
Siang itu, Felix masih terlihat sibuk dengan dokumen-dokumen di mejanya untuk dia kerjakan.
Ada beberapa project baru yang masih menumpuk.
Belakangan memang perusahaan mereka tengah mencoba meningkatkan pendapatan Perusahaan, bisa dibilang saat ini adalah saat paling sibuk di perusahaan.
Ketika Felix sedang sibuk-sibuknya itu, tiba-tiba pintu ruangannya itu diketuk oleh seseorang.
Felix tentu saja tahu siapa itu, itu adalah Asisten Pribadinya yang mengurusi semua keperluan nya di perusahaan dan membantunya menghandle jatwal miliknya.
"Ya, masuk."
Asisten itu lalu segera masuk, dalam ruangan itu dan menghadap Atasannya itu.
"Apakah kamu sudah menyiapkan berkas yang aku minta?"
"Tentu, saya sudah menyiapkannya dan saya juga sudah mengatur jadwal Rapat hari ini, Bapak nanti bisa melihat email yang saya kirimkan," kata Asisten itu sambil menyerahkan beberapa dokumen di sana.
Felix mengambil dokumen itu dengan cukup puas.
Namun Felix langsung menjadi heran melihat Asistennya itu masih tetap berdiri di hadapannya.
"Apakah kamu ingin mengatakan sesuatu?"
Asisten Perempuan itu terlihat cukup cukup ketika ingin berbicara pada Atasannya itu, sedikit bingung harus memulai dari mana.
Karena Asisten itu juga tahu, jika bulan-bulan ini merupakan bulan paling sibuk di Perusahaan.
Namun dirinya juga tidak memiliki pilihan lainnya.
Jadi dengan sisa-sisa keberanian yang dia miliki, dia segera berkata,
"Begini Pak Presdir, sebenarnya saya ingin Resign dari menjadi Asisten Bapak,"
Felix segera memiliki ekspresi terkejut ketika mendengarnya.
"Kenapa tiba-tiba? kamu juga tahu jika saat ini perusahaan sedang masa sibuk-sibuk nya, kami membutuhkan banyak tenaga ekstra untuk mengawasi berbagai proyek yang saat ini sedang berjalan, dan tentu saja aku sangat membutuhkanmu sebagai Asistenku, kamu cukup baik dan cakap tentang hal-hal ini,"
"Itu.... Saat ini saya tengah hamil Muda, Suami saya sudah cukup cemas soal ini, karena kandungan saya cukup lemah dan butuh banyak Istirahat, jadi dia memintaku untuk tidak pergi bekerja dulu, ini adalah calon anak yang sudah lama kami harapkan jadi... Jadi..." Kata Asisten itu mencoba menjelaskan
Melihat ekpersi cemas itu, Felix juga mengerti.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak bisa dihindarkan.
Setahu dirinya, Asistennya ini sudah menikah dari lima tahun yang lalu, wajah jika mereka segera menantikan untuk calon anak mereka, dan sekarang mereka diberi kesempatan mereka jelas akan sangat memperhatikan tentang kehamilan itu.
Tapi memang saat ini sedang sibuk-sibuknya, dan cukup susah untuk mencari Asisten seperti dia.
Felix terdiam dan berpikir sebentar, sedangkan Asisten itu menjadi cukup cemas, menunggu keputusan Atasannya itu.
"Baiklah, aku mengijinkanmu untuk Resign, dan akan memberikan surat rekomendasi, jadi jika urusanmu sudah selesai kamu mungkin bisa kembali ke sini lagi, di masa depan,"
Mendengar keputusan bijaksana yang diluar dugaan itu, jelas Asisten itu sangat senang.
"Terimakasih banyak Pak Felix, Bapak sangat baik sekali!"
"Tapi sebelum kamu resign, kamu membatuku dulu untuk Proyek di Kota C, setelahnya membantuku untuk menemukan Asisten baru, cukup susah menemukan pengganti yang cakap sepertimu,"
"Baik Pak, saya akan coba melakukannya,"
"Ya, tentu saja. kamu juga tidak perlu untuk kerja lembur lagi mengikutiku, pulanglah lebih awal nanti, dan hari-hari berikutnya,"
Asisten itu juga sangat senang mendengar itu, dia keluar ruangan dengan bahagia.
