Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 64: Kekacauan


__ADS_3

Cynthia benar merasa kesakitan itu, tidak tahu juga harus berkata apa lagi.


"Herry.... Ini benar-benar sakit... Perutku..."


Cynthia melihat kebagian bawah rok putihnya itu yang perlahan terlihat noda merah darah.


Herry juga melihat hal-hal itu, menjadi panik juga, segera mendekat kearah Cynthia.


Cynthia bisa mendengar sepertinya ada beberapa orang yang akan kesana.


Orang-orang ini tidak bisa melihat dirinya bersama dengan Herry.


Tidak!!


Ini tidak bisa terjadi...


Tapi bagaimana?


"Kamu... Kenapa ini bisa...." Kata Herry dengan panik.


"Herry, aku mohon pergilah... Kalau tidak demi aku.. Demi anak kita... Jika kamu benar-benar menyukaiku...."


Herry jelas tidak mengerti tentang hal yang barusan dirinya dengar.


"Apa, Kamu bilang?"


"Herry!! Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang, kumohon pergilah...."


Melihat langkah beberapa orang semakin dekat.


Herry masih tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena hal ini sangat tiba-tiba.


"Rara.... Ini..."


"Herry, aku mohon!!"


Herry lalu mendekat, dan mencium dahi Cynthia.


"Baik, aku pergi. Namun ingat, kamu berhutang penjelasan padaku. Dan ingat, jangan biarkan laki-laki lain menyentuhmu, termasuk Suamimu,"


Cynthia tidak memiliki pilihan lain akhirnya hanya bisa mengiyakan.


"Ya, aku akan,"


"Dan semoga anak kita baik-baik saja," kata Herry lalu segera pergi dari sana.


Entah nanti apa yang akan terjadi, setidaknya Cynthia hanya berharap tidak dengan hari ini.


Jangan buat Acara Pernikahan ini berantakan dan membuat dirinya malu seumur hidup.


Ukhh...


Dan sekarang dirinya masih harus mengalami rasa sakit di perutnya ini.


Namun, ini malah bagus jika bayi ini tidak ada, jadi barang bukti soal hal-hal ini pasti tidak akan ketahuan oleh Allen.


Namun, Herry pasti akan marah besar, dan dirinya malah tidak tahu nanti bakal seperti apa....


Baiklah, nanti saja dirinya akan mencoba memikirkan cara untuk melenyapkan laki-laki pengaggu itu.


Dan tidak lama setelah Herry pergi, benar saja ada beberapa tamu wanita yang sepertinya ingin ke kamar mandi untuk memperbaiki riasan, melihat Cynthia yang terjatuh di kamar mandi itu.


"Astaga? Bukankah itu Cynthia? Kenapa dengan dia?"


"Iya, benar, itu Cynthia. Kenapa dengan dia?"


Beberapa tamu itu menjadi panik, mereka segera mendatangi Cynthia, melihat ada darah di rok Cynthia, mereka segera tambah panik dan membuat kehebohan.

__ADS_1


Segera salah satu tamu itu berlari di Aula Pesta, untuk meminta pertolongan.


Allen yang mendengar jika Cynthia sepertinya terjatuh di kamar mandi, jelas menjadi cemas dan panik.


Dirinya segera mendatangi Cynthia kesana, dan langsung menelepon Ambulans.


"Cynthia, kamu tidak apa-apa?" Tanya Allen yang sudah sampai di tempat Cynthia berada.


"Perutku, sakit.... Sakit sekali...."


Allen jelas menjadi panik, namun dirinya mencoba menenangkan Cynthia.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi Tim Medis akan datang, aku sudah memanggil Ambulans, aku yakin semua akan baik-baik saja. Kamu harus menahannya sedikit," kata Allen sambil mencoba mengegam tangan Cynthia, mencoba memberikan kekuatan.


Cynthia berikutnya, yang tidak tahan dengan rasa sakit itu, segera kehilangan kesadaran.


Allen yang mulai tidak sabar itu, tentu saja segera mengendong Cynthia untuk menuju pintu depan.


Hal-hal itu tentu menjadi bahan tontonan oleh Para Tamu, mereka bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang terjadi.


Allen sendiri, jelas merasa sangat bersalah, kenapa tadi dirinya tidak menemani Cynthia?


Namun dirinya tadi masih menyapa para tamu yang terus datang....


Ukhhh....


Ini karena dirinya yang ceroboh.


Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Cynthia atau calon anak mereka?


Pikiran Allen jelas kemana-mana, tanpa menyadari dari ujung tidak jauh dari sana, ada seseorang yang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Sialan, apa sih yang baik dari Pria itu dari pada aku?"


Ya, itu adalah Herry yang penuh dengan kebencian.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya mencoba menenangkan para tamu, agar tetap melanjutkan Acara sementara.


Toh, tamu disini sudah tidak begitu banyak.


