Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 98: Tersadar


__ADS_3

Hari udah menjelang cukup siang kira-kira menunjukkan jam 10.00.


Saat ini, Stella berada di arena pemakaman milik Keluarga Chastielo.


Ini adalah lokasi di mana, Almarhum Ibu Kandung Allen di makamkan.


Stella, saja tahu tempat ini adalah salah satu tempat yang biasa Allen sering kunjungi ketika dia merasa sedih.


Hal-hal semacam ini, tidak hanya terjadi satu atau dua kali, ada beberapa waktu dimasalalu, dimana Allen buka pernah merasa begitu sedih dan hancur semacam ini.


Namun mungkin kesedihan-kesedihan yang dialami di masa lalu tidak akan seburuk saat ini.


Ketika Stella menatap nama dimakam itu, entah kenapa perasaannya menjadi cukup rumit.


"Shopia Lawrence.... Aku tidak tahu apa yang kamu alami di masa lalu, itu mungkin sesuatu yang cukup berat, namun Aku pikir ke egoisanmu itu, tidak hanya menghancurkan Felix, namun juga menghancurkan Putramu sendiri, Allen.... Allen yang merasa paling terluka dengan semua ini.... Aku sudah tahu Allen sejak kecil, bagaimana dia sangat sensitif dengan topik ini, namun pada akhirnya kenyataan yang tidak terelakan menghancurkan Allen. Bahkan walaupun, kamu sangat membenci Felix, apakah kamu tidak pernah memikirkan bagaimana nasip Putramu dimasa depan?"


Stella tidak tahu, tidak ada gunanya berbicara dengan orang yang sudah meninggal.


Dirinya segera berbalik dan pergi dari tempat itu, mencari ke tempat lain yang mungkin akan didatangi oleh Allen.


Ya, bahkan sekarang Allen juga tahu soal penghianatan Cynthia.


"Mana, Paman Felix aku hubungi tidak bisa pula, dia masih menghindariku, benar-benar menyebalkan,"


####


Langit perlahan-lahan berubah menjadi gelap. Cuaca entah kenapa cukup buruk, dan tiba-tiba saja segera turun hujan, gerimis kecil-kecil.


Namun disalah satu Taman tertentu, tepatnya salah satu pohon yang cukup rindang, ada seorang pemuda yang duduk ditanah, seolah-olah tidak memperdulikan tentang hujan yang mulai turun.


Dalam hujan pemuda itu perlahan-lahan menangis.


Allen masih meratapi tentang bagaimana hidupnya.


Sekarang semua orang benar-benar menipunya.


Seolah-olah tidak ada yang berada di pihaknya.


Barusan, dirinya juga menelepon Ayah Kandungnya, Richard sepertinya dia sedang sibuk mengurusi sesuatu, apakah sesuatu seperti tiba-tiba Putranya yang lain terlibat kecelakaan atau sesuatu?


Sudahlah, Allen juga tidak mau begitu memperdulikan soal hal-hal itu.


Kenyataan buruk yang dirinya terima sudah cukup untuk menghancurkannya.


Ketika semua orang tahu, bahwa dirinya ternyata bukan Putra Kandung Felix Chastielo, semua orang seolah-olah berpaling dari dirinya, dan meninggalkannya seperti ini.


Terutama, Istrinya Cynthia.


Penghianat Cynthia itu benar-benar keterlaluan.


Dirinya tidak mengira akan dibohongi sampai seburuk ini.


Bahkan anak yang Cynthia kandung itu, sendirinya kira adalah anaknya, ternyata bukan.


Padahal dirinya juga cukup menantikan anak itu nanti.


Kenapa, Cynthia bisa menipunya dan bisa setega ini padanya?


Ketika memikirkan hal-hal ini, tiba-tiba Allen menjadi ingat Ayahnya Felix.


Bagaimana perasaan Ayahnya ketika tahu, bahwa dirinya ini bukan Putra Kandungnya?


Apakah Ayahnya juga ngerasa buruk seperti ini?


Jadi Ayahnya mulai membenci dirinya selama ini?

__ADS_1


Lalu terlihat melampiaskan kemarahan nya pada dirinya?


Allen tahu jawaban dari pertanyaan itu hanya bisa mulai memikirkannya.


