Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 80: Kecemasan


__ADS_3

Felix yang mendengarkan bisikan Stella itu, mencoba untuk menenangkan pikirannya.


Namun, hatinya masih cukup cemas untuk memikirkan semuanya.


Ya, dari sini Felix akhirnya juga menyadari semua kesalahan masa lalu yang dimilikinya, dan bagaimana dirinya tidak ingin kehilangan Putranya itu.


"Hanya... Hal-hal ini terjadi terlalu tiba-tiba, dan lagi kenapa dia bisa Kecelakaan? Setahuku, dia harusnya sedang menunggu Cynthia itu di Rumah Sakit, tidak kemana-mana namun kenapa dia bisa kecelakaan?"


Stella yang ditanya itu, juga tidak tahu apa yang terjadi.


"Itu.... Aku tidak tahu, jelas sekarang kita harus tenang dulu,"


Felix tidak lagi mengatakan apa-apa, hanya tetap dalam posisi itu, berada dalam pelukan Stella, yang seolah menenangkan dirinya.


Pelukan hangat itu, sedikit membuat rasa cemasnya sedikit berkurang.


Rasanya memang nyaman memiliki seseorang yang bisa berbagi beban denganmu.


Stella sangat baik, Dia benar-benar bisa membaca situasi dan suasana.


Dirinya juga tahu, bahwa Stella mencoba menghibur dirinya dan membuat dirinya agar lebih kuat untuk menghadapi semua hal ini.


Hal-hal ini memang terasa sangat berat jika dihadapi dirinya seorang...


Memikirkan soal Allen Putranya itu, soal hal-hal lain di masa depan yang sangat dirinya cemaskan...


Namun sekarang tidak apa-apa, dirinya punya seseorang yang bisa berbagi kecemasan dengannya.


Setidaknya, Stella tidak akan pernah mengatakan soal rahasia ini pada siapapun.


Rasanya, pelukan ini begitu hangat dan memengakan, sama seperti pelukan sebelumnya dimana Stella memeluknya dan menengangkannya.


Mereka berpelukan cukup lama, sampai akhirnya Felix melepaskannya pelukannya.


Sekarang dirinya mencoba mengecek ponselnya.


Dan benar saja, setelah cukup jauh dari pulau, ada beberapa sinyal.


Pesan langsung berhamburan masuk, juga banyak catatan panggilan tidak terjawab.


Felix melihat itu sepertinya berasal dari salah satu bawahannya.


Dari informasi terbaru yang didapatkan, terlihat Allen saat ini masih dalam keadaan Kritis, dan belum sadarkan diri, namun dia sudah melakukan operasi ringan untuk benturan di kepalanya.


Felix mulai membuka-membuka riwayat pesan yang ada di sana.


Pada pesan-pesan sebelumnya, ada tulisan bahwa Allen sempat kekurangan Stok Darah.


Ketika memikirkan soal golongan darah Allen, tiba-tiba Felix memilih firasat buruk.


Golongan darah Allen cukup susah, dulu dirinya mencari darah itu dengan sudah payah.


Dan lagi golongan darah Allen itu...


Wajah Felix menjadi pucat ketika memikirkan kemungkinan-kemungkinan tertentu.


Sial, dia cukup ceroboh jika berita dan kabar soal golongan darah Allen berbeda dengan miliknya apalagi ini sampai ke telinga orang tuanya....

__ADS_1


Bagaimana ini?


Stella jelas memperhatikan Pria yang ada di sampingnya itu.


Melihat bahwa setelah Felix menatap ponselnya, ekpersi Pria itu langsung pucat.


Tunggu, apakah terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Allen?


Jangan bilang Allen....


Stella juga mulai memiliki beberapa pemikiran buruk.


Dirinya belum memikirkannya sebelumnya.


Jika ternyata dirinya juga tidak sanggup jika harus melihat Allen pergi selamanya...


Tidak!


Apa yang dirinya pikirkan?


"Paman ada apa?"


Felix masih terdiam karena terlalu fokus pada ponselnya sehingga tidak memperhatikan Stella.


Sampai Stella menepuk pundak Felix, hingga Pria itu mau menoleh pada Stella.


"Paman, ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Allen?"


Felix juga bisa melihat ekspresi kecemasan dan rasa takut dari pertanyaan itu.


Hah, Felix merasa dirinya ini sedikit tidak baik, kenapa di saat-saat seperti ini malah dirinya memiliki sedikit perasaan kesal?


Hah, lupakan hal bodoh yang dirinya pikirkan, fokus soal Allen.


