Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 101: Kejujuran


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu dengan cepat, saat ini Allen masih memulihkan dirinya di rumah sakit.


Video tentang Cynthia sebelumnya, jelas juga sampai ke tangannya, dirinya juga tidak pernah mengira jika kelakuan istrinya itu akan seburuk itu, sampai-sampai perbuatan tidak senonoh direkam seperti itu sampai saat ini tersebar.


Allen, benar-benar tidak habis pikir kenapa bisa bisanya dirinya menikah dengan gadis itu, yah awalnya mesin dirinya merasa sedikit kasian pada, Cynthia karena memiliki nasib yang cukup malang sejak kecil...


Namun sepertinya rasa empati dan simpati ini malah dimanfaatkan habis-habisan.


"Allen, kamu tidak perlu terlalu memikirkan soal Cynthia Istrimu itu, Ayah sudah memanggil pengacara untuk mengurus surat perceraian kalian, ini akan selesai kurang dari 2 minggu, kamu tidak perlu terlalu memikirkannya lagi,"


"Iya, Ayah. Aku mengerti,"


"Ini pasti berat untukmu,"


Allen lalu mulai teringat sesuatu bahwa dirinya dan ayahnya ini belum membahas soal hal-hal yang terjadi sebelumnya.


Ya, Ayahnya Felix sepertinya tidak menanyakan atau mempermasalahkan hal hal itu sebelumnya hanya fokus kepada pemulihan dirinya.


Ini mungkin bentuk dari perhatian yang Ayahnya barikan.


"Tapi... Ayah juga Sebenarnya memiliki hari-hari yang berat juga bukan karena Ibuku?"


"Kamu sebelumnya sudah bertemu dengan Richard bukan? Apa saja yang dia katakan padamu?"


"Dia bilang, Ayah mencoba memisahkan Ibu dan Dia,"


"Ini adalah sebuah cerita yang panjang, dan ya memang Ayah yang salah, Ayahmu yang memisahkan mereka... Namun sungguh, aku tidak pernah memiliki niat buruk apapun baik pada Ibumu ataupun Ayah Kandungmu, mereka hanya mungkin salah paham menuduhku mencelakakan Richard sampai masuk juang, namun itu sungguh bukan salahku,"


Allen tersenyum mendengar itu lalu segera berkata,


"Ya, Aku percaya pada Ayah. Aku juga tidak mengerti bagaimana perasaan Ibuku, namun toh itu adalah sesuatu yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu, hal itu tidak akan pernah berubah atau tidak akan pernah kembali. Aku sejujurnya juga merasa penasaran kenapa Ibuku melahirkanku dengan cara seperti ini..."


Ada nada kesedihan ketika Allen mengatakan itu.


"Kamu jangan dengan berbicara seperti itu, Ibumu jelas menyayagimu,"


"Tapi, dia tetap menipu Ayah dan bahkan tidak memikirkan apa yang mungkin terjadi padaku setelah itu... Hanya...."


Felix segera memeluk Putranya itu, mencoba untuk menenangkan nya.


"Allen, ini tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja, dan kamu harus tahu satu hal, apapun yang semua orang katakan, kamu akan tetap menjadi Putraku, mengerti?"


"Ayah... Apa kamu bisa begitu baik padaku?"


"Sejak aku kehilangan, Almarhum Ibumu, hari-hariku terasa sangat berat dan menyakitkan, namun sangat beruntung saat itu Aku memilikimu bersamaku, Putra tersayangku.... Bahan setelah kenyataan itu Aku ketahui, Aku tidak pernah bisa membencimu, hanya itu semua terlalu berat untukku hingga aku tidak terlalu memperhatikanmu setelahnya.. Aku benar-benar minta maaf...."


"Tidak, Ayah sudah di sakiti seperti itu, namun tetap masih mau merawat dan menjagaku, untukku itu adalah keputusan yang paling laksana dan paling hebat yang pernah aku tahu, gak itu aku aku tidak tahu apakah akan bisa mengambil keputusan semacam itu. Juga.... Aku bersalah karena telah mencoba mencelakakan Ayah sebelumnya... Kejadian itu..."


"Itu rencana Richard bukan?"


"Ya, saat itu Aku..."


