ambruk.


"geret, masuk kedalam mobil" titah seseorang itu.


Fano di geret masuk kedalam mobil lelaki itu, dengan segera lelaki bermasker itu melajukan kendaraannya.


*


mobil yang di tumpangi Fano dan seseorang bermasker sampai di gedung tua. Fano di bawa masuk kedalam bangunan tua itu, tanpa sengaja kepala nya terbentur dengan palang besi.


"ah sial" umpat pria bermasker itu.


diruangan gelap, terdapat dua orang yang sudah tidak sadarkan diri. Fano dan Farhan, kedua lelaki itu keadaan nya saat ini tengah di ikat. dengan cara membelakangi satu sama lain.


Farhan menerjapkan matanya, Kepala terasa sangat pusing saat ini. ia melihat cahaya lampu tamaram dari atap, dengan segera ia membuka kantung matanya rasanya sangat pusing. seingatnya tadi ia berada di depan gerbang.


"arghhhh"

__ADS_1


namun tanpa sadar, Farhan saat ini keadaan nya di ikat sebuah kursi. namun dibelakangnya juga terdapat seseorang yang diikat seperti dirinya, Farhan menoleh kan kepalanya.


"Fano" ucapnya tidak percaya.


"fan... bangun....woy"


Farhan mencoba membangunkan sahabatnya itu, keadaan Fano nyaris seperti dirinya. kepalanya sedikit berdarah, entah kenapa orang itu tau kalau Farhan berniat mengajak Fano.


"ssshhh" ringis Fano sedikit menerjapkan matanya.


"akhirnya Lo bangun juga" ucap Farhan, walaupun ia tidak bisa melihat keadaan sahabatnya ini. tetapi dirinya bersyukur karena Fano akhirnya sadar.


"kita dimana?" tanya Fano melihat sekelilingnya gelap, hanya ada cahaya lampu tamaram di atas mereka.


"gue nggak tau, kenapa Lo bisa sampai sini?" tanya Farhan.


Fano melihat sekujur tubuhnya yang sudah berbalut dengan tali, dan merasakan ada darah segar mengalir di pelipisnya.ia mencoba mengingat ingat kejadian tadi.


"gue tadi berhenti di lampu merah, terus tiba tiba mobil gue di tabrak sama orang dari belakang. gue disitu dalam keadaan lagi nelpon om Wijaya, ponselnya pecah karena benturan" Fano meringis pelan saat ini kepala nya terasa sangat sakit. "gue samperin mobil yang nabrak gue, tapi tiba-tiba ada orang yang kayaknya ngasih obat bius ke gue setelah itu nggak sadar dan bangun disini " lanjutnya Lagi.


Farhan yang mendengar pun wajahnya menjadi merah padam,"berarti orang tau kalau kita udah berencana tangkap peneror itu?"


"ya! dia tau" balas Fano.


"dimana! dimana orang orang yang Lo bawa?" tanya Farhan ia mencoba menggerakkan tubuhnya saat ini. seluruh tubuhnya kini diikat menggunakan tali.


"gue belum kasih alamat nya, ponsel gue rusak akibat ke banting tadi"


"ah sial, siapa yang ngelakuin ini semua!" umpat Farhan ia langsung meronta ronta mencoba melepaskan diri, bukannya terlepas justru tali yang mengikat nya membuat kulitnya tergores.


"WOY BA*JINGAN! KELUAR LO!" teriak Farhan ia sudah sangat geram.


tuk tuk tuk


terdengar suara sepatu seseorang, menuju ke dalam ruangan ini. Farhan dan Fano saling menoleh. tak berapa lama pintu itupun terbuka lebar terlihat dua orang pria kekar mendekati Farhan dan Fano.


"berisik kalian!" ucap salah satu pria itu, badannya yang kekar dan otot ototnya yang menonjol.


"siapa kalian! keluarin kita dari sini!" ucap Fano lemas.


"*bugh"


"bugh"


tiga pukulan berhasil mendarat sempurna di perut Fano, mata Farhan membulat sempurna melihat itu.


"sialan! beraninya kalian main keroyokan!" umpat Farhan.


"bugh"


salah satu pria mendaratkan pukulan di rahang milik Farhan, hingga sedikit darah keluar dari sudut bibirnya.


"siapa yang suruh kalian sialan!!" ucap Farhan lagi. "beraninya main belakang!"


*


Amel sedari tadi berjalan kesana kemari, ia sudah sangat cemas saat ini. pak Wijaya menelpon seseorang untuk mencari tau keberadaan putra keduanya itu, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. namun Farhan tetap belum ada kabar, ponselnya tidak aktif sejak empat jam lalu.


ketiga baby kembar itu sudah pulas tertidur, sebelumnya Amel sudah menyuruh baby sitter untuk kemari lagi. dan mama ayu tidak kunjung berhenti menangis, Amel menuruni lift ia mencoba menunggu suaminya saat ini pulang di teras.


pak Wijaya menyuruh orang untuk melacak keberadaan Farhan melalui ponsel nya, namun keadaan nya NIHIL ponsel Farhan tidak bisa di lacak, begitupun dengan ponsel milik Fano. orang orang kantor juga tidak tau mengenai keberadaan mereka.


"telepon polisi aja pah" usul mama ayu.


"percuma mah, polisi menyelidiki setelah 24 jam, sedangkan Farhan tidak ada kabar baru 4 jam, jadi polisi tidak mungkin mau bertindak "


perkataan pak Wijaya membuat mama ayu resah.


