
Siang itu, di dalam Ruangannya, Felix terlihat gelisah dari tadi entah kenapa.
Waktu yang berjalan cukup cepat, jam sudah hampir memujukan pukul setengah dua, Felix yang dari tadi mencoba fokus pada dokumennya itu akhirnya menjadi tidak tahan.
Felix menatap kearah pintu ruang kerjanya itu, yang mana tidak ada seorang pun yang mengetuk dari tadi.
Ini sudah hampir satu jam lebih, apakah menganti makanan bisa menjadi begitu lama?
Felix juga tidak mengerti kenapa begitu kepikiran.
Stella biasanya tidak seperti ini, jika dia mengatakan ingin melakukan sesuatu dia benar-benar akan melakukan sesuatu.
Apa iya dia mampir-mampir dulu entah ke mana?
Namun sebentar lagi jam istirahat juga berakhir.
Hah, sial Kenapa dirinya tiba-tiba kepikiran soal gadis itu?
Felix jika tidak mengerti soal pikirannya tiba-tiba itu entah kenapa menunggu makan siang yang Stella akan belikan.
Karena merasa tidak tahan, Felix sekarang menatap ke arah ponselnya, dan mencari nomor tertentu.
Sial, dirinya baru ingat jika dirinya tidak menyimpan nomor milik Stella, dan bahkan membelokir nomor itu.
Dan sekarang dirinya kebingungan sendiri ingin mencari orang itu dimana.
Akhirnya, Felix menelepon Sekertarisnya yang berada di luar dan bertanya,
'Nyonya Stella? Saya juga tidak tahu dia berada di mana, namun menurut gosip yang baru saja saya dengar, sepertinya ada pertengkaran dengan Tuan Muda Allen di Restoran depan, setelah itu kabarnya Nyonya Stella kembali ke kantor, namun melihat kondisinya sepertinya dia dalam suasana hati yang kurang baik,'
Mendengar penjelasan dari Sekertarisnya itu, ekpersi Felix menjadi berubah menjadi cemberut.
Apa lagi kali ini masalahnya?
Dirinya juga tahu betapa buruknya hubungan antara Stella dan Putranya Allen, sekarang apa lagi ulah yang Putranya Allen itu lakukan?
"Kapan itu kejadiannya?"
'Menurut kabar yang beredar, ini sekitar awal jam Istirahat, beberapa pegawai sedang mengantri membeli makanan juga di Restoran depan melihat hal itu,'
Felix lalu melihat ke arah jam tangannya, ini harusnya sudah lebih dari satu jam dan kenapa bocah itu tidak kembali?
Atau terjadi sesuatu padanya?
Felix sebenarnya tidak mau terlalu memikirkan ini hanya saja....
Hal-hal ini tiba-tiba mengajal hatinya.
Segera, dirinya memeriksa kamera CCTV Perusahaan dan mencari kemana Stella pergi.
Ini...
Berdasarkan hasil pencarian, Stella menaiki lift ke lantai paling atas?
__ADS_1
Felix segera berdiri dari tempat duduknya.
"Sial! Apa yang coba bocah itu lakukan di Atap?"
Tanpa pikir panjang, Felix segera keluar dari Ruangannya dan buru-buru menuju ke lantai atas.
Dan pemandangan yang Felix lihat ketika dia sampai diatap membuat dirinya cukup terkejut, dan tidak tahu harus berkata seperti apa.
Dirinya melihat Stella yang saat ini duduk disekitar dinding pembatas, sambil menagis.
Tangisan itu cukup keras, sampai bisa terdengar oleh Felix.
Sebuah tangisan yang terlihat sangat rapuh, benar-benar berbeda dari Stella yang biasa dirinya lihat.
Sebenarnya, dirinya belum pernah melihat Stella menagis sampai seperti ini, bahkan setelah hari pemutusan Pertunangannya itu.
Stella yang terlihat begitu kuat, bahkan sampai memiliki Ide Gila untuk menikah dengan dirinya.
Stella yang selalu dengan berani tampil didepan orang-orang tanpa peduli apa yang mereka katakan di hari Pernikahan mereka.
Stella yang selalu membuat beberapa kejahilan yang membuat Putranya kesal.
Stella yang selalu mendekati dirinya dengan senyum cerianya itu.
