
Setelah Felix terlihat menjadi marah, dan menyuruh Cynthia diam, Cynthia juga tidak berani lagi berkata apa-apa hanya diam di situ sambil merasa kesal pada Stella.
Stella puas memiliki seseorang yang membelanya itu.
Dan sesuai yang Felix katakan, mereka segera memencet tombol untuk memanggang perawan, tidak lama sampai perawat datang dan mulai mengecek suhu tubuh Allen.
"Sepertinya memang ada sedikit masalah dengan Pasien, efek operasi kadang memang menyebabkan hal semacam ini, sebentar saya akan mencoba memanggil dokter, takut demamnya bertambah parah,"
Felix yang mendengar itu jelas menjadi panik.
"Suster, bagaimana ini? Apakah putra saya tidak apa-apa?"
"Bapak tenang dan jangan panik, kami akan segera menangani hal ini, sangat beruntung ini diketahui lebih awal, jika suhu tubuh pasien menjadi lebih tinggi, hal-hal buruk mungkin bisa terjadi. Sebaiknya Bapak menunggu diluar dulu,"
Setelah itu, beberapa perawat dan dokter segera datang dan memeriksa Allen lebih lanjut.
Sedangkan Stella merangkul Felix mencoba menenangkannya, mengabaikannya Cynthia disana, yang keluar dengan ekspresi rumit di wajahnya.
"Hmm, untung kamu menyadarinya lebih awal," kata Felix tiba-tiba.
"Tidak apa, kan aku sudah diberi kepercayaan untuk menjaganya. Paman Felix jangan khawatir, pasti Allen akan baik-baik saja,"
"Ya, semoga saja,"
Mereka berdua duduk dengan cemas di kursi tunggu.
Namun untungnya, keadaan darurat itu segera berakhir dan Allen segera kembali ke kondisi stabil, membuat semua orang disana menjadi lega.
Hari itu, Cynthia yang memang masih dirawat, kembali ke kamarnya lagi, membiarkan Allen dijaga oleh Ayahnya.
Felix jelas menjaga dan merawat Allen dengan baik.
Stella sendiri, kadang akan pulang untuk berganti menemani Paman Felix menjaga Allen.
Hari-hari sekali lagi segera berlalu, pagi itu Stella kebetulan izin dari Kampusnya dulu sampai keadaan di rumah stabil.
Pagi itu, Stella pagi-pagi sekali pergi untuk mengantarkan baju ganti untuk Felix, tidak lupa membawakanya sarapan.
Begitu Stella sampai di ruangan itu, dari arah pintu, dirinya melihat bagaimana Paman Felix itu cukup telaten merawat Allen, saat ini Paman Felix itu sedang menyeka tubuh Allen dengan handuk untuk membersihkannya.
Melihat hal itu, jelas Stella merasa tersentuh mengetahui betapa baik dan perhatian Felix pada Allen itu.
Semakin Stella mengenal lebih jauh pria itu, Stella mulai menyadari, jika sebenanya Paman Felix ini adalah sosok yang sangat perhatian, hanya saja tidak terlalu menunjukkan hal itu pada orang-orang.
Hanya melakukannya secara diam-diam.
Dirinya pernah mendengar dari Allen, jika Ayahnya itu tidak begitu peduli padanya, namun bisa jadi Allen selama ini tidak menyadarinya, karena mungkin saja Felix menunjukkan beberapa kebaikan dan perhatiannya dari balik layar seperti ini.
Dirinya sedikit mengerti kenapa dua orang itu memiliki hubungan yang tidak begitu baik.
Mungkin itu karena kurangnya komunikasi antara keduanya.
Felix yang terkadang masih menghindari Allen, aku selalu tidak tega dan pada akhirnya akan melakukan hal-hal baik untuknya.
Sedangkan Allen yang mungkin selalu merasa sedikit merasa rendah diri didepan Ayahnya, jadi dia tidak pernah berani meminta perhatian Ayahnya.
Sungguh, Ayah dan Anak yang begitu memusingkan sekali.
Jadi, Stella mulai mengambil ponselnya lalu memotret kejadian itu diam-diam.
Ya mungkin saja foto ini suatu saat berguna, jika suatu kali mereka berdua terlibat beberapa perselisihan.
Stella hanya bisa tersenyum sendiri melihat pemandangan yang menghagatkan hati itu.
Benar-benar berbeda dengan Cynthia tempo hari, padahal dia sudah pulih, namun memiliki banyak alasan untuk tidak menjaga Allen.
Tempo hari saja dirinya melihat Cynthia ogah-ogahan saat disuruh membangun menyeka tubuh Allen itu.
Dan sekarang, entah pergi kemana itu Cynthia dan malah membiarkan Ayah Allen yang melakukannya, padahal Cynthia kan Istri Allen.
