
Hari sekali lagi segera berlalu, sejak Allen kembali ke Rumah Keluarga Chastielo bersama dengan Cynthia.
Sejak kedatangan mereka berdua kembali ke rumah keluarga itu, tidak ada hari yang sepi, karena Cynthia sangat pandai dalam membuat masalah.
Misalkan saja siang ini, Cynthia sudah ribut-ribut minta para pelayan untuk segera merapikan baju-bajunya hadirnya bisa berangkat ke kampus mulai besok.
Namun, pelayan itu malah sibuk di kamar Stella membantu Stella untuk menyiapkan bajunya dulu.
Cynthia yang berada di kamar sebelah butuh saja menjadi tidak terima tentang bagaimana dirinya di nomer dua kan oleh Para Pelayan, nikah selalu mendahulukan keinginan Stella yang menyebalkan itu.
"Kalian ini bagaimana? Bukankah aku sudah menurut kalian tuhan untuk ke kamarku dan membereskan baju-baju ku?" kata Cynthia dengan marah.
Stella yang awalnya duduk tenang itu jelas merasa terganggu, ya lalu mulai berdiri dan marah juga.
"Apa-apaan sih kamu Cynthia, sudah kamar orang dan marah-marah begitu saja kamu ini di mana sopan santunmu?"
Cynthia lasagna tidak mau kalah dirinya juga segera berteriak dengan marah,
"Kenapa pula aku harus sopan padamu? Memangnya kamu itu siapa? Kamu hanya sementara berada di rumah ini Stella!!"
Stella yang belakangan ini menjadi ikut tambah emosi karena meladeni ucapkan Cynthia lama-lama juga menjadi lelah.
merasa tidak ada gunanya untuk menghadapi orang menyebalkan dan tidak tahu diri seperti Cynthia itu.
"Percuma saja berdebat dengan dinding tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang energi saja, Pelayan bayinya seret dia dari kamar ini!"
Mendengar perintah itu para pelayan sedikit ragu, dan Cynthia begitu murka melihat sikap Stella.
"Berani mengusir ku dari kamar ini?"
"Ini adalah kamarku setidaknya di kamar ini aku berhak mengijinkan siapapun yang boleh masuk atau keluar! Aku jelas tidak mengijinkan kamu untuk berada di ruangan ini! Dan Para Pelayan, kenapa kalian ragu begitu? Akankah kalian semua juga tahu bagaimana, Suamiku Felix tak menyukai bagaimana orang-orang sembarangan masuk ke dalam kamarnya?"
Mendengar Nama Tuan mereka, Para Pelayan jelas menjadi ingat tentang kebiasaan Tuan mereka itu yang memang tidak menyukai juga ada sembarangan orang yang memasuki kamarnya.
Segera, mereka langsung membawa Cynthia yang marah-marah itu kembali ke kamarnya.
Sampai kembali ke kamar, Cynthia hanya bisa mengeluh pada Allen.
Allen yang baru saja sembuh itu jelas merasa sangat pusing dan tidak nyaman mendengar Cynthia itu bisanya marah-marah setiap hari.
"Sudahlah, Cynthia jangan menjadi seperti itu yang marah-marah terus, saat ini kamu itu sedang hamil kamu itu tidak boleh terlalu banyak marah itu tidak baik untuk kesehatan mu,"
__ADS_1
"Kamu ini bukannya malah membelaku, sekarang kamu malah memarahi aku?"
"Cynthia, bukannya seperti itu,"
Cynthia arah itu sekarang keluar kamar dan membanting pintu, merasa kesal juga dengan Allen.
Sial, Allen itu ternyata di rumah ini tidak memiliki banyak kekuasaan, dan ini mengubah dirinya di tindas oleh Stella seperti tadi, benar-benar menyebalkan sekali.
####
Hari segera berlalu lagi, pagi itu Stella bangun pagi-pagi sekali membuat Felix heran,
"Tumben kamu bangun pagi,"
"Paman, hari ini aku mulai kembali ke kampus, dan lagi ada jadwal pagi dan harus masuk jam 07.00 jadi aku harus bersiap-siap lebih awal,"
Sekarang Felix sekarang baru ingat jika seseorang yang dirinya nikah ini masih berstatus Mahasiswi disalah satu Universitas bergengsi.
Benar-benar sangat menunjukkan perbedaan usia dari mereka berdua yang terlihat sangat jauh itu.
