
Tentu saja, kabar membahagiakan soal kehamilanya, Stella tidak membuat semua orang bahagia.
Salah satunya, adalah Elena yang baru saja mendapatkan kabar dari Putrinya Rhea itu.
"Apa? Stella itu hamil?"
"Itu, benar, Mama. Ini cukup bagus, karena sebentar lagi Kak Allen memiliki seorang adik,"
Jelas, Elena sangat tidak senang bukankah itu artinya, rencananya untuk mendapatkan Felix dan membuat mereka berdua bercerai akan semakin susah?
Sialan, namun tidak hanya itu masalahnya...
"Hah, bagus dari mana? Ini jelas hal yang sangat buruk. Tinggal menunggu waktu saja sampai Kakakmu Allen itu di depak dari Rumah Keluarga Chastielo itu, toh dia ternyata bukan Putra Kandung Felix,"
Rhea yang mendengar kata-kata dari Mamanya itu, jelas saja tidak senang.
"Mama jangan bicara seperti itu,"
"Rhea, kamu itu memang tidak pengertian, bela saja itu Stella, lihat saja apakah kata-kataku benar,"
Elena yang kesal itu, segera pergi dari sana.
Jelas saja dirinya tidak menerima tentang semua ini, pasti ada sebuah cara untuk tetap memisahkan mereka berdua, saja nanti dirinya akan menemukan caranya.
####
Di hari-hari berlalu ini, Stella ternyata cukup sibuk untuk perencanaan acara ini, seperti pemilihan untuk gaun pesta nanti dan sejenisnya.
Felix yang melihat Stella terlihat sibuk itu, jelas merasa sedikit khawatir,
"Stella, kamu itu harusnya istirahat total jangan melakukan banyak aktivitas yang tidak-tidak,"
"Astaga, Paman Aku hanya bersiap memilih baju untuk Acara nanti, bagaimana ini bisa disebut aktivitas yang tidak-tidak?"
"Tapi kamu nanti kelelahan, dan mungkin saja mempengaruhi kehamilanmu,"
"Astaga, Paman jangan berlebihan deh, jika aku diam saja di rumah aku benar-benar bisa mati bosan,"
Felix hanya bisa menghela nafas pasrah lalu segera berkata,
"Tapi ingat untuk selalu hati-hati setiap kali kamu melangkah, jangan pergi ke tempat licin seperti kolam renang atau sejenisnya,"
"Iya, Iya Paman. Benar-benar tidak pergi kemana-mana oke? Lagipula ini juga Aku pergi bersama Ibu Paman,"
"Hah, ingat hati-hati. Dan bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah kamu sudah tidak mual lagi?"
"Tidak, aku sudah baik-baik saja tidak mual lagi kan aku sudah minum obat dari dokter,"
"Ya, itu bagus, jika kamu masih merasa mual atau merasa tidak nyaman dengan makanan tertentu, kamu tinggal buang saja nanti akan aku buang jauh-jauh makanan itu atau hal-hal yang membuatmu mual,"
"Pfff....Iya, Paman tenang saja,"
Stella hanya bisa sedikit tertawa dengan sifat protektif itu, sungguh belakangan ini Paman Felix ini begitu peduli dengan hal-hal kecil sampai di tingkat yang berlebihan, namun kepedulian kecil ini, membuat dirinya merasa hangat.
__ADS_1
sangat menyenangkan memiliki seseorang yang peduli dan memperhatikan dirinya seperti ini.
Hah, baiklah sekarang dirinya mau pergi dulu berbelaja dengan Ibu Mertuanya itu.
####
Di Mall, tentu saja ketika memasuki sebuah butik baju, Stella sangat bersemangat untuk memilih baju yang ada di sana, Eve, Ibu Mertua Stella itu juga terlihat sangat bersemangat.
"Ini cukup cocok untukmu," kata Eve lagi.
"Ya, Aku juga rasa begitu,"
"Ah, benar juga, kamu juga harus mencari baju baju yang cocok saat kehamilanmu besar nanti, daripada nanti repot karena baju-baju mu tidak muat,"
"Ah, benar juga Ibu, Aku sempat lupa untuk hal itu,"
Stella dan Ibu Mertuanya itu, juga cukup bersemangat untuk memilih-milih baju yang disana, mereka cukup memilih seberapa baju yang cocok untuk Stella juga untuk Eve, mereka berdua bahkan sekarang ada di deretan baju Pria untuk memulihkan Baju-baju untuk Suami mereka.
Sang Pelayan yang mengikuti mereka cukup kewalahan membawa baju-baju itu.
Stella juga melihat bahwa Pelayan itu kerepotan, segera berkata,
"Kamu pergi dulu bawa itu ke mobil, nanti kamu ke sini lagi, jika kamu ingin, kamu bisa beli dulu minuman di stan bawah nanti,"
Mendengar majikannya itu bahkan sangat perhatian, Pelayan itu sangat senang, dan berkata,
"Baik, Nyonya, Saya akan segera membawa ini ke mobil dulu,"
Segera setelah ini, Pelayan pergi.
