
Pagi itu, di salah satu Ruangan Priksa disalah satu Rumah Sakit, Stella dan Felix mulai masuk ke Ruang Priksa.
Jelas kedua orang itu cemas dengan hasil pemeriksaan ini, terutama Stella, hanya hal-hal ini sedikit terlalu membuat terkejut.
Tidak beberapa lama, Dokter mulai melakukan pemeriksaan, dan menyuruh Stella untuk melakukan Tes.
Hasil keluar cukup cepat, dan sekarang dokter mulai membacakan hasilnya.
"Selamat untuk Ibu Stella anda saat ini tengah hamil,"
Felix yang mendengar itu juga terasa sangat terkejut.
Rasanya dirinya juga sangat bahagia ketika mendengar ini, bahwa Stella hamil calon anak mereka.
Masakan dirinya makan memiliki seorang anak yang merupakan daerah dagingnya membuat perasaannya menjadi begitu hangat.
Namun entah kenapa ada sedikit keraguan di hatinya, tentang perasaan Stella yang sebenarnya.
Kehamilan ini sekarang mengikat mereka berdua, apakah ini benar-benar tidak apa-apa untuk Stella?
Stella juga menjadi sangat kaget tentang hal ini tidak tahu harus merespon seperti apa, ini sejujurnya terlalu tiba-tiba.
Hanya...
Dirinya ternyata walaupun awalnya bilang ingin segera hamil, setelah tahu kenyataan bahwa dirinya hamil, ada sedikit perasaan tidak siap dan takut, apakah ini akan baik-baik saja?
Apalagi hubungan antara dirinya dan Paman Felix belum sebaik itu, awalnya ingin hamil ketika mereka berdua memiliki hubungan yang baik dan harmonis, ketika Paman Felix sungai mau buka hatinya untuknya, namun hal-hal ini terlalu tiba-tiba...
Namun ini bisa jadi sebuah jalan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Stella tersenyum, lalu mulai menggengam tangan Felix.
Mendapatkan sentuhan tiba-tiba itu, Felix lalu menatap kearah Stella yang saat ini memiliki wajah yang bahagia.
Hal ini jelas membuat Felix terkejut, Stella senang?
Dirinya pikir ini akan membuat Stella kecewa?
Dokter lalu mulai melakukan Tes USG, Felix dan Stella yang melihat hasil USG, bahwa ada kehidupan baru yang tumbuh dalam tubuh Stella itu jelas memiliki perasaan yang hangat.
"Lihat, astaga... Ini benar-benar sudah tumbuh cukup...." Kata Stella terkejut.
Felix juga mulai menatap layar USG, perasaannya menjadi hangat melihat sesuatu yang mungkin masih sangat kecil itu, terlihat berdetak dan mulai tumbuh.
Membuat dirinya penasaran jika anak itu lahir apakah dia akan menjadi laki-laki atau seorang perempuan?
Felix entah kenapa menjadi menantikan hal ini hari ketika anak itu lahir.
Jika itu anak laki-laki akankah menjadi anak yang mirip dengan dirinya?
__ADS_1
Jika itu Perempuan, apakah akan secantik Stella?
Membayangkan seorang bayi kecil dan lucu, benar-benar membuat Felix merasa senang.
"Ya, ini benar-benar kehidupan baru yang indah...."
Melihat Felix tersemyum seperti itu, Stella menjadi semakin senang.
Kabar ini walaupun benar-benar mengejutkan, mungkin bisa menjadi hal yang sangat membahagiakan dan akan membawa hubungan mereka menjadi lebih baik kedepannya.
Stella sangat positif tentang ini, dan mulai menjadi cukup antusias.
####
Tentu saja kabar soal kehamilan Stella langsung sampai pada Orang Tua Felix, mereka sangat senang sekali dengan kabar ini.
Saking senangnya, mereka bahkan ingin membuat sebuah perayaan untuk kehamilan Stella.
"Ibu, Aku rasa tak perlu terburu-buru untuk melakukan perayaan,"
"Kamu ini bicara apa? Jelas ini tidak bisa, Aku ingin membuat acara syukuran Keluarga setidaknya, ingin memberitahu kabar bahagia ini," kata Eve dengan semangat.
Felix yang berada disana, lalu mulai ikut berbicara,
"Ibu memang ada benarnya, namun pendapat Stella juga penting, Aku tidak ingin dengan diadakan acara acara semacam itu malah akan membuat Stella kelelahan,"
"Felix, kamu tidak bisa begitu. Kamu tahu bukan, jak banyaknya gosip gosip yang tidak benar tentang keluarga kita, terutama soal kabar Allen bukan Putramu itu, Keluarga kita menjadi bahan gunjingan orang-orang, apalagi hal-hal yah Allen lakukan dengan Menikahi Wanita memalukan bernama Cynthia itu, yang membuat nama baik Keluarga kita semakin tercemar. Kita tentu harus merayakan Calon Anakmu, Calon Pewaris Asli Keluarga Chastielo. Aku harap ini akan menjadi seorang anak laki-laki,"
Mendengar singungan jelas itu, Felix merasa sedikit tidak nyaman tentang bagaimana mereka menyinggung Allen.
