Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 42: Orang dari Masalalu


__ADS_3

Hari baru akhirnya tiba, Stella tentu saja masih marah pada Felix soal hal-hal kemarin, bagaimana Felix itu malah tega menuduh nya yang macam-macam.


Hingga tadi malam, sepertinya Suaminya itu tidak tidur di kamar mereka namun entah tidur dimana.


Pagi ini, Stella benar-benar malas untuk bangun apa atau memasak untuk sarapan, dia segaja bangun siang untuk mencoba menghindari Felix.


Namun pada akhirnya, setelah selesai mandi, Stella masih bertemu Felix yang sedang memilih baju dikamar mereka.


Mereka saling tatap sebentar, Stella jelas sedang malas berdebat dengan Pria itu, namun nanti bahkan ketika dirinya berangkat bekerja mau tidak mau masih harus tetap mengobrol dan bertatap muka dengan nya bahkan masih melihat wajahnya ke manapun dirinya pergi nanti.


Hah, namun itu akan menjadi urusan nanti.


Jadi untuk saat ini, Stella terlalu malam untuk bicara dengan Felix.


Selama Felix memilih baju disana, Stella terlihat mengabaikan keberadaannya, dan memilih memainkan ponselnya ditempat tidur, namun terkadang masih mencuri tatap kearah Felix.


Felix juga melihat bagaimana Stella dari tadi menatap kearahnya, terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tidak mengatakan sesuatu dan terlihat mencoba mengabaikan dirinya.


Felix yang merasa diabaikan seperti ini tentu saja merasa tidak nyaman.


Dia lalu segera berkata,


"Masih marah padaku hah?"


Stella tentu saja mendengar kata-kata itu namun dia tidak membalas, dan malah lebih terlihat asik dengan ponselnya, bahkan sekarang mulai menyetel lagu, dan memakai earphone.


Melihat dirinya diabaikan itu, Felix mendatangi Stella, mencabut earphone dari telinganya.


"Apa-apaan sih, Paman! Paman menyebalkan!!"


"Aku dari tadi berbicara padamu, namun kamu malah mengabaikanku hah? Kamu sekarang menjadi berani!"


Ekspresi Stella menujukan ekpersi datar lalu segera berkata,


"Paman berbicara padaku? Aku kira Paman berbicara dengan tembok,"


"Sepertinya percuma berbicara denganmu,"


"Jika Paman pikir begitu, kenapa mengajakku bicara dari awal?"


"Hah, aku hanya ingin bilang apapun terjadi soal masalah kita, jangan kamu bawa ke Pekerja nanti, karena nanti akan ada Meeting Besar untuk mendapatkan salah Satu Proyek Besar,"


"Owh, jadi ini hanya soal Pekerjaan? Aku tidak peduli!! Aku tidak akan datang ke kantor!!!"


Felix lalu menatap Stella dengan ekpersi kesal.


"Terserah kalau itu maumu, jika kamu tidak datang, maka jangan pernah datang lagi ke Kantor selamanya!!"


"Cih, Paman mencoba mengusirku? Dengan Tempramen Paman yang mudah marah itu, jelas tidak akan ada Asisten yang betah menjadi Asisten Paman, akan sangat susah mencari orang menjadi Asistenmu, workholic dan mudah marah, siapa yang mau bekerja padamu?"


"Kamu ini, suka bicara sembarangan!! Sudahlah terserah kamu, dasar bocah menyebalkan,"


"Hey, siapa yang Paman sebut bocah?"


Namun Felix sudah lebih dulu masuk kekamar mandi untuk ganti baju.


Stella yang melihat itu, juga segera kembali melihat-lihat kearah ponselnya.

__ADS_1


####


Saat itu, Falix yang berada di kantor sendiri tanpa Stella benar-benar merasa kerepotan untuk mengerjakan semua dokumen yang ada di sana.


Dirinya tidak akan pernah mengira jika Stella itu, sinar berani tidak datang dan membuat masalah saja.


Namun bukan berarti dirinya membutuhkan Stella pula, huh dasar bocah, siapa yang butuh kamu?


Dengan itu, Felix sekali lagi mengurus hal-hal sendiri disana, sampia tiba-tiba dirinya mendapatkan panggilan dari Sekertarisnya untuk bersiap menuju ke Pertemuan dengan Klaien penting.


Namun siapa yang tahu, ketika Felix mencari berkas yang dibutuhkan untuk meeting nanti malah tidak ketemu.


"Sial, ke mana sih berkas itu? Mana Flashdisk nya juga tidak ada, haduh bagaimana ini? Mana sebentar lagi dirinya harus berangkat meeting ini benar-benar gawat,"


Felix jelas merasa kebingungan, mencari hal-hal itu.


Sampai tiba-tiba pintu ruangannya dibuka oleh seseorang.


Itu adalah Stella yang membawa beberapa dokumen ditangannya dan sebuah flashdisk.


Felix menatap gadis itu dengan ekspresi ke selalu segera bertanya,


"Mau apa kesini?"


"Apakah Paman mencari ini? Padahal aku sudah repot-repot membawakan barang barang penting ini namun apa sambutan Paman? Malah bersikap kasar seperti ini, padahal jelas ini karena Paman sudah menjadi pikun, pakai sampai melupakan haha penting ini gara-gara paman marah-marah sendiri dari tadi pagi,"


Felix menatap ada hal-hal yang di bawah Stella itu, lalu segera mengambil dari tangannya.


