
Felix masih teguh setelah mendengar kata-kata Stella.
Pikirannya penuh dengan berbagai macam hal.
"Semua baik-baik saja, Paman. Jangan terlalu banyak berpikir, hal-hal sudah berlalu,"
Stella tanpa sadar memeluk sejenak Pria disampaignya itu, yang terlihat sangat sedih dan hancur itu.
Berharap dengan beberapa pelukan ini bisa membuat ringan beban yang ada di hatinya, dirinya teringat ketika saat itu dirinya sedih dan Paman Felix memeluknya seperti ini.
Hal-hal itu bisa meringankan beban dalam hatinya.
Sebuah pelukan hangat yang membuat dirinya merasa tidak sendirian lagi, bahwa dirinya bisa berbagi hal-hal yang ada dalam benaknya kepada orang lain.
Jadi dirinya juga berharap, Paman Felix bisa sedikit terbuka juga merasakan hal-hal yang sama yang dirinya rasakan sebelumnya.
Bahwa, beban yang begitu berat tidak harus dia simpan sendirian selamanya namun masih ada dirinya yang akan berbagi tentang semua hal itu, berbagi rahasia yang tersimpan di hati.
Felix terteguh dengan pelukan tiba-tiba itu, namun dirinya tidak melepaskannya, hanya malah memeluk Stella lebih erat.
Rasanya memang sangat berat selama ini dirinya menyimpan semua ini sendiri.
Terkadang dirinya tidak sanggup untuk menanggung semua rahasia besar ini, soal Shopia...
Dan kenyataan bahwa Allen bukan Putra Kandungnya.
Semua ini terasa sangat berat dan menyakitkan bertahun-tahun dirinya menyimpan ini sendiri karena tidak tahu akan mengatakan ini pada siapa.
Sebuah Rahasia yang mungkin bisa menghancurkan hal-hal yang dirinya bangun dan Putranya tersayang Allen.
Dan tidak mungkin juga dirinya membagikan rahasia ini pada orang tuanya, yang malah akan membuat lebih banyak masalah.
Pelukan itu, berlangsung dalam diam mereka tidak lagi mengatakan apapun.
Felix juga tidak menagis, dirinya hanya memeluk Stella, untuk melampiaskan semua emosi terpendam dalam dirinya.
Sampai beberapa waktu berlalu cukup lama, keduanya mulai melepaskan pelukannya, kembali menatap ke arah lautan biru yang luas.
Setelah menenangkan pikirannya, Felix mulai memikirkan beberapa hal, kemudian mulai berbalik dan menatap Stella dan bertanya,
"Lalu bagaimana denganmu?"
Ketika di tanya tiba-tiba itu, jelas Stella tahu apa maksud pertanyaan dari pria itu.
"Hmm, bagaimana? Paman mungkin bisa melihatnya, saat ini aku masih mencoba melupakan Allen, bohong jika aku bilang aku tidak memiliki Perasaan tersisa apapun padanya, pun ada kebencian namun untuk beberapa hal aku masih tidak bisa menatap wajahnya dengan benar, pernikahannya kemarin, masih sangat berat melihat dia menikah dengan orang lain, dimana mimpiku selama ini adalah menikah dengannya, kenyataan benar-benar berbeda daripada yang aku kira,"
Felix terdiam telah mendengarkan kenyataan itu pada dasarnya dirinya juga tahu soal ini.
"Apakah Paman marah?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Felix saat ini masih memiliki perasaan yang rumit.
"Aku juga tidak tahu, tapi aku merasa itu bukan hal baik jika kamu terus memiliki perasaan itu,"
"Aku tahu. Itulah kenapa aku ingin Paman membuatku lupa dengan perasaanku ini, Paman Felix.... Buat aku melupakan Allen,"
Tangan kata-kata yang terlihat penuh kesungguhan itu, Felix tidak tahu harus berbuat apa.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
Stella lalu menatap kearah Felix lagi.
"Lalu, bagaimana dengan membuat aku bahagia?"
"Sepertinya permintaan itu terlalu besar untuk kau minta dariku, aku sendiri tidak tahu caranya untuk mencobanya bahagia,"
"Kalau begitu aku juga akan membantu paman,"
Stella kembali menatap kearah Felix, lalu meletakan tangannya di dada Felix.
