
"Jujur apa? Aku tidak pernah berbohong," kata Felix lagi masih mencoba mengelak.
Stella diam sejenak lalu tertawa,
"Tentu saja tentang kita, jujur saja Paman pasti menikmati melakukannya denganku,"
"Jangan bicara omong kosong,"
"Paman, sebelum kita memasuki pulau ini bukankah kita menyetujui untuk melakukan hal-hal menyenangkan? Kenapa Paman harus menolak? Setidaknya, hanya di sini sedikit jujur tidak apa-apa,"
"Sudahlah, berhenti bicara macam-macam,"
Melihat Pria itu masih menghindar, tidak masalah sama sekali.
Toh, malam masih panjang.
Keduanya, lalu kembali menikmati makan malam mereka dengan tenang dengan sesekali mengobrol tentang beberapa hal.
Sampai akhirnya, sebelum acara itu selesai, ada sebuah musik yang diputar.
Musik klasik yang disisipkan untuk dansa.
Para Pelayan terlihat tersenyum menyapa mereka berdua ketika mempersilahkan tempat dansa untuk mereka yang berada tepat di samping lokasi makan malam.
Lokasi yang penuh sekaliling dengan lampu warna-warni yang terlihat sangat indah di malam hari.
"Astaga, bahkan ada acara seperti ini?"
"Hah, benar-benar acara yang tidak berguna,"
Ekspresi Stella jelas kesal setelah mendengar itu.
"Sudahlah, Paman sekarang nikmati saja dulu acaranya,"
"Terlalu merepotkan,"
"Ayolah, Paman ini hanya berdansa apa susahnya? Apa Paman sebenarnya tidak pernah berdansa?"
"Baik-baik,"
Felix yang lelah itu, lalu segera mengajak Stella untuk berdansa, mulai mengulurkan tangannya.
Awalnya, Felix tidak begitu menyukai hal-hal ini, namun setelah Stella tepat dihadapannya, dan berdansa dengannya, entah kenapa dirinya menjadi berdebar lagi.
Ya, berada dengan jarak dekat dengan wanita secantik ini, laki-laki mana yang tahan?
Senyumannya, yang menenangkan hati, dan bagaimana Stella sekarang menjadi diam, terlihat telinganya sedikit memerah karena malu.
Benar-benar ekpersi yang mengemaskan.
Mungkin karena terbawa suasana yang bagus, Felix lalu mulai mendekat kearah Stella, dan menciumnya untuk ketiga kalinya hari ini.
Rasanya, walaupun hanya di pulau ini, tidak masalah untuk bersenang-senang, seperti apa yang Stella katakan sebelumnya?
Melepaskan semua rasa sedih, dan menikmati hari ini hanya ada mereka berdua, hanya mereka berdua yang tahu.
Ciuman itu cukup dalam, seolah paling mengiginkan satu sama lain, sebuah ciuman yang membuat candu.
__ADS_1
Dan ketika ciuman dilepaskan, tatapan mereka langsung bertemu.
Tatapan penuh keinginan dan meminta lebih.
Bahkan tanpa kata-kata keduanya mengerti, mungkin ini adalah saatnya untuk mengikuti naluri mereka dan tenggelam dalam keinginan.
Tidak masalah.
Hanya malam ini saja.
Keduanya, lalu segera pergi dari tempat itu.
Mencari tempat yang lebih sepi, hanya untuk mereka berdua tanpa pandangan dari para pelayan.
Yaitu, kamar Villa tidak jauh dari situ.
Tepat ketika mereka memasuki kamar, seolah keduanya kerasukan, mereka langsung berciuman.
Dan tidak lama, sampai Felix membawa Stella ketempat tidur.
Mereka melakukannya benar-benar tanpa kata-kata.
Menikmati kesenangan ini bersama.
Felix lalu kembali menatap wanita dalam pelukannya ini, mencoba mencari kepastian sekali lagi.
"Tidak apa-apa, mari lanjutkan," kata Stella.
Felix juga tahu, apa maksudnya, dirinya segera mengambil sesuatu dari laci kamar itu, membuat Stella terkejut dengan barang yang di bawanya.
"Astaga, bahkan ada sesuatu seperti ini?"
Secara perlahan, mereka saling membuka baju masing-masing untuk perlahan memulai kegiatan malam mereka, sambil terus berciuman.
Hal-hal benar-benar berjalan dengan cepat ketika, Felix memulainya.
"Aku akan melakukannya, tahan sebentar,"
"Hmm, lebih lembut dan pelan-pelan...."
Mereka berdua mulai menikmati malam itu, permulaan dari malam itu.
Sampai kemudian, ada sebuah ketukan pintu ketika semuanya dimulai.