"Tidak, Allen. Saat itu hatimu dan mental mu sedang hancur dia hanya mengambil keuntungan dari mu saat itu dan memanfaatkanmu, tidak perlu terlalu memikirkan itu lagi. Aku tidak akan melarang mu jika kamu ingin bertemu dengan Ayah Kandungmu, itu mungkin hakmu untuk bertemu dengannya, namun yang pasti jangan pernah lagi dengarkan suruhan aneh-aneh darinya, Ayah hanya takut, kamu mengambil keputusan yang salah lalu menyesal seumur hidup, penyesalan seumur hidup itu benar-benar putus asa... Ya... Terkadang aku juga masih menyesali nya kenapa aku bisa begitu egois dan memaksakan cintaku pada Shopia...."


"Ya, Aku akan hati-hati,"


"Namun jika dia masih atau mencoba berbuat macam-macam padamu kamu harus selalu bilang padaku oke?"


Allen lalu hanya mengaguk setuju.


Sepasang Ayah dan Anak itu saat ini kembali pada kedamaian.


Stella yang kebetulan melihat pemandangan itu dari luar jika terlihat senang.

__ADS_1


Ya, sangat bagus jika Ayah dan Anak bermasalah itu akhirnya sudah berbaikan, sudah tidak ada lagi bom waktu mengganggu yang akan merusak semua ini.


Hanya bisa berharap di masa depan hubungan itu akan terus berjalan dengan baik.


####


Hari sekali lagi berlalu, nanti sore Allen sudah boleh pulang.


Jadi pagi itu, Felix yang selama ini menjaga putranya di rumah sakit itu mulai beres-beres, dan tentu saja di bantu oleh Stella.


"Nah, ini handuk Paman hampir tertinggal," kata Stella sambil memasukkan sebuah handuk koper Felix itu.


"Ini hanya handuk kamu tidak perlu repot,"


"Ya kan barangkali nanti handuk ini disalahgunakan orang jika ditemukan,"


"Hah, untuk apa handuk semacam ini?"


"Untuk melakukan pelet pada Paman Felix misalnya?"


Felix yang mendengar itu, dan melihat Stella tertawa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Berhenti bicara omong kosong, dan cepat bantu aku membereskan baju Allen juga,"


Keduanya terlihat sangat akrab dan dekat mulai saling bantu membereskan baju Allen dan Felix.


Sampai kadang, mereka berdua mengambil barang yang sama dan membuat keduanya menjadi salah tingkah sendiri.


Ini adalah pemandangan yang pertama kali Allen lihat ketika dirinya terbangun dari tidurnya.


Suasana yang ada di depannya itu terlihat sangat damai, namun kenapa hatinya begitu sakit?


Awalnya dirinya tidak mengerti soal perasaan ini, namun sekarang dirinya paham, jika ini mungkin sesuatu yang di sebut dengan kecemburuan?


Disana, akan ada Stella yang mulai memasarkan dirinya sebuah bubur hangat, lalu membantu menyuapinya makan.


Rasanya pemandangan itu baru terjadi belakangan, hari-hari yang cukup indah, sebuah perhatian yang entah bagaimana dirinya rindukan.


Sebuah kebaikan yang selama ini tidak begitu dirinya perhatikan namun malah baru sekarang dirinya merindukannya....


"Allen, kamu sudah bangun?"


Stella yang kebetulan berniat menggambil sesuatu di laci meja melihat ke arah Allen yang ternyata sudah bangun.


"Ya, aku sudah bangun,"


"Ah, apakah kamu butuh minum? Ini Aku ambilkan minuman hangat," kata Stella dengan sikap lalu mengambil termos dan menunaikan air hangat di gelas, dan menyerahkannya pada Allen.


Ketika menyerahkan gelas itu, tangan mereka bersentuhan, Allen jelas menjadi tegelam dalam pikirannya menatap Stella yang ada di depannya.


Namun hal itu terjadi dengan sangat cepat, karena Stella segera mengambil tangannya, dan mulai melakukan hal-hal lainnya.


"Allen, bagimana perasaanmu sekarang?" Tanya Felix yang sepertinya sudah selesai membereskan kopernya itu.