"Ibu, ini tidak masalah apakah laki-laki atau perempuan, benar Stella?"
Stella yang tiba-tiba di tanya itu, lalu segera menjawab,
"Ya, ini tidak masalah apakah ini laki-laki atau perempuan,"
"Tapi, kami berdua sangat menginginkan cucu laki-laki," kata Eve lagi, sambil menyenggol suaminya itu, yang mengiyakan kata-kata Istrinya.
Stella menjadi bingung setelah mendengar ini.
Jelas sekali dirinya tahu kenapa mereka megiginkan itu, jelas setelah mereka tahu jika Allen bukan cucu kandung mereka.
Namun, dirinya tidak terlalu mempermasalahkannya, apakah ini anak laki-laki atau perempuan seperti yang Felix suaminya katakan.
Standar menjadi pewaris Keluarga Chastielo terlalu berat, apalagi persepsi perfeksionis yang orang tua Felix inginkan, Stella tahu mereka berdua orang baik, namun standar mereka terkadang selalu berlebihan, dirinya juga yang tahu bagaimana mereka menekan Allen sejak kecil agar menjadi pewaris yang sempurna, dan seberapa stresnya Allen menghadapi hal itu.
Dirinya sendiri hidup di Keluarga Chastalope penuh dengan harapan orang tua angkatnya agar bisa menjadi sempurna dan mirip Putri mereka yang hilang.
Sangat berat hidup dalam tekanan semacam itu, yang dirinya inginkan ketika anaknya lahir, anaknya akan tumbuh dengan cukup kasih sayang dari dirinya ataupun dari Ayahnya, Felix. Itu sudah lebih dari cukup, kehangatan dari sebuah Keluarga.
__ADS_1
"Ya sudahlah, pokoknya hal ini jelas harus di Rayakan, Aku akan segera memanggil Tim Event Organizer untuk mengurus acaranya nanti jadi kalian tinggal terima jadinya," kata Eve lagi dengan penuh semangat.
"Tapi, Ibu tidak perlu terlalu buru-buru, bagaimana jika setidaknya Minggu depan?" Kata Felix lagi.
"Hah, baiklah baiklah akan aku tunda sekitar minggu depan lagi pula memang persiapan nya akan besar dan memakan waktu cukup lama,"
Setelah masalah beres, Stella dan Felix lalu kembali ke kamar mereka.
Ada keheningan disana.
Stella melihat suaminya itu diam, sekolah tengah berpikir keras, namun tiba-tiba Stella mulai memikirkan sesuatu juga.
"Paman Felix, apa yang Paman pikirkan?"
"Aku tidak memikirkan apapun,"
"Jadi Paman sekarang mengagur?"
"Ya, ada apa dengan itu?"
"Paman mau memijitku?"
Permintaan itu terlalu tiba-tiba, sampai-sampai Felix tidak bisa berkata-kata.
"Apa-apa itu. Kenapa tidak ke tukang pijat saja yang proporsional?"
"Tapi Aku tiba-tiba ingin di pijat oleh Paman, badanku sedikit pegal-pegal, apakah ini karena hormon kehamilan? Ini juga permintaan dari calon anak Paman," kata Stella sambil mengambil tangan Felix, lalu membiarkan Felix menyentuhnya.
Ketika Felix menyentuh perut Stella, dan merasakan jika didalam sana akan ada kehidupan baru, calon anak kandungnya, perasaan Felix jelas menjadi hangat.
Setelah mengehela nafas, Felix lalu segera berkata,
"Baiklah, sana-sana duduk di tempat tidur, Aku akan memijatmu, ini pijatan mahal,"
Mendengar itu, Stella menjadi sangat senang.
"Hehehe, baik-baik Paman, Aku sungguh tidak sabar menunggu pijatan Paman,"
Siang itu, mereka terlihat sangat harmonis, dan Stella senang bagaimana Felix memang sepertinya diam-diam masih perhatian, namun masih suka menyembuyikannya.
Sikap malu-malu ini, sebenarnya sangat lucu.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Felix yang heran melihat Stella tiba-tiba tertawa itu.
"Tidak, tidak Paman, Aku hanya berpikir bahwa Paman sangat tampan,"
"Berhenti bicara omong kosong. Kamu ini jadi ingin aku pijat atau tidak?"
"Jadi, Paman tentu saja jadi,"
__ADS_1