"Astaga! Apa-apaan dengan pelayan disini?" Keluh Felix dengan kesal, jelas karena dirinya sedang memulai adegan berbahaya malam ini, sedang tanggung-tanggungnya.
Pelayan dari luar, jelas merasa takut, namun dengan penuh keberanian berkata dari luar.
"Maaf, Tuan Felix, kami baru saja menerima kabar, jika Tuan Muda Allen baru saja mengalami Kecelakaan tadi siang, jantungnya sempat berhenti, namun untungnya dia masih selamat namun saat ini sedang masa kritis, karena susahnya sinyal, jadi kami baru menerima kabar ini sekarang, namun kami belum mendapatkan kabar berikutnya lagi,"
Felix dan Stella yang berada dikamar jelas menjadi begitu kaget dengan kabar itu, sampai melupakan hal yang mereka lakukan.
Felix, segera bangun dari posisinya, tidak memikirkan Stella yang merintih kesakitan itu.
"Apa tadi kamu bilang?"
Pelayan dari luar yang mendengar itu segera mengulang perkataannya.
__ADS_1
"Tuan Muda Allen saat ini dalam keadaan Kritis di Rumah Sakit,"
Mendengar itu lagi, jelas Felix menjadi gemetar tidak berdaya, hampir terjatuh dilantai.
Stella segera memakai selimutnya, mendekati Felix.
Stella jelas melihat ketakutan dalam wajah itu.
"Allen...."
Jelas, ini langsung mengingatkan Felix pada kejadian dimasalalu, dirinya ingat ketika dirinya pergi ke Luar Kota, Istrinya Shopia terjatuh dan hampir keguguran saat itu, yang pada akhirnya akibat kejadian itu, secara tidak langsung membuat dirinya kehilangan Shopia.
Hanya mengingatnya saja membuat dirinya gemetar dan takut.
Stella juga saat menyentuh Pria itu, merasakan keringat dingin dan gemetar.
Dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Paman, aku yakin Allen akan baik-baik saja,"
Felix tidak menjawab, dan kembali berdiri, dan mulai memakai pakaiannya.
"Kita akan segera pulang malam ini, kamu segera berpakaiannya,"
Stella terkejut dengan hal itu,
"Apakah bisa?"
"Ada Jet Pribadi di Pulau ini untuk situasi mendesak, aku akan menyuruh Pelayan disini untuk menyiapkan semuanya...."
Stella jelas, langsung mengikuti instruksi dari Paman Felix itu.
Yah, walaupun dirinya memiliki beberapa kebencian pada Allen, namun mendegar kabar jika Allen hampir mati ini jelas membuat dirinya sedih.
Dan ini jelas hal yang cukup menyakitkan juga untuk Paman Felix.
Stella tahu, bahwa Paman Felix ini sangat menyayangi Putranya itu.
Hah, kenapa hal-hal bisa terjadi seperti ini sih....
Pada akhirnya, malam itu tidak berakhir dengan indah sesuai yang Stella inginkan.
Keduanya, akhirnya pergi dari Villa itu dan buru-buru menaiki Jet Pribadi yang sudah disiapkan.
Saat memasuki Pesawat itu, jelas Stella melihat ekspresi kesedihan mendalam pada Felix.
Dan ketika sampai didalam Pesawat, Stella segera memeluk Felix.
"Paman, jangan menjadi terlalu khawatir, aku tahu ini sulit, kita berdua hanya bisa berdoa dari sini agar Allen baik-baik saja, aku yakin Allen baik-baik saja, bukankah Paman sendiri yang pernah bilang? Jika Allen adalah anak yang kuat? Dia pernah mengalami beberapa kejadian sebelumnya,"
Felix yang mendengar itu, juga mulai mencoba memikirkannya.
Allen Putranya, itu ketika masih dalam kandungan sudah memiliki banyak masalah, namun akhirnya dia bisa terlahir dengan selamat.
Dulu, ketika Allen kecil, anak itu juga pernah mengalami kecelakaan besar, walaupun berkat kejadian itu terungkap fakta menyakitkan, Allen pada akhirnya kembali dengan selamat.
"Ya, semoga Allen baik-baik saja.... Sejujurnya aku begitu takut, untuk kehilangan Allen, aku juga ingin melihat dia bahagia, namun aku tidak tahu bagaimana cara membuat dia bahagia.... Memikirkan tindakanku selama ini, aku merasa aku tidak adil padanya, dan bukan Ayah yang baik dan tidak membesarkannya dengan baik... Hanya hal-hal menjadi begitu sulit antara kami, tapi aku benar-benar tidak ingin kehilangannya,"
__ADS_1
Stella, mempererat pelukannya, mencoba menenangkannya Pria itu.
"Sudah, Paman tidak perlu terlalu banyak berpikir, tenangkan dulu pikiran Paman,"