Amel menunggu di teras depan rumah, kakinya di tekuk dan wajahnya di benamkan di lipatan tangannya.


"Mel"


itu suara Ratna, Amel mendongakkan kepalanya melihat kakaknya basah dengan air mata, Amel langsung bangkit dari tempat duduknya.


"kak, kakak tau dimana mas Farhan?" tanya Amel histeris.


Ratna menggeleng lemah, ia juga sedang menunggu Fano. usia kandungan Ratna sudah memasuki delapan bulan, Ratna juga tidak bisa menghubungi Fano. makannya ia kemari mencari tau tentang suaminya.


"aku juga cari Curut, dia belum pulang"

__ADS_1


Amel Limpung di lantai lagi, perasaannya sudah tidak enak sejak tadi semenjak Farhan pamit pergi. walaupun Farhan sudah mengatakan akan pulang larut malam, tetapi setidaknya ia mengabarkan.


*


"tuk tuk tuk"


suara sepatu seperti seorang high heels wanita, mendekati ke arah mereka berempat.


lelaki bertubuh kekar itu menggeser ke samping, tak berapa lama seorang wanita dengan bayangan hitam muncul di balik pintu.


"cklek"


saklar lampu dihidupkan, seketika mata Farhan dan Fano membulat sempurna. pasalnya yang saat ini di hadapannya adalah viola, ya viola anggelina.


"viola?" beo Farhan.


viola tersenyum, ke arah keduanya. lipstik merah serta celana jeans dan jaket nya ia berjalan mendekati keduanya,di belakangnya terdapat dua orang Lelaki.


"hai honey, apa kabar?" tanya nya lembut.


Farhan dan fano baru sadar jika di sebelah mereka terdapat meja dan kursi besar, dan ada pistol di meja tersebut. viola berjalan ke arah mereka berdua terutama ke Farhan, lelaki kekar itu menyingkir membiarkan viola mendekat.


"jadi ini semua ulah mu!!" tanya Farhan penuh penekanan.


viola tersenyum miring, ia melihat ke empat lelaki kekar yang sedang berada di ruangan ini.


"em...mau jawab iya apa enggak ya" ucap viola sembari memainkan jari telunjuknya di kepala.


"sialan jadi Lo yang teror Farhan!" geram Fano ia sudah sangat muak melihat tingkah viola.


"diem Lo! ini bukan urusan Lo! ini urusan gue sama honey gue" ujar viola mengelus rahang kokoh milik Farhan, Farhan menjauhkan wajahnya.


"astaga babby, muka kamu kenapa? siapa yang berani melakukannya?" tanya viola melihat darah di sudut bibir Farhan.


Farhan diam kalau saat ini keadaan nya tidak sedang di tali, mungkin viola sudah ia habisi di tempat ini.


viola menatap nyalang ke arah lelaki kekar di sampingnya ini. ia berdiri di hadapan pria itu dengan sorot mata tajam.


"plak"


satu tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi lelaki itu.


"gue cuma suruh Lo buat hajar Fano!! bukan babby Gue!!" geram viola.


lelaki itu tetap diam di tempatnya, viola membuang nafas nya kasar ia kembali menatap wajah Farhan yang masih merah padam menahan amarah.


"kamu nggak apa-apa kan honey?'' tanya viola.


"lepasin aku sekarang!! kenapa kamu ngelakuin ini semua viola! dan ngancam istri ku!"


viola lantas tertawa mendengar penuturan Farhan, ia mencubit gemas pipi Farhan.


"karena aku cinta sama kamu, dulu aku pernah bilang kalau aku nggak bisa miliki kamu, maka orang lain pun nggak bisa"


viola berjalan mendekati kursi besar itu, ia duduk sembari berputar di kursi itu seraya memainkan pistol nya.


"termasuk Amel" lanjutnya lagi.


"VIOLA TOLONG LUPAIN AKU! KAMU BISA CARI LELAKI MANAPUN!" teriak Farhan tidak terima.


"brak"


viola menggebrak meja itu, nafasnya memburu sempurna. menatap nyalang ke arah Farhan.


"AKU NGGAK BISA! HIDUPKU HANCUR GARA GARA KAMU FARHAN WIJAYA!! KAMU SUDAH PENJARAIN AKU!! TERUS MENURUT KAMU AKU LEPASIN GITU AJA? NGGAK!! NGGAK AKAN AKU LEPASIN AKU SETELAH APA YANG UDAH KAMU PERBUAT!!" ucap viola dengan Nafas memburu, matanya mengisyaratkan kebencian.


"ITU KARENA ULAH KAMU SENDIRI VIOLA! KAMU YANG UDAH BERANI GANGGU RUMAH TANGGA AKU!" balas Farhan kalau kondisinya saat ini tidak sedang di ikat, ia sudah memukul mulut viola atas ucapannya.


viola memiringkan senyumnya, ia meraih pistolnya dan mengarahkan tepat di kepala Farhan.


"kalau aku nggak bisa miliki kamu, maka orang lain pun begitu" ujarnya.


Farhan terdiam kaku, viola kembali menurunkan pistol yang ada di tangannya di meja itu. ia sedikit membenarkan rambutnya yang di kuncir kuda.


"kalau kamu tetap tidak mau meninggalkan Amel, lebih baik kita mati bersama" ujar viola.


ada yang mau di sampein ke cerita di atas? langsung komentar aja ya


jangan lupa baca eps selanjutnya ya gaesss πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰πŸŽ‰ dukungan kalian sangat berarti bagi karya ini πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰ see you 😍πŸ₯°πŸŽ‰

__ADS_1


__ADS_2