
Stella merasa malu sendiri ketika memikirkan soal hal-hal yang terjadi malam itu.
Memang, hal-hal itu benar-benar menyenangkan, dan membuat dirinya ingin melakukannya lagi.
Namun bagaimanapun dengan Paman Felix ini?
Apakah dia mau?
Dirinya pernah melakukan beberapa trik sebelumnya seperti pakaian tidur seksi, namun pada akhirnya gagal.
Jadi malam itu, apakah hanya dirinya saja yang bersemangat dan menikmatinya?
Apakah Pria yang memeluknya ini tidak?
Sejujurnya, berada dalam pelukan Pria ini, membuat jantung Stella berdebar-debar.
Bukannya dirinya ingin membanding-bandingkan, namun dirinya selalu merasa Pria yang memeluknya ini memang memiliki sensasi yang benar-benar berbeda dari Allen.
Mungkin sifat Paman Felix lebih pengertian dan menenangkan, walaupun sikapnya sedikit berubah-ubah.
Allen bertahun-tahun bersamaannya jarang menanyakan suasana hatinya, namun Paman Felix, walaupun mereka menjadi dekat belum lama, namun dirinya bisa melihat bahwa Paman Felix menjadi perhatian.
Misalnya soal paket bulan madu ini.
Dirinya juga tahu, saat ini di kantor sedang masa sibuk-sibuknya soal mengurus proyek-proyek penting, apalagi setelah kalah dari tender dengan Perusahaan Maximilian tempo hari, yang itu artinya perusahaan mereka harus bisa meningkat pendapatan bahkan tanpa memiliki proyek itu sungguh peluang yang terlewatkan.
Namun, Paman Felix itu benar-benar setuju untuk pergi ke acara ini.
Ya, ini mungkin demi dirinya bisa berlibur, karena suasana hatinya sedang buruk belakangan ini, Setelah semua hal yang menimpanya semuanya berjalan dengan begitu cepat hingga hatinya menjadi tidak siap untuk mengatasi semua ini.
Mulai dari perpisahan dan pembatalan pernikahannya dengan Allen.
Kabar Perselingkuhan Allen dan Cynthia.
Kenyataan bawa dirinya adalah anak hasil Perselingkuhan.
Kabar kehamilan Cynthia dan Pernikahan mereka berdua yang berjalan dengan begitu cepat.
Semua hal ini benar-benar menyiksa batin dan hatinya...
Bahkan tanpa dirinya katakan, Paman Felix ini benar-benar mencoba memberikan beberapa hiburan untuk dirinya dengan ikut pergi pada paket bulan madu ini.
Stella merasa sangat terharu ketika memikirkannya.
Betapa beruntungnya dirinya memiliki Pria itu, sebagai miliknya....
Stella diam-diam mulai menikmati pelukan mereka.
Adegan berpelukan Stella dan Felix berjalan untuk waktu yang cukup lama, mungkin karena terbawa suasana yang begitu indah.
Sepintas Stella menatap kearah wajah tampan yang memeluknya.
Jika di lihat dari jarak ini, wajah Paman Felix memang benar-benar sangat tampan.
__ADS_1
Untuk beberapa alasan Stella tidak ingin melepaskan pandangannya dari pria yang memeluknya itu.
Felix juga merasa cukup aneh bisa sedekat ini dengan seorang wanita, setelah sekian lama.
Baik lupakan dulu soal malam itu, sejak Kematian Shopia, dirinya memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun.
Jadi jelas, rasanya masih begitu aneh.
Dirinya mengakui, bahwa wanita di pelukannya ini cukup cantik.
Namun rasanya aneh, mengagap cantik wanita yang dua puluh tahun lebih muda dari pada dirinya, terlebih seumuran Putranya sendiri.
Sejujurnya, artinya juga tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Antara, hati dan pikirannya seolah tidak sinkron.
Stella yang juga sadar kalau dirinya ditatap itu segera bertanya,
"Apa yang kamu lihat Sayang? Apakah ada sesuatu di wajahku?"
Felix yang ketahuan menatap Stella jelas segera mengalihkan pandangannya, dan melepaskan pelukannya.
"Aku rasa sudah cukup untuk foto-foto seperti ini kamu sudah mendapatkan banyak foto bukan?"
Stella yang tiba-tiba lepas dari pelukan itu, entah kenapa merasa cukup kehilangan, dirinya masih belum merasa puas.