Stella sendiri juga melihat ekpersi Felix yang cemas itu.


Stella sendiri tidak mengerti apa yang Felix rasakan, namun tetap saja, dirinya mencoba menghiburnya.


"Paman Felix, tidak sudah cemas. Aku yakin semua akan baik-baik saja, Allen akan bisa melewati ini, dan Cucu Paman akan baik-baik saja,"


Felix sendiri masih tengelam dalam lamunannya.


Hal-hal ini tiba-tiba mengingatkan dirinya, pada Insiden yang menimpa Shopia dulu, yang mirip seperti ini.


Betapa cemasnya dirinya dulu ketika tahu hal itu terjadi pada Shopia, hal itu langsung membuat dirinya kembali dari Luar Kota dalam keadaan panik, dan dirinya diliputi oleh kesedihan.


Bahkan walaupun pada akhirnya baik Shopia dan Bayinya selamat namun kondisi berikutnya menjadi lebih buruk.


Dirinya bisa mengerti sekarang betapa cemasnya Putranya Allen, yah walaupun dirinya tidak menyukai Cynthia itu, tetap saja bayi dalam kandungannya itu anak Allen.


Dan setelah mendengar kata-kata menghibur dari Stella disampaignya, Felix segera merasa sedikit tenang.


"Itu benar, aku yakin semua akan baik-baik saja,"


"Tentu, Paman tidak usah cemas, sekarang mari kita jalankan tugas kita, dan urus sementara Pesta ini,"


Felix sepintas menatap wanita yang ada di sampingnya, yang mendukungnya dari tadi, dan berada disisinya.


Rasanya memang sangat nyaman ketika memiliki seseorang yang ada disamping dirinya dan mendukungnya seperti ini.


Namun dirinya juga tidak tahu bagaimana perasaan Wanita di sampingnya ini saat ini.

__ADS_1


Hari ini mungkin menjadi salah satu hari paling buruk untuk Stella?


Yah, bagaimanapun juga dirinya tahu jika Stella mungkin masih memiliki beberapa perasaan pada Allen.


Melihat Allen menikah dengan perempuan lainnya tepat didepannya, bahkan sekarang harus mengurusi Pesta Pernikahan mereka...


Stella ini, pasti dalam hatinya sangat hancur, namun lihat?


Dia tetap terlihat tegar, dan tidak menujukan kelemahannya sedikitpun.


Dirinya mungkin juga harus memberikan dukungan pada Stella, bukan malah menyalah-nyalahkan Stella soal perasaan yang dia punya.


Dirinya sendiri, masih sangat susah untuk melupakan cintanya pada Shopia bahkan walaupun banyak waktu berlalu.


Dan ini, kurang dari satu bulan, sejak Stella masih bersama Allen.


Perasaan jelas masih tersisa, dan tidak mudah untuk melukapannya dalam sekejap.


Dan memang apa yang dirinya harapkan?


Stella tiba-tiba jatuh cinta pada dirinya?


Itu malah terlihat lebih dibuat-buat dan tidak realistis.


Dan bagaimana soal hubungan antara dirinya dan Stella nanti dimasa depan?


Jika memikirkan hal-hal nanti itu masih terlihat sangat sulit.


Dirinya juga tidak tahu harus membawa hubungan mereka kemana.


Namun yang jelas, mereka saat ini sudah menikah.


Apakah dirinya juga harus mencoba untuk membuka hatinya?


Entahlah?


Dirinya juga tidak tahu.


Yang jelas, yang dirinya bisa saat ini adalah mencoba membuat Stella melupakan Allen....


Karena, jelas tidak ada yang baik jika Stella masih menyukai Putranya Allen.


Karena sekarang, Allen jelas menjadi milik orang lain.


Ukhh....


Tapi dirinya juga memiliki pengalaman yang buruk soal cinta, tidak tahu juga bagaimana menghibur Stella.


"Stella,"


"Ya, Paman? Ada apa?" Tanya Stella yang terkejut tiba-tiba di panggil itu.


Namun Felix tidak berkata apa-apa, dan hanya mengelus rambut Stella, yang membuat Stella merasa kaget dengan tindakan itu.


"Huh? Paman ini kenapa sih?"


Felix sendiri tidak tahu harus menjelaskan seperti apa soal tindakannya itu.


"Aku hanya merasa kamu ini sangat manis,"


Dan omong kosong itu entah keluar dari mana dan malah membuat Felix malu sendiri.


Stella juga merasa dirinya salah dengar, apa tadi Paman itu bilang?


Apakah sekarang Paman Felix ini mulai memperlakukan dirinya seperti semacam Pet lucu yang bisa menenangkan hati dan menghibur disaat sedih?


Dengan mengelus dirinya, kesedihan Paman Felix akan hilang atau sesuatu?

__ADS_1


Astaga, Stella juga tidak tahu harus merespon seperti apa.


__ADS_2