Namun dirinya juga tidak tahu apapun, bukan salahnya jika ternyata dirinya bukan Putra Kandung Felix Chastielo.


Seolah-olah semua orang menyalakan dirinya soal fakta ini?


Allen mulai menatap langit yang perlahan-lahan gelap.


Allah olah langit mengerti tentang perasaan nya yang hancur ini.


Dimana, saat ini dirinya merasa sendirian dan tidak memiliki siapapun yang ada di pikirannya.


Saat-saat seperti ini dirinya teringat sesuatu, ingatan soal masa kecilnya.


Pada suatu ketika, dirinya juga pernah merasa putus asa seperti ini ketika diajak oleh anak-anak lainnya bahwa dirinya ini bukan Putra Kandung Ayahnya Felix, dan bagaimana Ayahnya Felix itu tidak datang ke pesta ulang tahunnya, ya apakah itu sekitar dirinya berumur dua belas tahun?


Salam tahun-tahun itu di rumah cukup kesepian, dan Ayahnya perlahan-lahan menjauh, dan semua orang masih suka mengejeknya betapa dirinya tidak mirip dengan Ayahnya, lalu bagaimanakah Kakek dan Neneknya mengeluh soal nilai kelulusan Sekolahnya tidak begitu baik.


Dirinya lalu pergi ke taman ini, juga mulai menangis sendirian disini.


Yang berbeda hari itu, ada seorang yang datang menghampirinya dan menghibur nya.


'Tidak apa-apa, Allen. Semuanya akan baik-baik saja, mari kita belajar keras, jadi nanti Kakek dan Nenekmu tidak akan marah lagi, juga nanti pasti Ayahmu akan baik padamu,'


'Benarkah itu?'


'Aku tidak tahu, namun bukankah lebih baik kita mencobanya? Dari pada berdiam diri seperti ini, aku akan membantumu,'


'Tapi... Mungkin Aku akan mengecewakanmu sama seperti aku mengecewakan keluargaku,'


'Tidak Apa-apa, untukku, Allen adalah Allen, apakah kamu baik atau buruk, apakah kami hebat atau tidak, tidak peduli dari mana kamu dari keluarga mana, Allen adalah Allen,'


Sebuah senyuman yang tiba-tiba, Allen rindukan....


Ketika mengingat kenangan itu tiba-tiba, hati Allen juga terasa sakit.


Bukan berati mereka berdua tidak memiliki kenangan indah dan berharga mungkin karena Inferior complex yang dirinya miliki, yang membuat dirinya bahkan iri pada Stella.


Dirinya yang memang dari awal adalah seseorang yang sangat payah.....


Ketika Allen mulai memikirkan itu, tiba-tiba ada sebuah payung yang menutupinya.


Melihat air sudah tidak megenainya, Allen lalu mulai menatap keatas.


Ini adalah wajah seorang gadis yang akrab.


"Allen, sepertinya kamu tidak berubah, kamu masih suka pergi ke tempat ini,"


Ekspresi Allen jelas merasa terteguh menatap Stella yang berdiri disana.


"Ke.... Kenapa kamu disini?"


"Tentu saja aku di sini karena mencarimu, karena aku menghawatirkanmu...."


"Tidak ada gunanya untuk khawatir padaku, tidak akan ada keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan hal itu,"


"Aku tahu, dari awal bertemu denganmu, Aku merasa tidak pernah mendapatkan keuntungan apapun, bahkan sampai sekarang,"


"Aku bukan Putra Kandung Felix Chastielo,"


Stella lalu segera menhela nafas panjang, dan berkata,


"Lalu, kenapa dengan itu? aku sudah pernah bilang sebelumnya aku tidak benar-benar peduli tentang hal semacam itu, Allen tetaplah Allen.... Semuanya akan baik-baik saja,"

__ADS_1


Kata-kata itu sangat familiar, dan membuat Allen merasa tersentuh.


Kemudian, Allen mulai teringat, hari-hari nya sejak kecil cukup berat, namun itu tidak seberat yang dirinya kira, karena sebenarnya ada Stella yang selalu berada disampingnya.


Mungkin dirinya yang terlalu dibutakan oleh kebenciannya, sampai-sampai tidak menyadari kebaikan ini...


