Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 90: Salah Bicara


__ADS_3

Saat ini, di tempat lainnya, sesuai dengan perjanjian yang Cynthia lakukan dengan Herry, saat ini Cynthia tiba disebuah Hotel yang cukup mewah.


Ini Hotel di Jalan Y, dengan nama MX Hotel, nama hotel ini cukup familiar, seperti terkahir kalinya dirinya dan Herry bertemu.


Sebelumya, karena malam hari, dan Herry memaksanya masuk, dirinya tidak melihat hotel itu dengan baik, dan paginya dirinya juga terburu-buru pergi, di tidak melihat bahwa ternyata hotel ini cukup mewah, ini adalah Hotel Bintang Lima.


Sangat tumben, Harry membawanya ketempat bagus seperti ini, dulu biasanya Herry itu hanya mengajaknya ke Losmen Murah dekat Sekolah, ketika memikirkan memori itu, Cynthia segera merasa mual.


Sial, perutnya jadi merasa tidak enak semacam ini.


Duh, dirinya jadi ingin muntah, apakah ini karena kehamilanya?


Sungguh merepotkan, duhh...


Namun bagaimana ini, ini ditengah keramaian...


Ketika Cynthia sibuk berpikir, orang yang Cynthia tunggu ternyata sudah ada di situ dan segera memeluknya dengan mesra.


"Kenapa denganmu sayang?"


Cynthia yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu, langsung segera mendorong Herry menjauh,


"Apa-apaan sih kamu, menjauh dariku!!"


"Astaga, kamu begitu galak sekali!"


"Sumpah, aku saat ini sedang mual sekali,"


Herry lalu segera menatap perut Cynthia lalu berkata,


"Astaga, apakah anakku ini mulai membuat masalah?"


"Diam!! Jangan bahas soal ini lagi!!"


"Kenapa, sayang? Ini kan memang anak kita,"


"Aku bilang diam!! Sekarang katakan saja apa maumu untuk bertemu denganku?"


Herry lalu mulai menatap Cynthia dengan serius, dan berkata,


"Tentu saja, mengajakmu untuk bermain denganku siang ini, melakukannya hal yang biasanya,"


"Kamu!!! Aku ini sedang hamil! Apa kamu tidak tahu?"


"Aku sudah memeriksa di Internet, harusnya tidak masalah jika melakukannya,"


"Brengsek!!! Aku sudah bilang jika aku tidak lagi mau melakukannya!!"


Herry lalu mulai merangkul Cynthia lagi dan berkata,


"Ini bukan Permintaan, namun sebuah perintah, tahu aku akan menyebarkan video sebelumnya, bahkan memiliki video yang lebih baik dengan kamu sebagai bintang utamanya,"


Mendengar hal itu jelas Cynthia menjadi sangat marah.


"Kamu!! Kamu benar-benar berani!!"


"Jadi tidak perlu banyak bicara mari kita segera ke kamar, aku sudah menyiapkan Kamar paling indah untuk kita menghabiskan hari ini bersama,"


"Aku tidak butuh!"


Herry lalu menarik rambut Cynthia,


"Sudah aku bilang, kamu menurut saja apa kataku!"


Cynthia menjadi kesal, lalu mulai menampar Herry,


"Lepaskan, Brengsek!!!"


"Ah, kenapa kamu menjadi seperti ini? Untuk tidak mau aku sentuh? Jangan bilang, kamu ternyata berani melakukannya dengan Suamimu?"


"Akhhh, diamlah!! Kamu tahu, Allen sedang sakit, dan mana sampat memikirkan hal ini, apalagi saat ini aku sedang hamil, dia bukan orang kurang ajar sepertimu yang tidak tahu malu seperti ini!!"


Mereka berdua terlibat percakapan dan pertengkaran mereka, mereka tidak sadar jika saat ini seseorang sedang mengikuti mereka, diam-diam merekam adegan dan percakapan yang mereka lakukan, juga sempat untuk mengambil beberapa foto dari sebelumnya.


####


Malam itu, Cynthia pulang cukup larut, Allen yang masih kepikiran soal Tes DNA itu, masih bangun.


Dia segera bertanya pada Cynthia,


"Kenapa kamu baru pulang? Ini sudah cukup larut,"


Cynthia terlalu lelah hanya untuk menjawab pertanyaan Allen, lelah karena Herry yang terlalu menyebalkan itu, jadi Cynthia hari benar tidak memiliki mood untuk berbicara dengan Allen.


