
Ditempat lainnya, Felix dan Stella tengah menikmati Bulan Madu mereka, dengan tenang.
Disana memang memiliki sinyal susah sehingga benar-benar terputus dari keadaan luar.
Kembali ke Malam itu, Stella dan Felix memiliki malam yang indah.
Mereka makan malam bersama, setelah keduanya berganti baju yang sesuai.
Stella, jelas mencoba berdandan cukup cantik malam itu.
Felix yang menunggu Stella berdandan itu bahkan hampir menjadi kesal dan marah karena terlalu lama menunggu.
Sampai, Akhirnya Stella dengan gaun merah mudanya itu keluar dari kamar.
Felix yang sudah duduk dan menunggu itu jelas langsung berkata dengan marah,
"Kamu ini, Makan malam pakai acara dandan segala apa sih sebenarnya yang kamu incar? Mau kamu tujukan pada siapa dandananmu itu? Tidak ada siapa-siapa disini...."
Namun segera setelah Felix mengatakan itu, dirinya tidak bisa lagi berkata-kata setelah menatap Stella, melihat betapa cantiknya penampilan Stella sekarang.
Entah kenapa malam ini, penampilan Stella sedikit lebih dewasa dan elegan, tanpa begitu banyak perhiasan yang berlebihan, atau gaun yang berlebih-lebihan.
Hanya menggunakan gaun pendek yang terlihat sederhana juga make up yang tidak terlalu mencolok.
Stella yang mendengar kata-kata marah dari suaminya itu, awalnya sedikit kecewa, padahal dirinya berdandan susah payah agar terlihat cantik didepan Pria ini, namun apa?
Dirinya malah di caci maki?
Dirinya sebenarnya sudah belajar beberapa hal tentang hal-hal yang Paman Felix ini suka.
Sebenarnya, Paman Felix ini suka seorang yang terlihat sederhana anggun dan elegan, seperti Almarhum Ibu Kandung Allen, tidak pernah memakai terlalu banyak riasan ataupun terlalu banyak memakai perhiasan mewah.
Biasanya sih, dirinya memang cukup suka memakai hal-hal mewah dan perhiasan mahal untuk membuat Cynthia itu kesal.
Namun, malam ini toh hanya ada dirinya dan Paman Felix, jadi dirinya berdandan dengan cara yang membuatnya nyaman.
"Paman apaan sih, kenapa marah-marah? Jelas aku berdandan seperti ini agar bisa dilihat oleh, Paman Felix. Apakah aku terlihat cantik Paman?" Tanya Stella terlihat percaya diri.
Felix tentu saja merasa Stella cantik malam ini, jelas sekali jika Pria itu tidak akan mengatakan yang sejujurnya di depan Stella.
"Bo... Bodoh, tidak ada gunanya kamu berdandan didepanku, kamu masih terlihat seperti bocah didepanku," kata Felix langsung memalingkan wajahnya dari Stella.
Stella yang mendengar kata-kata itu, jelas saja menjadi marah.
"Hpmh, aku akan menunjukkan padamu malam ini bahwa aku bukan bocah," kata Stella lalu segera merangkul tangan Felix, Felix tidak menghindarinya karena merasa percuma karena Stella biasanya memang menempel seperti ini.
Disini, Felix yang berada didekat Stella, mulai merasakan sedikit aroma parfum ringan dari tubuhnya, wangi dan menyegarkan, membuat Felix sejujurnya berdebar.
Sial!!
Dirinya jelas tidak boleh terbawa perasaan pada Wanita yang seumuran dengan Putranya ini!!
Felix lalu menarik nafasnya, mencoba menenangkan dirinya agar detak jantungnya stabil.
__ADS_1
Stella tidak terlalu memperhatikan itu hanya menempel lebih erat kearah Felix.
Sampai keduanya tiba dimeja makan.
Mereka sudah disambut oleh para Pelayan yang ada disana, menyimak makanan mereka yang sudah dihidangkan.
Keduanya segera duduk berhadap-hadapan satu sama lainnya, menatap kearah meja makan.
Stella merasa cukup puas dengan hidangan yang ada dimeja, mengabil beberapa foto meja makan itu.
"Kamu itu, dari tadi berfoto terus apa tidak lelah?"
Stella yang mendapat komentar dari pria di depannya itu lalu segera berkata,
"Tentu saja tidak, ini sangat menyenangkan. Sayang sekali di sini cukup susah sinyal sehingga aku tidak bisa langsung menguploadnya,"
Felix udah habis pikir dengan tingkah Gadis itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menikmati makan malamnya sendiri.
