Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 99: Kasih Sayang


__ADS_3

Saat ini, Allen bersama dengan Stella segera buru-buru untuk naik ke mobil.


"Ada apa Allen? Kenapa dengan jalan Y?"


Allen tidak menjawab dan mulai mengecek ponselnya berniat untuk menelepon Ayahnya, sayangnya, teleponnya ternyata mati.


Dia segera menatap Stella, dan berkata,


"Stella, apakah kamu bisa menghubungi Ayahku?"


"Paman Felix? Tunggu sebentar,"


Stella segera mengeluarkan teleponnya dan mulai memanggil nomor Felix, namun malah tidak diangkat.


"Ukhh, Ayahmu dari kemarin memang tidak ingin mengangkat teleponku, dia susah dihubungi,"


"Coba, lain ini benar-benar penting!"


Stella mencoba menelepon Felix, namun sekali lagi tidak ada yang mengangkatnya dan malah tiba-tiba telepon berada di luar jangkauan.


"Bagaimana dengan mengirim pesan?"


"Pesan? Baik, aku akan mencoba mengirim nya pesan, tapi tadi aku coba telepon sepertinya ponsel Ayahmu mati,"


"Sial, kita harus segera cepat ke jalan X! Tidak bisa buang-buang waktu,"


Stella yang mendengar Allen tiba-tiba panik itu, segera memiliki firasat buruk dan segera bertanya,


"Allen! Tolong katakan padaku sebenarnya apa yang terjadi?"


Allen tidak berani untuk mengaku.


Stella melihat kediaman itu, juga menjadi cemas, dan segera berkata...


"Allen!! Apa yang coba kamu rencanakan?"


Allen lalu hanya bisa gemetaran, merasa bersalah dan ketakutan.


"Ini... Ini memang salahku...."


Stella yang melihat kondisi mental Allen jadi semakin buruk dan terguncang itu, tidak tahu harus berbuat apa jadi dirinya memilih diam sambil berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada Suaminya.


Perjalanan menuju ke Jalan X, memakan waktu yang cukup lama karena terkendala macet.


Hampir setengah jam lebih ketika mereka sampai di sana.


Saat ini mereka masih terjebak macet di jalan Y, perempatan dekat jalan X.


Allen yang melihat ke arah jam tangannya, jelas menjadi tidak sabar, dan mulai keluar dari mobil.


"Kupikir ini sudah cukup dekat dengan jalan X, lu harus segera kesana kita tidak bisa membuang-buang waktu di sini,"


Stella yang melihat Allen buru-buru itu, hanya bisa ikut keluar mobil dan segera membantunya untuk berjalan ke jalan X, yang memang tidak jauh dari sana.


Belokan, dekat gang di ujung jalan.


Ketika mereka sampai di jalan X, suasana di sana ternyata cukup sepi berbeda dengan jalan Y yang ramai dan padat.


Mungkin itu karena jalan X bukan jalan raya, hanya jalan gang yang menuju ke sekitar arena pabrik.


Di tempat lainnya, Felix saat ini berada di jalan X, tempat dimana dirinya dan Allen janji bertemu.


Felix mulai menatap ke arah jalan X yang cukup sepi, dirinya hanya bisa bertanya-tanya kenapa putranya itu ingin bertemu di tempat ini.


Jalan X ini, sepertinya memang lokasi di mana ada losmen dan hotel-hotel murah, dirinya dengar Allen meninggalkan dompet dan semua kartunya, kemungkinan besar dia mungkin tidak memiliki begitu banyak uang cash, mungkin dia menginap di sekitar sini?


Felix hanya bisa menebak-nebak, lalu dirinya mulai melihat ke arah ponselnya yang ternyata malah mati kehabisan baterai.


Hah, jadi yang bisa dirinya lakukan adalah menunggu di sini, menunggu Putranya Allen datang.


Namun nyatanya, yang datang itu bukan putranya, malahan ada segerombolan preman yang berada di situ, mendatagi Felix, dan tiba-tiba salah satu preman itu segera memukul Felix.


Tentu saja, Felix juga tidak tinggal diam mencoba membalas, namun ada terlalu begitu banyak orang, dan mereka satu demi satu maju dan mulai mengeroyok Felix.

