Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 108: Pilihan Terbaik


__ADS_3

Saat ini disalah satu ruangan di Rumah Sakit tertentu, terlihat seorang wanita tengah berbaring di tempat tidur disana.


Dia terlihat seperti tertidur cukup lelap hingga tidak membuka matanya.


Sampai tiba-tiba, wanita itu mulai membuka matanya, merasakan sedikit pusing dan kram di perutnya.


Stella mulai menatap kearah sekitarnya, dimana saat ini dirinya tidak menemukan siapapun.


Ketika melihat ruangan putih yang familir itu, Stella merasakan hal-hal ini cukup familiar sekali.


Ada saat dimana hari-hari indah bersamanya, dimana dirinya sangat bahagia sekali, sampai tiba-tiba dirinya mengalami kecelakaan, dan hal itu membuat dirinya dibawa ke Rumah Sakit, hal pertama yang dirinya lihat setelah bangun adalah sebuah tragedi, sebuah mimpi buruk yang tidak pernah dirinya bayangkan.


Seperti, bagaimana ketika dirinya bangun saat itu, Allen tunanganya, orang yang akan dirinya nikahi, orang yang begitu dirinya cintai tiba-tiba memberitahunya bahwa Pertunangan mereka dibatalkan, buat tidak ada pernikahan yang akan terjadi diantara mereka, dan bagaimana Allen berkata tidak pernah mencintainya.


Hal itu, tentu saja masih membawa sebuah Trauma mendalam dalam hidup Stella, dimana hari-hari bahagia akhirnya tiba, namun dihancurkan dalam semalam dan berubah menjadi sebuah tragedi menyakitkan.


Saat itu dirinya juga difitnah didepan semua orang, dimana dirinya dituduh jahat yang mencoba mencelakakan Cynthia.


Tidak ada orang yang percaya padanya kala itu, semua orang seakan-akan meninggalkan dirinya sendiri dan dalam keputusasaan.


Ada orang yang peduli padanya setelah itu.


Dirinya berada di Rumah Sakit sendirian, hanya bisa menagis dan meratapi nasibnya kala itu.


Itu adalah hari hari paling jujur dalam hidupnya, buka dingin kehilangan segala yang dimilikinya, ketika dirinya mulai mempertanyakan apa makna keberadaannya...


Ketika bahkan tidak ada seorangpun yang ada di sisinya ketika dirinya hancur...


Orang yang paling dirinya cintai meninggalkan dirinya...


Orang-orang yang dirinya anggap Keluarga, membuang dirinya, seolah-olah dirinya hanya sebatang kara di dunia ini.


Dan sekarang, hal serupa seolah-olah terjadi kembali.


Ketika dirinya akhirnya berpikir akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya, tiba-tiba hal-hal seperti ini terjadi.


Dirinya ingat bagaimana kata-kata Rhea yang menjelaskan bahwa foto-fotonya dan Allen yang entah didapat dari mana tersebar luas, dan bagaimana pesta itu kacau karena semua orang mulai meragukan jika anak yang ada di Kandungannya bukan anak Felix Chastielo suaminya.


Tiba-tiba, Stella merasa takut, untuk membayangkan, bagaimana jika Paman Felix, juga berpikir seperti itu?


Bahwa percaya pada kata-kata semua orang dan video-video tidak jelas itu?


Hanya membayangkannya saja membuat hati Stella terasa sangat hancur.


Bagaimana ini....


Bagaimana ini...


Stella jelas takut jika hal yang sama akan terulang kembali.


Jika tepat setelah dirinya sadar, tiba-tiba Suaminya Felix hendak menceraikan dirinya, dan mengakhiri pernikahan mereka.


Bahwa Suaminya tidak percaya pada dirinya, dan meninggalkannya sendirian....


Karena jika itu sampai terjadi dirinya mungkin tidak memiliki siapapun lagi...


Lalu Stella mulai teringat soal bayi yang ada di kandungannya itu.


Tidak...


Tunggu dulu, apa yang terjadi dengan Kandungannya?


Stella menjadi panik berpikir jika dirinya bisa kehilagan bayinya berkat kecelakaan yang dialaminya....


Tidak...


Ini tidak bisa terjadi...


