
Felix setelah mendengar kata-kata Stella itu yang menganggap dirinya ini sebagai orang tua yang akan mudah sakit tulang hanya karena tidur di sofa, dirinya jelas menjadi marah.
"Stella!! Diam kataku!! Kamu itu benar-benar menyebalkan!! Kalau begitu kenapa tidak kamu saja yang tidur di sofa?"
"Jelas Siapa yang mau tidur di sofa,"
"Ya sudah kalau begitu, Kamu tidak usah banyak berkomentar,"
"Tapi kan Paman bisa tidur di tempat tidur,"
Felix lalu sekali lagi menatap dingin ke arah Stella.
"Sungguh, Aku tidak ingin berada satu tempat tidur denganmu hanya berada satu tempat tidur dan satu ruang kamar selama beberapa hari ini saja sudah membuatku muak. Dan aku tegaskan sekali lagi Kamu jangan pernah berpikir macam-macam soalku, aku sudah membuat jarak yang jelas antara kita berdua,"
"Apa maksud Paman? Tapi kita berdua sudah menikah, kita harus mencoba untuk saling memahami dan saling mengerti agar bisa lebih dekat,"
"Stella, Apakah kamu tidak paham dengan apa yang ingin aku katakan? Aku jelas tidak ingin hubungan kita lebih dari ini kita sudah cukup seperti ini saja,"
"Tapi Paman... Aku tidak ingin seperti ini, aku ingin hubungan kita menjadi dekat dan benar-benar menjadi sepasang suami istri yang sebenarnya,"
Felix lalu menatap wanita di depannya ini dengan ekspresi heran.
"Sudahlah, lakukan apapun yang kamu mau dan aku akan melakukan apapun yang aku mau sudah jangan bicara lagi aku lelah dan ingin istirahat," kata Felix sambil mulai duduk di sofa, lihat dia sedang bersantai.
"Sudahlah, Aku tidak mau tahu jika nanti Paman mengeluh sakit punggung,"
"Ini tidak ada hubungannya denganmu Apakah aku sakit atau tidak,"
Dan begitulah akhirnya malam itu mereka tidak tidur di tempat tidur yang sama.
Stella juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan suaminya Felix.
Hal ini memang terjadi karena dirinya menjadi cukup lancang Sampai berani memeriksa barang-barang Felix.
Jika dirinya memulai langkah dengan pelan-pelan dan tidak begitu Implusif, pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
Stella lalu hanya mencoba tidur sendirian di tempat tidur itu.
Dan tiba-tiba merasa sedikit sedih ketika memikirkan ini.
Hari ini terlalu banyak hal yang terjadi dan membuat dirinya menguras banyak emosi.
Berikutnya, Stella benar-benar tertidur lelap dengan tenang.
Berbeda dengan Felix yang berada di sofa yang terlihat tidak nyaman.
####
Dan begitulah malam segera berlalu dengan cepat.
Stella yang tidur di tempat tidur dengan nyenyak tadi malam, tentu saja bangun dalam keadaan segar.
Stella melihat ke arah jam sepertinya masih cukup pagi, Stella lalu teringat jika ranjang di sampingnya kosong.
__ADS_1
Stella segera ingat tentang kejadian semalam, lalu mulai menatap kearah sofa.
Dirinya bisa melihat suaminya itu, ekpresi wajah yang tidak nyaman, sekali dari ekspresi itu bahwa posisi tidurnya tidak enak.
Stella hanya bisa menyalahkan Paman itu yang menjadi keras kepala semalam dan ingin tidur di sofa, tante rasakan lah itu akibatnya.
Segera Stella lalu bangun dari tempat tidur, berniat untuk membangunkan pria yang tidur di sofa itu.
"Paman, bangunlah ini sudah pagi, tidak perlu bersusah payah untuk tidur di sofa ini lagi,"
Namun tidak ada respon, sampai akhirnya Stella yang kesal itu mengundangkan tubuh Felix.
Felix yang memang tidurnya tidak nyaman dari tadi, akhirnya membuka matanya, namun ia segera menjadi kaget setelah melihat wajah Stella yang begitu dekat padanya, padahal hanya mereka tidak ada di tempat tidur yang sama.
"Apa-apaan sih kamu bocah? Bukankah aku sudah bilang padamu sebelumnya, untuk tidak dekat-dekat denganku? Namun juga sekarang apa yang kamu lakukan?" kata Felix dengan ekspresi kesalnya itu.
"Aku hanya coba untuk membangunkan Paman, terlihat sekali posisi Paman tidur tidak nyaman, Paman bisa pindah sekarang di tempat tidur, aku sudah tidak menggunakannya lagi," kata Stella dengan ekspresi cemburut nya, padahal jelas niatnya baik namun apa tanggapan Pria dihadapannya ini?
Benar-benar menyebalkan.
Namun tentu saja Stella mencoba menahan emosinya dan tetap bersikap baik di depan suaminya itu.
