Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 84: Perasaan Sebenarnya


__ADS_3

Siang itu, di Ruang Rawat Allen terlihat Felix masih membantu menyiapkan makanan untuk Allen.


Tentu saja, baru sadar dari koma itu hanya bisa memakan bubur.


"Tidak apa-apa, Ayah aku bisa makan sendiri,"


"Kamu benar tidak apa-apa?" Tanya Felix lagi.


"Ya, tidak apa-apa, aku sudah bisa menggerakkan tanganku dengan bebas,"


"Itu bagus,"


Allen yang melihat Ayahnya itu merasa lega, juga merasa cukup senang.


Yah, dirinya memang tidak terlalu dekat dengan Ayahnya, tapi memang sejak dulu dirinya ingin diperhatikan oleh Ayahnya, Apakah ini sebuah keinginan yang kekanak-kanakan?


Namun sepertinya tidak masalah untuk kekanak-kanakan sementara.


Suasana disana cukup harmonis, sampai Allen teringat sesuatu dan segera bilang pada Ayahnya itu.


"Ayah, bisa tolong panggilkan Cynthia?"


"Owh, benar juga sebelumnya aku sudah menelponnya, tapi dia sepertinya dia masih tidak enak badan dan istirahat di rumah,"


Mendengar itu, Allen entah kenapa menjadi sedikit kecewa.


Tadi pagi, ketika dirinya sadar Istrinya itu memang sempat datang, namun itu tidak lama dan dia segera pergi karena tiba-tiba merasa tidak enak badan.


Yah bagaimanapun juga, Allen juga tahu jika Cynthia sedang hamil muda, dan sempat mengalami pendarahan sebelumnya.


Namun setidaknya walaupun dia istirahat, dirinya ingin Cynthia setidaknya disini, toh di Ruangan VVIP ini, ada tempat yang nyaman untuk beristirahat, setidaknya bisa melihatnya saja tidak apa-apa.


Namun, entahlah Cynthia hanya pergi begitu saja.


Mungkin dia memang benar-benar merasa tidak nyaman di rumah sakit sehingga dia memilih untuk beristirahat di rumah.


Lagipula, dirinya yakin selama dirinya koma, Cynthia pasti kerepotan merawatnya selama ini.


"Ah, jadi begitu, dia memang butuh istirahat banyak jadi tidak apa-apa, dia pasti lelah selama ini menjagaku di Rumah Sakit,"


Felix yang melihat sebuah senyuman dari putranya itu tidak tahu harus berkata apa.


Apakah dirinya harus jujur?


Jika Cynthia itu, hanya akan datang sesekali ke rumah sakit kemudian pulang, tidak menjaga Allen di Ruang Rawat, dia selalu memiliki alasan entah tidak enak badan, perutnya sakit, tiba-tiba mual, dan yang lainnya.


Tapi dirinya juga tidak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya yang penting kamu pulihkan dirimu dan istirahat yang baik, dan makan yang banyak,"


"Tentu saja, Ayah. Aku akan makan cukup,"


Setelahnya, Felix mengawasi Putaranya yang sedang makan itu, tiba-tiba dirinya juga merasa lapar.


Namun jelas dirinya tidak bisa meninggalkan Putranya disini sendiri, bagaimana jika nanti dia butuh sesuatu?


Atau dia tiba-tiba jatuh dari tempat tidurnya?


Semua hal selalu bisa terjadi.


Jadi, Felix lebih bisa menahan diri.


Ketika Felix berpikir sendiri, itu seseorang segera memasuki ruangan itu.


Itu ternyata adalah Stella, dan tanpa mengatakan apapun dia memberikan kotak makan siang pada Felix.


Segera Felix menerima kotak makan siang itu tanpa berkata apa-apa juga, hanya tersenyum kepada Stella, ya Stella ini benar-benar begitu perhatian dan selalu mengantarkan dirinya makanan tepat waktu.


Stella sendiri, hanya menyapa sedikit kearah Allen, setelah urusannya selesai, dia segera pergi dari ruangan itu, Stella jelas tidak ingin membuat masalah dan membuat Allen merasa tidak nyaman.


Bagaimanapun juga, Allen sedang sakit, dan tidak ada hal yang baik dia menjadi emosi dan marah.


Allen yang melihat Stella pergi setelah mengantarkan makan siang pada Ayahnya itu, entah kenapa merasa aneh.


"Allen, kamu tidak makan?"


"Ya, aku sedang makan pelan-pelan. Ayah juga makan saja segera,"


Felix lalu mulai membuka bekal makan siang buatan Stella, sudah lama seminggu ini dirinya akan menerima bekal seperti ini dari Stella, jadi dirinya sudah cukup terbiasa.


Dua Ayah dan Anak itu, mulai menikmati makan siang mereka walaupun yang mereka makan benar-benar berbeda.