Ketika Stella panik itu, seorang suster datang dari luar, dia terkejut melihat bahwa pasien di dalam ruangan itu sudah sadar.


"Kamu sudah sadar?"


Stella gak memperhatikan ucapan sister itu hanya langsung bertanya dengan panik,


"Bayiku.... Calon Bayiku... Bagaimana dengan keadaan kandunganku?"


Suster itu, lalu segera tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa, kandungan anda baik-baik saja, sebelumnya memang anda hampir mengalami keguguran, sangat beruntung anda dibawa ke rumah sakit tepat waktu jadi keadaan yang buruk tidak terjadi, bayi anda baik-baik saja dan saat ini kondisinya stabil, kehamila anda benar-benar cukup kuat,"


Mendengar bahwa bayi dalam kandungannya itu selamat dan aman, Stella merasa sangat lega.


Syukurlah, setidaknya bayi dalam kandungan selamat.


"Saya akan memanggil dokter dulu untuk memeriksa anda," kata Suster itu, segera pergi dari ruangan itu.


Dan Stella kembali sendirian sekarang.


Hah....


Setidaknya, sekarang dirinya masih memiliki bayi dalam perutnya, tidak apa-apa...


Dirinya memang masih begitu takut soal apa yang terjadi, dan apa respon Suaminya itu...


Dan lagi, Suaminya tidak berada disini itu artinya....


Lagi-lagi sebuah pemikiran sedih mulai menghantui dirinya.


Stella yang begitu takut itu tiba-tiba saja menangis.


Trauma yang Stella alami akibat kejadian-kejadian sebelumnya benar-benar cukup buruk.


Pikiran Stella seolah jatuh dalam kesedihan mendalam.


Sampai tiba-tiba, pintu dalam ruangan itu dibuka oleh seseorang.


Tatapan Stella segera menatap seseorang di yang masuk ke dalam ruangan itu.


Itu adalah wajah yang cukup familiar, itu adalah Suaminya Felix Chastielo.


Namun entah kenapa ketika menatap wajah itu, Stella merasa sedikit takut, takut jika hal sama terjadi seperti sebelumnya.


Bahwa hal pertama yang akan Felix katakan adalah ingin berpisah dengan dirinya.


Namun ternyata, hal-hal tidak seperti yang Stella katakan.

__ADS_1


Felix langsung datang dan memeluk Stella, dan berkata,


"Syukurlah kamu akhirnya sadar dan baik-baik saja, kamu membuat Aku khawatir saja,"


Mendapatkan sebuah pelukan tiba-tiba itu, Stella jelas merasa bingung.


"Paman... Paman khawatir padaku?"


"Jelas saja Aku khawatir, bagaimana tidak? Istri dan calon anakku kami hal-hal seperti ini ini benar-benar membuatku takut setengah mati,"


"Video-video itu....."


Felix lalu melepaskan pelukannya, dan melihat Stella yang menagis.


"Ah? Jadi karena itukah kamu menagis?"


"Paman percaya hal di video itu?"


"Astaga, hal-hal omong kosong dan kekanak-kanakan macam itu mana bisa Aku Percaya?"


"Sungguh? Paman Percaya padaku?"


"Ya, Aku percaya padamu, bahwa Anak yang kamu kandung adalah anakku, hal ini sudah jelas dan tidak perlu dipertanyakan lagi..."


Mendengar kata-kata penuh keyakinan itu, Stella yang merasa tersentuh segera menagis lagi.


Dirinya merasa sedikit lokal karena bahkan walaupun hanya satu orang pada seseorang yang percaya padanya dan berada di pihaknya, terutama Suaminya Paman Felix.


"Hey? Kenapa kamu menagis? Apakah masih ada yang sakit?"


Stella tidak menjawab lalu hanya kembali memeluk Felix lebih erat dan menagis.


"Aku kira.... Aku kira Paman akan percaya dengan Video itu... Aku kira Paman akan meninggalkanku...."


"Tidak, tidak. Kamu tidak perlu khawatir soal video itu, Aku sudah membereskannya, waktu untuk membuat pernyataan dan klarifikasi. Itulah kenapa aku belum bisa menemanimu sebelumnya,"


"Paman benar-benar percaya padaku?"


