
Kata-kata itu mengejutkan, Felix tidak akan pernah mengira jika wanita didepannya itu akan mengatakan hal semacam itu.
"Lalu kamu dan Allen..."
"Paman, Aku sudah bilang sebelumnya bukan? Kalau Aku akan melupakan Allen, dia hanya jadi bagian dari masa laluku. Saat ini ada kamu didepanku. Sejujurnya, melihat Paman begitu percaya padaku seperti ini dan berada disampingku, Aku sangat senang. Tidak ada yang memaksa ku untuk memilih pilihan ini, Aku memilihmu, karena Aku menyukaimu. Apakah Aku harus mengatakan seperti ini agar kamu mengerti?"
"Stella kamu...."
Stella tidak menjawab, lalu hanya segera memeluk Felix.
"Apakah ada larangan untuk Aku menyukaimu, Paman?"
Namun dengar kata-kata tulus, Felix tiba-tiba menangis, karena dirinya tidak akan pernah mengira bahwa Stella akan memilih dirinya, memilih untuk bersamanya.
Stella yang merasakan bajunya tiba-tiba basah itu, tentu saja menjadi kaget apalagi setelah melihat bahwa Felix menagis.
"Paman? Kenapa Paman menagis?"
"Diamlah," kata Felix lalu segera memeluk Stella lagi.
Stella memutuskan untuk diam dan menerima pelukan itu.
Sebuah pelukan hangat yang selamanya akan menjadi miliknya.
Rasanya begitu menyenangkan ketika akhirnya, dirinya tahu bahwa ternyata Suaminya, juga memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
Jika kali ini, cintanya dibalas, jika mereka berdua memiliki perasaan yang sama.
####
Hari-hari segera berlalu, dan Stella sudah kembali ke Rumah Keluarga Chastielo.
Disana, tentu saja Stella sudah disambut dengan baik oleh Orang Tuanya Felix, yang sempat minta maaf karena sampai termakan berita hoax.
Stella merasa senang, karena bahkan ketika dirinya di Rumah Sakit, ada Felix yang selalu menjaga dan merawatnya dengan bantuan bahkan sampai bolos dari kantornya.
Dan terkadang, dirinya suka meminta hal-hal yang aneh, namun Suaminya itu membelikan untuk dirinya, rasanya benar-benar menyenangkan untuk di cintai seperti ini.
"Awas Stella, kamu harus hati-hati ketika naik tangga," kata Felix yang terlihat cemas, yah karena memang kejadian yang menimpa Stella sebelumnya karena terpeleset di tangga.
Stella yang mendengar kata-kata perhatian itu, segera merangkul Felix dan berkata,
"Benar, berati kamu harus membantuku,"
Tepat ketika mereka hendak naik tangga, mereka bertemu dengan Allen dan Rhea yang kebetulan berjalan turun.
Rhea langsung datang dan menyapa,
"Selamat atas kepulangaan, Kak Stella. Sungguh, Aku benar-benar minta maaf atas kekacauan yang Mamaku buat soal Video itu, Aku benar tidak tahu dia bisa melakukan hal-hal semacam itu," terlihat raut wajah bersalah dari sana.
Stella tentu saja sudah mendengar soal kekacauan ini dari Felix, dirinya sudah diberitahu juga soal dalang dibaliknya.
"Rhea, ini jelas bukan salahmu. Tidak perlu meminta maaf dan terlalu merasa bersalah, ustad tidak benar-benar tahu apa yang orang lain pikiran, hah Aku juga tidak mengira bisa terjadi hal-hal itu. Namun itu tidak masalah, sekarang toh semua sudah selesai,"
"Terimakasih Atas Kebaikan Kak Stella dan Paman Felix untuk tidak memperpanjang hal ini,"
"Tidak apa-apa, semua sudah terjadi. Hanya saja, jika sampai dia melakukan hal semacam ini lagi..."
"Ya, Aku akan memastikannya jika dia tidak akan terlibat hal ini lagi. Barusan Mama sudah di pindahkan ke Luar Kota, sudah tidak akan bisa berurusan dengan kalian lagi,"
"Ya, Aku harap begitu. Ngomong-ngomong, Rhea kenapa kamu di sini?"
Ketika Stella bertanya Allen yang berjalan lebih lambat, baru sampai disana.
Mendengar perkataan itu, Allen yang menjawab duluan,
"Rhea kesini karena aku memintanya membantuku untuk mengurus kepindahan ku nanti,"
__ADS_1
Stella yang mendengar hal itu jelas merasa cemas.
Pindah apa?
Apa Allen bertengkar lagi dengan Keluarga Chastielo?
Degan Ayahnya?
Atau Kakek dan Neneknya misalnya?
Stella menatap Felix dengan cemas .
Felix yang di tatap itu lalu segera berkata,
"Kamu tahu sendiri bukan, Stella, saat ini ada begitu banyak Rumor buruk soal Allen di Kampus lamanya. Awalnya dia hendak cuti Kuliah, namun aku merasa bukan hal yang baik juga dia cuti Kuliah. Akan lebih baik jika dia tetap melanjutkan Kuliahnya dan segera lulus, jadi Allen memutuskan dia ingin pindah Kuliah ke Luar Negeri, hmm Aku rasa di Kampus Rhea yang sekarang? Itu terdengar ide yang bagus bukan?"
Stella terkejut mendengar hal itu.
"Begitukah?"