__ADS_1


Allen yang sedang makan itu sesekali akan mengintip ke arah kotak bekal makan siang Ayahnya.


Tiba-tiba merasa sedikit iri mendapatkan perhatian seperti itu.


Dulu, ketika dirinya masih bersama dengan Stella, ketika dirinya sedang sakit, Stella akan perhatian juga apa adanya dan sah balapan membuatkan semangkuk bubur buatannya untuk dirinya makan.


Tiba-tiba memikirkan kejadian itu membuat dirinya merasa sedikit rindu.


Rasanya memang itu sudah lama sekali....


Hari-hari yang sudah tidak bisa kembali.


Saat makan siang tidak ada yang berbicara di sana, keduanya menikmati makanan masing-masing.


Dan tepat setelah, Allen selesai makan dia langsung disuruh untuk minum obat.


Tidak lama beberapa suster dan dokter juga datang untuk memeriksa kondisi nya.


"Sejauh ini semuanya baik-baik saja hanya butuh pemulihan yang akan memakan waktu, sebaiknya setelah ini anda istirahat dan tidur, jangan memiliki begitu banyak pikiran dulu,"


Mendengar kata-kata dari dokter yang memeriksa, Allen hanya mengangguk, Felix sedikit merasa lega melihat tidak terjadi hal yang buruk pada putranya.


Dan tidak lama setelah itu, Allen segera kembali tertidur pengaruh dari obat yang dirinya minum.


Felix mengawasi putranya itu, sampai tiba-tiba dirinya mendapatkan telepon penting dari kantor, karena harus tanda tangan beberapa berkas.


"Kamu kirim saja berkasnya ke sini,"


'Tapi, Bapak sudah satu Minggu tidak berkantor, sekarang kita membutuhkan rapat untuk membahas beberapa project yang sedang berjalan,'


"Apakah Video Call saja bisa?"


'Bisa, Pak. Saya akan segera mengatur nya juga bisa sekarang,'


Memikirkan tidak ada pilihan lagi, Felix lalu mulai bersiap merapikan pakaiannya untuk rapat.


Namun segera dirinya menatap ruangan rumah sakit ini, sepertinya tidak mungkin dirinya mengatakan rapat disini.


Sebaiknya, dirinya keruangan sebelah yang memang sudah disiapkan untuk beristirahat.


Tapi, Felix jelas merasa ragu untuk meninggalkan Allen disini sendirian.


Sangat beruntung, Rhea datang kesana.


Sapa Rhea dengan sopan.


"Ah, kebetulan kamu di sini, apakah kamu bisa membantuku sebentar untuk menjaga Allen?"


"Memangnya, Paman mau kemana? Lalu Isteri Kak Allen mana?"


"Aku ada rapat online sebentar, dan untuk Istri Allen, dia bilang dia sedang tidak enak badan jadi dia berada di rumahnya dan beristirahat,"


Rhea yang mendengar bahwa Cynthia itu bahkan tidak memiliki inisiatif untuk menjaga Kak Allen di Rumah Sakit tiba-tiba merasa kesal.


Apalagi setelah dirinya menyelidiki lebih lanjut soal Cynthia dan Pria misterius sebelumnya.


Ketika dirinya menyewa seorang detektif swasta, dirinya mendapatkan banyak informasi menarik tentang mereka berdua.


Dimana, Pria itu bernama Herry Maximilian, yang merupakan Mantan Kekasih Cynthia.


Dirinya awalnya berniat mengatakan hal hal ini dan membahasnya dengan Kak Stella, namun sepertinya belum ada waktu yang tepat, nanti berikutnya mereka bertemu.


"Baik, Paman. Paman bisa pergi aku yang akan menjaga Kak Allen,"


Dan begitulah Felix segera pergi dari ruangan itu meninggalkan Rhea menjaga Allen yang sedang tidur.


Owh benar, Felix sempat lupa belum mengabari Rhea jika Allen sudah sadar, dan dia hanya tidur sekarang, sepertinya ini tidak apa-apa nanti juga dia akan tahu.


Setelah Felix pergi, Rhea kera duduk di kursi dekat tempat tidur Allen.


Rhea mulai menatap Allen dengan ekpersi rumit, mulai memikirkan bertanya malangnya nasib pemuda di depannya ini.


Dirinya juga sudah mengenal Allen sejak kecil, tahu pasti hal-hal apa saja yang dia alami sejak kecil.


Rhea lalu tanpa sadar mengelus rambut Allen dengan lembut.


Ketika menatap wajah di depannya ini, dirinya merasa sedikit hancur, memikirkan semua hal-hal yang dialaminya, dan yang terakhir soal Istri Kak Allen yang bermasalah itu.


Apalagi setelah tahu, jika ada kemungkinan bahwa Istri Kak Allen ini berselingkuh dibelakangnya, dan lagi soal anak yang di kandung Cynthia itu...