"Kamu harusnya tidak perlu repot-repot,"


"Hah, dasar Paman pelupa. Baik-baik jaga hal-hal itu baik-baik, aku pergi,"


Felix yang melihat Stella hendak pergi itu, jelas tiba-tiba memiliki perasaan tidak enak.


Dirinya jelas masih marah tentang hal-hal yang semalam.


Namun saat ini, akan segera ada sebuah meeting penting dan dirinya benar-benar membutuhkan Stella.


Namun, Felix sendiri tidak mau mengalah dan mencoba memohon pada Stella itu.


Jadi Felix mencoba mencari beragam alasan, sampai akhirnya menemukannya.


"Heh, mau pergi ke mana kamu? Enak saja, kamu datang dan pergi sesukamu, jelas hal-hal buruk aku alami selama pagi ini gara-gara kamu tidak ke kantor, kamu jelas harus bertanggung jawab dan menemaniku pergi Meeting siang ini,"


"Bertanggung jawab apa? Itu semua jelas karena Paman yang ceroboh dan pelupa kenapa musti menyalahkanku. Itu bukan tanggung jawabku sama sekali,"


"Kamu ini, paling bisa membuat alasan, kalau memikirkannya lagi, kenapa pula aku harus bertanggung jawab menikah denganmu sebelumnya? Hal itu bukan salahku, kenapa Pernikahanmu Batal,"


"Jadi Paman masih mengungkitnya?"


"Jelas, lah akan mengungkitnya, karena aku merasa kamu membuat alasan yang dibuat-buat menyuruhku bertanggung jawab untuk hal-hal yang tidak aku lakukan,"


"Namun Allen Putra Paman!!"


Setelahnya, Stella ingat fakta lainnya yang barusan dirinya ketahuani.


"Tidak, bahkan walaupun Allen bukan Putra Kandung Paman, dia masih Putra angkat Paman!!"

__ADS_1


"Stella!! Aku bilang padamu jangan pernah mengungkit hal-hal itu lagi! Atau kamu memang sengaja mengatakannya?"


"Lalu, Paman juga tidak usah mengungkit soal alasan kita menikah!! Kita toh sudah resmi menikah,"


"Lalu, kamu seharusnya sadar jika kamu sekarang adalah Istriku, jangan kamu terus mengurusi soal Allen dan Pernikahannya itu,"


"Paman, makin kesini pembicaraannya semakin ngelantur. Baik, aku akan menemani Paman untuk pergi Meeting, dan untuk urusan Pernikahan Allen, aku tidak ingin membicarakan nya sekarang benar-benar membuat mood ku menjadi buruk,"


Pembicaraan mereka pun berakhir dengan Stella kembali kemejanya di depan pintu ruangan Felix untuk menyiapkan bahan bahan tambahan untuk meeting selain dengan hal-hal yang tadi dia serahkan pada Felix.


Felix pun, tidak lagi menambah alasan untuk berdebat dengan Stella, karena memang masih ada ha penting yang harus dirinya urus.


Meeting ini sangat penting, karena project ini jadi dapatkan bisa mempengaruhi secara signifikan tingkat penghasilan perusahaan.


Jadi, dirinya tidak boleh lengah dalam hal ini, tidak boleh sampai ada kesalahan, harus sempurna dan didinya harus memenangkan tender ini.


Termasuk, dirinya masih membutuhkan Stella untuk hal-hal ini.


Dan begitulah akhirnya, mereka berdua sepakat untuk segera berangkat ke meeting itu.


####


Ketika Felix dan Stella tiba di gedung tempat mereka akan mengadakan Meeting, berapa orang yang terlihat dari perusahaan lainnya, sudah sampai di sana.


Felix merasa, dirinya udah termasuk yang terakhir untuk datang, penajam sudah menunjukkan jam segini, waktu meeting akan segera dimulai.


Namun sepertinya, setelah Felix melihat sekeliling terlihat masih ada satu perusahaan yang belum datang.


'Huh? Ternyata ada juga Perusahaan yang belum datang dan cukup menyepelekan hal-hal ini,' pikir Felix dalam hati.


Kamu dia tidak terlalu peduli dengan harga ini karena itu bukan urusannya.


Sampai kemudian, Kalien penting datang ke Ruang Rapat itu bersama dengan seseorang.


Felix yang menatap orang yang datang dengan Klaien itu, jelas sangat kaget, Felix hampir saja menjatuhkan gelas yang ada di hadapannya.


Orang itu, kan pakaian yang rapi dan sopan, terlihat berbincang-bincang hangat dengan Klaien itu.


Namun segera, orang itu pergi ketempat duduknya, yang kebetulan ada disamping Felix.


Pria itu menatap Felix sambil tersenyum, dan berkata,


"Apa kabar, Felix Chastielo, lama sudah lama tidak berjumpa..."


Namun Felix tentu saja masih mematung dan tidak percaya ketika menatap wajah itu.


"Kamu...."


Ekpersi Felix terlihat pucat, Stella yang melihat itu tentu saja mulai bertanya-tanya tentang siapa Identitas Pria itu, sampai bisa membuat wajah dingin Paman Felix itu menjadi seperti itu.


Stella sendiri tidak tahu apa yang orang itu bicarakan, karena dia berbisik-bisik pada Felix.


Sungguh, hal-hal ini tidak bisa dirinya percaya....


Felix sendiri masih tidak bisa merespon ketika Pria itu mulai berbisik padanya,


"Terkejut melihat aku masih hidup? Lihat, Felix mulai hari ini aku tidak akan membuat hidupmu tenang,"

__ADS_1


__ADS_2