"Allen masih di ruang ICU dalam pemantauan, Operasi sebelumnya berjalan lancar, hanya saja Allen tempat kehilangan banyak darah dan membutuhkan donor darah,"


Stella yang mendengar sepertinya keadaan Allen tidak seburuk itu lalu segera berkata,


"Syukurlah, setidaknya keadaannya tidak terlalu buruk. Lalu kenapa dengan darah? Bukankah banyak stok darah di rumah sakit?"


"Golongan Darahku dan Allen berbeda,"


Mendengar kata-kata dari pria di depannya itu, Stella lalu terdiam dan mulai berpikir sebentar.


Ah, dirinya sedikit mengerti, mungkin golongan darah Allen yang berbeda dengan Felix atau Ibu Kandungnya membuat hal-hal bisa menjadi rumit.


"Benar, bagaimana ini? Apakah golongan darah Allen tidak sama dengan Paman atau Ibu Kandung Allen? Jelas, Keluarga disana pasti akan menyadari keanehan ini,"


"Aku juga tidak tahu," kata Felix dengan ekspresi penuh keputusasaan, takut bahwa dengan hal-hal ini semuanya akan terbongkar.


Semua rahasia yang sudah dirinya simpan untuk waktu yang lama.


"Paman, jangan terlalu berpikir negatif, itu hanya sebuah kemungkinan. Lagipula, saja mereka tidak ada yang sadar, DNA mengira Allen sama dengan golongan darah Almarhum Ibunya yang sudah meninggal, ini tidak akan aneh,"


"Tapi, Kakek dan Nenek Allen juga Saudara Ibu Allen ada disana, mengerti bukan maksudku,"


"Jadi... Aku juga tidak tahu bagaimana, jadi bagaimana kabar berikutnya?"

__ADS_1


Mendegar pertanyaan itu, Felix segera menatap ponselnya lagi.


Dan entah kenapa Felix jadi laga setelah menatapnya pesan berikutnya.


Disana dijelaskan, ada seseorang yang sudah mendonorkan darahnya, pada Allen.


Jelas, mendegar ini Felix menjadi penasaran soal siapa orang baik itu?


Mungkin piringnya harus berterima kasih pada orang untuk karena telah membantu Putranya nanti.


Setelahnya mereka berdua, diam di dalam pesawat, merasa sedikit lelah karena perjalan hari ini.


Mereka benar-benar bolak-balik naik pesawat, belum lagi, mereka berdua sempat jalan-jalan cukup jauh sebelumnya.


Dan lagi beberapa hal tertunda yang terjadi sebelumnya.


Stella sendiri, merasa dirinya malu jika memikirkannya.


Tadi itu, mereka berdua baru saja memulai, sungguh hal-hal diluar kendali segera terjadi.


Stella diam-diam menatap Pria yang ada disampingnya, ternyata dirinya lihat jika pria itu juga menatap ke arahnya.


Pandangan mereka berdua bertemu.


Felix jelas merasa panik, dan salah tingkah sendiri, sebelumnya karena dirinya sangat panik, dirinya langsung mengeluarkannya dengan paksa, hingga Stella sedikit kesakitan.


Sudah, jika memikirkannya, Felix rasa malu sendiri.


Ya, mau bagaimana lagi?


Putranya Allen saat ini sedang Kritis!!


Bagaimana bisa dirinya malah melakukan hal-hal tidak tahu malu begitu?


Sial.


Dan ketika tatapan mereka bertemu, keduanya segera saling menghindari tatapan masing-masing.


Jelas saja mereka sangat malu dengan kejadian sebelumnya.


####


Di tempat lainnya, terlihat Cynthia menatap kedalaman ruangan ICU tempat Allen dirawat dengan cemas.


Cynthia tak akan pernah berpikir jika Allen bisa seperti ini, dirinya jelas tahu ini setelah tiba-tiba dihubungi salah satu Suster yang berada disana yang kebetulan sedang mengantarnya untuk mencari angin, karena kebetulan mereka melewati ruangan IGD, dan suster itu terlihat mengenali seseorang yang ada di IGD seperti wajah suaminya.


Hah, hal-hal berikutnya menjadi cukup rumit ketika dirinya malah bertemu Herry disana.


Si Bajingan itu....


"Apakah kamu sudah puas? Aku sudah mendonorkan darahku sekarang, dia tidak akan mati, tapi mungkin dia akan cacat,"


"Sialan, kamu Herry, aku yakin kamu sengaja melakukan ini,"


"Sungguh, aku tidak!"


"Diamlah, sebaiknya kamu pergi dari sini,"

__ADS_1


__ADS_2