__ADS_1


Namun Felix, ternyata cukup hebat saat berkelahi, walaupun dirinya sempat kena pukul namun dia berhasil melawan balik.


Felix menjadi terlalu fokus untuk melawan dan memukuli orang-orang yang ada di sekitarnya.


Sampai tidak sadar, jika ternyata ada salah satu preman yang mulai mengeluarkan pisau.


Felix benar-benar tidak mengira akan tiba-tiba dikeroyok preman seperti ini.


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Siapa kalian sebenanya?"


Mendengar pertanyaan itu salah satu preman lalu segera bertanya,


"Ahahaha.... Kami adalah suruhan Putra mu, saya ingin melihat kamu hancur!!!"


Felix yang mendengar hal itu jelas saja tidak percaya.


Tidak....


Allen bukan seseorang seperti itu, dia bukan tipe orang yang akan merencanakan sesuatu seperti ini atau memikirkan sesuatu semacam ini walaupun sekarang dia tengah dalam keadaan terpuruk.


"Jangan bicara omong kosong!!"


Segera, pembicaraan itu berakhir, dan akhirnya mereka kembali terlibat dalam pertarungan sengit.


Felix sudah terkenal beberapa pukulan dan seadanya terasa sakit semua.


Dia mencoba menghindari pisau, namun ternyata yang memegang pisau tidak hanya satu orang.


Sampai tiba-tiba, ketika Felix lengah dari belakang ada seseorang yang berniat menusuknya.


Felix terlalu fokus pada orang di depannya sehingga tidak melihat ke arah belakang.


"Tidak!!! Ayah!!"


Allen yang datang ke sana tempat waktu, jelas langsung mencoba mendorong Felix menjauh, sehingga sayatan pisau menggores bagian kiri perut Allen.


Felix ya menatap putranya itu terluka dan sampai berdarah tentu saja menjadi marah.


Bala bantuan datang tepat waktu, karena Stella sepertinya sudah menghubungi polisi atas perintah Allen sebelumnya.


Mendengar suara mobil polisi, orang-orang itu segera lari dari sana.


Disana sekarang tinggal Felix, yang menatap Allen yang terluka itu.


"Allen... Kenapa kamu melakukan ini... Sungguh? Sekarang kamu terluka lagi, kamu... Kenapa kamu paling bisa membuat aku khawatir.... Cepat panggil Ambulans,"


Stella segera saja dengan panik mengambil ponselnya dan mulai menelepon ambulance.


Allen yang saat ini berbaring di tanah itu melihat wajah Ayahnya yang cemas itu.


Ayahnya saat ini tengah terluka juga ada beberapa daerah di mulutnya dan beberapa memar di wajahnya.


Ayahnya itu, bahkan tidak bertanya padanya soal kenapa preman preman itu disini, fokusnya hanya pada menghawatirkan dirinya, tanpa bahkan memperdulikan lukanya.


"Maaf.... Maafkan Aku Ayah.... Maaf.... Maafkan Allen...."


Allen mulai menangis di hadapan Ayahnya ini.


"Allen, kamu jangan banyak bicara dulu, Ambulan akan segera datang kamu akan baik-baik saja, Ayah akan ada disini bersamamu...."


"Tapi aku bukan Putra Kandung Ayah...."


Felix yang mendengar itu menjadi kaget, lalu segera menjawab tanpa pikir panjang,


"Allen, apakah kita berhubungan darah atau tidak, kamu selamanya adalah Putraku, Allen Chastielo. Aku minta maaf kamu harus tahu dengan cara yang begitu buruk, aku juga minta maaf tidak bisa memberikan kasih sayang yang cukup untukmu.... Allen, kamu harus yakin aku akan selalu menjadi Ayahmu, dan kamu akan selalu menjadi Putraku, jangan kamu perduli kenapa kata orang aku sangat menyayangimu...."


Mendengar kata-kata hangat itu, Allen merasa sangat tersentuh.


Sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam...


Dirinya juga hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya, Felix...

__ADS_1


Cinta dan kehangatan yang sudah lama dirinya rindukan, dan sekarang dirinya sekali lagi merasakan kehangatan dan kerinduan itu...


"Aku juga.... Menyayagi Ayah...."


