Menikahi Calon Iparku

Menikahi Calon Iparku
teror


__ADS_3

hallo semuanya maaf, sering up lama hehehe πŸŽ‰πŸ₯°πŸŽ‰btw jangan lupa dukungannya ya πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚ like dan komen πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯° karena dukungan kalian sangat berarti πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸŽ‰


...SELAMAT MEMBACA...


Dinda menerjapkan matanya karena terpaan sinar matahari yang sudah terbit, ia tersadar karena malam tadi tidur di pasir. percayalah tubuh Dinda saat ini tidak baik baik saja.


"kemana perginya tuh buaya?" gumam Dinda melihat sekelilingnya yang hanya dirinya seorang. "jangan jangan gue di tinggalin" lanjutnya lagi.


"wah kurang ajar tuh buaya, kalau beneran gue di tinggalin"


"BUAYA!" teriaknya, ia melihat sekelilingnya hanya ada lautan lepas, dan hanya ada hutan. apakah Dinda harus masuk ke hutan itu. untuk mencari alvan?


ia melangkahkan kakinya pergi menuju hutan itu, dari pada ia disini. mendingan ia pergi mencari keberadaan alvan, alvan tidak mungkin meninggalkan nya begitu saja.


sampai di sebuah pohon, ia memegang batang pohon dan melihat sekelilingnya. namun tiba-tiba bulu lehernya berdiri, ia mencoba menoleh ke belakang.


"AAAAAAAAAAAA" teriaknya histeris, namun mulutnya itu di tutup oleh tangan alvan.


"lepasin bego! gue nggak bisa nafas" gerutu Dinda menepis tangan Alvan."huwek, asyin tangan Lo asyin" sambungnya.


"Lo ngeselin banget sih" ujar alvan berdecak di pinggang, ia menatap nyalang ke arah Dinda saat ini.


"Lo gue cariin kemana aja sih? Lo mau ninggalin gue ya?" selidik Dinda sembari menunjuk ke arah alvan, Avan menepisnya dengan kasar.


"gila! Lo pikir gue Ultraman? bisa terbang gitu?"


"ya Lo gue cariin nggak ada, gue pikir Lo setan ngilang gitu aja. eh bentar, yang gue ucapin bener kan? Lo kembarannya setan" ejek Dinda, hingga membuat alvan memutar bola matanya malas.


"ikut gue" ajak alvan lalu menarik tangan Dinda, Dinda terus meronta minta di lepaskan. namun alvan tidak mendengarkan nya.


"Lo mau bawa gue kemana sih? mesum ya Lo?" selidik Dinda, namun lagi lagi alvan tidak menggubrisnya.


sampai pada akhirnya mereka berdiri tepat di depan sebuah gubuk kecil, disertai api unggun."pikiran Lo mendingan di cuci dulu. gue semalaman buat gubuk. untuk sementara kita tinggal" ujarnya.


"pikiran gue tuh nggak perlu di cuci udah bersih! terus Lo dapat ini semua dari mana?" tanya Dinda melihat sekelilingnya.


"ngambil di rumah, ya Lo pikir sendiri lah. Lo kira gue ke rumah gitu? terus kesini lagi?"


"ya gue cuma tanya, nggak usah ngegas kan bisa!" balas Dinda. ia langsung duduk di tepian gubuk. perutnya saat ini sedang bergejolak, meminta untuk di isi.


"gue laper"


"gue juga, gue mau cari makan lah" ujar alvan langsung melenggang pergi meninggalkan Dinda yang masih terduduk, sembari menggerutu.


"gue di tinggalin?" gumamnya lirih.


*

__ADS_1


"mas berangkat dulu ya" ujar Farhan mencium kening Amel dengan sangat lama, lantas mendapatkan anggukan kecil dari istrinya itu.


"hati hati mas"


"hati mas selalu ada sama kamu Ra" balas Farhan disertai kekehan ringannya.


"udah ah, sana berangkat nanti telat" usir Amel. entah Semerah apa sekarang pipinya.


"iya iya Humaira ku, jaga si kembar ya"


"dadah bucinnya mas" ujar Farhan melambaikan tangannya.


setelah mendapatkan anggukan kepala dari Amel, Farhan masuk kedalam mobilnya. ia banyak urusan saat ini. terlebih lagi ketambahan dengan urusan Dinda.


sampai di kantor setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Farhan masuk kedalam ruangan nya. ia melihat sekeliling nya namun masih sepi, biasanya kevin maupun Fano sudah berada disini.


"kotak?" gumamnya lirih melihat ada sebuah kotak di meja kerja nya. Farhan melangkah mendekati kotak itu.


"temui aku di gedung tua jalan xxxx atau istri mu dan anakmu habis di tangan ku"


Farhan langsung membanting kertas itu, disertai dengan cincang tikus. rasanya ingin muntah jika di lihat.