"Aku hanya pergi jalan-jalan dan refreshing dengan teman-temanku apakah ini salah?"


"Cynthia, apakah kamu tidak ingat saat ini kamu itu sedang hamil, biasanya beraktifitas dulu,"


"Diamlah, aku sudah pulang sekarang, dan ingin mandi dan tidur, jadi kamu tidak terlalu banyak bicara," kata Cynthia lalu langsung mengambil baju tidur dan pergi kekamar mandi, merasakan tubuhnya terasa sakit semua.


Allen hanya menatap kepergian Cynthia kedalam kamar mandi itu, hanya saja makin kesini dirinya begitu kaget dengan sikap Cynthia yang sangat berubah berbeda ketika mereka sebelum menikah.


Sudahlah, Allen merasa begitu pusing juga harus memikirkan soal kelakuan Cynthia, saat ini Allen mulai memasang sebuah plastik yang berisi sempel rambut dari Ayahnya yang dirinya berhasil temukan di kamar Ayahnya itu, perlu memeriksa banyak hal disana sampai akhirnya dirinya mendapatkan ini.


Walaupun sempat dirinya menemukan hal-hal yang seharunya tidak dirinya liat.


Ayahnya dan Stella....


Mereka berdua benar-benar sudah melakukannya?


Ketika memikirkan itu, Allen jelas merasa tergangu juga, merasa begitu lelah dengan pikirannya akhirnya dia segera tidur.


Besok dirinya selasa kan membawa Sempel ini ke Rumah Sakit untuk di periksa, dan semuanya akan jelas.


Ya dirinya cukup yakin dengan hasilnya, dirinya pasti anak kandung Ayahnya, Felix Chastielo, jika bukan, lalu dirinya anak siapa?


Semuanya akan baik-baik saja, setelah tes ini dirinya yakin, tidak akan ada lagi orang-orang yang selalu mencari masalah dengannya yang menuduhnya bukan anak kandung Ayahnya.


Sambil berpikir itu, Allen mulai tertidur.

__ADS_1


####


Di tempat lainnya, saat ini Stella berada di kamar, dan mulai memakai pakaian tidur seksinya, hari ini ingin mencoba mengajak Paman Felix itu untuk melanjutkan kegiatan sebelumnya yang sempat tertunda.


Saat ini, Felix baru keluar dari kamar mandi, menatap heran dengan penampilannya Stella.


"Stella, aku sudah bilang sebelumnya kamu jangan memakai baju semacam ini ketika berada di Rumah! Siapa yang ingin kamu goda hah?"


Mendengar dirinya malah dimarahi itu, Stella segera memasang ekspresi cemberutnya.


"Aku hanya akan memakai baju semacam ini di kamar ini!! Ketika keluar kamar ini aku tidak akan memakai baju seperti ini!! Aku memakai ini tentu saja untukmu, mau untuk siapa lagi?"


"Astaga... Stella kamu ini...."


"Paman, kita bukannya masih memiliki hal yang tertunda?"


"Apa?"


"Malam itu, hal-hal tertunda dan kita sempat batal melakukannya, mari sekarang kita melanjutkan nya, lihat aku sudah membeli beberapa hal yang berguna untuk kita bersenang-senang!" Kata Stella sambil membuka laci meja, dimana disana ada beberapa hal tak terkatakan yang membuat Felix syok.


"Kamu!! Kenapa membeli barang semacam ini?"


Wajah Felix jelas saja memerah karena merasa malu ketika ditunjukkan dengan hal-hal tidak senonoh itu.


Sungguh, apakah wanita muda jaman sekarang sudah menjadi begitu berani dan frontal semacam ini?


"Tentu saja karena aku tahu ini akan berguna, aku sudah membuka satu kemasan, coba dulu Paman, apakah ukurannya sesuai, ini seharusnya sudah cukup besar,"


Stella mengatakannya dengan wajah tanpa begitu banyak ekpersi, namun Felix yang merasa malu sendiri ketika mendengarkannya.


Felix merasa tidak siap, lalu segera berkata,


"Sudahlah, Aku lelah ingin tidur... Ah, Paman kenapa seperti itu sih? Paman ini memang sudah Tua!!"


"Stella, panti merang edan tidurlah kita akan melakukannya lain kali hari ini aku benar-benar lelah karena begitu banyak masalah di kantor,"


Benar, Felix bukannya tidak ingin, namun kepalanya begitu pusing karena masalah dengan Perusahaan Maximilian itu, yang semakin hari semakin banyak membuat masalah dengan perusahaan miliknya, dan hampir mengajukan beberapa project yang sedang Perusahaannya jalankan.


