Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 53: Dia Putraku


__ADS_3

Richard yang melihat bagaimana Felix malah terdiam itu tentu saja menjadi kesal.


Hal itu membuat Richard sekali lagi memberikan pukulan ke arah Felix.


Pukulan itu jelas membuat Felix sadar dari lamunannya kembali ke masa kini.


Melihat wajah Richard, ini jelas mengingatkan Felix pada Allen.


Sejak dirinya tahu kenyataan bahwa Allen ternyata bukan putra kandungnya, jelas perasaannya menjadi hancur.


Tepat ketika dirinya melihat kembali kearah Putranya itu, bayang-bayang tentang kenyataan sebenarnya selalu menghantui dirinya.


Semuanya menjadi begitu sulit setelah kejadian itu, sangat sulit bahkan untuk menatap Allen saat itu.


Seolah perasaan kebencian muncul dalam dirinya setiap kali melihat wajah Allen ketika kecil itu.


Semua kata-kata Shopia selalu menghantui dirinya sampai saat ini lewat Allen, bahkan sampai Shopia meninggal dia tidak pernah mencintai dirinya, tidak pernah sedikitpun berada dalam hati Shopia.


Bahkan sampai Shopia itu tega keputusan itu, demi bisa melahirkan Allen, Shopia rela merelakan nyawanya.


Perlahan-lahan saat itu, kebencian dirinya pada Allen yang masih kecil mulai tumbuh.


Jika saja, tidak ada Allen, jika Shopia tidak mengandung Allen saat itu, apakah semuanya akan berubah?


Jika waktu terus berlalu, Shopia akan mencoba mencintai dirinya?


Waktu masih terlalu singkat saat mereka bersama.


Belum sempat sembilan bulan sejak mereka menikah.


Seolah dengan kehadiran Allen dalam tubuh Shopia benar-benar merusak segala rencananya.


Felix ingat bahwa dirinya sempat begitu menyesal dulu ketika ditanya oleh dokter malah memilih untuk mempertahankan kehamilan Shopia, jika dirinya tahu kehamilan itu akan merenggut nyawa Shopia, dirinya tidak akan pernah setuju untuk mempertahankan kehamilan itu.


Itu semua karena Shopia melahirkan Allen kenapa dia bisa meninggal.


Terlebih lagi, kenyataan bahwa Allen ternyata bukan Putra Kandungnya...


Melihat Allen jelas membuat beberapa kebencian selalu muncul dalam hatinya.


Jadi ketika Allen masih cukup kecil setelah kecelakaan itu dirinya mulai menjaga jarak dengan anak itu.


Wajah yang selalu mengingatkan nya akan penghianatan Shopia, wajah yang merenggut nyawa wanita yang paling dirinya cintai, wajah anak dari laki-laki yang paling dirinya benci.


Hal-hal itu membuat dirinya tidak bisa menatap wajah Allen saat itu, mulai mengabaiannya sedikit demi sedikit.


Untuk melupakan segalanya dirinya mulai menyebutkan dirinya dikantornya, dia bekerja lembur saat itu.

__ADS_1


Dan bahkan tak pernah lagi mau datang ke hari ulang tahun Allen, yang juga merupakan hari peringatan kematian Shopia.


Saat itu dirinya bahkan di tempat berpikir apakah sebaiknya akan membuang anak yang sangat membuat dirinya muak itu.


Namun sekali lagi dirinya tidak bisa melakukannya, dirinya tidak mungkin untuk mencemarkan nama baik Shopia, dengan mencoba mengungkapkan bahwa Allen bukan Putra kandungnya.


Dirinya tidak bisa melakukan hal-hal tercela itu bahkan walaupun semua ini sangat menyakitkan...


Sampai suatu hari, dirinya melihat Putranya Allen yang saat itu kecil menangis. Tentu saja dirinya bertanya kenapa anak itu menangis, bukannya menjawab, Allen kecil itu malah bertanya,


'Papa... Apakah Allen bukan Putra Kandung Papa?'


Felix yang mendengar pertanyaan itu, jelas membuat hatinya begitu sakit.


'Siapa yang bilang omong kosong itu padaku?'


'Orang-orang yang bilang itu padaku, bahwa aku bukan Putra Papa, karena aku mirip dengan Papa, lalu Papa juga tidak pernah menyayangi Allen... Apakah itu karena Allen bukan Putra Papa itukah alasan Papa tidak menyayangiku?'