Melihat kejadian ini, Stella tidak tahu apakah harus merasa sedih atau senang.
Atau malah merasa miris.
Cynthia itu, memang keterlaluan.
Dan setelah menunggu di kursi diluar cukup lama, dan melihat kalau Felix sudah selesai mengurus Allen, dan kembali memakaikan baju pada Allen, Stella segera masuk kedalam.
Stella dengan tersemyum, lalu segera berkata,
__ADS_1
"Paman, ini aku membawa sarapan untukmu segera dimakan sebelum itu menjadi dingin,"
Felix menatap kedatangan Stella dengan cukup senang.
Hmm, rasanya ada yang memperhatikan dan perhatian padanya seperti ini sangat menyenangkan, membuat berapa depan dalam dirinya menjadi lebih ringan.
"Ya, terimakasih atas sarapanya. Kamu sudah makan?"
"Belum, itulah kenapa aku membawa dua kotak sarapan, satu untuk Paman satu lagi untukku. Jadi mari kita makan bersama," kata Stella sambil menyerahkan kotak makan itu.
Felix mengambilnya tanpa keberatan.
Lalu mulai membuka tempat makan itu.
"Ini Bubur Ayam?"
"Ya, bukankah ini kesukaan Paman? Aku mendengar dari Nenek soal ini, aku sengaja membelinya dari tempat makan Bubur Ayam yang biasa Paman beli,"
"Tapi aku pikir bukankah di sana itu sangat ramai? Apalagi pagi-pagi seperti ini, kamu pasti mengantri sangat lama,"
Stella yang mendengar itu hanya tersenyum dan berkata,
"Tidak masalah sama sekali, setidaknya walaupun hanya seperti ini aku ingin membuat Paman sedikit terhibur,"
Perhatian yang seperti ini, benar-benar membuat Felix berasal sangat senang dari lubuk hatinya.
Stella memang selalu bisa melakukan hal-hal yang membuat dirinya terkejut.
"Kamu ini bisa saja,"
"Sudah, Paman mari segera makan Buburnya, takut nanti malah menjadi dingin,"
Keduanyanya lalu mulai sarapan dalam damai.
Felix diam-diam menatap ke arah Stella yang terlihat menikmati makanannya itu, sampai tidak memperhatikan jika ada beberapa bubur di bibirnya.
Menatap bibir Stella itu, membuat Felix mengingat beberapa kejadian.
Bibir itu sangat lembut dan manis, sangat membuat candu ketika mencium bibir itu.
Memiliki pikiran ini, Felix merasa kesal sendiri, apa sih dengannya kenapa malah teringat hal-hal tidak senonoh itu?
"Ada Bubur yang tersisa sampai disana, kamu itu makan pelan-pelan,"
Stella yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti itu, wajahnya tiba-tiba menjadi memerah karena malu.
Astaga...
Paman Felix ini..
Paling bisa membuat kejutan, hampir membuat dirinya jantungnya, dan sekarang jantungnya berdetak seolah lebih cepat dari biasanya.
Sayangnya, adegan harmonis itu membuat beberapa orang merasa tidak senang.
Bibi Allen, yaitu Elena yang berniat untuk PDKT pada Felix, dengan mengantarkan Sarapan, merasa kesal didepan pintu.
Merasa rencananya sepertinya gagal gara-gara Stella sialan itu!
Huh, awas saja, main kali dirinya akan memiliki kesempatan baik untuk mendekati Felix.
Jelas, Felix gak mungkin benar-benar mau dengan wanita muda yang seumuran dengan Putranya bukan?
Lagipula setahu dirinya, Pernikahan mereka hanya Pernikahan Paksa, dimana Felix jelas sangat menentang pernikahan itu.
Itu hanya akal-akalan dari wanita murahan itu, untuk memasuki Keluarga Chastielo, lihat saja nanti dirinya pasti akan menemukan kebusukan dari Stella sialan itu!
Dengan ekpresi kesal, Elena segera pergi dari sana.
Kembali ke dalam ruangan, suasana mereka sangat harmonis.
Tiba-tiba, seseorang yang tadi tadi berbaring tidak berdaya ditempat tidur itu, mulai membuka matanya.
Hal pertama yang dirinya lihat ketika sadar, adalah adegan harmonis dan romantis didepannya antara Ayahnya dan Stella.
Entah kenapa perasaan Allen menjadi cukup rumit melihat itu, seolah rasa sakit entah bagaimana.
Namun Allen segera menghilangkan perasaan itu dalam sekejap, mulai kembali mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
Apakah dirinya bertengkar dengan seseorang, lalu dirinya malah jatuh ke jalan dan tertabrak mobil?
