
Mendengar kata-kata, Orang yang mengaku Ayah Kandungnya itu, Allen sister lihat bingung dan tidak tahu harus berkata seperti apa.
"Allen, kamu tidak perlu memikirkannya dulu sekarang yang paling penting sekarang kamu harus menengkan pikiranmu. Aku dengar kamu baru saja diusir dari Rumah Keluarga Chastielo bukan? Bagaimana sikap kamu tinggal di Salah satu Apartemenku sementara? Kamu mencoba memikirkan tentang kata-kataku, kamu boleh tidak percaya padaku, aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya,"
Setelahnya, Richard menyerahkan sebuah kalung liontin, dimana isinya ada sebuah foto, foto dirinya dan Shopia, yang terlihat sangat mesra.
Allen menatap foto itu.
Lalu setelahnya dirinya mulai teringat beberapa foto yang dipajang di kamar Ayahnya, Felix Chastielo.
Berbeda dengan foto Mamanya dan Ayahnya Felix disana yang terlihat seperti sebuah senyuman terpaksa, foto dalam liontin ini menunjukan senyum tulus dan kebahagiaan.
"Ini..."
Richard lalu memakaikannya pada Allen, dan berkata.
"Ini kenang-kenangan dariku dan Ibumu, kamu harus selalu ingat bahwa kamu adalah Putraku dan Shopia, buah cinta kami yang berharga,"
Allen masih diam dan tidak mengatakan apapun.
Richard hanya bisa menatap Putranya itu, jelas semua ini masih merupakan hal yang sangat sulit untuk diterima.
Namun memang kenyataannya seperti itu.
"Allen, mari segera ikut pulang denganku, apakah kamu tidak ingin mengenal Ayah Kandung mu ini seperti apa?"
Mendengar kata-kata hangat itu, Allen sedikit terteguh.
Dirinya memang saat ini merasa tidak memiliki tempat untuk kembali, suatu seperti rumah, buah tempat yang dirinya selama ini anggap sebagai rumah sudah membuangnya begitu saja seperti sampah tidak berguna.
Rasanya masih sangat menyakitkan ketika dirinya memikirkan semua ini.
Bahwa dirinya memang bukan Putra Kandung Felix Chastielo.
"Ya, Aku akan ikut dengan Paman,"
"Tidak masalah jika kamu masih belum ingin memanggilku Ayah. Kamu bisa memanggilku Paman Richard,"
Allen hanya mengaguk ringan, selalu keduanya mulai pergi ke Apartemen tempat yang Richard ingin Allen tinggal.
Allen menatap Apartemen itu dengan ekpersi hambar, hatinya jelas masih kalut dalam kesedihan.
"Apakah kamu butuh sesuatu? Almari masih ada beberapa baju baru yang belum pernah aku pakai, kamu bisa memakai baju itu jika mau namun jika itu tidak sesuai selera mukamu bisa membeli yang sesuai kesukaanmu,"
Setelah mengatakan itu, Richard lalu memberikan sebuah kartu kredit dan kunci mobil pada Allen.
Melihat Allen masih diam dirinya lalu meletakkan dua barang itu di atas meja, juga sebuah kartu nama miliknya disana.
Allen lalu kembali menatap kalung liontin yang dipakainya itu.
Yang berisi sebuah foto Ibu Kandungnya dan Ayah Kandungnya.
Melihat Allen masih terdiam seperti itu, Richard kirim mungkin memang anak ini butuh menenangkan dirinya.
"Aku akan pergi ke Ruang sebelah, suka kamu butuh sesuatu panggil saja Aku,"
"Aku tidak membutuhkan apapun saat ini," kata Allen dengan ekpersinya yang masih terlihat lesu itu.
Namun tepat setelah Allen mengatakan itu, perut Allen berbunyi, mendakan jika Allen saat ini sedang lapar, dia tidak sempat makan siang, hal ini membuat Allen merasa sedikit malu.
Richard mendegar itu, namun jelas tidak tertawa hanya berkata dengan senyum ramah,
"Apakah kamu lapar? Aku akan memasakkan sesuatu untukmu, apakah kamu menginginkan sesuatu?"
"Itu terserah, Paman... Hanya... Aku tidak bisa makan...."
"Owh? Apakah kamu tidak bisa makan olahan Ayam? Tenang saja Aku juga tidak bisa memakan sesuatu seperti itu, sepertinya hanya ada beberapa Seafood di Kulkas, bagaimana dengan Nasi Goreng Seafood?"
