Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 74: Permainan Malam itu


__ADS_3

Stella yang mendengar kata-kata dari Paman Felix itu yang seperti tidak segan-segan, apalagi dengan ekpersi datar itu, membuat Stella merasa malu, entah yang di katakan itu benar-benar nyata atau tidak, apakah dengan ekpersi datar dari Suaminya itu.


Pasalnya, dirinya ingat malam pertama mereka, dimana Suaminya itu bermain tidak segan-segan malam itu, itu saja dirinya harus memohon agar berhenti supaya Suaminya itu selesai.


Jika, tidak....


Esoknya, jelas dirinya tidak akan bisa bangun dari tempat tidur.


Sungguh, padahal Suaminya itu sudah berumur, kenapa permainan malamnya masih hebat sampai membuat dirinya yang masih muda ini kewalahan?


Astaga....


Jika dirinya tidak bisa bangun, gagal sudah rencana keliling pulau.


"Tidak Paman, tidak, tidak terimakasih," kata Stella segera menutupi tubuhnya dengan kemeja Felix lebih erat.


Felix juga tidak mengerti soal omong kosong yang barusan dirinya katakan.


Dirinya hanya asal bicara, namun sepertinya Stella mengagap itu serius.


Ayolah, kenapa Stella menjadi begitu takut seperti itu?


Apakah dirinya benar-benar sangat buruk saat melakukannya sebelumnya hingga membuat Stella takut?


Padahal jelas tadi Stella sendiri yang memulai duluan.


"Apakah aku melakukannya dengan buruk sebelumnya?"


Pertanyaan itu tanpa sadar keluar karena rasa ingin tahu mendalam dari Felix.


Stella tentu saja menjadi begitu kaget dengan pertanyaan tiba-tiba itu.


Tidak akan pernah mengira jika Suaminya ini benar-benar akan menanyakan soal hal ini.


Stella jelas saja merasa sangat malu jika harus menjawabnya dengan jujur.


Namun jika dirinya berbohong, jadinya takut itu hanya akan membuat marah Paman di depannya ini.


Paman Felix ini kan agak gampang tersinggung.


Namun, tidak mungkin jika dirinya menjawab sesuatu seperti, malam itu sangat menyenangkan dan membuat dirinya hampir candu mengiginkan lagi.


Muka Stella jelas menjadi memerah hanya dengan membayangkan kejadian malam itu.


Malam itu, dirinya benar-benar untuk pertama kalinya melihat dari dekat tubuh seorang Pria yang....


Stella segera memalingkan wajahnya, lalu berkata pelan sekali,


"Itu tidak buruk,"


Felix yang bertanya itu, merasa malu juga dengan pertanyaan Implusifnya itu.


Bisa-bisanya dirinya menanyakan hal-hal aneh semacam itu.


Ini terlalu memalukan untuk di tanyakan, rasanya dirinya ingin bersembunyi di dalam lubang setelah mengajukan pertanyaan itu.


Terlebih, dirinya melihat Stella terdiam sejenak, seolah sedang berpikir keras tentang bagaimana menjawab itu.


Dan apa tadi jawabannya?


Stella benar-benar mengatakannya dengan pelan.


"Aku tidak dengar," kata Felix berikutnya.


Jelas, hal itu malah membuat Stella makin malu.


Stella saja memalingkan mukanya, dan berkata lagi dengan suara cukup lebih keras untuk bisa di dengar Felix.


"Itu tidak buruk,"

__ADS_1


Mendengar jawaban itu entah kenapa, Felix menjadi tersemyum tiba-tiba.


Stella yang berbalik itu dan melihat senyuman itu tiba-tiba menjadi kaget.


Astaga, ada apa ini kenapa Paman jnj tiba-tiba tersemyum?


Padahal sepertinya tidak ada badai tidak ada hujan?


"Sudahlah, mari segera kembali ke Penginapan, Paman ini jangan banyak omong kosong,"


Felix yang dirinya ditutuh berbicara omong kosong itu jelas saja tidak terima.


"Kamu sendiri yang dari tadi bicara omong kosong malah menuduhku,"


Stella lebih memilih untuk tidak menanggapinya dulu karena dirinya masih merasa malu dengan kata-katanya yang sebelumnya.


Melihat dirinya tidak ditanggapi itu, Felix juga tidak bermaksud untuk melanjutkan pembicaraan takut-takut malah membuat dirinya menjadi semakin malu.


Dan akhirnya ketika mobil yang menjemput mereka datang, mereka menaiki mobil itu dalam keheningan dan kecanggungan sampai mereka tiba di Penginapan yang sudah di siapkan.


Desain penginapan itu merupakan sebuah Villa kayu yang terlihat sangat autentik.


Ketika memasuki Villa itu, jelas Stella sangat senang.


"Wow, tempat ini sangat indah, benar sangat cocok untuk acara Bulan Madu seperti ini,"


Mendengar perkataan Stella tiba-tiba itu, Felix lalu segera menangapi.


"Memang, Villa disini juga di kelola oleh Perusahaan Chastielo, Prostek pariwisata untuk tempat ini sebenarnya cukup bagus terutama untuk Kalangan Atas dan Kalangan Elite yang biasanya sangat suka Pulau Pribadi semacam ini,"


"Begitu, mari segera ke kamar, Aku benar-benar lelah dan ingin segera berbaring,"


Seorang Pelayan sebelumnya sudah meletakkan barang-barang mereka di kamar jadi mereka berdua hanya tinggal masuk tanpa membawa terlau banyak hal.