"Tapi benar? Berikutnya kita akan melakukannya?"


"Ya, terselah nanti,"


Stella untuk saat ini merasa puas dengan jawaban itu.


Keduanya, lalu mulai tertidur dengan tenang.


####


Pada akhirnya, hari-hari berlalu dengan cepat, Felix ternyata masih begitu sibuk dengan urusan kantornya, begitu pula Stella yang mulai sibuk dengan urusan kuliahnya.


Jadi mereka tidak lagi sempat membahas hal-hal semacam itu selama beberapa hari.


Disisi lainnya, Allen pagi itu terlihat cukup cemas, karena hari ini adalah hari dimana keluarnya hasil Tes DNA itu.


Allen mencoba menengangkan dirinya sendiri, meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja.


Bagaimana jika semuanya tidak baik-baik saja?


Tumben, dia pagi-pagi mengirimkan pesan?


'Kak Allen, apakah Kakak ada waktu? Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan,'


Allen yang mendengar pesan itu segera membalas.


'Siang ini aku sedang tidak bisa, mungkin nanti sore aku ada waktu,'


Tidak lama balasan datang.


'Baik, nanti sore mari kita bertemu di tempat biasa,'


'Tentu saja,'


Setelah itu, tidak ada lagi balasan dari ujung telepon, Allen tanya merasa sangat penasaran saja tentang apa yang ingin Rhea katakan?


Sepertinya ini hari yang cukup serius?


Ya mari tunggu saja nanti sekarang ada hal lain yang harus dirinya cemaskan.


Sepanjang Pagi, Allen jelas merasa cukup khawatir, namun Cynthia yang sibuk dengan dirinya sendiri tentu tidak memperhatikan kekhawatiran Allen, Cynthia bahkan ada rencana untuk pergi perawatan di salon selama seharian.


Pagi itu, semua orang pergi, hanya tersisa Allen dan Stella yang Kebetulan libur berada di rumah.


Allen saat ini kondisinya cukup pulih namun tetap saja masih kesulitan berjalan karena luka dikakinya.


Stella yang kebetulan sedang perjalanan menuju kamarnya, tentu saja melihat bagaimana Allen kesulitan menaiki tangga itu, membuat Stella tidak tahan lalu segera menghampiri Allen untuk membantunya naik.


Menliat gerakan tiba-tiba itu, tentu saja Allen kaget, lalu berkata dengan marah,


"Apa yang kamu lakukan, Stella?"


Stella jelas tahu, kenapa Allen marah, lalu segera berkata,


"Allen, kamu itu sepertinya susah dibilangin, jika kamu kesulitan naik tangga, mintalah Pelayan untuk membantumu, jangan terlihat gengsi dan sok kuat begitu,"


"Siapa yang sok kuat? Aku baik-baik saja!"


Melihat tingkah keras kepala ini, Stella hanya bisa pasrah, karena dirinya memang sudah tahu watak Allen seperti ini.


"Allen, sungguh kamu ini ya, lihat kamu masih berjalan sedikit goyah seperti ini ketika naik tangga, nanti bagaimana jika kamu jatuh?"


"Itu jelas tidak ada hubungannya dengan mu sekarang kamu pergilah dan menyingkir!"


Stella tentu saja ingin segera pergi dari situ, namun dirinya merasa jika membiyarkan Allen naik sendiri, jika sampai Allen ini jauh dari tangga atau terjadi kecelakaan yang tidak mengenakan, pasti itu akan membuat Suaminya, Felix menjadi begitu sedih.


Stella tahu, bahwa belalangan ini Felix memiliki banyak masalah di kantor, jika terjadi sesuatu lagi pada Putranya yang bermadah ini, Felix jelas akan bertambah kacau.


Jadi, Stella menjadi cukup sabar.


"Sudahlah, kamu itu menurut dan diam!!"

__ADS_1


Mendengar kata-kata tegas, dan bagaimana Stella membantunya itu, Allen tidak lagi bisa berkata-kata.


Hanya saja...


Perasaannya tiba-tiba merasa aneh...


Allen mulai menatap Stella yang membantunya berjalan ini, memikirkan bahwa selama ini Stella memang selalu seperti ini, akan datang disaat dirinya membutuhkan, selalu disampaignya sejak lama.


Sikap perhatian ini...


