Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 66: Pekat Bulan Madu


__ADS_3

Malam itu, suasana makan malam di Rumah Keluarga Chastielo jelas terasa tidak enak.


Itu semua jelas karena kejadian tidak nyaman yang terjadi di pesta Pernikahan Allen dan Cynthia.


Sampai saat ini, Allen masih menemani Cynthia yang berada di rumah sakit.


Stella juga melihat suasana tenang di meja makan ini, terutama wajah Ibu Felix yang terlihat sangat kesal.


Stella tidak berani bertanya juga.


Ketika mereka hendak memulai makan malam mereka, ternyata ada seseorang yang baru saja tiba.


Itu adalah Allen, mungkin dia ingin mengambil beberapa barang untuk menginap di rumah sakit?


"Selamat Malam, Kakek, Nenek dan Ayah,"


Kakek dan Nenek Allen itu jelas sekali tidak memperdulikan sapaan dari cucunya itu karena masih merasa marah tentang apa yang terjadi di acara Pernikahan itu.


Allen yang melihat bagaimana Kakek dan Neneknya itu mengabaikannya, jelas merasa sedih juga, dirinya memang sudah menebak jika hal-hal bisa menjadi seperti ini.


"Kamu pulang?" Tanya Felix setelah mendengar jawaban sapaan Putranya itu.


"Ya, Ayah. Aku sedang bersiap untuk membawa barang-barang yang ingin aku bawa ke Rumah Sakit,"


"Owh, benar aku pikir kemarin kamu sudah bersiap dan berkemas?"


"Ah benar, harusnya memang besok pagi rencananya aku dan Cynthia akan pergi Bulan Madu, semuanya sudah siap, bahkan hotel juga sudah dipesan untuk besok, sayang sekali Cynthia masih harus di rawat beberapa hari di Rumah Sakit. Namun pada akhirnya seperti berguna juga aku sudah berkemas,"


"Owh, begitu. Sayang sekali, aku juga turut menyesal soal kejadian yang menimpamu,"


"Terimakasih atas perhatiannya, Ayah."


Nenek Allen itu awalnya tidak begitu tertarik dengan urusan cucunya yang menyebalkan itu.


Namun tiba-tiba ketika mendengar sesuatu soal bulan madu, dirinya segera memiliki beberapa ide.


Melihat Allen yang ingin kembali ke kamarnya itu, Neneknya itu segera memanggilnya.


"Tunggu, Allen,"


Allen tiba-tiba dipanggil oleh Neneknya itu tentu saja terkejut, lalu segera berbalik untuk bertanya,

__ADS_1


"Ada apa Nenek?"


"Jadi kamu berniat membatalkan Paket Bulan Madu mu itu?"


Allen yang ditanya soal itu jelas saja merasa bingung namun dirinya tetap menjawab seadanya.


"Ya, mau bagaimana lagi, keadaan Cynthia seperti itu, mungkin lain waktu saja,"


"Jangan di batalkan, sayang jika dibatalkan,"


"Maksud Nenek?" Tanya Allen dengan ekpersi binggung.


"Berikan saja tiket Paket Bulan Madu itu pada Ayahmu, dia juga masih Penganti Baru, dan belum sempat Bulan Madu, daripada tiket itu dibatalkan dengan sia-sia,"


Ekpersi Allen saat mendengar itu jelas saja memiliki ekspresi penolakan.


Felix yang sedang minum itu sampai tersedak setelah mendengar permintaan Ibunya itu, begitu pula dengan Stella yang hair menjatuhkan garpu di tangannya saking kagetnya.


"Tapi Nek...."


"Kamu ini, kenapa begitu pelit pada Ayahmu sendiri? Dia sudah membantumu mempersiapkan semua hal soal pernikahanmu itu, lagipula dari pada tiket itu menganggur, lagipula kamu tidak akan ke sana pula. Ingat Istri barumu itu sedang hamil, sebaiknya di kurangi aktivitas seperti itu, tidak perlu juga berbulan madu segala,"


Allen ingin memprotes namun tidak berani karena takut akan membuat Neneknya menjadi marah.


"Sudahlah, Ibu. Aku tidak perlu berbulan madu segala, aku sibuk,"


Ibu Felix itu yang mendengar kata-kata Putranya itu yang menolak anjurannya tentu saja menjadi marah.