"Ya, kamu tenang saja. Kamu sekarang tidak boleh terlalu banyak berpikir,"


Stella tenggelam dalam pelukan itu seolah tidak ini melepaskannya.


Bahwa dirinya tidak akan ditinggalkan lagi.


Mereka berdua pelukan dalam diam, tengelam dalam pikiran masing-masing.


Sampai Stella lalu melepaskan pelukannya itu, dan berkata,


"Lalu... Orang-orang...."


"Tenanglah, Aku udah membuat klarifikasi dan juga menunjukkan bukti tentang usia kehamilanmu pada semua orang, yah lagipula aku tidak terlalu peduli dengan pendapat bahwa orang, yang paling penting Aku percaya padamu, bukankah itu cukup untukmu?"


Mendengar kata-kata tulus itu, Stella lalu tersenyum.


"Ya, Terimakasih telah percaya padaku,"


"Baik, karang kamu istirahat dulu dan biarkan dokter untuk memeriksa kondisi mu,"


Tidak lama, lalu dokter datang dan memeriksa keadaan Stella.


Stella yang terlalu lelah dalam emosinya itu lalu segera tertidur, namun tangannya jelas mengegam tangan Felix.


Dirinya merasa lega, setidaknya Suaminya percaya padanya.


Setelah Stella tertidur, Felix segera mengambil ponselnya, terlihat menelepon seseorang.


"Ya, kamu sudah menemukan bukti kamera CCTV? Apakah kamu benar menemukan orang yang mencurigakan di tangga?"


Belum satu hari berlalu sejak kejadian itu, dan banyak yang harus Felix urus, termasuk soal kejadian kecelakaan ini yang sepertinya disengaja.


Dirinya dengar dari Allen sebelumnya soal tangga licik seperti ada minyak atau sesuatu, lalu dirinya dengar dari Rhea jika sepertinya ada Cynthia disana.


'Benar, kami memang menemukan seorang pelayan yang sepertinya membersihkan tanggal itu, namun memang sempat ada gerakan mencurigakan ketika ada di pertengahan tanggal itu,'


"Apakah wajahnya terlihat?"


'Ya, Pak. Lagi berhasil menemukan sebagian wajah dari orang itu di kamera, saya akan mengirimkan nya,'


Felix lalu menatap ponselnya telah menerima kiriman gambar itu.


Dan benar, itu ternyata adalah gambar Cynthia.


"Segera bawa itu ke Kantor Polisi, kanguru secepatnya dan pastikan orang yang melakukan Istriku, makan mendapatkan balasan yang setara,"


'Akan saya urus, Pak. Semuanya nanti beres,'


Setelah mengurus hal-hal itu, Felix masih menatap kearah Stella.


Sebenarnya dirinya masih memiliki banyak pikiran soal hal-hal ini, namun dirinya tidak tahu harus memulai dari mana.


Jadi Felix poskan untuk menyimpan ini semua dulu.


Biarkan Stella tengah dulu, nanti dirinya akan berbicara tentang apa yang ingin dirinya katakan.


Ini menyangkut hubungan mereka berdua kedepannya...


####


Sore itu, Stella akhirnya kembali bangun dan kali ini, hal pertama yang dirinya lihat ketika bangun adalah wajah dari Suaminya Felix.


Stella benar-benar sangat senang ketika menatap wajah pria itu.


"Kamu sudah bangun? Apakah kita lapar? Tadi sebelumnya, Suster udah membawakan makan malam, kamu bisa memakannya, nanti keburu dingin,"


Stella melihat sikap perhatian ini jelas merasa sangat terharu.


"Paman... Kenapa paman begitu baik padaku? Paman bahkan begitu percaya padaku?"


Felix yang mendengar itu jelas terdiam namun sedikit binggung harus berkata apa.


Namun mungkin ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan ini semua.


"Ini karena sebenarnya Aku ingin melihatmu bahagia,"


Mendengar jawaban itu, Stella benar-benar terkejut dan tidak pernah menyangka nya.

__ADS_1


Namun sebelum Stella menjawab, Felix segera berkata lagi,


Mendengar kata-kata itu, jelas Stella menjadi binggung.


"Stella... Aku tahu, mungkin Pernikahan kita menjadi sesuatu yang sulit untukmu, dan bahkan kehamilanmu yang tiba-tiba..."