Ternyata Pak Presdir ini cukup baik, sangat berbeda dari rumor-rumor yang beredar.
Di dalam ruangan saat ini, Felix masih merasa sedikit pusing memikirkan soal mencari Asisten baru.
Ini pasti juga akan merepotkan untuk melatih Asisten baru, dan pasti akan membutuhkan waktu dan tenaga, jelas Asisten lamanya ini tidak bisa melakukan hal-hal itu.
Hah, nanti saja dipikirkan, dirinya akan mencoba berkonsultasi dengan HRD nanti.
Telah memikirkan hal-hal itu sebentar, Felix kembali fokus ke dokumen-dokumen yang ada di depannya untuk dia kerjakan dan pelajari.
__ADS_1
Sampai waktu makan siang tiba, Felix masih terlihat asik dengan dokumen-dokumen itu sampai sebuah pesan muncul ke ponselnya.
Ini dari nomor tidak dikenal?
'Felix Sayang, kamu Jangan lupa untuk memakan bekal buatanku. Ini sudah jam makan siang kamu tidak boleh telat makan,'
Dan ada tulisan lagi di bawahnya,
'Dari Stella Istrimu Tercinta,'
Ekspresi Felix menjadi cukup rumit ketika mendengar nama ini.
Dirinya sejujurnya tidak tahu harus berbuat apa, apalagi setelah Stella tahu rahasia yang dirinya simpan bertahun-tahun....
Ini, jika sampai Stella memanfaatkan hal-hal ini....
Dan sampai Allen tahu....
Namun ketika Felix masih sibuk dalam pikirannya itu tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan nya.
Dan segera sosok yang tidak akan Felix kira, masuk kedalam ruangannya.
Itu adalah Putranya Allen.
"Apakah ada sesuatu untuk kamu kesini?"
Allen juga tidak tahu harus berkata seperti apa.
Dirinya dan Ayahnya tidak benar-benar memiliki hubungan yang terdekat, jadi cukup canggung ketika ingin mencoba mengajak Ayahnya itu makan siang bersama.
Felix lalu melihat kotak bekal di tangan Allen.
Felix lagu teringat kejadian tadi pagi dimana Stella tidak hanya memberi dirinya bekal makan siang, namun juga memberikan hal yang sama kepada Allen.
Sungguh dirinya tidak tahu apa maksud dari wanita itu.
"Bagaimana jika makan siang bersama?"
Melihat Putranya ini tiba-tiba menjadi penurut pasti ada maunya.
"Duduklah di sofa, aku akan segera kesana setelah membereskan ini dulu,"
Felix segera membereskan dokumen di mejanya agar tertata rapi.
Jadi mari dengarkan apa yang Putranya ini minta?
Allen selalu menjadi anak yang patuh selama bertahun-tahun, tidak pernah meminta apapun dari dirinya selama ini, terutama setelah dia sudah cukup besar, dulu ketika dia masih anak kecil, dia selalu meminta berbagai hal padanya, terutama di hari ulang tahunnya.
Hanya sejak kejadian itu, dirinya mulai sedikit menjaga jarak dari Putranya, dan akan menolak permintaan nya, karena perasaannya masih menjadi begitu rumit ketika menatap Allen.
Dan setelahnya, Putranya tidak pernah meminta apapun.
Hanya, beberapa hari lalu saat dia ingin membatalkan Pernikahannya, adalah satu-satunya permintaan Allen untuk sekian lama.
Kira-kira apa permintaan tidak masuk akal dari Putranya kali ini?
Apakah ini masih soal keinginannya untuk menikahi Cynthia Chastalope itu?
Memikirkan kejadian-kejadian itu membuat Felix merasa malu, bagaimana Putranya itu kelak hal-hal memalukan, dan berselingkuh seperti itu.