"Aku juga disini, akan membantu Paman melupakan kesedihan Paman, mari kita lupakan sejenak hal-hal yang ada di luar pulau ini. Lupakan soal status, cinta, masalalu, dan semua hal-hal yang membuat kita ragu dan sedih,"
Itu benar, saat ini berdua sudah bisa melihat ujung pulau yang akan mereka datangi.
Ini sebenarnya adalah sebuah Pulau Pribadi, mungkin tidak akan bisa bertemu dengan banyak orang.
Sinyal disana juga bermasalah, jadi mungkin cukup susah menghubungi orang di luar.
Tempat sangat pas untuk menenangkan diri dan melupakan semua beban pikiran.
"Kamu mungkin ada benarnya,"
Mendengar jawaban itu, Stella tentu menjadi senang.
"Ya, jadi mari kita melakukan semua hal menyenangkan disini, tanpa terbebani begitu banyak hal, dan nanti setelah itu kita keluar dari sini, kita bisa kembali ke diri kita yang biasanya,"
"Aku pikir tidak masalah untuk saat ini. Lalu apa yang ingin kamu lakukan setelah tiba di pulau?"
"Hal-hal menyenangkan yang membahagiakan,"
"Ya, aku tahu, tapi apa?"
"Pfff.... Aku pikir, Paman cukup pintar, ternyata untuk hal-hal seperti ini Paman cukup lemot juga,"
"Stella kamu itu, masih saja suka mengejekku," kata Felix merasa kesal.
"Lalu menurut Paman, hal menyenangkan apa saja yang bisa dilakukan hanya oleh kita berdua?"
Ada sebuah senyuman nakal dari kata-kata itu, Felix sendiri tiba-tiba memiliki perasaan tidak enak, karena mungkin dirinya bisa menebak apa yang wanita itu inginkan.
__ADS_1
Ya...
Namun memang ada benarnya, setidaknya suka ini merupakan semua hal yang ada di luar.
Kali ini sebagai seorang Pria, Felix yang memulai duduan, dirinya segera menarik Stella kearahnya dan menciumnya.
Itu adalah sebuah ciuman yang dalam, yang membuat Stella hampir kehabisan nafas karena tidak bisa mengikutinya, sekaligus membuat Stella terkejut.
Namun jelas hal itu sangat menyenangkan untuk dua orang itu.
Walaupun kedua orang itu masing-masing tahu, bahwa di hati mereka masih ada orang lain, mereka terlihat tidak masalah dan tidak keberatan.
Setidaknya untuk sementara mereka bisa mengisi kekosongan dalam hati masing-masing.
Dengan bersama seperti ini, lupakan semua kesedihan dan rasa frustasi mereka....
"Apakah menyenangkan untukmu?" kata Felix setelah melepaskan ciumannya.
"Pfff.... Aku penasaran kenapa bisa Paman Felix begitu ahli dalam hal-hal ini,"
Felix tidak tahu harus berkata apa,
"Semua laki-laki biasanya seperti itu,"
"Begitukah?"
Mendengar pertanyaan itu, sebelum Stella mengatakan apa-apa lagi, Felix segera berkata,
"Aku tahu, kamu baru saja ingat tentang sesuatu,"
"Paman ternyata bisa menebaknya dengan benar,"
Lalu sebuah hipotesis tiba-tiba muncul dalam benaknya.
"Apakah denganku juga adalah ciuman pertamamu?"
Stella yang ditanya itu hanya tersenyum misterius, dan berkata,
"Menurut Paman?"
Lalu Stella segera bergerak pergi menjauh, tidak bermaksud untuk mendengar jawabannya.
Stella yang sudah melindungi bahwa mereka akhirnya tiba di Pulau itu jelas saja tidak sabar untuk turun.
Melihat dari arah kejauhan, pulau itu benar-benar terlihat begitu indah.
Astaga, Pantai yang masih terlihat sangat alami dan tidak ada orang di sana seolah itu tidak pernah tersentuh oleh keberadaan manusia.
Terlihat seperti sebuah kedamaian jika berada di Pulau itu.
__ADS_1
Sepertinya akan ada banyak hal yang terjadi setelah ini.