Sampai tiba-tiba Stella memanggilnya,
"Paman...."
Felix segera mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Stella, yang ternyata sudah siap dengan sendok dan makanan di tangannya.
"Ayo makan Paman, biar aku suapi,"
Felix merasa terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu, entah kenapa cukup senang juga, namun jelas dia mencoba menghindarinya.
"Memangnya aku anak kecil,"
Felix yang menatap Pelayan yang menegang kamera itu entah kenapa menjadi kecewa.
"Hah, dasar pencitraan,"
Namun Stella memperdulikan kata-kata dari Pria itu, hanya segera menyuapinya.
Karena itu sudah tepat didepan mulutnya, Felix menerima saja suapan Stella.
"Apakah enak?"
Ya, barusan Stella menyuapi beberapa makanan penutup dihadapannya yang sedikit berbeda dengan yang ada di depan Felix.
Felix juga merasakan itu, sebenanya cukup enak.
"Tidak buruk,"
"Astaga, komentar Paman seperti itu sekali, kalau niat memuji sekalian saja, bilang enak begitu, hah dasar,"
"Itu suka-suka kataku saja sih, kamu benar-benar berisik!"
Felix ingin kembali melanjutkan makanannya namun, Stella segera mencegahnya.
"Paman tidak mau menyuapiku? Lihat, aku juga tertarik dengan menu yang Paman coba,"
__ADS_1
Felix lalu menatap kearah mejanya, menu disana bukan hal yang luar biasa.
"Ini hanya Steak Ayam, tidak ada yang spesial, mungkin hanya bumbunya saja yang sedikit berbeda,"
"Tapi aku ingin mencobanya, aku tidak memesan itu,"
Melihat sepertinya wanita didepannya ini masih akan terus berbicara jika keinginan tidak dituruti, Felix memutuskan untuk mengikutinya.
Lalu mulai memotong stek itu, lalu segera mencelupkannya ke saus, dan menyuapkannya pada Stella.
Ketika adegan menyuapi itu, Felix tanpa sadar menatap kearah Stella, yang terlihat bersemangat itu, tatapannya tidak bisa beralih darinya, sedikit terkesima dengan kecantikan Stella malam itu.
Sampai Felix agak salah menyuapi Stella sehingga sausnya sedikit mengenai bibir Stella,
Stella tidak terlalu memperhatikannya, hanya menikmati suapan itu, lalu mulai berkomentar,
"Ini enak, mungkin lain kali aku akan memesan menu ini,"
Felix melihat bagian bibir Stella yang ada sausnya.
Karena ini kesalahan Felix, tanpa kata-kata, Felix segera mengambil tisu, lalu mendekatkan wajahnya kearah Stella.
Stella tentu tidak melihat Felix yang mengabil tisu, hanya menatap wajah Felix yang mendekatinya itu, yang membuat jantungnya tiba-tiba berdebar.
Wajah ini, jika dilihat lagi menjadi semakin tampan, astaga....
Dan apa-apaan itu?
Apa yang coba Pria didepannya ini lakukan?
Apakah tiba-tiba akan ada ciuman seperti sebelumnya?
Memikirkan ciuman sebelumnya yang terasa sangat menyenangkan itu, Stella diam-diam mulai menutup matanya.
Namun bibir Felix tidak pernah menyentuh bibir Stella, itu hanya tanya Felix, dengan tisu.
Felix menatap ekpersi Stella lalu segera tertawa,
"Apa yang kamu harapkan? Aku menciummu? aku hanya membersihkan saus yang ada di bibirmu, aku tadi salah hingga membuat ada saus disitu,"
Stella segera membuka matanya dan memiliki ekspresi malu.
"Si.... Siapa yang mengharapkan ciuman? Ciuman Paman Felix jelas sangat buruk sekali aku tidak menginginkannya,"
Felix yang mendengar itu jelas menjadi marah.
"Buruk apa? Kamu sebelumnya terlihat menikmatinya,"
"Bukankah itu malah Paman? Jelas Paman Felix yang begitu menikmati berciuman denganku,"
"Berhenti bicara omong kosong,"
"Paman itu yang dari tadi bicara omong kosong, barang sebaiknya kita jujur saja satu sama lain toh sekarang hanya ada kita berdua,"
__ADS_1
Itu benar, Pelayan sebelumnya sudah pergi dari sana dan hanya menyisakan mereka berdua.