"siapa yang berani beraninya teror saya!" gumam Farhan, ia menendang kotak itu hingga terpental jauh.


*


08xxxxx


"jangan anggap main main ancaman saya! datangi saya ke alamat tsb nanti malam, atau anak dan istri mu siap menerima peluru dari pistol yang ku pegang"


"sial...Lo siapa ba*jingan" umpat Farhan, ia langsung menekan tombol panggil. namun nomor nya tidak aktif, dan ia langsung menghubungi Amel.


"hallo mas ada apa? tumben nelpon?" tanya Amel di seberang sana.


"kamu masuk rumah Ra, sekarang jangan di taman depan!" titah Farhan.


Amel menyerengit kan keningnya heran, kenapa suaminya tiba-tiba berbicara seperti itu."mas Farhan kok tau aku di taman?" tanya Amel.


"udah Ra, kamu masuk dulu. dan mungkin mas pulang larut malam, kamu tidur dulu ya"


setelah mengatakan itu Farhan langsung mematikan ponselnya, ia memanggil Fano. Fano ahli dalam mengacak nomor ponsel itu.


"ada apa bro?" tanya Fano bingung, pasalnya Farhan memanggilnya secara mendadak.


"bantuin lacak nomor ini, gue di teror" jelas Farhan, kalau Farhan sudah dalam mode seperti ini. ini kelewat serius.


"nomor ini? bentar gue ambil laptop gue dulu" jelasnya, lalu keluar untuk mengambil laptop di ruangan nya itu.

__ADS_1


setelah mengambil laptop, Fano memasukkan nomor itu. dan mulai melacaknya. namun hasilnya NIHIL nomornya sudah tidak aktif, mungkin saja penerornya sudah mematahkan kartu sim nya.


"sial" umpat Farhan frustasi, ia memijat pelipisnya saat ini.


"siapa yang teror Lo?" tanya Fano menyerengitkan keningnya. Farhan itu tipikal orang yang tidak mau cari masalah, justru orang orang lah yang mencari masalah dengan nya.


"gue nggak tau, yang jelas dia ngancem istri dan anak gue" ujar Farhan dan langsung menyodorkan pesan yang dikirim itu.


"Lo punya musuh?" tanya Fano.


"banyak" jawab Farhan santai ia membenarkan rambutnya.


"gue tau musuh Lo banyak, maksud gue yang nggak suka banget sama Lo siapa?" tanya Fano memutar bola matanya malas, pagi tadi ia sudah ribut dengan Ratna. sampai kantor malah disuguhkan seperti ini.


"Alvan?" gumam Farhan, ia langsung memandang wajah Fano.


hening


tiba-tiba ponsel Farhan bergetar, nama yang tertera membuat kepala Farhan ingin meletus saat ini juga. "Kevin"


"iya halo Vin ada apa?" tanya Farhan.


"hallo pak, Bu Dinda belum ada kabar apakah kita harus menyewa tim SAR?" tanya kevin dari sambungan telepon.


"ya terserah kamu, yang terbaik aja. jangan nambah nambah masalah" balas Farhan lalu mematikan ponselnya secara sepihak.


Fano berani bersumpah, Kevin saat ini sedang sumpah serapah pada Farhan. namun ia tahan karena dalam keadaan genting seperti ini. "Lo mendingan turutin keinginan dia" ujarnya memberikan saran.


"ya tapi apa tujuan dia?" tanya Farhan bingung.


Fano menarik nafasnya, ia kembali menatap sahabatnya ini. "ya nanti Lo juga tau, apa yang ingin dia minta dari Lo. mau gue temenin? atau panggil polisi' aja?" tanya Fano.


"CK, polisi yang ada dia malah nekat! gue nggak mau terjadi apa apa sama Amel" balas Farhan lalu dibalas anggukan oleh Fano.


"ya terus?"


"gue yang kesana sendiri" ucapnya final, ia harus bisa mengambil resiko.


"kalau Lo di HABISIN?" tanya Fano bingung, Jujur saja walaupun Farhan orangnya jago dalam bela diri. tetapi jika mereka membawa senjata Farhan bisa apa?


"gue bisa hadapin mereka" jawab nya pasti, ia tidak akan mau sampai keluarganya di ancam seperti ini.


"kalau mereka bawa senjata? feeling gue mereka banyak. dan dia udah berani kirim foto pistol berarti dia punya senjata ilegal"


yang Fano ucapkan memang benar, Farhan tidak boleh mengambil keputusan mendadak seperti ini. "Gus punya ide, dan Lo harus bantu gue!"


"CK, minta bantuan juga kan" ucap Fano terkekeh, namun segera mendapatkan tampolan tangan dari Farhan.

__ADS_1


segini dulu ya hehehe, maaf bila kelamaan up


__ADS_2