Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 89: Mencari Rahasia


__ADS_3

Berbeda dengan beberapa orang yang tengah sibuk ke kampus, Allen yang masih sakit dan masa pemulihan itu, belum bisa pergi ke kampus, dia masih izin untuk beberapa hari ke depan.


Di antara hari-hari ini, Allen tentu saja tidak bisa beristirahat dengan tenang.


Alasannya adalah sebuah surat misterius yang dirinya terima tempo hari.


Dirinya tentu saja bisa saja mengabaikan nya, namun entah kenapa dirinya menjadi kepikiran.


Soal golongan darahnya, dan memang benar, setelah dirinya menelepon rumah sakit, golongan darahnya adalah B Negatif, dan setelahnya dirinya menyelidiki juga tahu bahwa golongan darah Ayahnya adalah A.


Memang benar bahwa golongan darah mereka berbeda, jadi mungkin saja kan tadinya memiliki golongan darah yang sama dengan Ibu Kandungnya?


Namun dirinya tidak tahu apa golongan darah Ibunya itu.


Namun bagaimana dirinya bisa tahu golongan darah Ibunya itu?


Sial, apakah sebaiknya dirinya bertanya pada Bibinya?


Segera setelah itu, Allen mulai menelepon Bibinya.


"Hallo, Bibi,"


'Hallo juga, Allen. Bagaimana keadaanmu sekarang?'


"Aku sudah baik-baik saja, Bibi tidak usah khawatir,"


'Sukurlah jika kamu sudah baik-baik saja, sebelumnya kamu benar-benar membuat kami semua khawatir bagaimana kamu bisa kecelakaan seperti itu,'


"Maaf, aku malah membuat khawatir semua orang,"


'Allen tidak perlu minta maaf, jelas itu semua bukan salahmu, hal-hal tidak terduga sering terjadi. Ngomong-ngomong ada apa sebenarnya kamu meneleponku?'


Allen terdiam sebentar menstabilkan emosi yang lalu mulai bertanya,


"Apakah Bibi tahu golongan darah dari Ibuku?"


Sejujurnya dirinya merasa sedikit takut ketika bertanya, takut jika kenyataan tidak sesuai dengan yang dirinya kira.


Dengan sabar, Allen menunggu Bibinya itu untuk menjawab.


"Golongan Darah Kakakku? Sepertinya aku sedikit lupa dengan golongan darahnya, karena itu sudah lama sekali, kenapa dengan itu memangnya?"


Allen yang kembali ditanyain itu menjadi bingung sendiri harus menjawab apa, jadi dirinya mencoba mencari alasan.


"Tidak, tidak. Aku hanya ingin tahu saja. Nanti jika Bibi ingat tolong beritahu Aku ya,"


'Tentu saja, nanti jika aku ingat aku akan memberitahumu,'


Setelahnya mereka mulai berbicara basa-basi sebentar, sampai Allen akhirnya menutup telepon itu.


Baru setelahnya, Allen menghela nafasnya, pikirkan langkah apa yang harus dirinya lakukan untuk mengetahui golongan darah Ibunya.


Tunggu, apakah ada surat kesehatan milik Ibunya atau sesuatu? Namun itu sudah lebih dari 20 tahun lalu, jelas itu kejadian yang cukup lama.


Jadi apakah Ayahnya masih menyimpan dokumen itu?


Sebenarnya paling mudah adalah bertanya langsung pada Ayahnya.


Namun Allen merasa, jika dirinya bertanya pada Ayahnya, jawaban yang di hasilnya mungkin tidak membuatnya buat.


Bukannya dirinya curiga atau apa hanya saja....


Allen tidak mau terlalu memikirkan itu, yang dirinya butuhkan adalah bukti kongkrit, bukan hanya sekedar kata-kata Ayahnya, agar tidak ada lagi orang-orang yang berani mengatakan bahwa dirinya bukan anak kandung Felix Chastielo.


Itu benar, ada cara paling mudah untuk membuktikan ini.


Bagaimana dengan mencoba uji Tes DNA?


Ketika memikirkan sebuah ide ini, Allen mulai mencari soal ini di internet.


