Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 28: Tidak Menyerah


__ADS_3

Malam itu, Stella menunggu kedatangan Felix di Ruang Tamu sampai ketiduran, namun Felix tidak kunjung pulang.


Felix juga tidak memberikan kabar ke rumah.


Hah, padahal Stella ingin meminta maaf dan mencoba mendekati suaminya itu, jadi dia sengaja menunggu di Ruang Tamu.


Namun sampai tengah malam, Stella terbagun, dan melihat kearah jam tangannya sudah menunjukan pukul dua malam.


"Sial, kemana sih Paman silalan itu kok tidak pulang juga? Benar-benar menyebalkan,"


Stella yang ketiduran di sana dari tadi jelas merasa dinginnya angin malam.


Apalagi, Stella hanya memakai baju tipis.


Stella yang kesal dan merasa kedinginan itu, lalu segera kembali ke kamar Felix.


Dia menatap kearah sekeliling kamar yang masih terlihat tidak familiar.


Dan tempat tidur yang saat ini masih kosong.


Baiklah, dirinya sudah bertanya ke beberapa pelayan sebelumnya, kalau memang Felix kadang-kadang tidak pulang ke rumah entah itu tinggal di apartemen atau malah menginap di kantor karena begitu sibuk mengurus pekerjaan.


Stella sekarang berani menebak, sepertinya Paman Felix itu semacam Workholic, pantas saja dirinya ketika berkunjung ke rumah ini jarang melihat orang itu.


Selain karena sering mengurus bisnis di Luar Negeri, dia juga disaring tinggal di kantor atau Apartemennya.


Padahal dia jelas sudah memiliki seorang anak.


Dan sekarang Paman Felix itu masih saja menanam kebiasaan lamanya itu.


Pantas saja Allen selalu kesepian dari dulu.


Ayah Allen itu benar-benar terlihat setengah-setengah dalam menunjukkan cintanya pada Putranya.


Seolah, menerima namun seolah juga tidak menerima.


Stella yang menjadi lelah sendiri karena berpikir akhirnya tidur lelap.


Dan malam itu berlalu dalam sekejab mata.


Ketika Stella membuka matanya dipagi itu, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan tertentu yang sepertinya baru keluar dari kamar Mandi.


Stella segara bangun dari tempat tidurnya lalu bertanya pada pria yang tetap ini hanya mengenakan baju handuk di itu.


Terlihat dada bidang Felix yang sangat terbentuk itu, benar-benar memanjakan mata Stella.


Namun Stella berusaha untuk mengalihkan pandangannya ke tempat-tempat yang tidak seharusnya itu.


Dia lalu bertanya,


"Kapan Paman Pulang? Kenapa semalam tidak pulang?"


Felix lalu menjawab dengan dingin,


"Itu jelas bukan urusanmu kemana aku pergi,"


"Tapi aku adalah Istri Paman, aku jelas berhak tahu kemana paman pergi, kenapa semalam tidak pulang aku itu tahu tentang hal hal ini,"


Felix yang merasa malas saat ditanya itu lalu segera menjawab,

__ADS_1


"Aku tidak pernah mengagapmu sebagai Istriku,"


"Hah, Paman ini bagaimana, mau tidak mau aku sekarang adalah Istri Paman Felix, jadi Paman harus tetap mengakui ku,"


"Aku benar-benar tidak punya waktu untuk berdebat denganmu,"


"Kenapa sih Paman begitu menyebalkan?"


"Jika kamu tahu aku begitu menyebalkan kenapa kamu tidak meminta aku untuk bercerai denganmu?"


"Paman benar-benar mudah untuk berbicara omong kosong seperti ini dengan mudah,"


"Memangnya kenapa? Kalau kamu tidak suka, kamu tidak perlu berbicara denganku,"


"Itukah alasan kenapa nomor teleponku di blokir? Paman tidak hanya tidak mengangkat telepon dari ku bahkan tidak membalas pesanku,"


"Stella, berhenti menjadi begitu kepo dan mengirimiku pesan aneh, aku merasa terganggu dengan hal itu,"


"Aneh apa? Aku hanya mencoba untuk perhatian pada Paman, apa malah menjemputnya aneh?"


Felix yang merasa sepertinya jika berbicara dengan Stella tidak ada habisnya segera menjadi diam dan mengabaikan Stella.


Stella yang di abaikan itu, jelas mengikuti Felix.