Namun Stella menjadi sangat terkejut ketika memasuki kamar mereka.


Kamar itu di dekorasi yang sangat cocok untuk Pengantin Baru.


Yah, ini cukup masuk akal juga sih, mengingat ini awalnya adalah Paket Bulan Madu.


Felix sendiri yang menatap desain ruangan, apalagi melihat tempat tidur berbentuk hati, ekpersinya benar-benar tidak bisa terkatakan.


"Astaga, ini benar-benar di desain untuk Pengatin Baru, namun jika di pikirkan lagi, bukankah kita berdua juga masih Pengantin Baru?" Kata Stella lalu segera merangkul tangannya Suaminya itu.


"Ya itu benar, belum ada sebulan kita menikah, ini malah baru Minggu kedua,"


"Hehe, berati benar-benar bisa dianggap sebagai Bulan Madu kita?"


Felix yang mendengar itu jelas mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Bukankah tadi kamu ingin berbaring? Sana tidur sana,"


Melihat ekpersi ketidak tertarikan dari Suaminya itu, Stella segera melepaskan rangkulannya.


"Ah, Paman Felix tidak asik sama sekali,"


Stella segera duduk di tempat tidur.


"Heh, kamu tidak ingat jika bajumu itu basah?"


Mendengar kata-kata itu, Stella lalu kembali menatap kearah bajunya, dan benar ini masih basah.


Dan lagi, dirinya yang merangkul Paman Felix itu membuat kaos yang Felix pakai basah juga.


"Hehe, sepertinya aku akan segera mandi,"


"Sana cepat mandi,"


"Paman tidak mau ikut?" Goda Stella lagi.

__ADS_1


Felix yang lagi-lagi di goda itu, tentu saja sudah terbiasa.


Jelas, ingin membuat Stella merasa malu, sendiri, dengan cara segera menarik Stella menuju kearah kamar mandi.


Membuat Stella syok.


"Ih, Paman Felix apa-apaan...."


"Bukannya tadi kamu ingin mandi bersama? Ayo, langsung saja, tidak perlu membuang waktu, ini lebih menghemat waktu pula, jadi aku tidak perlu repot-repot menunggu lama kamu selesai mandi,"


Jelas, ketika Felix berkata seperti ini, wajah Stella menjadi merah padam.


Dari ini, Felix akhirnya menyadarinya, Stella ini hanya pandai bicara, namun ketika hal-hal harus di lakukan, Stella ini benar-benar akan mati kutu.


Sekarang dirinya akhirnya menemukan kelemahan kecil dari wanita muda didepannya ini.


Hal-hal ini terlintas cukup mengemaskan juga.


"Tidak, tidak udah repot-repot, aku akan cepat mandi didalam,"


Kata-kata Stella barusan, benar-benar tepat sesuai dugaan Felix, dirinya lalu segera menarik Stella masuk ke kamar mandi, ingin mengodnya lebih dalam.


Hitung-hitung sebagai pembalasan karena dari tadi Stella selalu iseng padanya.


Stella yang saat ini berada didalam kamar mandi itu bersama dengan Felix, tentu saja menjadi diam seribu bahasa.


Karena tidak tahu harus berbuat apa.


Apalagi sekarang Stella melihat Pria didepannya itu, mulai melepasjan kaos tipis yang di pakainya.


Astaga....


Paman Felix ini rupanya benar-benar sudah gila!!!


"Apa yang Paman Lakukan?"


Felix lalu mendekat ke Stella, mencoba memojokkannya.


"Apa lagi? Tentu saja melepas baju, kan akan mandi, masa aku masih pakai baju?" Felix terlihat sekarang sudah melepaskan kaosnya itu, hingga dia hanya memakai celananya.


Jelas, pemandangan Pria setengah telanjang itu membuat Stella merasa malu, dan segera menutup matanya.


Melihat ekpersi itu, Felix jelas tidak tahan, semakin mendekati kearah Stella.


Jarak mereka sekarang begitu dekat, karena Stella sudah terpentok dinding kamar mandi.


Tangan Felix sekarang berada di tangan Stella, hendak melepaskannya tangan Stella yang menutupi mata Stella itu.


"Apa lagi yang membuatmu malu? Kamu toh sudah melihat segalanya sebelumnya,"


Kata-kata ini terlihat familiar sekali, hanya saja posisinya sekarang dibalik.


Stella juga sekarang sadar jika Pria didepannya ini hanya berbuat iseng padanya, segera melepaskan tangannya.


Dan kali ini tatapan mereka bertemu.


Felix juga menjadi terkejut tiba-tiba menatap langsung mata Stella, apalagi wajah Stella yang masih memerah itu dan terlihat mengemaskan.


Sampai tanpa sadar, Felix mendekatkan bibirnya, lalu mencium bibir wanita didepannya ini.


Ini semua hanya insting karena suasana yang mendukung.


Felix juga tidak tahu apa yang merasukinya sampai melakukan ini lagi.


Stella juga tidak tahu harus berbuat apa...


Hanya saja...


Ciuman ini benar-benar sangat manis...

__ADS_1


Terlalu manis untuk di tahan...


Tanya Stella segera bergerak melingkari leher Felix, untuk mencoba mendapatkan posisi yang nyaman dalam ciuman ini.


__ADS_2