Allen hanya mengaguk ringan, dirinya juga cukup terkejut bagaimana Pria didepannya ini, memiliki beberapa kesamaan dengannya.
Berikutnya, Allen menunggu di ruang makan, sambil mikirkan begitu banyak hal.
Sesekali, dirinya akan menatap seorang Pria yang saat ini sedang memasak di dapur tidak jauh dari tempat dirinya menunggu.
Punggung yang familir namun tidak familir.
Mengigatkannya ketika dirinya masih kecil, jika Ayahnya, Felix Chastielo juga akan memasak untuknya, namun setelah kecelakaan itu, dirinya tidak pernah lagi merasakan masakan Ayahnya, Ayahnya tidak pernah memasak lagi untuknya, bahkan di hari ulang tahunnya.
__ADS_1
Allen tenggelam dalam ingatan nya, sampai tidak sadar jika Richard dah selesai memasak lalu mulai membawakan masakannya kemeja.
Itu adalah dua piring nasi goreng, dan beberapa udang goreng.
Allen menatap masakan itu, itu memang hal-hal yang dirinya sukai.
"Makanlah,"
Richard lalu juga duduk di depan Allen, dan mulai memakan nasi goreng itu.
Melihat itu, Allen yang cukup lapar dengan aroma harum dari nasi goreng itupun mulai mencicipinya.
Ini enak, sangat enak.
Allen menatap bagaimana Pria didepannya itu, game memakan hal yang sama dengan yang ada di piringnya.
Nasi Goreng Seafood dan beberapa udang goreng.
Mereka virtual sepertinya memiliki beberapa kesamaan dan kesukaan soal makanan.
Ini membuat Allen ingat, bahwa dirinya dan Ayahnya Felix, tidak benar-benar bisa makan sesuatu yang sama di piring mereka.
Bagaimana kesukaan mereka bertolak belakang satu sama lain.
Dulu dirinya bertanya-tanya kenapa mereka berdua bisa begitu sangat bertolak belakang dalam memilih makanan, namun sekarang semuanya masuk akal karena dirinya memang bukan Putra Kandung Felix Chastielo.
Rasanya masih begitu sakit ketika memikirkannya.
Namun, bisa makan bersama dengan Ayah Kandungnya, yang ternyata memiliki beberapa kemiripan dengan dirinya ini juga membuat hatinya yang seolah kosong sedikit terisi.
Hal-hal yang tidak pernah dirinya dapatkan selama ini.
Makan di meja yang sama dengan makanan yang sama.
Allen tiba-tibatiba menangis ketika memikirkannya.
Richard yang melihat Allen menagis itu, jelas menjadi binggung,
"Kenapa kamu tiba-tiba mengais? Apakah rasanya tidak enak?"
Allen opera menggeleng dan menjawab dengan pasti dan mulai menghapus air matanya.
"Aku senang jika kamu menyukainya, Ibu Kandungmu Shopia yang mengajariku memasak, masakan Ibumu sangat enak, aku yakin kamu juga akan menyukai masakan buatannya, melihat kita berdua makan bersama seperti ini membuatku teringat pada dirinya... Bagaimanaimana jika seandainya Aku dan dia tidak pernah berpisah, pasti kita bertiga akan menikmati saat makan malam yang indah ini bersama-sama, dan bahagia,"
Allen tiba-tiba mulai membayangkan ada hangat semacam itu.
Dirinya, memang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ibu itu seperti apa, karena Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya, pasti akan sangat menyenangkan jika dirinya dan memiliki seorang Ibu seperti semua orang.
Benarkan, Ayahnya Felix Chastielo selama ini membuat Ibunya menderita?
Hingga, akhirnya mengalami hal-hal tidak menyenangkan ketika kehamilanya, yang pada akhirnya membuat Ibunya meninggal tepat setelah dirinya di lahirkan?
Jika benar....
"Ya, itu pasti akan sangat menyenangkan,"
Berikutnya, setelahnya mereka berdua menghabiskan waktu yang cukup lama bersama-sama.
Kehagatan yang entah bagaimana cukup Allen rindukan.
Sampai hari segera berlalu dengan cepat, satu hari sekali lagi berlalu.
Allen selama seharian sudah memikirkan banyak hal, dan akhirnya membuat keputusan.