Tes DNA ternyata cukup mudah, bahkan dengan sample rambut, hasil tes DNA bisa dilakukan.

__ADS_1


Harusnya tidak sulit untuk mendapatkan sample seperti ini.


Allen lalu mulai melihat ke arah jam, yang saat ini menunjukan pukul sepuluh siang.


Seharusnya Ayahnya sudah pergi dari Rumah?


Stella juga tidak ada di Rumah karena dia pergi ke Kampus, dan kebetulan Cynthia yang biasanya membuat keributan itu tidak ada juga.


Mungkin ini satu-satunya kesempatan yang bisa dirinya dapatkan untuk mencoba mendapatkan sample rambut Ayahnya itu, dari kamar Ayahnya.


Jadi dengan pelan-pelan, Allen mulai bangun dari tempat tidurnya.


Seorang Pelayan yang dari tadi ditugaskan untuk menjaga Allen mulai bertanya,


"Tuan Muda Allen mau kemana?Saat ini Tuan Muda tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu,"


"Tidak apa-apa, kamu sebaiknya keluar dari sini. Saat ini aku tidak ingin diganggu oleh siapapun,"


"Tapi Tuan Muda.... Saya di sini ditugaskan untuk mengawasi Tuan Muda, dan membantu jika Tuan Muda butuh apa-apa,"


"Sudah Aku bilang, Aku tidak apa-apa sebaiknya kamu cepat pergi dari ruangan ini aku benar-benar butuh ketenangan dan ingin sendirian,"


Melihat Tuan Mudanya itu menyuruhnya pergi, Pelayan itu tidak memiliki pilihan lain dan segera pergi dari ruangan itu.


"Baik Tuan Muda, saya akan pergi, namun sebaiknya, Tuan Muda Istirahat dulu dan jangan terlalu banyak bergerak, jika Tuan Muda ingin pergi keluar, anda bisa memanggil saya dulu melalui telepon,"


"Aku tahu, aku tahu, sana kamu cepat pergilah,"


Hanya bisa berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Dan begitu Pelayan itu pergi, Allen mulai berdiri, dan berjalan keluar dari kamarnya, kemudian melihat ke sisi kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang di sana.


Sangat beruntung Kamar Ayahnya sangat dekat dengan kamarnya, hanya di sebelah.


Jadi, Allen yang masih memakai tongkat bantu jalan itu, mulai menuju ke kamar sebelah.


Memang, tubuhnya saat ini tidak cocok untuk bergerak atau jalan jauh, biasanya masih memakai kursi roda karena kakinya masih sedikit lemas, namun memang dirinya yang memaksa untuk memakai tongkat jalan, dirinya terlalu malas jika harus terlihat begitu lemah di hadapan orang-orang.


Jadi saat ini, Allen berjalan dengan susah payah untuk sampai ke kamar sebelah.


Kamar Ayahnya, tidak pernah berubah sejak terakhir dirinya masuk.


Dalam kamar itu, masih ada begitu banyak foto Ibu Kandungnya yang di pajang disana sini.


Sepintas, Allen mulai sedikit nostalgia ketika dirinya masih kecil, dirinya sering pergi ke kamar ini dan meminta tidur dengan Ayahnya, merengek begitu manja.


Jika memikirkannya, dulu dirinya dan Ayahnya sangat dekat, mereka akan selalu tidur bersama-sama.


Namun entah kenapa, sejak dirinya mengalami kecelakaan dan jatuh dari tangga itu, Ayahnya mulai sedikit menjaga jarak antara mereka.


Dulu, dirinya masih kecil tentu saja tidak tahu apa-apa hanya mengira Ayahnya itu sibuk.


Namun sekarang dirinya sudah dewasa dan bisa berpikir lebih banyak, hal-hal itu jelas terasa aneh.


Bukan berati Ayahnya menjadi dingin dan bersikap jahat padanya, selain mereka cukup jarang bertemu, Ayahnya akan selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik, membelikan banyak hadiah dan berbagai hal padanya.


Hanya saja, memang mereka tidak lagi sedekat itu, orang bilang memang anak laki-laki dan Ayahnya itu, sangat biasa memiliki hubungan cukup dingin seperti itu, karena anak laki-laki biasanya akan lebih dekat dengan Ibunya.