"Kamu ini, Felix selalu saja memiliki alasan jika kamu sibuk, sibuk terus. Aku sudah bilang sebelumnya, jika aku ingin cepat-cepat memiliki Cucu baru darimu,"


Felix yang sudah mendengar ini kesaktian kalinya dari Ibunya itu jelas langsung memprotes.


"Ibu, kenapa seperti itu? Lihat sekarang Cucu Ibu sudah besar, dan dalam waktu dekat Ibu akan memiliki Cicit, jadi tidak perlu untukku terburu-buru,"


"Felix, ini berbeda, aku jelas ingin melihat Cucu dari kamu dan Stella, Stella pasti juga sangat ingin segera memiliki momongan benar?"


Stella yang tiba-tiba ditanya itu hampir saja tersedak makanan yang dimakannya.


Jelas, Stella langsung minum dan menjawab pertanyaan itu,


"Tidak, Tidak Nenek, Aku tidak ingin terlalu buru-buru untuk memiliki anak, aku masih cukup muda, masih ingin bersenang-senang dengan Paman Felix, benar bukan sayang?" Kata Stella sambil mengedipkan matanya.

__ADS_1


Felix yang mendapatkan kedipan itu, sudah merasa terbiasa dengan aneka omong kosong Stella itu, hanya bisa menangapi,


"Itu memang terserah Stella saja, seperti yang Stella bilang, dia itu masih muda,"


Ibu Felix yang dibantah oleh mereka berdua itu jelas menjadi marah,


"Kalian ini ya, selalu saja memiliki banyak alasan! Ingat Felix, Orang Tuamu ini sudah cukup tua, kami tidak tahu sampai kapan kami..."


Felix melihat sepertinya Ibunya ingin mendrmalisir suasana itu segera saja memotong ucapannya.


"Ibu, saat ini Ibu dan Ayah masih sehat. Dan apa alasan khusus kalian ingin melihat bayi? Sudah aku bilang, kurang dari delapan bulan lagi, akan ada Bayi di Rumah ini, Ibu nanti bisa cukup puas melihat Cicit kecil itu,"


"Felix, kenapa kamu keras kepala sekali?"


Allen yang melihat pertengkaran mereka, tidak tahu harus merespon seperti apa.


Namun dirinya juga merasa tidak nyaman, Bagaimana Neneknya itu sepertinya sangat tidak menyukai calon anaknya ini, bahkan tidak bertanya sedikitpun tentang keadaan Istrinya sekarang.


Memikirkan ini, membuat perasaan Allen menjadi sedih.


"Sudah, Allen baiknya segera selesaikan urusanmu Jangan dengarkan omongan Nenekmu itu, itu benar-benar terserah kamu apakah kamu ingin melakukan apapun pada Tiket Bulan Madumu itu,"


Allen terdiam di sana sedang memikirkan apa yang sebaiknya dirinya lakukan.


Jelas, dirinya sangat tidak suka jika Stella dan Ayahnya pergi bulan madu segala, untuk apa pula mereka kesana?


Dirinya benar-benar tidak bisa membayangkan mereka berdua benar-benar akan berbulan madu seperti sepasang Suami Istri, dan hanya membayangkan ini saja jelas membuat perasaan Allen merasa kesal dan marah.


Kemarahan yang Allen sendiri tidak tahu harus berbuat apa, perasaan rumit yang berada dalam hatinya.


"Allen, kamu itu jangan jadi anak yang tidak tahu malu, berikan saja tiket itu pada Ayahmu, Apa susahnya membuat Ayahmu senang?"


Melihat dirinya dimarahi itu, jelas Allen yang memiliki beberapa ketakutan sejak kecil, segera memutuskannya.


Tidak ada yang baik jika menyulut kemarahan Neneknya lebih banyak.


Nanti biar terserah Ayahnya saja yang mengurus sisanya, belum tentu juga Ayahnya mau pergi.


"Aku akan mengirimkan Tiketnya nanti ke Ponsel Ayah, aku memesan semuanya online nanti akan aku kirimkan semua kodenya,"


Setelah mengatakan itu, Allen yang merasa muak berada di ruangan itu, jelas segera pergi.

__ADS_1


Nenek Allen terlihat puas dengan keputusan cucunya itu.


"Lihat, Felix? Jangan sia-siakan tiket itu, Putramu sudah memberikan itu padamu sebaiknya kamu pakai saja,"


__ADS_2