"Aku sudah baik-baik saja Ayah. Nanti aku sudah akan pulang, Ayah sebaiknya pulang saja dulu, Ayah sepertinya lelah,"


"Tidak apa-apa,"


"Ayah, jangan seperti ini, aku takut nanti Ayah malah sakit dan membuat Aku khawatir, sungguh aku sangat berterima kasih karena telah merawatku selama ini,"


"Astaga, anak ini. Kamu ini menjadi begitu sungkan padaku Seolah Aku ini siapa saja,"


"Aku hanya khawatir pada Ayah, sebagai seorang anak, jelas aku khawatir dengan keadaan Ayahnya,"

__ADS_1


"Baik-baik, Aku akan pulang dulu. Stella, kamu tunggu di sini saja sampai kamu nanti ada jadwal kuliah, kamu tidak sibuk kan sampai nanti siang?"


"Tentu saja, kamu bisa menyerahkan nya padaku, Aku akan berada disini dan menjaga Allen,"


Setelah itu, Felix segera keluar dari kamar itu dengan kopernya.


Dan sekarang hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.


Suasana menjadi begitu canggung.


Baik Stella atau Allen tidak mengatakan apapun karena bingung.


"Jika kamu butuh apa-apa kamu bisa memanggilku,"


"Ya,"


Mendengar jawaban itu Stella lalu hanya duduk di sofa, dan memainkan ponselnya.


Namun ketika Stella baru saja duduk, Allen segera mencoba duduk dan berkata,


"Aku pikir aku akan mandi,"


"Ah? Apakah kamu butuh bantuan ku untuk membawamu ke sana?"


"Tidak usah, aku rasa aku sudah bisa jalan normal,"


Allen segera bangun dari tempat tidur, namun sepertinya keseimbangan nya masih buruk membuat dia hampir saja jatuh, untung Stella memang sudah waspada dan berdiri di samping Allen, sehingga bisa menangkapnya tepat waktu.


Allen yang saat ini berada begitu dekat dengan Stella itu, memiliki perasaan yang begitu rumit.


"Kenapa kamu begitu baik padaku?"


"Aku juga tidak tahu kenapa, hanya, mungkin ini karena tidak terbiasa,"


"Kamu selama ini selalu begitu baik padaku..."


"Ya, Allen dari ketika kamu kecil, aku selalu mengagap pertemuan ku denganmu adalah sesuatu keberuntungan untukku, Aku yang harus hidup dengan nama orang lain dan penuh kepalsuan, akhirnya bisa bertemu denganmu, yang menganggap Aku sebagai seseorang biasa, tanpa kepalsuan apapun, memanggilku dengan nama asliku,"


Allen menatap Stella dengan ekspresi kaget, dirinya tidak mengira jika keberadaannya berarti sangat besar untuk wanita didepannya ini.


Tatapan Stella tiba-tiba mulai mengingat masa lalu.


Tapi segera, Stella mengelengkan kepalanya, dan berkata lagi,


"Tapi toh itu sudah masa lalu...."


Mungkin Allen yang terbawa suasana berkat kata-kata lembut sebelumnya, tanpa sadar memberikan sebuah ciuman pada Bibir Stella, itu hanya sekilas sampai Stella mendorongnya menjauh.


"Allen.... Apa-apaan kamu!"


Allen juga segera mundur, dan mulai duduk di tempat tidurnya, dari jika perbuatannya barusan itu benar-benar sangat salah.


"Aku minta maaf.... Aku minta maaf atas segalanya.... Semua yang kamu lakukan padaku selama ini, kebaikan yang kamu berikan... Maaf jika selama ini Aku tidak menyadarinya.... Jika aku sangat sangat terlambat menyadarinya... Bahwa sebenarnya... Aku juga menyukaimu, Stella...."


Pertanyaan yang tiba-tiba itu, membuat Stella terdiam, tidak mengira kata-kata semacam itu keluar dari mulut Allen.


Dari sejak mereka bersama, Allen memang tidak pernah menyatakan perasaannya padanya, ya hubungan mereka berjalan seperti itu, sampai mereka bertunangan, hingga akhirnya perencanaan acara pernikahan...


Ketika suatu hari di masalalu itu, dirinya pernah menantikan kata-kata itu dari dari Pria depannya ini tapi....


"Aku sebenarnya mencintaimu Stella..." kata Allen lagi.


Di depan pintu, ternyata saat ini ada beberapa orang yang melihat adegan itu.

__ADS_1


Hal-hal seharusnya tidak untuk dilihat dan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi...


__ADS_2