Namun sekali lagi, Allen tidak memiliki seorang Ibu sejak kecil.


Dan sekarang ketika Allen menatap foto seorang wanita yang berada bersama Ayahnya itu, ada sedikit rasa asing yang aneh.


Seorang Ibu yang tidak pernah dirinya temui.


Namun ini bukan saat untuk bernostalgia, karena memiliki tujuan untuk berada di kamar ini.


Sekarang, Allen mulai memeriksa tempat tidur Ayahnya.


Baru ketika dirinya melihat ada sepasang bantal dan guling di sana perasaannya menjadi rumit.


Tempat tidur dimana sekarang sudah ada dua orang yang menempati nya.

__ADS_1


Ayahnya dan Stella.


Dan mereka saat ini tidur dalam satu tempat tidur, rasanya sangat tidak nyaman ketika memikirkan ini dan membayangkan mengerikan berdua tidur di tempat ini.


Sekali lagi ini bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal tidak jelas ini.


Namun, Allen menjadi binggung bagaimana mendapatkan rambut Ayahnya, jelas karena dirinya tidak tahu di bagian mana Ayahnya tidur, bisa jadi rambut yang ada di sini bukan rambut milik Ayahnya.


Sebuah masalah besar mulai muncul.


Melihat tidak ada hal yang bisa di cari disana, Allen lalu mulai menatap ke Almari Pakaian Ayahnya.


Mungkin di sana dirinya bisa menemukan beberapa berkas?


Dan segera, Allen mulai berjalan menuju tempat itu, dan disana memang ada beberapa berkas pekerjaan, dan beberapa dokumen.


Dalam Almari itu juga Allen menemukan ada sebuah laci yang tidak bisa dibuka kuncinya, hal ini jelas membuat Allen penasaran.


Lalu Allen mulai mencoba mencari kunci laci itu di sekitar sana, namun tidak menemukan apa-apa.


"Sungguh, sebenarnya apa isi dari laci ini?"


Allen lalu mulai memeriksa laci di dekat meja, barangkali bisa menemukan kunci dari laci misterius itu.


Namun ketika Allen membuka salah satu laci di meja, Allen menemukan hal yang membuat jantung hampir copot karena kaget.


Allen terpeleset, sempat mau jatuh saling kagetnya, tidak mempercayai apa yang di temukannya.


Ini...


Ini....


Barang apa ini?


Allen mulai menatap lebih dekat ke sebuah kotak dengan tulisan,


'Ukuran XL,'


'Extra Tipis, yang membuat bergairah,'


Allen tentu saja tahu barang semacam apa ini, ini adalah pengaman yang dipakai ketika melakukan kegiatan semacam itu.


Walaupun ini baru pertama kalinya, dirinya melihat benda semacam itu.


Yah, walaupun umur segini dirinya tidak pernah membeli benda semacam ini, karena dirinya tidak pernah berpikir untuk melakukan hal semacam itu sebelum menikah, yah walaupun akhirnya malah ada beberapa kecerobohan yang bahkan dirinya tidak begitu ingat.


Tapi, tunggu...


Kenapa Ayahnya punya barang semacam ini?


Tepat ketika Allen sedang berpikir, Allen menemukan barang lain di laci itu, hal-hal yang membuat Allen Syok.


Ini...


Tidak hanya ada satu..


Ada juga satu kotak yang sepertinya sudah di pakai isinya.


Astaga....


Ketika melihat isi kotak itu, Allen tiba-tiba ingin melepaskannya jauh-jauh.


Sepertinya hari ini dirinya belajar tentang banyak hal, untuk tidak memeriksa barang-barang orang lain, atau mungkin menemukan hal-hal tidak senonoh semacam ini.


Sangat beruntung dirinya tidak menemukan barang semacam ini yang sudah dipakai.


Hah...


Hal ini membuat Allen kepikiran,


Lalu sebenarnya, apa isi dari Laci Misterius itu?

__ADS_1


Apakah itu hal-hal tidak senonoh lainnya?


Tapi jika Ayahnya memang memiliki hal-hal semacam ini berati....


__ADS_2