Namun adegan itu tidak berlangsung lama, karena mereka sudah tiba di atas tangga.


"Aku rasa kamu bisa berjalan sendiri dari sini? Kamarmu cukup dekat,"


Mendengar itu, Allen segera menghilangkan pikirannya barusan,


"Hpmh, ya. Bukan apa-apa Aku bisa ke kamar sendiri,"


Namun belum tiga langkah Allen berjalan, dia terpeleset.


"Astaga, sudah aku bilang sebelumnya kan!!"


Stella yang marah itu, segera membantu Allen berdiri, dan segera membawa Allen ke kamar, sampai Allen benar-benar sampai ke tempat tidur nya.


Dan telah setelah Allen sampai di tempat tidur itu, Stella merasa puas.


"Nah, kamu itu di tempat tidur saja jangan mencari masalah dan banyak bergerak segera panggil pelayan juga kamu butuh bantuan untuk pergi,"


"Sudahlah, jangan menjadi begitu berisik! Memang kamu Mamaku!"


Ini adalah lelucon lama, ada saat dimana Stella memang bersikap begitu posesif pada Allen sampai mengkhawatirkan hal-hal kecil.


Namun sekarang ketika itu dikatakan, itu menjadi tidak lucu lagi.


Stella jelas tahu itu, dan memilih untuk tidak berkomentar, gak ada yang baik untuk menurut emosi dari pria di depannya ini.


Stella segera keluar dari kamar itu.


Setelah Stella keluar, telepon Allen berbunyi, ini dari Bibinya Elena?


Tumben juga menelepon pagi-pagi.


"Hallo, Bibi ada apa?"


'Ah, kamu sebelumnya bertanya tentang golongan darah Kakakku kan? Aku sekarang baru ingat soal golongan darahnya,'


"Bibi ingat? Lalu apa golongan darah Mamaku?"


"Ini Golongan Darah A,"


"A?"


'Iya ini golongan darah A, Kakakku kebohongan darah yang sama dengan Nenekmu, itu A,'


Ketika mendengarkan kata-kata Bibinya itu, Allen tidak bisa mempercayai apa yang dirinya dengar.


Apa?


Ini...


Golongan darahnya berbeda dengan Ibu Kandungnya bahkan dengan Ayah nya...


Sebuah kemungkinan mulai menghantui dirinya...


Apa...


Jangan bilang jika dirinya memang bukan anak kandung dari Ayahnya?


Ini...


Bagaimana ini bisa!!


Tidak!!


Dirinya harus segera lihat hasil tes DNA itu!!


Atau jangan bilang selama ini Ayahnya berbohong padanya soal kebenaran ini?


Itukah kenapa dulu setelah dirinya mengalami kecelakaan dan kehilangan banyak, Ayahnya mulai menjaga jarak dengan?


Karena Ayahnya akhirnya tahu, bahwa dirinya bukan Putra Kandungnya?


Allen yang cemas itu ingin segera pergi keluar menuju ke rumah sakit tes DNA itu, atau lebih baik menayakan hal ini pada Ayahnya.


Dengan cemas, Allen segera keluar kamar dengan buru-buru.


Stella kebetulan masih berada di depan kamarnya, baru saja menerima telepon juga dari Rhea, soal bukti-bukti yang Rhea temukan, dan rencana Rhea yang akan memberitahu soal perselingkuhan Cynthia itu pada Allen nanti sore.


Sekarang, Stella menjadi kaget ketika melihat Allen keluar dari kamarnya dengan ekpersi pucat itu.


"Allen? Kenapa kamu keluar lagi? Dan kenapa kamu menagis?"


Stella menjadi panik melihat Allen seperti itu.


"Allen?"


"Aku... Aku ternyata bukan Putra Kandung Ayahku, Felix.... Ternyata semua yang dikatakan orang-orang itu benar..."


Stella yang panik itu tanpa sadar menjawab,


"Allen? Dari mana kamu tahu hal ini? Apakah Felix Ayahmu sudah memberitahumu soal hal ini?"


Allen lalu mendorong Stella, dirinya menjadi begitu syok ketika Stella membenarkan ucapannya itu.


"Kamu... Jadi kamu sudah diberitahu oleh Ayahku? Jadi itu semua benar, jika Aku bukan Putra Kandungnya?"


Stella sekarang langsung menutup mulutnya, sial.


Kenapa dirinya bisa salah bicara?

__ADS_1


Sekarang apa yang harus dirinya lakukan?


__ADS_2