Lalu sebuah ide baru muncul, dirinya segera memberikan kode ke pelayan untuk mengambil foto lagi.
Kali ini, Stella cukup berani menarik kerah baju Felix kearahnya, dan tiba-tiba menciumnya.
Felix sendiri merasa sangat kaget dengan hal itu.
Segera secara refleks mendorong Stella.
"Kamu.... Kamu apa-apaan..."
"Ih, Paman tidak asik sama sekali,"
Stella jelas langsung memalingkan wajahnya karena malu sendiri akan tindakannya.
Namun bagaimanapun juga dirinya tidak merasa menyesal.
Dirinya merasa, cara terbaik untuk mencoba menerima Suaminya ini, adalah dengan kontak dekat.
Dan lagi, ciuman barusan jelas sangat menyenangkan bahkan walau itu kurang dari satu detik.
Namun sekarang dirinya tidak berani mendapat wajah Felix.
"Pelayan, kenapa ponselnya aku ingin melihat hasilnya,"
Stella lalu mulai melihat hasil foto-foto yang sangat memuaskan.
Foto ciuman sebelumnya juga berhasil di foto dengan baik.
__ADS_1
Melihat dua wajah yang berciuman itu, Stella merasa malu sendiri, namun ini benar-benar cukup bagus, dirinya jelas harus meng-upload ini di media sosialnya, apalagi latar belakang Lautan yang indah.
Ini benar-benar sempurna untuk membuat Cynthia dan Allen itu kesal!
Felix yang lihat bahwa Stella pura-pura jika hal barusan tidak pernah terjadi, hanya bisa mengikuti Stella.
Hah, Stella ini sungguh tidak bisa ditebak.
Namun ciuman tadi, entah kenapa mengigatkannya akan kejadian malam itu....
Dirinya awalnya tidak mau mengigat kejadian Khilaf itu...
Namun malam itu ketika mereka melakukannya, dirinya juga terbawa suasana yang menikmatinya.
Apakah itu karena dirinya sudah lama menjadi Duda?
Terlalu lama sendiri dan tiba-tiba mendapatkan, seorang gadis muda yang masih begitu segar dan energik.
Sungguh, Felix mulai mengutuk dirinya sendiri karena merasa menafaatkan kepolosan Stella.
Sial.
Dirinya benar-benar mengambil malam pertama Stella, apakah itu benar-benar tidak apa-apa?
Semakin memikirkannya, Felix merasa sedikit malu dan bersalah.
Setelah itu, Stella segera tidak berfoto lagi, dia hanya mantap ke arah laut lepas, menikmati kesejukan pantai itu.
Felix yang melihat itu lalu berdiri di samping Stella,
"Kamu suka laut?"
Stella mengelengkan kepalanya,
"Tidak begitu menyukainya juga, hanya saja laut terlihat sangat indah, dan segar, kadang ketika melihat ke arah gelombang laut dan lautan biru tanpa akhir itu, bisa membuat hatiku sedikit tenang,"
"Begitu? Sekarang suasana hatimu sudah cukup bagus bukan?"
Stella lalu mulai tersenyum dan berkata,
"Ya, ini semua berkat Paman Felix, aku tahu Paman menyetujui ikut acara ini agar aku bisa berlibur, aku benar-benar sangat senang, Terimakasih Paman,"
Felix yang tiba-tiba mendapat ucapan terima kasih itu tentu saja merasa canggung dan malu sendiri.
"Si.. Siapa yang demi kamu? Aku hanya kebetulan saja menerima Ini atas desakan dari Ibuku,"
Stella juga bisa melihat ekspresi malu dari pria itu yang terlihat sekali tidak ingin menunjukkan hal sebenarnya.
"Baik-baik, aku percaya.... Lagi pula aku hanya ingin mengucapkan Terimakasih, selama ini ketika aku sedih, Paman selalu mencoba menghiburku, Aku benar-benar sangat senang ada Paman disampingku,"
"Itu... Itu hanya kebetulan saja aku disana,"
Stella yang melihat bahwa pria di depannya itu masih mencoba mencari alasan hanya bisa tertawa.
__ADS_1
"Ya, mungkin memang suatu takdir yang aneh yang membawa kita sampai pada hari ini... Aku sendiri awalnya juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba tergesit dalam pikiranku untuk menikah dengan Paman,"