Mana tahu jika itu bukan Anak Kak Allen?

__ADS_1


Hanya memikirkan bahwa Allen di bohongi dan ditipu, jelas Rhea merasa sangat kesal.


Dirinya benar-benar tidak bisa menerima bagaimana Allen ini diperlakukan seperti ini.


Ditipu dan dibohongi dan memiliki pernikahan yang tidak bahagia.


Seolah-olah, ketika menatap wajah Allen perasaan lama yang Rhea miliki mulai muncul.


Padahal dirinya sudah susah payah untuk menghapus perasaan ini.


Sebuah perasaan yang datang tiba-tiba, tanpa dirinya sadari.


Namun dari awal dirinya memiliki perasaan ini, dirinya juga sadar jika Kak Stella menyukai Kak Allen.


Jadi dirinya lebih memilih untuk menyimpan perasaan ini, dan melupakannya jauh-jauh.


Sangat susah untuk mencoba melupakan Kak Allen.


Dirinya sudah berusaha sebisa mungkin, apalagi setelah tahu jika Kak Allen dan Kak Stella dijodohkan oleh keluarga mereka dan bertunangan.


Jelas sekali tidak ada kesempatan bagi dirinya, jadi dirinya memilih untuk melupakan perasaan terlarang ini.


Ya, jelas dirinya tidak mau menjadi orang ketiga, atau membuat masalah untuk semua orang hanya karena perasaan tidak jelas yang dirinya memiliki.


Ya...


Dirinya juga tidak pernah tahu, kenapa Cinta bisa datang dengan sangat acak seperti itu?


Sejujurnya, dirinya pergi ke Kuliah di Luar Negeri agar bisa menghilangkan perasaannya pada Kak Allen.


Hanya bisa berharap jika Kak Allen akan bahagia bersama Kak Stella.


Dirinya juga akan menjadi senang jika Kak Allen bahagia.


Dirinya bahkan, tidak tahu apakah bisa atau sanggup ketika melihat Kak Allen menikah, jadi memutuskan memutuskan untuk pergi.


Sangat sial, tenyata ketika dirinya pergi hal-hal ternyata menjadi berantakan dan menjadi seperti ini.


Pertunangan Kak Allen dan Kak Stella batal.


Dan Kak Allen malah tiba-tiba menikah dengan wanita yang sepertinya tidak beres.


Nasip Kakaknya Allen benar-benar sangat menyedihkan.


Belum lagi, sebuah kenyataan yang barusan dirinya tahu...


Surat Tes DNA itu...


Herry Maximilian bagaimana dia bisa memiliki surat aneh semacam itu?


Namun setelah dirinya menyelidikinya, Ayah Herry itu adalah Richard Maximilian, yang memang memiliki wajah yang sedikit mirip dengan Kakaknya Allen.


Jelas, mungkin Herry ini penasaran dan iseng melakukan Tes, namun hasilnya benar-benar sangat menyakitkan.


Rhea yang tahu itu, jelas tidak tahu lagi harus berekspresi seperti apa.


Kakaknya, Allen dari sejak kecil memang sudah selalu dituduh oleh semua orang bahwa dia bukan anak kandung Paman Felix.


Dirinya juga tahu, begitu banyak hal yang Kak Allen lakukan agar dirinya menjadi seseorang yang layak dalam keluarganya, layak sebagai Putra Paman Felix, sehingga tidak ada lagi orang yang berani melakukannya sebagai anggota Keluarga Chastielo.


Namun ternyata pernyataan lebih pahit dari pantai yang dirinya kira.


Jika, Allen faktanya bukan Putra Kandung Paman Felix.


Namun bagaimana ini bisa terjadi?


Apakah ini benar-benar nyata?


Rhea hanya menjadi semakin putih ketika menatap wajah tidur Allen.


Mulai memikirkan betapa hancurnya perasaan Kak Allen jika dia tahu.


"Aku... Aku hanya ingin melihat Kak Allen bahagia, namun kenapa semua hal ini harus menimpamu?"


Perasaan yang telah tenggelam lama jauh di dalam lubuk hatinya segera muncul kembali ke permukaan.


Dan ketika, Rhea mulai menyentuh wajah Allen itu, mata Allen segera terbuka.


Tatapan mata akan segera bertemu, membuat Rhea menjadi salah tingkah.


"Rhea? Kamu disini?"

__ADS_1


Mendengar namanya dipanggil oleh orang yang dirinya sukai itu jantungnya jelas berdebar, namun jelas Rhea mencoba menormalkan ekpersinya, mencoba menghapus perasaan yang tidak-tidak, jelas salah jika terus menyukai Pemuda didepannya ini.


"Kak Allen sudah sadar?" Katanya dengan cemas.


__ADS_2