Dan tinggal Stella yang berada disana menunggu Ibu Mertuanya mencoba baju.
Namun cukup lama hingga Stella bosan, dirinya lalu melihat pesan dari Ibu Mertuanya itu, bahwa dia akan pergi ke Kamar mandi dulu setelah mencoba baju.
Akhirnya, saat Stella merasa bosan dirinya mulai melihat-lihat di sekitar sana, ketika tiba di deretan baju baju, Stella segera menjadi tertarik dan masuk ke dalam.
"Astaga, baju-baju ini sangat lucu dan manis," kata Stella ketika dirinya melihat baju-baju anak perempuan.
Warna-warni dan sangat mengemaskan.
Stella mulai melihat-lihat salah satu baju-baju itu, juga beberapa aksesoris bayi lainnya.
Stella mulai membayangkan, bagainmana nanti ketika bayinya lahir.
"Tiba-tiba Aku ingin segera kamu lahir," kata Stella sambil mengelus perutnya itu.
Stella yang tiba-tiba merasa bersemangat itu, mulai kembali melihat baju-baju itu memilih dan mengambil sesuatu yang dirinya suka.
Sampai kemudian, Stella kebetulan bertemu seseorang disana.
Menatap Pemuda itu, Stella memiliki ekspresi terkejut lalu bertanya,
"Allen? Kenapa kamu di sini?"
__ADS_1
"Ah, itu, Aku tadi baru saja mengenai Rhea berbelaja dengan Mamanya, sekarang mereka sedang Ke Kamar mandi, dan Aku kebetulan melihat kamu disekitar sini, Aku kesini. Kenapa kamu disini? Di bagian pakaian bayi?"
"Ah, aku hanya melihat-lihat bukankah pakaian bayi ini terlihat sangat lucu lihat sangat lucu? Lihatlah," kata Stella sambil menunjukan salah satu baju bayi yang dipilihnya.
Allen lalu menatap baju bayi perempuan itu dengan heran,
"Huh? Ini untuk bayi perempuan?"
"Ahahaha... Aku juga masih belum tahu ini nanti bayi perempuan atau laki-laki jadi aku hanya ingin melihat-lihat saja,"
"Ah, begitu. Lihat beberapa baju bayi laki-laki ini juga cukup lucu," kata Allen sambil mengambil salah satu baju bayi disana.
Stella lalu mulai melihat beberapa baju bayi laki-laki disana dengan ekpersi senang.
"Astaga, kamu benar, semua baju ini sangat lucu,"
Keduanya tiba-tiba terlihat asik melihat beberapa baju itu, sampai tidak memperhatikan jika ada seseorang yang memantau mereka berdua.
"Astaga, Aku juga jadi segera ingin melihat Calon Adikku ini lahir, apakah dia perempuan atau laki-laki?" Kata Allen lagi.
"Ya, kamu benar, aku juga benar-benar ingin segera membelikan barang-barang lucu ini untuknya,"
"Itu benar, Aku harap calon adikku sehat, Aku yakin Ayah akan sangat senang... Dia akhirnya akan memiliki seorang anak yang benar-benar anak kandungnya,"
Ada sedikit ekpresi rumit di wajah Allen ketika dia mengatakan itu.
"Astaga, Allen, bagaimanapun nanti anak kami, kamu harus tahu, Ayahmu Felix akan selalu tetap menyayangimu seperti Putranya sendiri, kamu tidak akan tergantikan di hatinya,"
Mendengar kata-kata penghiburan itu, Allen merasa senang.
"Hmm, kamu benar. Aku tahu Ayahku adalah orang yang sangat baik. Ngomong-ngomong, apakah aku boleh menyapa calon Adikku ini?"
"Tentu saja,"
Allen lalu menyentuh perut Stella dengan ringan, lalu segera berkata,
"Sehat-sehat disana, Kakak juga sangat menantikan Kelahiranmu, agar Ayah kita akan selalu bahagia,"
Stella yang mendengar itu juga merasa cukup lega, sepertinya hubungan Allen dan Felix masih akan berjalan baik-baik saja, awalnya dirinya cukup cemas, jika Allen mungkin tidak akan senang jika Ayahnya akan memiliki bayi lagi, namun sepertinya tidak begitu.
"Ya, Terimakasih Allen,"
"Ah, benar Rhea pasti saat ini sedang mencari ku Aku pergi dulu ya, kamu hati-hati, jangan melakukan hal yang macam-macam hingga membuat Ayahku cemas,"
Mendengar itu, Stella lalu tertawa,
"Astaga, tidak begitu itu Ayahmu saja yang terlalu protektif,"
Allen lalu mulai melambaikan tangannya, dan pergi dari sana.
Stella juga meletakan baju-baju bayi itu, kembali ketempat Istirahat, ingin duduk sambil menunggu Ibu Mertuanya datang, dan tidak lama sampai Ibu mertuanya itu datang, juga Pelayan yang sebelumnya sudah kembali juga.
Mereka lalu melanjutkan aktivitas belanja mereka namun tidak begitu berlebihan hingga membuat Stella lelah.
__ADS_1