
hallo semuanya maaf lama up nya, sebelum baca jangan lupakan like dan komen🙂 karena dukungan dari kalian begitu berarti untuk karya ini🥰🥰🥰oke happy ready
...SELAMAT MEMBACA...
Dinda duduk di gubuk, perutnya sedari tadi tidak bisa di ajak kompromi. terus berbunyi hingga membuat nya hampir pingsan saat ini.
"Tuhan bisa kah kau turunkan pangeran untuk ku"
Dinda tergelak dengan ucapan nya, mana ada pangeran di siang bolong apalagi di pulau terpencil seperti ini.
alvan baru saja sampai, badannya penuh dengan lumut hijau. di rambutnya terdapat katak.
"AAAAAAAAAAAA" teriak Dinda membuat alvan menutup telinga nya.
"Lo gila! mulut Lo berisik tau nggak!!"ucap alvan, seketika mata Dinda melotot sempurna.
"Lo buaya? gue kira siluman kodok nyasar, tubuh Lo kenapa?" tanya Dinda setengah terkejut. pasalnya keadaan tubuh alvan benar benar seperti seorang siluman katak.
alvan mengibaskan katak itu di kepalanya, ia malas menatap Dinda saat ini.
"gue tadi mau cari ikan di laut, terus lihat jaring ada di rawa eh pas gue masuk ternyata ada kataknya"
seketika gelak tawa dari mulut Dinda tidak bisa ia tahan, hingga membuat alvan merasa kesal.
"berarti mereka tau, Lo itu rajanya.buaya cap katak eh nggak! nggak! maksud gue buaya cap kodok" ujar Dinda diselingi oleh tawa yang menggema.
"berisik! dari pada ketawa terus. mendingan cari ikan pakai jas mu" ungkap alvan Langsung mendapatkan wajah terkejut dari dinda.
"Lo gila? nggak! nggak! Lo tau nggak ini harganya mahal! Lima juta! ya kali buat cari ikan" elak Dinda tidak terima dengan ucapan Alvan.
"Lo pengen makan nggak?"
Dinda terdiam, ia lapar tetapi masa harus merelakan jas kesayangan nya dijadikan saringan ikan. kan tidak lucu.
"ya udah nih, awas sampai nggak dapat ikan nya! gue hajar Lo!" ancam Dinda, dan dibalas cibiran kecil dari mulut alvan.
*
setelah berusaha semaksimal mungkin, alvan mendapatkan dua ekor ikan. itu membuat mata Dinda berbinar-binar.
"asyik, makan ikan"
alvan hanya memutar bola matanya malas, ia mulai membakar ikan itu. di bantu oleh Dinda.
"Lo kayak nggak pernah makan ikan aja"ucapnya.
"emang enggak!"
"serius?" tanya alvan memastikan, dibalas anggukan kecil dari kepala Dinda.
"gue tuh emang suka sama ikan, apalagi yang masih segar kayak gitu.tapi gue mentingin kulit gue"
alvan menyimak, memang benar Dinda menyukai treatment. jadi ia menghindari makanan berbau sea food.
*
__ADS_1
Farhan hari ini meeting dengan klaein, di restoran. ia sendiri karena Kevin sibuk dengan urusan kehilangan Dinda. Fano sibuk dengan perusahaan, Alhasil ia harus meeting sendirian.
"terimakasih pak atas kerja samanya"
perkataan itu terlontar setelah ia dan klaein nya, setelah berhasil memenangkan tender proyek besar.
Farhan duduk sembari memijat pangkal hidungnya, akhir akhir ini ia tertimpa masalah beruntun. dari kehilangan Dinda dan mengancam perusahaan nya, lalu ditambah lagi dengan teror baru yang mengancam keluarga nya. rasanya membuat kepala Farhan ingin pecah untuk saat ini.
pandangan Farhan langsung teralihkan Kepada seorang gadis, yang ia sangat kenali namun style nya sungguh berubah 180°. itu Amel istrinya, ia sedang marah marah kepada seorang pelayan. Farhan bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri istrinya itu.
"Ra" ucap Farhan langsung berhadapan dengan gadis di hadapannya ini.
alis gadis itupun terangkat satu, ia tidak mengenali pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Sorry, who is this? Ra? do we know each other?" ucapnya.
Farhan melihat tidak percaya, apalagi dengan bahasa dari Amel. Inggris, bukankah istrinya tidak terlalu lihai dalam berbahasa Inggris. dan melihat dari penampilan nya ini benar benar berubah.
jaket hitam, dan celana jeans namun Farhan masih bisa mengenali istrinya ini. mana mungkin ia bisa salah.
"kamu kenapa bisa di sini Ra?" ucap Farhan menyentuh lengan istrinya ini. namun segera di tepis oleh nya.
"WHAT? Ra? maaf ya mas. saya ini nggak kenal sama anda!" ucap gadis itu.
"maksud kamu? kamu Amel kan? istri aku?" tanya Farhan tidak percaya, namun dibalas senyuman miring dari gadis di hadapannya ini.
"istri? kapan gue nikah! maaf mas, mungkin anda salah orang saya permisi!"
"Ra! tunggu! jelasin ke mas dulu!" ucapnya, gadis itu menepis tangan pria yang di hadapannya saat ini.
"tolong ya mas! jaga sikap! saya bukan istri mas! dan lepasin tangan saya!" geram gadis itu.