"Paman Richard... Tidak, maksudku... Ayah... Jika memang ada yang bisa Aku bantu Aku akan membantumu,"
Richard yang mendengar kata-kata Putranya itu baru tersenyum dan memeluk Allen, sambil berkata,
"Ya, Aku senang kamu akan membantuku, mari buat Felix Chastielo itu membayar harga yang telah dia lakukan pada Mamamu, Aku dan kamu,"
Allen terdiam, namun tidak mengatakan apa-apa hanya menerima pelukan itu.
Richard dalam hati merasa sangat senang kemudian mulai berpikir,
'Ini bagus, sekarang Allen ada di pihakku, tidak Aku kira sangat mudah untuk membujuk nya, Aku bisa sedikit menafaatkan, Allen Putraku untuk membalas kan dendam ku pada Felix Chastielo sialan itu, ya lihat saja Felix!! Bagaimana rasanya kamu dihancurkan oleh anak yang selama ini kamu besarkan,'
####
__ADS_1
Di tempat lainnya, saat ini Stella kembali ke tempat tidurnya.
Malam segera berganti, dan menjadi malam lagi.
Namun tempat tidur disampingnya kosong, dan hanya ada rasa dingin yang tersisa di sana.
Stella menatap tempat dimana Felix biasanya tidur.
Rasanya sangat sepi, apa kehadiran pria itu di sisinya.
Rupanya, Stella baru menyadari jika dirinya mungkin sudah terbiasa untuk tidur dengannya, sudah terbiasa dengan keberadaannya yang berada di sisinya.
Stella, mulai merindukan kehangatan Pria itu.
"Apa Paman Felix masih marah? Ini sudah satu hari berlalu namun dia masih tidak mau menghubungiku. Apakah Paman Felix pernah merindukanku?"
Sayang sekali tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu.
"Aku sangat merindukanmu... Jangan marah lagi padaku...." Guma Stella lagi, sambil memeluk bantal yang biasa Felix pakai.
Sepertinya dirinya besok akan mencoba sesuatu, seperti menengakan Orang Tua Paman Felix, dan mencoba memberi mereka berdua pengertian soal Keberadaan Allen, dan bahwa Allen sangat berharga bagi Paman Felix.
Ya, dirinya akan membujuk mereka berdua.
Dan soal Allen, menurut kabar terbaru yang dirinya terima dari Rhea, Allen masih menginap di suatu hotel untuk menenangkan dirinya, dan masih tidak ingin bertemu siapapun.
Hah...
Semoga saja, nanti rencananya akan berhasil dengan membujuk Orang Tuanya Paman Felix itu, mungkin masalah akan segera selesai setelah itu.
Dirinya juga yakin, Paman Felix dan Allen itu pasti bisa melewati semua ini.
Dan Paman Felix, tidak akan marah pada dirinya lagi dan akan kembali ke rumah ini lagi.
Ukhh, benar-benar ingin segera menatap wajah dingin itu lagi, walaupun terlihat menyebabkan namun bisa membuat dirinya seperti ini dan merindukannya seperti ini...
Benar-benar pesona yang menghancurkan...
####
Di tempat lainnya, saat ini Felix yang menginap disalah satu Apartemen miliknya itu, sedang makan malam.
Ini hanya Mie Instan biasa, sendirinya tidak memiliki banyak selera makan.
Tepat ketika Felix menatap kearah meja makan yang kosong, dimana dirinya saat ini sendirian, rasanya begitu sepi.
Biasanya ketika dirinya makan malam, akan ada Stella yang sibuk menyiapkan makan malam untuknya, bahkan menjadi begitu berisik di meja makan, lalu mereka juga akan sering berdebat tentang berbagai macam hal.
Stella, yang kadang terlalu berlebihan dan menambah begitu banyak sayuran ke piringnya.
'Paman harus makan ini dan ini, jangan terlalu menghindari sayuran ingat umur Paman,'
Dirinya tiba-tiba merindukan hal-hal semacam ini?
Apakah dirinya sudah segitu terbiasa dengan kehangatan sampai-sampai dirinya lupa apa itu kesepian?
Setelahnya, Felix juga jadi teringat sebuah kenangan dimasalalu, dimana Allen masih kecil, di mana mereka berdua juga makan sangat akrab di meja makan.
Felix mengakui jika dirinya merindukan Putranya itu.
Dan selain itu dirinya juga...
Sedikit..
Ya, sedikit sekali.
Ingat, sedikit sekali merindukan gadis berisik itu.
Hanya sedikit....
Felix tiba-tiba merasa bodoh karena memiliki pemikiran aneh semacam itu.
Akhhh...
Ada apa dengan dirinya...
Dirinya harusnya marah...
__ADS_1
Marah, Felix!
Marah!