Ketika memikirkan soal perbedaan umur itu, Felix merasa cukup sedih, itu karena Stella ini masa depan masih akan memiliki masa depan yang cerah, seorang gadis muda yang berbakat dan hebat, sekarang gadis itu harus terjebak sebuah pernikahan dengan dirinya, apakah ini tidak masalah?
"Jadi begitu, semoga Kuliahmu lancar, ngomong-ngomong apakah kamu butuh uang saku?"
Felix terlihat mengeluarkan dompet yang dimilikinya, dan mengambil salah satu lagu berwarna hitam disana.
Stella saja menjadi terkejut untuk menerima perlakuan seperti ini dari Paman Felix, Paman Felix ini cukup perhatian juga.
"Astaga, Deddy Felix sangat baik sekali, aku merasa sangat tersentuh," kata Stella sambil mengambil kartu itu dari tangan Felix.
"Jangan memanggilku dengan panggilan mengerikan itu,"
"Iya, Aku hanya sedikit membuat lelucon saja,"
Stella lihat sekali sangat menyukai kartu yang dirinya dapatkan itu dan segera dengan hadis gembira memasukkannya ke dalam dompetnya.
Felix yang melihat bahwa Stella sedang bahagia itu, jelas merasa senang.
Kemudian, Felix mulai membuka salah satu lagi disana, yang mana isinya ada begitu banyak kunci mobil.
Dia mulai bertanya pada Stella,
__ADS_1
"Kamu punya SIM A?"
Stella langsung menjawab tanpa banyak berpikir,
"Aku punya. Aku sudah lama belajar menaiki mobil, sayang sekali aku jarang bisa mengunakan kemampuanku itu, karena Keluarga Chastalope begitu pelit padaku,"
"Itu bagus, kamu bisa melihat ke garasi A, ada beberapa mobil koleksi ku disana, kamu bisa memilih salah satu yang ingin kamu naiki, nanti kesini lagi dan ambil kuncinya sesuai mobil apa yang kamu mau,"
Mendegar kata-kata dari Felix itu, Stella sangat terkejut, hampir saja tidak mempercayai apa yang barusan dirinya dengar.
"Apa? Memilih koleksi Mobil di Garasi A?"
Jelas Stella tahu isi dari Garasi A, isinya adalah berbagai koleksi Mobil Mewah baik keluaran terbaru atau yang model lama, semua mobil di sana tentu saja sangat keren dan bagus.
Dirinya sudah lama ingin menikii mobil sekeren itu, sayang sekali Mobil di Garasi A adalah koleksi dari Paman Felix, tidak ada orang yang diijinkan untuk menyentuh apalagi menaiki mobil mobil mewah itu selain Paman Felix sendiri.
Allen saja tidak bisa pinjam, yah tapi kan Allen memiliki koleksi mobilnya sendiri walaupun tidak sebanding dengan koleksi malik Ayahnya.
"Apakah tak ada yang kamu sukai dari mobil-mobil itu? Kamu bisa membeli sendiri jika kamu ingin nanti bilang saja padaku tipe apa yang kamu sukai,"
Mendengar kata-kata itu, Stella tentu saja hampir tergiur, namun jelasnya tidak boleh terlalu serakah, udah diijinkan meminjam salah satu mobil di Garasi A saja sudah sangat bagus.
"Tidak terlalu repot-repot nanti aku akan memilih salah satu mobil di Garasi A, tapi apakah aku boleh berganti-ganti?"
"Pilihlah sesukamu setiap hari, namun ingat kamu harus hati-hati jangan sampai mobil itu lecet,"
Mendengar hal-hal itu, Stella tiba-tiba merasa melayang, lalu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Suaminya itu, bersikap sangat baik padanya.
Astaga, beginilah jerih payahnya selama ini terbayar?
Paman Felix ini benar-benar laki-laki paling baik yang dirinya kenal.
Kalau sudah seperti ini, bagaimana dirinya tidak jatuh cinta padanya?
"Terimakasih, Paman,"
Stella yang senang itu segera memeluk Felix secara spontan, membuat Felix tidak bisa berkata-kata.
Namun Felix benar-benar merasa sangat senang jika bisa membuat Stella bahagia dan tersenyum senang seperti ini.
Perasaan seperti ini benar-benar tidak buruk.
__ADS_1