"Tidak perlu repot-repot, aku sudah bangun sekarang dan tidak perlu untuk tidur lagi," kata Felix lalu mencoba bangun dari posisinya.
Namun pada yang dia rasakan setelahnya?
Badan Felix terasa sakit semua terutama bagian pinggangnya.
Stella juga melihat bagaimana Paman Felix yang mencoba bangun itu merasa tidak nyaman, dan mulai bagian pinggangnya itu.
Padahal dirinya semalam hanya membuat lelucon agar Paman ini bisa tidur bersamanya di tempat tidur tidak perlu berpisah segala dan tidur di sofa seperti ini.
Namun siapa yang tahu jika pria itu malah sakit punggung betulan, Stella yang melihat itu jelas berusaha keras untuk menahan tawanya, lalu segera bertanya,
"Paman kenapa? Apakah sakit pinggang segala?"
Felix juga melihat bagaimana ekspresi mikil Stella yang mencoba menahan tawanya itu.
Ekpersi Felix jelas menjadi begitu gelap, dan merasa sangat kesal, lalu dia segera berkata,
"Aku tidak sakit apapun, aku sungguh baik-baik saja,"
Felix lalu segera berdiri dari sofa, namun segera dirinya merasakan pinggangnya sakit.
Ekspresi Felix jelas terlihat diwajahnya, Stella jelas melihat hal-hal ini bagaimana sepertinya Paman ini menjadi sangat malu karena ucapannya semalam benar-benar menjadi nyata.
"Ahahaha, Astaga Paman... Aku tidak mengira jika paman benar-benar sakit punggung,"
"Diam kamu Stella!!"
"Apakah untuk aku pijat?"
"Aku baik-baik saja dan bisa mengurus diriku sendiri kamu tidak perlu repot-repot,"
__ADS_1
Melihat sikap keras kepala itu, Stella juga menjadi binggung sendiri bersikap seperti apa.
Segera Stella kembali ketempat tidur lalu mengambil sebotol obat dilaci meja.
Itu adalah minyak angin, selain bisa meredakan pusing ini juga berguna untuk hal-hal seperti ini sementara.
Stella segera menyerahkan hal itu pada Felix dan berkata dengan tenang,
"itu terserah paman untuk memakainya atau tidak aku juga akan segera pergi dari kamar ini, semoga pagi Paman indah,"
Dan begitulah Stella pergi dari sana.
Felix yang melihat obat itu, mau tidak mau lalu memakainya sendiri pada punggungnya yang sakit Itu.
Sungguh, tubuh ini sangat tidak bisa diajak kerjasama dan membuat dirinya malu sendiri di hadapan Stella itu.
Felix benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang.
####
Pagi itu tentu saja diadakan sarapan bersama, Stella jelas datang ke meja makan lebih dulu karena dia ikut membantu menyiapkan sarapan ini.
Allen juga kebetulan baru tiba dimeja makan, tidak terbiasa ketika melihat wajah Stella disana, dia tidak berkata apa-apa dan tidak menyapa Stella.
Stella sendiri juga tidak mengatakan apa-apa, terlalu malas berdebat dengan Allen pagi-pagi.
Dan tidak lama disusul oleh Kakek dan Nenek Allen.
Stella jelas menyapa mereka berdua dengan sopan, begitu pula Allen.
Kemudian, Ibu Felix bertanya pada Menantunya itu,
"Mana suamimu?"
Namun orang yang ditanya juga segera menyusul dan sampai ya makan.
"Itu suamiku,"
Sekarang semua tatapan mata menuju kearah Pria yang datang terakhir itu, jelas terlihat tidak nyaman ketika berjalan dan memegangi punggungnya.
Eve yang melihat putranya terlihat tidak nyaman itu jelas bertanya,
"Felix ada apa denganmu? Kenapa kamu menjadi seperti itu dan memegangi punggungmu?"
Allen juga diam-diam menatap kearah Ayahnya itu sedikit penasaran tentang apa yang terjadi.
Namun sebelum Felix menjawab, Stella sudah menjawab terlebih dahulu,
"Biasa Ibu, semalam Suamiku terlalu bersemangat saat melakukan aktivitas malam denganku, dia tidak ingat umur, dan begitulah akhirnya dia seperti itu,"
Eve lalu tertawa setelah mendengar itu,
"Astaga Felix, aku tahu kamu masih seorang pengantin baru, jangan terlalu bersemangat seperti itu, jaga dirimu dengan jangan sampai ini mempengaruhi kesehatanmu,"
__ADS_1
Wajah Felix jelas berubah menjadi gelap menunjukkan kemarahan ketika menatap ke arah Istrinya yang hanya menahan tawa dan tersenyum itu setelah mengatakan hal-hal omong kosong.
Allen hampir menjatuhkan susu yang akan dia minum mendegar jawaban Stella itu.