Namun karang melihat penampilan gadis itu terasa sangat menyedihkan.
Dia duduk sendirian disana, entah sudah berapa lama dia menangis.
Ternyata, Stella tidak sekuat yang dirinya kira, ya semua orang selalu memiliki sisi rapuhnya yang tidak akan dia tujukan pada orang lain?
Apakah Stella adalah tipe yang ini?
Dia selalu bersikap semua baik-baik saja, namun sebenarnya perasaannya dia tahan.
Dan sekarang meledak entah bagaimana.
Adegan berikutnya yang Felix lihat, Stella mulai berdiri, dan naik ke dinding pembatas.
Apa yang Stella itu hendak lakukan?
Melihat itu, jelas jantung Felix tersentak kaget begitu cemas, jadi dengan buru-buru, dia mendatangi Stella dan langsung menarik Stella turun kearahnya.
Hal-hal itu benar-benar membuat Stella kaget juga.
Stella awalnya menangis untuk waktu yang lama di sana, sampai dia berdiri dan berniat untuk duduk di pinggir pembatas untuk melenyapkan emosinya dengan melihat arah bawah dan berteriak-teriak mengatakan kekesalannya.
Namun belum sempat dia melakukannya, ada seseorang yang menarik Stella, hingga Stella jatuh dari dinding pembatas, dan menimpa orang yang menariknya.
Stella jatuh pada dada seseorang yang menariknya itu.
Setelahnya, Stella mulai menatap wajah orang yang menariknya itu.
Tatapan mereka bertemu, Stella sendiri yang merasa ada dalam posisi yang memalukan, belum lagi wajahnya yang berantakan karena begitu banyak menangis.
__ADS_1
"Pa.... Paman Felix?"
Felix masih tidak tahu bagaimana cara merespon setelah menatap wajah Stella dari dekat, matanya yang masih memerah terlihat sangat jelas habis menagis cukup lama.
"Apa yang coba kamu lakukan dengan naik ke dinding itu?" Kata Felix lagi dengan nada sedikit cemas dan kesal disana.
Stella lalu mulai menyadari apa yang terjadi depannya itu pikirkan.
Lalu Stella menjadi tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa? Apakah ini lucu menurut mu? Hampir membuatku panik?"
"Paman ternyata sangat perhatian. Tenang saja, aku tidak mencoba hal-hal yang aneh, aku hanya ingin duduk di dinding dan menenangkan diri,"
"Itu berbahaya,"
"Tapi apalagi yang bisa aku lakukan ketika aku begitu sedih? Aku tidak memiliki siapapun disisiku yang mau menghiburku..."
"Kamu memiliki aku,"
Kata-kata itu hanya kata-kata spontan yang Felix katakan, yang tidak terlalu dia pikirkan.
Namun begitu Felix mengatakannya, Felix merasa kata-katanya terlalu memalukan.
Namun dia tidak tahu bagaimana cara menarik kata-katanya barusan.
Stella sendiri cukup terkejut dengan kata-kata itu, lalu segera berkata,
"Jadi Paman mau menghiburku?"
Felix rupanya mengalah dengan rasa malunya itu lalu melanjutkan,
"Jadi apa yang bisa aku lakukan?"
"Biarkan aku memeluk Paman untuk beberapa saat,"
Ekpersi Felix jelas menunjukkan beberapa keterkejutannya dengan permintaan tiba-tiba itu.
Namun sebelum Felix menjawab, Stella sudah menenggelamkan kepalanya pada dada Felix, dan memeluk Pria dibawahnya itu.
Felix tidak mengatakan apa-apa, hanya balas memeluknya, merasakan wanita dalam pelukannya itu kembali menagis, kemudian segera mengelus rambut Stella, dan berkata,
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, kamu adalah wanita yang kuat,"
"Tapi aku tidak sekuat yang Paman kira," kata Stella ditengah Isak tangisnya.
Perasaannya saat ini memang masih sangat sedih, memikirkan hal-hal yang dirinya alami sejak kecil.
Semuanya seolah meledak saat ini.
Namun berada dalam pelukan ini terasah hangat dan sangat nyaman...
Stella diam-diam menikmati ini, berharap kehagatan ini akan berlangsung selamanya....
__ADS_1