
Melihat bagaimana Putranya mencium dan menyatakan cintanya itu pada Stella, dalam hati Felix menjadi begitu marah dan terluka entah kenapa.
Kenapa dirinya melihat semua itu membuat dirinya merasa hatinya sakit?
Apakah dirinya ternyata sudah mencintai Stella?
Perasaan ketika melihat Stella bersama dengan Pria lain, yang tidak lain adalah Putranya, Allen yang juga merupakan mantan Tunangannya, Stella.
Seorang wanita yang berada di samping Felix, juga sangat kaget melihat hal itu, diam-diam, dia mulai mengambil ponselnya, dan memotret itu segera, wanita itu jelas berniat mengambil keuntungan dari hal yang dilihatnya.
Dia lalu mulai berbisik di telinga Felix,
"Astaga, Stella itu benar-benar tidak tahu diri, melihat Allen akan segera bercerai dengan Cynthia, dia sudah mulai genit ke Allen,"
Felix mendegar bagaimana Elena itu menjelek-jelek Stella, lalu segera berkata dengan marah,
"Itu bukan urusanmu, dan pergi dari sini!!"
Felix yang merasa tidak tahan itu segera pergi dari tempat itu, dan menyeret Elena pergi juga.
Dirinya mungkin takut dengan jawaban yang akan dirinya dengar nanti.
Allen adalah seseorang yang pernah Stella cintai....
Namun ketika memikirkannya, perasaan Felix semakin rumit.
"Felix, kamu kenapa? Kenapa kamu tidak melabrak mereka? Kamu tidak melihat bagaimana mereka bermain di belakangmu?"
"Elena, diamlah. Aku tahu Putraku tidak akan seperti itu, juga Stella, Istriku. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri,"
"Felix, kamu itu kenapa sih membela Stella itu? Dia jelas tidak pernah mencintaimu dari awal, Aku yakin alasan kenapa dia menikah denganmu, mungkin agar dia bisa tetap melihat dan bersama dengan Allen,"
"Diam!!"
Elena yang kena marah itu, akhirnya memutuskan untuk diam, dirinya awalnya memang berniat mengambil kesempatan ini untuk mencoba mendekati Felix, namun sepertinya sekarang Felix dalam keadaan yang sangat marah, dirinya takut jika salah berkata malah dirinya akan dibenci.
"Baik, Aku akan pergi, Aku hanya memperingatkan mu, untuk hati-hati dengan mereka berdua, kamu juga tahu kan? Allen ternyata bukan Putra Kandungmu, apa yang mungkin dia rencanakan padamu?"
Felix benar-benar merasa tidak tahan dengan ocehan wanita di sampingnya itu segera pergi menjauh menuju ke mobilnya.
Sekarang drinya juga tidak tahu harus bersikap seperti apa ketika bertemu mereka nanti.
Awalnya, ada beberapa barang yang tertinggal yang ingin dirinya ambil, itulah kenapa dirinya kembali, namun tidak pernah mengira jika melihat hal semacam itu...
Namun apa yang terjadi berikutnya?
Sial....
Apakah lebih baik dirinya berpura-pura tidak melihat ini?
Dirinya rasa, dirinya akan lebih banyak memikirkan ini nanti.
Saat ini pikirannya sedang kacau, takut-takut dirinya malah mengambil keputusan yang salah.
__ADS_1
Felix akhirnya mencoba menenangkan dirinya dan kembali ke Rumah.
####
Stella di dalam ruangan masih tertegun dengan kata-kata Allen.
Kata-kata cinta dari Pria itu, yang dulu selalu ingin dirinya dengar...
Sesuatu yang sudah lama dirinya nantikan...
Namun sekarang sudah tidak seperti itu...
"Allen aku...."
"Stella, kamu tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu jawabannya, aku hanya ingin mengatakan kejujuran ini padamu, Aku benar-benar tahu bahwa aku sudah sangat terlambat untuk mengantarkan ini, bahwa semuanya sudah berakhir hubungan diantara kita berdua. Aku memang sangat tidak berguna dan begitu bodoh untuk menyadari ini semua lebih awal...." Kata Allen yang mulai menagis, memikirkan semua masalalunya dan Stella.
Memikirkan bagaimana dirinya memutuskan pertunangannya dengan Stella tepat ketika Stella baru sadar di Rumah Sakit.
Dan bagaimana, dirinya membuat Stella begitu sedih, dan menagis.
Dirinya yang hanya bisa membuat Stella menagis dan putus asa....
"Ya, ini semua adalah kesalahanku, Aku adalah laki-laki yang sangat buruk, yang tidak pernah menyadari kebaikanmu, kamu yang selama ini selama ini selalu peduli padaku, kamu yang selama ini mencintaiku, kamu yang selalu berada disisiku namun Aku tidak pernah memperhatikan itu, dan selalu mengabaikanmu..." Kata Allen lagi dengan nada penuh penyesalan.
"Aku memang laki-laki Brengsek, yang bahkan hanya bisa membuatmu menangis...."
Allen masih terus melanjutkan kata-katanya.