"Ya, Aku juga akan melakukan S2ku disana sekalian, dan jelas Aku masih akan pulang ketika liburan tiba, dan ketika Adik kecilku ini lahir," kata Allen lagi.
"Ya, itu bagus jika kamu mau lanjut S2mu,"
"Terimakasih,"
Lalu ada keheningan sejenak disana, jelas rasa canggung, sampai Stella berbicara lagi sambil menatap Rhea.
"Ya, Kamu juga Rhea. Baik-baik nanti di Luar Negeri, kamu tahu Allen itu tidak bisa hidup sendiri, ada kamu disana bisa mengawasinya, Pasti Ayahnya ini tidak akan khawatir lagi,"
"Tentu saja, Aku akan mengawasi Kak Allen," kata Rhea dengan yakin.
"Hey, Hey! Memang Aku anak kecil yang perlu diawasi segala?"
Lalu mereka semua tertawa termasuk Felix.
Melihat kehagatan itu, Stella menjadi merasa tidak sabar untuk melihat bayi kecilnya lahir.
Tanpa sadar Stella mengelus perutnya itu yang saat ini masih rata.
"Ah, benar. Selamat juga Kak Stella, sepertinya Kakak sudah memiliki hubungan baik dengan Pan Felix," bisik Rhea di telinga Stella, membuat wajah Stella sedikit memerah.
"Rhea, kamu bisa saja sih,"
"Aku senang, Kak Stella akhirnya bisa menemukan kebahagiaannya,"
"Ya, ini adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah aku kira, Aku yakin kamu nanti juga akan menemukannya,"
Rhea lalu tersenyum dan berkata,
"Hmm, mungkin juga,"
Dua wanita itu berbisik-bisik terlihat asik sendiri, meninggalkan dua Pria lainnya disana.
Felix jelas masih khawatir pada Putranya itu.
"Allen, kamu benar tidak apa-apa?"
"Astaga, Apa yang Ayah khawatirkan? Aku baik-baik, saja. Aku juga akan menemukan kebahagiaanku sendiri, jadi Ayah juga berbahagialah, aku juga akan ikut bahagia,"
Mendengar kata-kata Putranya itu, Felix langsung memeluk Allen.
"Ya, Aku harap kamu juga menemukan kebahagiaanmu sendiri,"
Setelahnya, Rhea dan Allen pergi dari sana meninggalkan Stella dan Felix yang menuju ke kamarnya.
Ketika menatap kamar itu, Stella cukup terkejut karena ada banyak perbedaan disana.
__ADS_1
Terutama foto-foto yang dipajang sebelumnya.
"Huh? Foto-foto sebelumnya?"
Ya, beberapa foto Shopia sebelumnya sudah di pindahkan dan ada beberapa foto Allen ketika kecil bersama dengan Felix yang sekarang di pajang.
Lalu di arena utama, ada sebuah foto yang cukup besar.
Ini adalah sebuah foto Pernikahan.
Foto Pernikahan dirinya dan Felix, jelas Stella menatap foto itu dengan penuh kejutan.
"Paman Felix ini...."
"Stella, Aku rasa bukankan ini sudah saatnya kamu tidak memanggilku Paman?"
Mendengar bukannya menjawab pertanyaannya, malah bertanya balik, jelas Stella kaget.
"Mau di panggil Deddy?"
"Panggil namaku,"
Stella yang mendengar perintah yang terlihat jelas itu tiba-tiba merasa malu.
"Apa-apaan itu... Rasanya aneh..."
"Tidak mau?"
Stella lalu mulai menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mempersiapkan dirinya.
"Felix...."
"Apa Aku tidak dengar?"
Stella merasa kesal dengan lelucon itu.
"Sungguh? Kamu benar-benar, menyebalkan, Felix!"
"Pfff... Ya, sekarang tidak apa-apa. Apakah kamu suka dengan foto ini?"
Stella selalu mulai menatap foto itu, foto pernikahan yang awalnya di foto dengan seadanya, sebuah pernikahan dimana itu hanya tindakan Impulsifnya untuk balas dendam, sebuah paksaan kekanak-kanakan yang dirinya buat.
Namun sekarang ketika menatap foto itu rasanya terasa hangat, karena sekarang berkat Pernikahan Impulsif itu, dirinya akhirnya menemukan kebahagiaannya.
Bersama dengan seseorang yang saat ini bersamanya.
"Ya, Aku menyukainya,"
Stella lalu memeluk Felix, dan berkata lagi,
"Terimakasih atas semua ini... Aku yakin letak kebahagiaanku adalah bersamamu. Walaupun awal pernikahan ini bukanlah sesuatu yang baik, namun mulai dari sekarang ini akan menjadi Pernikahan yang baik dan bahagia, bersama denganmu,"
"Ya, Aku juga merasa seperti itu. Bersama denganmu, adalah sesuatu yang baik dan sesuatu yang membuatku bahagia. Dan kurasa kebahagiaanku akan lengkap,"kata Felix sambil mengelus perut Stella.
"Ya, itu benar."
Stella juga merasa senang, hari ini akan menjadi salah satu momen terindah dalam hidupnya.
Bahwa dirinya benar-benar sudah dipertemukan dengan orang yang tepat, dan dimasa depan, asalkan dirinya bersama dengannya, dirinya yakin semua akan baik-baik saja.
Bersama dengannya, dirinya menemukan kebahagiaannya..
Takdirnya, Felix Chastielo.
...*****...
...Tamat...
__ADS_1