"Aku tidak mengerti apa maksud pembicaraan ini,"


Felix akhirnya sudah membuat keputusan.


Felix mulai memikirkannya, bahwa Stella memang adalah wanita yang sangat baik...


Seseorang yang mungkin bisa membahagiakan Allen, dan Felix menjadi teringat mungkin Stella masih mencintai Allen dari lubuk hatinya.


Mereka pasti akan bahagia jika bersama-sama....


Orang-orang yang paling dirinya sayangi di dunia ini...


Memikirkan semua itu membuat dirinya merasa hatinya sakit.


Namun, dirinya tidak boleh menjadi egois, seperti bagaimana dirinya memaksa Shopia yang tidak mencintainya untuk bersamanya...


Sekarang dirinya akan memutuskan, bahwa Stella berhak untuk memilih, jika memang dia mau meninggalkan dirinya dan bersama dengan Allen, ini tidak masalah asal dia bahagia....


Yah, bahkan walaupun hatinya terasa sangat sakit...


Hanya ketika tiba saatnya dirinya ingin mengatakan hal-hal ini, ini masih terasa cukup sulit...


Apakah karena dirinya sudah terjebak terlalu dalam dalam cintanya pada Stella?


Namun dirinya tidak ingin lagi membuat kesalahan yang sama memaksa seseorang yang tidak mencintai dirinya untuk bersama dirinya...


Yang dirinya inginkan adalah kebahagiaan Stella.


"Stella... Jika... Jika kamu masih ingin bersama dengan Allen, Aku akan melepaskanmu setelah bayi ini lahir,"


Kata-kata itu, benar-benar sesuatu yang tidak akan pernah Stella duga.


"Paman bilang Paman percaya padaku? Lalu ada apa dengan kata-kata ini?"


Stella jelas merasa sakit hati dengan kata-kata ini, sebelumnya jelas Paman Felix ada dipihaknya, namun apa-apa sekarang malah berkata hal ini?


Jangan bilang hal-hal sebelumnya hanyalah sebuah mimpi?


Dari arah pintu lalu ada beberapa orang masuk, itu adalah Allen dan Rhea yang tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika merek hendak menjenguk Stella.


"Apa-apaan yang Ayah katakan? Kembali bersamaku Apa? Aku kira Ayah tidak percaya dengan Video itu?"


Allen jelas menjadi marah ketika mendengar itu, sebelumnya ketika mereka bertemu jelas Allen mendegar jika Ayahnya Percaya padanya dan jika anak di kandungan Stella adalah anak Ayahnya itu, dirinya pikir hal hal itu sudah selesai.


Jadi kenapa tiba-tiba seperti ini?


"Allen, Ayah tahu kamu masih menyukai Stella... Hal-hal yang ada di Video... Aku melihatnya sebelumnya, saat kamu mengatakan cintamu,"


Allen benar-benar tidak akan pernah mengira jika Ayahnya akan melihat itu.


"Ayah, sungguh ini tidak seperti yang Ayah lihat. Ya, Aku memang mengakui itu adalah tindakan Impulsifku, namun sungguh main hal itu aku tidak melakukan apapun pada Stella..."


"Ayah tahu."


"Apa? Ayah jelas tidak tahu apa-apa!! Aku... Ya, Aku akan mengakuinya, Aku memang masih menyukai Stella saat itu, namun Ayah... Ayah harus mengerti, Aku bukankah sosok orang yang bisa membahagiakan Stella, Aku tidak pantas untuknya, Aku begitu buruk karena menyakiti hatinya. Jadi hari itu, Aku menagatakan cintaku padanya, untuk mengakhiri semua hubungan antara kita berdua di masa lalu. Bahwa hubungan antara Aku dan Stella sudah berakhir, karena Stella pasti sudah menemukan kebahagiaan bersama dengan Ayah... Jadi Ayah jangan lagi berbicara seperti itu... Aku... Aku akan melupakan semua tentang Stella, dan lagi Aku pikir Stella juga akan melupakanku. Kami sepakat, jika dendam dimasalalu sudah berakhir.... Hanya ada hubungan antara Anak dan Ibu Tirinya,"


Felix yang mendengar itu segera menjadi kaget, tidak mengira jika hal yang terjadi hari itu adalah sesuatu seperti itu.