"Namun ini benar-benar sudah terlambat, karena kamu sekarang adalah milik orang lain,"
"Maaf... Aku hanya ingin minta maaf padamu, minta maaf atas semua perbuatan burukku di masa lalu, Aku yang hanya bisa membuatmu sedih dan menangis, dan tidak pernah bisa membuatmu bahagia..."
"Aku yang selalu hanya bisa mengecewakanmu dan mengabaikanmu selama ini..."
Ketika mengatakan semua ini, Allen mulai meneteskan air matanya, begitu pula dengan Stella.
"Apa... Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan semua ini...."
"Stella, Aku hanya ingin memohon maaf darimu.... Maaf karena terlalah begitu jahat padamu.... Semua ini adalah salahku dari awal...."
"Allen...."
"Namun sekarang tidak apa-apa, Aku yakin kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu, kamu saat ini bersama dengan Laki-laki terbaik yang Pernah Aku kenal, Ayahku Felix adalah laki-laki yang paling baik yang aku kenal dalam hidupku..."
"Dan kamu Stella, juga adalah salah satu wanita terbaik dalam hidupku.... Aku yakin kamu bisa membuat Ayahku bahagia, dan dia pasti bisa membuatmu bahagia..."
"Lalu kenapa kamu mengatakan hal-hal ini padaku?" Tanya Stella dengan ekspresi wajah yang tidak begitu baik.
"Dimasa depan, aku tidak ingin hubungan kita menjadi cukup canggung dan rumit, Aku tahu setelah mengatakan ini, ini akan menjadi cukup canggung. Hanya.... Lupakan semua tentang Aku mulai dari sekarang, ya mungkin memang kita tidak pernah di takdirkan untuk bersama.... Aku bukan orang yang baik untukmu, Aku memang bukan untukmu..."
Allen masih melanjutkan kata-katanya,
"Namun Aku berharap kamu bisa memaafkanku, jika di masa depan, Aku sampai melakukan hal-hal semacam ini lagi, tolong tampar atau pukulku... Dan Jika kamu masih begitu marah tentang bagaimana Aku membatalkan Pernikahan kita dan bagaimana Aku meninggalkanmu dengan cara terburuk dimasalalu, marahlah padaku, tampar dan pukul Aku juga sampai kamu puas... Namun jangan pernah melibatkan hal-hal ini dengan Ayahku... Berbahagialah dengannya... Aku yakin, kamu bisa membuat dia bahagia... Dan kamu akan bahagia dengannya,"
__ADS_1
Stella tidak mengatakan apa-apa, mulai hanya tiba-tiba air mata mulai keluar, seolah-olah semua emosi dan kemarahan muncul, rasa sakit hati dan perasaan di khianati.
Lalu Stella mulai mengangkat tangannya, dan menampar Allen.
Itu cukup menyakitkan ketika Allen menerima tamparan penuh tenaga itu.
Sekali lagi, Stella menampar pipi Kanan Allen.
Tidak sampai disana, Stella mulai menampar pipi kiri Allen.
Baru setelah enam kali tamparan, Stella merasa sedikit lega.
Begitu pula dengan Allen, yang menatap Stella sekarang.
"Hah, Aku merasa sedikit lega sekarang," kata Stella lagi.
Allen tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa, Allen sudah mulai menghapus air matanya dan berkata,
"Apakah ini sudah cukup?"
"Sebenarnya belum, namun jika Aku memukulimu, apa yang akan Aku katakan pada Ayahmu ketika dia melihat Putranya yang hampir sembuh masuk Rumah Sakit lagi?"
"Jadi begitu... Ya, mulai sekarang Aku harap hal-hal dimasalalu kita sudah selesai, walaupun ini tidak bisa menghapus segalanya,"
"Ya, Aku pikir begitu,"
"Kedepannya, hubuangan kita sebatas Putra dan Ibu Angkatnya, apakah Aku harus memanggilmu, Mama mulai dari sekarang? Mama Stella?"
"Jika kamu yang mengatakan itu, Aku yang jadi malu,"
Dengan sedikit candaan itu, mereka mulai tertawa.
Lalu keduanya mulai diam.
"Aku rasa Aku butuh waktu untuk sendiri," kata Allen lagi.
Tanpa banyak berkata, Stella sekarang keluar dari ruangan itu.
Melihat kepergian Stella, hati Allen jelas masih begitu sakit.
Rasanya masih sangat menyakitkan...
Air mata kembali muncul, perasaan yang hancur yang dirinya tahan.
Jika harapan bersama dengan Stella sudah benar-benar berakhir.
Allen mencoba menengakan dirinya, bahwa keputusan yang dirinya ambil ini benar...
Ini adalah akhir dari semua ini, antara dirinya dan Stella...
"Bahwa Aku bukan untukmu, Stella.... Dan kamu tidak akan pernah menjadi milikku..."
Dalam ruangan itu, Allen masih menangis, entah untuk waktu berapa lama, rasa sakit dipipinya seolah bukan apa-apa, dari pada rasa sakit hati yang dimilikinya.
__ADS_1