Melihat wajah kecil itu terlihat begitu sedih dan menangis itu, tentu saja perasaan Felix saat itu menjadi cukup rumit.


Barulah hari tua dirinya menyadari, jika hal-hal yang dirinya lakukan pada Allen salah.


Dari saat Allen masih bayi, dirinyalah yang mengendong anak itu, sebuah senyuman kecil yang selalu bisa membuat dirinya bersemangat melupakan kesedihannya setelah kehilangan Shopia.


Allen dari awal tidak pernah membuat kesalahan apapun, itu hanya seorang anak yang terlahir tidak tahu apapun.


Jadi, setelah Allen bertanya, Felix langsung memeluknya saat itu.


'Allen adalah Putra Papa, akan selalu menjadi Putra ku. Jangan perduli kan omong kosong semua orang, Allen adalah Putra kesayanganku, jika ada lagi yang menuduh mu yang tidak-tidak bilang pada Papa, akan Papa beri pelajaran,'


Felix selalu tidak bisa untuk membenci Putranya Allen, bahkan walaupun dirinya mencoba, jadi walaupun mereka tidak sedekat itu, dirinya selalu memiliki titik lemah tertentu pada Putranya itu, termasuk menuruti permintaannya.


Namun, Allen tidak pernah meminta apapun padanya.


"Felix kamu Brengsek!!"


Richard yang menerima pukulan dari Felix itu jelas menjadi marah lagi.


"Richard, aku jelas tidak akan membiarkan mu berbuat seenakmu saja,"


Ini benar-benar membuat Felix menjadi takut.


Orang ini jelas tidak boleh bertemu dengan Allen.


Allen tidak akan pernah jadi ambil siapapun darinya termasuk orang di depannya ini.


Jelas, rahasia ini akan dirinya simpan baik-baik jangan sampai orang depannya ini terutama sampai tahu.

__ADS_1


Jika Allen adalah Putra Kandung Richard.


Tidak, Allen akan selalu menjadi putranya, Allen juga tidak boleh tahu rahasia ini.


Pertengkaran itu terjadi cukup sengit, sampai kemudian Stella datang dan beberapa orang yang sepertinya Asisten Richard memegangi orang itu.


Tentu saja, Stella begitu kaget ketika tiba di tempat parkir karena melihat Paman Felix bertengkar dengan seseorang, bahkan sampai saling adu pukul seperti ini.


Astaga, Paman Ini sebenarnya sudah cukup tua namun kelakuannya benar-benar tidak menahankan.


Kenapa bisa-bisanya malah bertengkar seperti ini, di tempat umum sampai dilihat orang banyak?


Stella juga melihat lawan yang Paman Felix itu pukuli, ini masih orang yang sama yang mereka temui sebelumnya.


Yang kelihatannya memiliki masalah serius dengan Paman Felix.


Stella juga tidak tahu kenapa sampai seperti ini.


"Paman Felix, sudah jangan seperti ini,"


Felix yang dicegah oleh Stella itu, jelas mencoba pergi dari pelukan Stella, masih berniat memukuli Pria bernama Richard itu.


"Lepaskan aku!! Biarkan aku memukuli orang menyebalkan itu yang suka membuat masalah denganku!!"


Richard yang mendengar itu jelas menjadi tambah marah.


"Dasar Penjahat!! Maju sini jika kamu berani!!"


Melihat Pria-pria yang sudah berumur empat puluhan itu, terlihat saling memprovokasi satu sama lain, Stella benar-benar tidak habis pikir.


Astaga....


Kenapa mereka berdua sama saja seperti anak kecil seperti ini sih?


Lalu sekarang harus bagaimana untuk meraih mereka berdua?


Dua-duanya terlihat sama saja gampang termakan emosi.


Hal ini jelas membuat Stella pusing, padahal sebentar lagi akan ada pertemuan penting, namun sekarang penampilan Felix sangat mengkhawatirkan.


Ada lebam di pipinya, juga bajunya yang berantakan.


Jelas, tidak hanya Paman Felix, hal yang sama juga terjadi pada Pria yang di pukuli Paman Felix.


Stella menilai, sepertinya mereka berdua ini sudah bertengkar cukup lama.


Tahu seperti ini, harusnya tadi dirinya tidak pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


Stella hanya bisa menghela nafas melihat keadaan yang kacau ini.


__ADS_2