__ADS_1
"Ayah.... Aku... Aku kenapa?"
Mendengar suara itu tiba-tiba, segera membutakan lamunan Felix atau Stella game tenggelam dalam perasaan mereka menikmati kedamaian pagi itu.
Felix bara memalingkan wajahnya dan menatap ke arah Putranya yang akhirnya sadar dari Komanya itu.
Sudah satu Minggu, Allen terbaring tidak berdaya di ruangan rumah sakit ini.
Felix yang putranya itu akhirnya membuka matanya, merasa sedikit lega dan merasa sangat senang.
Segera Felix mengegam tangan Allen dan berkata,
"Kamu mengalami kecelakaan dan sempat koma selama satu Minggu, dan sekarang kamu akhirnya sadar, Allen jangan sampai kamu seperti ini lagi, ini benar-benar membuat Ayah takut dan panik melihat kamu yang seperti ini, kamu adalah Putraku yang berharga, jangan membuat Ayahmu ini khawatir seperti ini lagi,"
Allen yang baru sadar itu tentu saja masih sedikit linglung soal hal-hal yang terjadi.
Namun mendegar kata-kata penuh perhatian seperti itu, membuat hati Allen merasa sedikit lega.
"Ya... Aku tidak akan seperti ini lagi... Aku pasti sudah merepotkan banyak orang,"
"Report apa? Tentu saja tidak," kata Felix lagi.
"Aku akan segera memanggil dokter," kata Stella yang juga merasa ikut senang melihat reuni Ayah dan Anak itu.
Dirinya harap semuanya akan baik-baik saja, hubungan antara mereka berdua.
####
Berbeda dengan beberapa orang yang memiliki ekspresi senang, pagi itu disalah satu Rumah Sakit terlihat seorang Pemuda sedang mengantri disalah satu laboratorium disana.
"Apakah hasilnya sudah Keluar? Tes DNA yang aku kirimkan sebelumnya? Tes DNA Atas nama, Richard Maximilian dan Allen Chastielo,"
Seorang perawat yang menjaga tempat itu, segera mengecek data yang ada di komputer, lalu mengeluarkan sebuah amplop dan menyerahkan nya pada pemuda itu.
"Apakah anda Tuan Herry? Ini Hasil Tes DNA yang anda inginkan,"
Herry tersemyum, lalu mengambil amplop itu, benar-benar tidak sabar untuk melihat isinya.
Dan setelah melakukan beberapa prosedur tanda tangan dan lainnya, Herry segera pergi dari sana.
Dirinya masih menatap amplop di tangannya dengan gemetar.
Dirinya tentu saja merasa sedikit cemas dan takut dengan hasil ini.
"Tenang, bisa saja ini benar-benar tidak cocok,"
Dia mencoba berpikir positif, lalu mulai segera membuka isi Ampop itu.
Dan ketika dirinya mulai membaca kertas yang ada di dalamnya, hatinya benar-benar penuh kemarahan dan kekesalan.
"Sialan!! Ini benar-benar cocok dengan Ayah, Allen itu... Ternyata Anak Kandung Ayah, namun bagaimana ini bisa terjadi?"
Herry benar-benar diliputi emosi setelah membaca surat itu.
Sedang memikirkan apa yang sebaiknya dirinya lakukan dengan surat hasil Tes DNA ini.
Jelas saja, akan lebih baik jika hasil ini tidak diketahui oleh siapapun.
Akan lebih baik jika mencoba melakukan Tes atau mempegaruhi Allen itu agar mau Tes DNA dengan Ayah angkatnya, Felix Chastielo.
Dan lihat kekacauan apa yang akan terjadi setelahnya...
Huh, dirinya benar-benar menantikan pertunjukan yang bagus.
Namun yang jelas, Ayahnya tidak boleh sampai tahu soal hal ini.
Mari pikirkan itu nanti saja.
Herry yang melamun sambil berjalan dengan Surat Tes DNA itu, tidak sengaja malah bertabrakan dengan seorang gadis tertentu, sampai membuat kertas yang ada di tangannya jatuh.
Gadis yang menabrak Herry itu awalnya tidak siapa yang ditabraknya, jadi karena merasa bersalah, mencoba membantu mengambil kertas yang jatuh itu.
Namun ekpersinya segera berubah ketika tidak sengaja melihat nama dan tulisan dalam kertas itu.
Herry tentu saja segara meremas kertas itu, dan merebut paksa dari gadis itu.
"Jangan kamu menjadi lancang dan melihat barang-barang orang lain,"
Gadis itu menjadi terkejut juga ketika menatap Pria yang memiliki kertas itu.
__ADS_1
Herry sendiri, mengabaikan gadis itu dan segera pergi dari tempat itu.