"kamu apa sih Ra?, kenapa style kamu jadi kayak gini? berubah 180°"
gadis itupun tersenyum, emosinya saat ini membuncah."saya sudah katakan tadi, saya tidak kenal dengan anda!"
Farhan hendak memegang pipi istrinya ini, namun dengan cepat gadis itu menepisnya dan mendaratkan tamparan keras di pipi Farhan.
"plak"
satu tamparan berhasil mendarat sempurna di pipi kiri Farhan, rasa panas menyeruak di kulit nya saat ini. namun bukan rasa sakit yang di timbulkan melainkan ia tidak pernah di tampar oleh Amel. dan sekarang ia di tampar.
"saya sudah katakan tadi! Anda sudah berani kurang ajar! and one more thing we don't know each other! jadi STOP panggil saya dengan sebutan istri, atau Ra!" geram gadis itu. ia segera memakai helm nya lalu menyalakan mesin motornya, dan melaju meninggalkan Farhan yang menatapnya tidak percaya.
"ini bukan kamu! aku harus pulang!"
Farhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, saat ini ia akan pulang bertemu dengan Amel. Farhan sampai menggagalkan janji nya dengan klaein sore ini. pikiran nya saat ini hanya Amel, ponsel istrinya itu pun tidak aktif.
hingga pada akhirnya mobil Farhan memasuki pekarangan rumah nya, terlihat sepi. ia di sambut hangat oleh para asisten rumah tangga. dan satpam, tanpa pikir panjang Farhan langsung menaiki lift dan bertemu dengan istrinya saat ini.
"Ra" teriak Farhan ia melihat sekeliling nya, sepi dan melihat brangkar ranjang bayi kembarnya itu. mereka tertidur dengan pulas.
"ada apa mas?" tanya Amel ia keluar dari kamar mandinya, terlihat basah di rambutnya disertai senyuman lebar nya.
__ADS_1
"kamu disini?" tanya Farhan langsung menyentuh pundak istrinya itu, melihat dari bawah sampai atas.amel mengangguk bingung dengan sikap suaminya saat ini.
"memangnya ada apa? kamu udah pulang sore ini?" tanya Amel bingung, karena Farhan sempat berkata bahwa akan pulang telat.
"kamu nggak keluar Ra? tadi?" tanya Farhan lagi, di balas gelengan kepala dari Amel. Farhan langsung memeluk tubuh istrinya itu yang masih terbalut dengan handuk.
"kenapa mas?" tanya Amel bingung ia mengusap punggung suaminya ini.
"kamu tadi tampar aku di restoran"ungkapnya, Amel langsung mengurai pelukan itu. ia menatap bingung ke arah suaminya saat ini.
"tampar? di restoran tadi? aku nggak keluar dari rumah mas seharian ini. kan mas Farhan bilang nggak usah keluar rumah"
Farhan langsung memegang pipi istrinya ini, tadi ia merasakan hal yang sama. pipi istrinya yang begitu kenyal, bedanya tadi ia di tepis namun sekarang di balas dengan senyuman.
"tapi aku serius Ra, lihat kamu penampilan nya berubah 180°"
Amel menyerengitkan keningnya heran, seharian ini ia di rumah apalagi yang di katakan Farhan membuat nya terkejut.
"mas, dari pagi sampai sekarang aku nggak keluar rumah. lagian aku juga nggak mungkin tampar suamiku sendiri"
Farhan memijat pangkal hidungnya, mungkin saja ia hanya banyak pikiran. apalagi tadi pagi mendapatkan teror yang mengancam istrinya jadi Farhan waspada akan hal itu.
"yaudah kalau gitu mas ke kantor lagi"ucap Farhan lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut.
"udah mau malam loh mas, memangnya nggak capek?" pinta Amel bingung.
"nggak, kemungkinan mas pulang malam"
Farhan tidak mengatakan jika ia mendapatkan teror, ia takut istrinya ini akan khawatir.
"dan cepat pakai baju, aku nggak mau tubuh kamu di lihat orang"kelakar Farhan langsung mendapatkan pukulan kecil di lengan nya.
"iya iya, hari hati ya mas" balas Amel menahan senyumnya.
"hari ku cuma ada kamu Humaira ku"
*
gadis itu kesal setengah mati, ia memasuki hotel nya dan merebahkan diri di tempat tidur nya. seharian ini ia terkena masalah.
"istri? kapan gue nikah? stress tuh orang" gumamnya lirih ia langsung meraih ponselnya yang berdering.
"Daddy"
nama yang tertera itu, ia sangat malas mengangkat ponselnya. namun panggilan itu terus menghantuinya sejak ia datang ke Indonesia.
dengan malas, gadis itu mengangkat ponselnya, ia harus terima jika mendapatkan teriakan kencang dari seberang sana.
"Amara where are you!! go back to France now!" teriak seseorang di seberang telepon sana.
"nggak! Amara nggak mau pulang sebelum ketemu sama mommy!and father has no right to prevent Amara!" balas Amara langsung mematikan ponselnya, ia melemparkan benda pipih itu ke sembarang arah.
"pulang!! pulang!! Amara nggak mau pulang sebelum ketemu sama mommy!" ucap Amara ia langsung melemparkan jaketnya kesembarang arah.
oke gaes segini dulu ya hehehe 🥰🥰 jangan lupakan like nya. dan tunggu episode selanjutnya ya 🥰🥰🥰🎉 see you 🥰🎉🎉
__ADS_1