Segera, Felix mengambil bekal di mejanya, dan menuju sofa menyusul dengan Allen.
Keduanya sekarang duduk berhadapan dengan bekal di depan mereka.
Allen tentu saja sudah mengganti tas bekal itu.
Namun kotak bekal tidak bisa diganti, dan tetap berwarna pink yang memalukan.
Felix yang melihat bagaimana Allen memengang kotak bekal ini, tiba-tiba saja ingin tertawa.
Sungguh, kelakuan Stella itu ada-ada saja.
__ADS_1
Tunggu, kenapa dirinya malah memikirkan soal wanita itu?
Sial.
Ini tidak bisa terjadi.
Felix juga segera mengeluarkan kotak bekal itu.
Felix lalu membuka kotak bekalnya, yang isinya sekarang cukup mengejutkan.
Bekal yang Stella antarkan tempo hari memiliki penampilan yang biasa-biasa saja.
Namun penampilan bekal ini...
Degan bentuk nasi love-love dan berbagai atribut lain yang melambangkan hati itu, terlihat cukup memalukan.
Felix lalu segera menatap kearah bekal milik Allen.
Kemudian Felix tidak bisa menahan tawanya.
Itu benar-benar bekal berbentuk HelloKitty seperti tempat bekalnya.
"Ayah jangan tertawa," kata Allen yang saat ini memiliki ekspresi kesal di wajahnya.
"Baik-baik, jadi nikmati saja makanannya,"
Allen juga menatap kearah bekal yang Ayahnya pegang.
Itu sebenarnya cukup mirip dengan Bekal yang dulu sering Stella buatkan untuknya, walaupun dirinya tidak begitu menyukai dekorasi berlebihan itu dan selalu komplain, namun sekarang ketika memikirkannya...
Allen yang pikirannya mulai kemana-mana itu, segera kembali fokus untuk makan.
Sambil memikirkan tentang apa yang coba dirinya bicarakan pada Ayahnya.
Mereka berdua pada akhirnya makan siang dalam diam.
Sampai bekal habis, Felix yang melihat dari tadi Putranya itu ragu-ragu, lalu bertanya,
"Coba katakan saja apa yang kamu Inginkan kali ini. Namun aku sudah menebak apa yang kamu inginkan, apakah ini soal kamu yang ingin menikahi Cynthia itu?"
Allen dengan ragu lalu menjawab,
"Ya..."
"Tidak. Kamu tidak bisa menikah dengannya," kata Felix dengan tegas.
"Kenapa Ayah tidak setuju? Ini pasti pengaruh Stella itu!!"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Stella. Aku hanya beranggapan jika seorang gadis yang berani mendekati pria yang sudah bertunangan pasti bukan gadis yang baik,"
Mendengar jawaban tegas itu, Allen masih mencoba membela,
"Dia tidak seperti itu...."
"Tidak seperti itu bagaimana? Jelas saat itu kamu sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah, namun dia berani dekat-dekat denganmu, apa itu bukan karena dia menginginkan sesuatu darimu? Atau jangan bilang kamu saja yang hidung belang, dan memang dasarnya sangat suka bermain-main dengan hati wanita,"
"Aku tidak!!" Tolak Allen.
"Lalu apa?"
"Ayah tidak mengerti apapun.... Aku.... Aku harus menikah dengan Cynthia... Tidak bisa tidak..."
Mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu, dan melihat ekspresi Allen yang penuh dengan rasa cemas itu, Felix lalu mulai memikirkan beberapa skenario di kepalanya.
"Jangan bilang kamu membuat dia hamil?"
Allen diam.
Melihat Putranya itu diam, kemarahan Felix akhirnya muncul.
"Allen!! Jawab apa yang Ayah Katakan!! Jangan diam saja? Hah? Kamu benar-benar melakukan hal itu Hah?"
"Ayah.... Ini..."
__ADS_1
Allen juga tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana, dirinya tidak mengira jika Ayahnya memiliki Insting yang bagus.
Jelas dari awal, Allen tidak berniat untuk menceritakan hal-hal ini pada Ayahnya.