
maaf bila ada salah dalam pengetikan kata mohon dimaklumi ya π₯°π jangan lupa untuk like dan komen π₯°π₯°π₯° selamat membaca π₯°πππ₯°π₯°π₯°π ready βΊοΈβΊοΈβΊοΈπβΊοΈβΊοΈ
*
Farhan membuka pintu perlahan, ia melihat Amel berbaring lemah di kasur dengan langkah pelan Farhan mendekati istrinya itu.
"Ra"
Farhan duduk sembari memegang tangan istrinya, Sekarang ia percaya perjuangan melahirkan itu luar biasa, kenapa dulu ia terburu-buru menyuruh Amel untuk hamil.
"Ra, bangun Ra"
namun mata Amel tetap tertutup, Farhan yang melihat itu menundukkan kepalanya ia mencium tangan Amel dengan lembut.
"Ra, kamu nggak pengen lihat baby kembar kita?" tanya Farhan.
"bukannya kamu yang dulu ngebet banget pengen lihat kelamin anak kita? sekarang mereka sudah lahir Ra" lanjut Farhan lagi.
"bangun Ra, memangnya kamu nggak mau lihat mereka?" tanya Farhan.
mama ayu yang melihat Farhan dan Amel dari kaca pintu, hatinya sedih kenapa keluarga nya tertimpa musibah seperti ini.
"baru kali ini aku lihat Farhan seperti itu" batin mama ayu.
"kalau kamu nggak bangun, mas kasih hukuman!!" jelas Farhan.
Farhan tetap mengajak Amel bicara, mungkin berpengaruh terhadap kesadaran Amel.
sedangkan pak Wijaya melihat ketiga cucunya di luar ruangan, ia melihat dari kaca.
"kalian cucu oppa yang paling kuat" gumam pak Wijaya.
pak Wijaya terus berdoa semoga Amel cepat siuman, ia tidak bisa membayangkan gimana nssib ketiga cucunya itu.
*
Ratna sedang duduk santai di sofa, ia sudah memakai daster ala ibu hamil sembari membaca majalah, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
"hallo Ular, Lo hari ini cek kandungan kan?" tanya Fano dari sambungan telepon.
Ratna melihat layar ponselnya, ternyata teriakan Suara itu berasal dari mulut Fano.
"gue nggak tau" jawab Ratna sekenanya.
iya pun tidak tau tentang cekaup kandungan, yang ia tau ia harus makan bergizi dan minum susu hamil.
"dasar bumil ngeselin, sekarang Lo ke rumah sakit cek kandungan Lo gue nggak mau anak gue kenapa Napa" jelas Fano.
"*why? sejak kapan Lo peduli sama gue?" tanya Ratna dengan terkesima menahan senyumnya.
"dih Ge'er banget Lo!! gue peduli sama anak gue ya bukan sama emaknya*!!!"
Ratna mendengus kesal, ia sudah menebak Fano tidak mungkin memujinya.
"*Yaya, seterah lo!!" jawab Ratna santai.
"yaudah Lo cepetan berangkat, kalau Lo nggak berangkat Lo tau sendiri akibatnya!!!" ancam Fano langsung mematikan ponselnya*.
Ratna meletakkan ponsel itu dengan malas, mungkin ia akan mengaku sudah pergi namun ternyata tidak.
tiba-tiba pesan masuk dari ponselnya, segera Ratna meraihnya kembali dan siapa yang mengirimkan pesan terhadapnya.
curut; Lo pergi sekarang, atau gue hukum Lo malam ini!!!
pesan singkat itu berhasil membuat Ratna terlonjak kaget, buru buru ia meraih tas dan memakai masker untuk segera pergi, ia tau apa yang bisa curut itu lakukan kepadanya.
*
Farhan yang menunggu Amel hingga petang, tiba-tiba tersadar setelah jari tangan Amel bergerak.