Dia melihat saat ini Felix sedang mengeluarkan koper miliknya dari Tas.


"Paman Felix mau kemana?"


Namun Felix memutuskan untuk tidak menanggapi Stella.


Namun Stella tidak menyerah, masih tetap mengikuti Felix dan menatap setiap gerakannya.


Felix masih diam, dan fokus mengabil beberapa baju di lemari pakaiannya itu, kemudian memasukannya ke kopernya, dan segera menutupnya.


"Paman, ****** ***** Paman ketinggalan tuh," kata Stella sambil menunjuk beberapa celana yang ada di tempat tidur.


Felix lalu menatap kearah Celana di atas tempat tidur lalu segera merasa malu, akhirnya berkata dengan marah pada Stella,


"Stella!! Kamu bisa diam tidak? Kamu sungguh menggagu konsentrasiku,"


Stella lalu menatap Felix seolah menunjukkan keterkejutannya, dan segera berkata,


"Konsentrasi apa? Konsentrasi menata ****** *****? Apakah itu butuh konsentrasi?"


Felix setelah mendengar kata-kata itu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, Stella ini sepertinya tidak memiliki rasa malu untuk mengatakan hal-hal seperti itu.


Kemudian karena lelah akhirnya Felix menjawab dengan benar,


"Aku ada tugas ke Luar Kota, Ke Kota C untuk waktu satu Minggu,"


Stella yang mendengar itu tentu saja terkejut,


"Kenapa begitu lama? Kita baru saja menikah, namun kamu sudah pergi begitu jauh,"


Lalu melihat ekpersi Felix yang sudah kesal sekali itu, Stella segera menutup mulutnya, namun sebelum itu dia berkata,


"Jangan Lupa Oleh-olehnya yang banyak sekali Ya, Paman,"


"Memang aku mau liburan?"

__ADS_1


"Pokoknya oleh-oleh!!"


"Berisik!!"


Stella segera diam, takut Felix lebih meledak lagi.


Dan begitulah pagi itu berakhir dengan damai tanpa mereka membahas hal-hal yang seharunya mereka bahas.


####


Stella yang ditinggal oleh Felix itu juga menjadi bosan berada dirumah untuk begitu lama.


Sudah dua hari sejak Felix pergi, dan Stella merasa sedikit sepi berada dirumah, tidak ada lagi yang bisa dia ajak berdebat seperti biasanya.


Dan hal-hal menjadi begitu menyebalkan untuk melihat wajah Allen setiap hari disini.


Dirinya sebisa mungkin untuk menghindari bertemu dengan Allen selama Felix pergi, jadi paling-paling hanya pas Sarapan ketika mereka saling bertemu.


Sore itu, Stella yang bosan jalan-jalan keliling rumah, dirinya tidak sengaja melihat jika ditaman ada Allen yang sedang bertemu dengan seseorang.


Stella dari jauh mengenali orang yang Allen ajak bicara itu.


Bukankah itu Bibi Allen?


Kalau tidak salah itu Bibi Elena?


Mau apa itu, Bibi Allen kesini?


Jangan bilang dia membela Allen yang ingin menikah dengan Cinthya, lalu mencoba membujuk Nenek dan Kakek Allen?


Hal-hal ini jelas tidak bisa dibiarkan.


Namun apa yang bisa dirinya lakukan?


Baiklah, belum tentu juga tentang hal itu.


Stella yang ingin tahu itu jelas merasa kepo tentang apa yang mereka bicarakan, segera bersiap manguping pembicaraan mereka.


Namun malah sepertinya, Bibi Allen berniat pergi kekamar mandi.


Melihat Bibi Elena itu segera menuju kearahnya, Stella jelas menjadi panik.


Dirinya segera mencoba melarikan diri dari sana.


Namun sayang sekali, ketika sampai di lorong, Elena itu malah memanggil Stella.


Stella mau tidak mau lalu menyapanya,


"Selamat Sore Bibi,"


Wajah Elena ketika menatap Stella jelas menunjukan ketidaksukaannya itu.


"Sudah jangan basa basi lagi, aku sudah tahu apa yang telah kamu lakukan,"


Stella segera menatap Elena dengan ekpersi binggung, segera bertanya,


"Apa maksud Bibi?"


"Dasar Wanita Murahan!!"

__ADS_1


Dan sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipi Stella.


__ADS_2