Sesuatu yang dirinya lewatkan.


Stella menatap semua kejadian itu, masih tidak tahu harus berkata apa.


Allen lalu segera berkata lagi.


"Aku pikir, kalian butuh berbicara sendiri,"


Allen segera mengajak Rhea untuk keluar, membiarkan dua orang itu berbicara.


Rhea jelas merasakan tangan Allen yang sedikit gemetar ketika mengatakan hal-hal itu.


Rhea tahu, bahwa hal-hal ini masih sulit untuk Allen terima, Rhea lalu segera berbisik ke Allen,


"Kak Allen sudah melakukan hal yang benar. Aku pikir Kak Allen sudah lebih dewasa, sudah mau mengakui kesalahanmu dengan benar. Sekarang tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja," kata Rhea sambil mengegam tangan Allen lebih erat, mencoba menguatkannya.


Memang begitu keluar dari ruangan itu, Allen jelas masih terlihat hancur, dan namun mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Bahwa kali ini semuanya benar-benar berakhir....


Disisi lainnya, sekarang didalam ruangan hanya ada Stella dan Felix.


Ada keheningan disana, Stella merasa tidak tahan dengan keheningan itu lalu segera berkata,


"Jadi, Paman coba jelaskan sebenanya apa yang Paman pikirkan? Hingga Paman sempat memiliki ide konyol semacam itu? Melepaskanku setelah Aku melahirkannya anak Paman? Lalu membiarkanku bersama Allen setelahnya? Apa Paman kira Aku Piala bergilir?"


Kata-kata itu jelas penuh kemarahan.


"Ini tidak seperti itu..."


"Lalu apa?"


"Aku... Aku hanya ingin melihat kamu bahagia.... Aku sungguh merasa bersalah karena telah mengikatmu dalam Pernikahan ini..." Kata Felix dengan nada penuh kesedihan, lalu dia lanjut berkata,


"Sejujurnya, Aku mulai mencintaimu... Namun aku begitu takut dengan cintaku padamu, bahwa cintaku ini akan membuatmu tidak bahagia, seperti bagaimana cintaku pada Shopia yang hanya membuat dia sedih sampai dia meninggal... Itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku. Seandainya saja Aku tidak pernah memaksa Shopia untuk bersamaku, Apakah sekarang dia masih hidup dan akan bahagia? Aku selalu merasa bahwa cintaku selalu salah, Aku... Aku takut, dengan mencintaimu... Ini akan membuatmu tidak bahagia... Jika Pernikahan ini tidak bahagia karena kamu tidak mencintaiku, karena Aku pikir kamu masih mencintai Allen, Aku tidak ingin lagi memaksa seseorang untuk bersamaku, atau terjebak denganku, Aku tidak ingin lagi memaksa seseorang untuk jatuh cinta padaku. Jadi aku pikir jika Aku melepaskanmu, Kamu akan bahagia... Ini tidak masalah..."


Mendengar kata-kata itu, jelas Stella merasa terteguh.


Dirinya tidak mengira jika trauma cinta yang dia alami pada Almarhum Ibu Kandung Allen masih sangat besar.


Hal-hal itu terlalu menyedihkan, hingga membuat pria di hadapannya ini takut untuk jatuh cinta pada siapapun.


Stella lalu menarik nafasnya dan berkata,


"Jadi, apa yang sebenarnya Paman rasakan padaku? Apa sebenarnya keinginan Paman?"


"Aku mencintaimu... Namun... Aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk bersamaku... Sejujurnya... Aku tidak ingin kamu pergi, Aku ingin selalu kamu berada disampingku selamanya...."


"Kalau begitu Aku akan melakukannya, Aku akan berada disamping Paman selamanya, tidak ada yang memaksa aku soal semua ini, itu karena Aku juga mencintaimu. Aku memilih jalan ini karena Aku pikir Aku akan bahagia bersamamu, jadi jangan ragu lagi, jatuh cintalah padaku semaumu, Aku yakin aku bisa menanggung semua cinta yang kamu berikan padaku...."


Ya Stella merasa jika dirinya sudah memilih pilihan terbaik dalam hidupnya.

__ADS_1


Yaitu memilih menikah dengan Felix Chastielo.


__ADS_2