"Ra"
Farhan segera menekan tombol untuk memanggil Widia, segera Widia masuk kedalam.
"Wid tadi gue lihat jari Amel bergerak" jelas Farhan.
__ADS_1
"iya Han gue periksa dulu ya" ucap Widia.
"mohon maaf pak, keluar sebentar karena dokter mau memeriksa nona Amel" jelas salah satu suster.
walaupun Farhan anak pemilik rumah sakit ini, ia harus tetap mengikuti aturan rumah sakit.
Farhan keluar ia mondar mandir wajah cemasnya jelas terlihat di sana.
"kamu pasti kuat Ra" ucap Farhan.
mama ayu dan pak Wijaya yang sudah pulang, karena sudah seharian ini mereka tidak mandi sejak kemarin.
*
Ratna berjalan santai memasuki lorong rumah sakit, rencananya ia akan mengecek kandungan sesuai perintah curut suaminya.
namun pandangan nya tertuju pada wanita yang memakai pakaian rumah sakit ini, ia di dorong kursi roda bersama dengan polisi wanita.
"what? itu kan anak konglomerat?"
segera Ratna mendekati wanita itu, setelah berhasil berhadapan dengan nya senyumnya merekah.
"what?? seorang putri keraton? di kawal sama bodyguard polisi??" tanya Ratna tertawa kecil.
viola menatap tajam ke arah Ratna yang sedang tertawa, kalau badannya tidak terasa lemas seperti ini mungkin rambut Ratna sudah ada di genggaman nya.
"ngapain Lo kesini!!!" sungut viola.
"UPS!!! gue kesini mau periksa anaknya Fano kenapa? iri ya?" tanya Ratna tersenyum.
"nggak, minggir Lo!!!" jelas viola.
"jangan marah marah dong putri keraton!!! by the way Lo kesini sakit atau kesakitan nih?" tanya Ratna terkekeh pelan.
"udah bangs*t minggir Lo!!! gue mau lewat!!" geram viola.
"okhey okhey!! sampai bertemu lagi Putri Keraton"
Ratna langsung pergi setelah puas mengejek viola, ia tidak peduli viola kesini mau ngapain yang jelas viola sudah di penjara saat ini.
*
"gimana Wid keadaan Amel?" tanya Farhan langsung mendekati ke arah viola.
"Alhamdulillah Han, istrimu sudah sadar namun kondisinya sangat lemah dan jangan di berikan makanan atau minuman dulu ya? karena ia baru saja operasi" jelas Widia sembari tersenyum.
"serius Wid? Alhamdulillah, aku boleh masuk?" tanya Farhan mengucapkan syukur.
viola mengangguk, dengan cepat Farhan masuk kedalam hatinya benar-benar lega setelah mengetahui Amel telah siuman.
Widia yang melihat temannya itu bahagia ia turut bahagia, walaupun ada rasa sakit yang membekas.
"aku seneng kalo kamu seneng Han, walaupun rasa senang mu membuat hati ku sakit"
segera Widia ke ruangan nya ia tidak mau sampai semua orang tau ia menangis di depan Farhan.
Farhan masuk ia lalu mendekati Amel dengan cepat, rasa bahagianya tidak sebanding dengan kehadiran buah hatinya.
"Ra" ucap Farhan lalu memeluk tubuh Amel.
Amel tersenyum ia mengusap rambut suaminya itu dengan lembut.
"ada yang sakit? atau apa? kamu butuh apa?" tanya Farhan melihat Amel dan mengusap wajah pucat itu dengan lembut.
"enggak mas, aku nggak ada yang sakit, dimana anak kita?" tanya Amel.
"mereka masih di ruangan, terimakasih Ra perjuangan mu begitu besar" ucap Farhan lalu mencium kening istrinya dengan lembut.
"itu sudah resiko menjadi seorang ibu mas, aku boleh lihat anak kita?" tanya Amel.