Setelah itu, Allen mulai kehilangan kesadaran nya membuat Felix semakin panik.


"Allen... Sadarlah.... Allen...."


Felix jelas merasa ketakutan melihat Putranya itu tidak sadarkan diri.


Stella yang ada di sana juga mendapat peluang itu menjadi bingung dan panik.


Dirinya ingin mencoba mendekati Felix, namun Felix menghindarinya.


"Jangan dekat-dekat.... Jika.... Jika kamu tidak mengatakan semua ini pada Allen.... Semua ini tidak akan terjadi...."


Saat ini, Felix tengah diliputi pink animasi sehingga tidak bisa berpikir jernih.


Stella tentu saja merasa sakit hati dengan kata-kata itu, namun dirinya juga paham, ini bukan saat yang tepat untuk lebih menurut emosi pria di depannya itu.


Lebih baik sekarang, memang fokus untuk membawa Allen ke Rumah Sakit, dan berharap dia tidak apa-apa, nanti biar dirinya sendiri yang bertanya pada Allen, dari siapa dia mendengar soal kenyataan bahwa dia bukan Putra Kandung Felix.


####


Waktu segera berlalu, dan saat ini Felix dan Stella sudah berada di rumah sakit.


Mereka menunggu di depan ruang


UGD menunggu tentang bagaimana keadaan Allen.


Seorang dokter segera keluar dari sana.


Felix dengan cemas langsung bertanya padanya,


"Bagaimana keadaan Putra saya?"


"Dia baik-baik saja lukanya tidak dalam hanya sedikit menggores bagian luar dari kulit perutnya, kami melakukan perawatan,"


"Lalu kenapa dia sampai pingsan?"


"Sepertinya, dia hanya kelelahan saja, bukankah dia belum lama sejak keluar dari rumah sakit?"


"Ya, Dua belum lama keluar dari Rumah Sakit,"


"Lebih baik di masa depan dia akan lebih banyak istirahat sehingga dia cepat pulih, kartini kami akan memindahkannya ke ruang perawatan dan dia juga baru saja sadar,"


Mendengar itu, Felix jelas merasa senang, lalu segera masuk kedalam ruangan itu.


Dia melihat Allen berbaring di tempat tidur rumah sakit dan sudah membuka matanya.


"Allen.... Akhirnya kamu sadar juga...."


Stella juga ikut masuk ke dalam ruangan menjaga jarak yang pas agar tidak mengganggu dua orang itu.


"Ukhh... Aku hanya sedikit pusing, Aku benar-benar minta maaf soal kejadian sebelumnya... Hanya... Hanya... Aku tidak berpikir panjang saat itu kemudian, ketika Aku bertemu dengan Orang yang mengaku Ayah Kandungku, Richard.... Dia... Dia yang berencana akan semua ini... Tidak ini adalah salahku kenapa aku begitu bodoh dan mudah tertipu...."


Mendengar nama Richard disebut, tiba-tiba kemarahan muncul dari dalam dirinya.


"Richard kamu bilang? Kamu bertemu dengannya?"


Allen mengagguk.


Stella mulai mengambil kesempatan ini lalu bertanya,


"Lalu, apakah dari dia kamu tahu soal kamu bukan Putra Kandung Felix?"


Felix menatap Stella dengan ekpersi heran, dan berkata,


"Omong kosong apa yang baru saja kamu katakan? Kamu kan yang memberitahunya?"


Felix lalu kembali menatap Allen, yang mengelengkan kepalanya.


"Tidak, tidak seperti itu. Aku menyelidiki semua ini sendiri, hanya... Suatu hari memang ada surat kaleng yang mengatakan bahwa Aku Bukan Putra Kandung Ayah... Aku tidak tahu itu dari siapa, Aku hanya sangat merasa kesal dengan surat itu, jadi diam-diam Aku melakukan tes DNA, hanya saat itu sebelum Tes DNA keluar, Aku tiba-tiba tahu jika Golongan darahku berbeda dengan Ayah atau dengan Ibu Kandungku... Itulah kenapa aku mulai bertanya pada Stella... Namun toh pada akhirnya aku memiliki hasil Tes DNA itu, apakah Stella menjawabnya atau tidak aku pada akhirnya akan tahu kenyataannya."

__ADS_1


__ADS_2