Menyadari tentang perasaan dirinya yang sebenarnya.


Sebenarnya, tidak buruk ada Stella disampaignya, yang selalu peduli padanya.


Alasan kenapa perasaannya terasa tidak nyaman ketika melihat Stella bersama orang lain...


Stella yang menatap Allen yang malah mengeluarkan air matanya semakin banyak itu menjadi binggung.


Lalu segera memeluknya.


"Allen, kamu itu sudah dewasa, kenapa kamu masih begitu suka menangis seperti ini?"


Namun Allen tidak mendengarkan kata-kata itu, hanya tengelam dalam pikirannya, dan membalas pelukan Stella.


Stella masih peduli padanya bahkan dengan semua yang dirinya lakukan padanya, berbeda dengan orang-orang yang dirinya pedulikan, mereka malah berbalik padanya ketika dirinya jatuh seperti ini.


Ketulusan, yang terlambat untuk dirinya sadari...


Yang tidak mau dirinya akui karena keegoisan yang dirinya memiliki...


Bahwa dirinya ternyata menyukai Stella lebih dari yang dirinya kira...


Namun mungkin ini bukan saatnya untuk memikirkan hal ini...


"Kenapa kamu masih peduli padaku?"


"Allen, kamu harusnya menyadarinya. Yang peduli padamu sebenarnya tidak hanya Aku... Ada Rhea, juga Ayahmu, Felix Chastielo.... Ayahmu juga peduli padamu dan dia selalu khawatir padamu ketika kamu pergi...."


"Ayahku? Dia jelas membenciku,"


Stella lalu mulai mengambil ponselnya, dan menunjukan sebuah foto.


"Allen, kapan Ayahmu Felix pernah benar-benar mengatakan dia membencimu? Bukankah sejak kamu kecil dialah yang selalu membelamu? Selalu bilang jika kamu adalah Putra Kesayangannya,"


"Namun Aku bukan Putranya,"


"Bahkan walaupun kalian tidak memiliki hubungan darah, Felix tetap membesarkanmu selama ini dengan baik dan menyayangimu seperti Putranya sendiri, yahhh... Ayahmu memang sedikit terlihat dingin, mungkin itu karena dia tidak bisa terlalu menujukan perasaan saja, dia hanya sedikit kaku dan tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya itu, hanya saja jelas dia menyayangimu. Lihat foto ini, ketika kamu masih koma di Rumah Sakit, menurutmu siapa yang merawatmu? Apakah itu Cynthia? Jelas tidak, itu adalah Ayahmu, Felix, Dia begitu peduli dan sangat menyayangimu namun itu tadi, dia mungkin tidak terlalu bisa menunjukkan nya karena sikapnya yang seperti itu.... Yah, untuk beberapa hal semacam ini, Aku pikir kalian berdua cukup mirip...."


Mendengar kata-kata itu, Allen menjadi kaget, terutama setelah melihat beberapa foto yang Stella tujukan, Allen jelas melihat wajah ketulusan dan kekawatiran di wajah Ayahnya ketika merawatnya dan memandikannya ketika dirinya koma.


Sebuah tatapan hangat yang sebenarnya sangat dirinya rindukan dari Ayahnya, Felix Chastielo.


Benarkan Ayahnya Felix Chastielo, sangat menyayanginya?


Lalu hal-hal yang terjadi nanti siang....


Tidak....


"Stella... Sebaiknya kita segera pergi ke Jalan X,"


"Eh? Kenapa tiba-tiba?"


"Aku tidak punya waktu aku akan menjelaskannya nanti sambil di jalan...."


Dirinya memang bodoh, jika dirinya selama ini tidak menyadari tentang perasaan Ayahnya Felix itu padanya.


Memang, jika Ayahnya ingin balas dendam, membencinya atau sesuatu, bukankah lebih baik sudah membuang dirinya sejak dirinya kecil?


Ayahnya itu malah membesarkan nya seperti ini dalam kehidupan yang nyaman dan tidak kekurangan apapun, mungkin itulah cara Ayahnya Felix menujukan rasa kasih sayangnya yang canggung...

__ADS_1


Sial...


Semoga semuanya belum terlambat...


__ADS_2