
Hari-hari berlalu sekali lagi dalam sekejap, dan satu Minggu segera berlalu setelah kepergian Felix ke Luar Kota.
Stella selama ini di rumah belajar beberapa hal untuk mencoba mendekati Suaminya itu.
Dirinya juga mulai bertanya-tanya kepada Orang Tuanya Felix soal hobinya atau apapun hal-hal yang mungkin suaminya itu sukai.
Dan malam ini, dirinya juga sudah dapat kabar dari Asisten Felix, jika Felix akan segera pulang.
Karena Felix sangat sudah di hubungi, jadi dirinya sengaja meminta nomor Asisten dan Sekertaris Felix dari kantornya.
Biarpun dirinya tidak bisa menghubungi suaminya itu dirinya sedikit-sedikit bisa memantau keadaan suaminya itu.
Dan sekarang dirinya sangat senang untuk menyambut Felix pulang.
Rencananya nanti malam dirinya ingin membuat beberapa kejutan untuk suaminya itu.
Namun untuk kepulangan nya sekitar siang ini biarlah dia beristirahat dulu.
Jadi, dengan tidak sabar, Stella segera berdandan dan memakai pakaian yang cukup cantik, kemudian menuju kearah Bandara.
Sepertinya jatwal Jet Pribadi Milik Keluarga Chastielo akan tiba sekitar setengah jam lagi.
Jadi setelah menata pantulan dirinya di cermin, dan menatap dirinya yang terlihat memiliki penampilan cukup sempurna, Stella terlihat cukup puas.
Felix selalu menyukai wanita yang tidak terlalu memakai banyak perhiasan ataupun memakai terlalu banyak make-up, jadi Stella berusaha tampil cantik namun terlihat natural dan tidak berlebihan.
Ketika dirinya sampai di Bandara, dirinya segera diantar oleh pengawal Keluarga Chastielo untuk ke lokasi dimana Felix akan tiba.
Dari agak jauh, Stella sudah bisa melihat tampilan Felix dengan pakaian resminya itu, namun jas miliknya sedikit terbuka begitu pula dengan beberapa kancing bajunya sepertinya tidak memakai dasi, juga kacamata berwarna hitam.
Mungkin karena cuaca memang begitu panas, hingga Felix memilih penampilan seperti itu.
Dan saat ini berdiri dengan kopernya, Stella bisa melihat betapa kerennya penampakan Felix itu.
'Astaga, dia berpenampilan seperti itu benar-benar tidak menggambarkan umurnya sama sekali, orang-orang pasti tidak akan tahu bahwa Paman itu berumur empat puluh dengan penampilan menawan dan menggoda itu,'
Stella hanya bisa mengatakan itu dalam hati ketika dirinya sedikit terkesima dengan kedatangan Suaminya itu.
"Nyonya Stella, kenapa anda berhenti? Itu Tuan sudah ada disana,"
Kata-kata Pegawal itu menyadarkan Stella dari lamunan nya.
"Ah, ya. Aku akan segera menyusul nya,"
Jadi dengan buru-buru, Stella langsung menuju kearah Felix.
Namun mana tau, karena berlari buru-buru ketika hampir sampai di depan Felix, Stella malah tergelincir, dan hampir jatuh.
Untung ada Felix yang menangkapnya dengan gesit.
"Apa-apaan kamu itu," kata Felix dengan kesal pada gadis yang ada dalam pelukannya itu, lalu dia sedikit mendorong Stella menjauh.
"Astaga, Sayang, kamu jangan galak begitu dong, aku kan tidak sengaja tergelincir,"
Felix jelas tidak percaya kata-kata Istrinya itu.
"Pasti kamu hanya membuat-buat saja agar menarik perhatianku,"
Stella lalu menatap kearah suaminya dengan ekspresi heran dan terkejut lalu segera berkata dengan nada sedikit bercanda,
"Astaga, Sayang, Aku tidak seperti itu, Aku kan bukan seorang Drama Queen, namun sepertinya malah kamu yang sangat menikmati adegan Drama Queen, apakah aku perlu pura-pura terkilir?"
"Diamlah,"
Stella segera merangkul Felix dengan mesra.
__ADS_1
"Sepertinya dalam satu Minggu, Paman Felix menjadi bertambah tua,"
Felix segera menatap Stella yang merangkulnya itu.
"Siapa yang bertambah Tua?"
Stella lalu menatap wajah Felix dengan ekspresi serius, lalu segera menyentuh sedikit bagian pipi Suaminya itu.
"Lihat ini, ada sebuah kerutan,"
Wajah Felix langsung menjadi pucat, segera mengambil ponselnya untuk melihat pantulan dirinya.
Dan tidak ada kerutan di pipinya.
Melihat ekspresi itu, Stella jelas menikmatinya.
Dirinya dengar dari Ibu Felix ini, jika Felix ini sebenarnya diam-diam cukup memperhatikan penampilannya.
Dan ternyata hal-hal itu terlihat sangat benar, bisa dilihat bagaimana Paman ini menjadi panik setelah dirinya mengatakan adakah kerutan di wajahnya.
"Kamu puas?"