Farhan mengangguk, ia pamit untuk mengambil putera Putri nya itu kehadapan istrinya.
"assalamualaikum mama" ucap Farhan disertai membawa kereta keranjang anak mereka, dibantu dengan suster.
senyum Amel merekah, ia pun tidak menyangka anak yang ia kandung ternyata kembar tiga maklum saja perutnya terlihat begitu besar.
__ADS_1
"ini anak kita mas?" tanya Amel.
"iya Humaira ku, ketiga bocah ini anak kita" jawab Farhan tersenyum.
"aku mau gendong" jelas Amel.
lalu suster meraih bayi perempuan itu untuk dibawa kepada Amel.
"satu lagi" jelas Amel.
suster itu mengangguk, ia meraih bayi laki laki yang sangat tampan untuk digendong oleh Amel.
sekarang Amel menggendong kedua bayinya sedangkan yang satunya di gendong oleh Farhan.
"cantik dan tampan kalian" ucap Amel bangga.
"siapa dulu papahnya" jelas Farhan menaik turunkan alisnya.
Amel menggeleng, rasa sakit yang diderita nya seketika menghilang setelah menggendong bayinya itu.
pintu terbuka melihat kan pak Wijaya dan mama ayu, kedua wanita sepuh itu mendapatkan kabar dari Widia bahwa Amel sudah siuman.
"sayang" ucap mama ayu langsung menghampiri menantunya itu.
"mama, papah"
"gimana keadaan mu?" tanya mama ayu.
"Amel baik baik aja kok mah, gara gara cucu mama" jelas Amel.
mama ayu tersenyum, ia mengusap kepala putrinya itu dengan lembut rasa bahagia nya telah tiba hari ini juga.
"mama boleh pinjam si cantik?" tanya mama ayu.
Amel menggangguk tersenyum, dengan segera mama ayu meraih bayi perempuan itu dengan hati hati.
begitu pun pak Wijaya, ia meminta izin kepada farhan untuk menggendong bayi lelaki itu.
"papah pinjem sebentar" ucap pak Wijaya.
"sukanya minjem!! bikin dong!!"
semua mata tertuju pada Farhan termasuk mama ayu.
"papah udah bikin terus udah jadi Segede kamu!!!" gerutu pak Wijaya.
Farhan segera memberikan bayi lelaki itu kepada pak Wijaya untuk di gendong.
"yang mana anak pertama, kedua, ketiga Han?" tanya mama ayu terlihat bingung.
"oh yang pertama di gendong oleh papah, kedua di gendong oleh Amel dan yang paling cantik di gendong oleh mamah" jelas Farhan.
mereka mengangguk paham, mereka pun bingung ingin memberikan nama apa untuk ketiga buah hatinya ini.
"mau dikasih nama apa Han?" tanya pak Wijaya?
"iya sayang mau dikasih nama apa?" tanya mama ayu pada putrinya.
Amel pun belum kepikiran untuk memberikan nama apa kepada anak anaknya itu, berbeda dengan farhan ia sudah menyiapkan nama untuk bayinya itu.
"Farhan udah siapin mah, pah" jelas Farhan.
"nama nya apa Han?" tanya pak Wijaya, kalau puteranya ini memberikan nama asal asalan maka pak Wijaya akan menghukumnya.
"namanya........ adalah......"
semua orang menatap serius kepada Farhan, rasa penasaran itu terus membuncah.
"APA???" tanya ketiga nya.
"besok Farhan kasih tau" jelas Farhan santai.
"dasar anak nakal!!!" geram pak Wijaya langsung memukul putranya itu dengan kain.
jangan lupa baca eps selanjutnya ya gaesss, karena penasaran nama apa yang akan diberikan oleh Farhan?? pantengin terus novel kuπ₯°π₯°π₯° salam happy ππ₯°π₯°π₯°π see you ππ₯°ππππ₯°π₯°ππ₯°πππ₯°π₯°
__ADS_1