Stella segera menghentikan tawanya dan berkata dengan suara lembut,
"Tentu saja, aku benar-benar bosan di Rumah karena tidak ada Paman yang bisa aku jahili, sangat bosan, aku benar-benar merindukan Paman,"
Felix yang mendengar omong kosong dari Stella hanya memalingkan wajahnya.
"Terserah,"
Lalu Stella berkata dengan serius,
"Selamat Datang kembali kesini, Paman,"
Entahlah, sebenarnya tidak buruk ada seseorang yang menyambut mu ketika datang.
Sangat melelahkan berada di luar kota sendirian, dan mengurus banyak pekerjaan di sana.
Namun tentu saja, Felix tidak mau mengakui perasaan itu, hanya tetap mencoba melepaskan rangkul and Stella.
Stellapun tidak terlalu memaksa Paman Felix itu.
Perjalanan Pulang ke Rumah Keluarga Chastielo, berjalan dengan lancar tanpa kendala.
Sampai disana, jelas Felix mulai membagikan beberapa hadiah untuk Ibunya itu.
"Kamu sudah membelikan ini? Terimakasih Putraku,"
Eve terlihat senang menerima oleh-oleh dari Putranya itu.
Felix juga terlihat menyerahkan satu kotak belanja pada salah satu pelayan sambil berkata,
"Bawa itu ke Allen,"
Pelayan itu, tentu saja sigap dan langsung pergi dari sana, menuju ke Kamar Allen berniat menyerahkan oleh-oleh.
Stella yang melihat itu tidak terkejut, dirinya tahu jika Allen memang sering menerima semacam hadiah dan oleh-oleh dari Ayahnya.
Ada banyak hadiah yang akan Allen simpan di kamarnya.
Itu ada terlalu banyak barang karena Felix lebih sering keluar kota ataupun pergi ke luar negeri dari pada di rumah. Namun Allen benar-benar mengoleksi semua hal-hal itu dengan baik, bahkan hadiah yang sudah cukup tua dari saat Allen malah cukup muda.
Dirinya tidak pernah mengerti kenapa Allen memiliki hobi semacam itu.
Namun setelah kantong belanja terakhir itu, Felix langsung menuju ke kamarnya dengan santai.
__ADS_1
Stella menatap Felix cari kejauhan dengan ekspresi rumit, segera mengejarnya,
"Paman, Oleh-olehku mana?"
Felix masih terlihat mengabaikan Stella, dan berkata dengan nada dingin,
"Aku lupa,"
Stella lalu merespon dengan berpura-pura berekspresi sedih.
"Astaga, Paman jahat sekali,"
"Berhentilah mengagungku, aku sangat lelah dan ingin Istirahat,"
"Baiklah-baiklah, Paman Istirahat saja, aku akan mengabilkan seberapa minuman dingin untuk Paman nanti,"
"Tidak perlu,"
Stella tak mengatakan apapun hanya tersenyum dan kemudian melarikan diri ke dapur.
Felix menatap kepergian Stella dengan ekspresi rumit.
Dirinya sengaja pergi ke Luar Kota agar bisa untuk menghindari Stella, selain memang ada Proyek besar disana.
Dan sekarang, ketika bertemu Stella dirinya masih tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Apa yang harus dirinya lakukan pada Stella ini yang sekarang sudah secara resmi menjadi Istrinya?
Apalagi, dirinya juga sudah terlanjur menyetujui Pernikahan Allen dan Cynthia, ya mau bagaimana lagi jika Cynthia itu hamil?
Dirinya tidak mau terjadi masalah atau Skandal tentang hal-hal ini jika sampai Cynthia itu mulai membuat keributan.
Hah....
Felix lupa berhenti untuk memikirkan hal-hal itu dan segera menuju ke kamar mandi dikamarnya itu.
####
Malam akhirnya tiba, tidak banyak yang Stella lakukan dengan Felix karena begitu Felix selesai mandi, Felix langsung tidur.
Stella hanya bisa menyiapkan makan malam kesukaan Felix, dan sedikit mengodanya ketika di meja makan.
Hingga akhirnya makan malam selesai, Felix langsung pergi ke Ruang Kerjanya untuk mengurusi beberapa berkas pekerja.
Sedangkan, Stella sudah bersiap dengan baju tidur seksi yang sudah dia siapkan!!
Butuh banyak keberanian untuk memakai ini!!
Jadi mari segera menuju ke ruang kerja Paman Felix itu, lalu mengodanya.
Stella terdengar sudah bertekad malam itu.
Namun siapa yang tahu, baru beberapa langkah dari kamarnya, Stella yang terlalu bersemangat itu menabrak penghuni kamar sebelah.
Allen yang refleks jelas mengakap Stella.
Namun, lengan baju Stella sedikit goyah, dan terbuka kebawah.
Allen tidak sengaja menatap itu, dan ekspresi Stella jelas merasa malu sendiri, begitu pula dengan Allen yang terkejut melihat penampilan Stella.
Stella hampir lupa jika ada penghuni Sial di samping kamarnya!!!
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara dingin itu mengagetkan Stella dan Allen.
__ADS_1