Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku

Menikahi Duda Tampan Ayah Mantan Tunanganku
Episode 37: Lebih Dekat


__ADS_3

Siang itu di lantai paling atas, Stella dan Felix saling berpelukan satu sama lain di dekat dinding pembatas.


Pelukan itu berlangsung cukup lama, Stella menangis cukup lama dalam pelukan itu.


Felix sendiri tidak merasa komplain atau merasa terganggu karena tangisan itu.


Hanya memeluk Stella sambil mencoba menenangkan wanita dalam pelukannya itu.


Sampai beberapa saat mereka berdua bertahan dalam posisi itu.


Hingga akhirnya, Stella yang merasa sedikit lega akhirnya melepaskan pelukan itu.


Sekarang tatapan mereka kembali bertemu, dan akhirnya mereka berdua kembali ke realitas mereka.


Felix dululah yang merasa malu paling pertama,


"Apakah kamu sudah selesai menagis? Lihat, kemejaku sampai basah kuyup begini,"


Stella yang melihat Pria yang tadi mama nggak itu kembali ke dirinya semua, segera menghapus air matanya.


"Huh, Paman Felix sendiri tidak tahu bagaimana cara menghibur wanita yang menagis, malah membuat wanita lebih banyak mengais lagi,"


"Kamu itu, aku sudah berbaik hati menjadi bantal untukmu menangis, kelihatannya kamu tidak puas,"


Stella lalu tertawa dan segera bangun dari posisi itu, begitu pula dengan Felix.


Stella lalu berdiri didekat dinding pembatas, menatap ke bawah dan kejauhan dari sana.


Lantai gedung ini tentu saja cukup tinggi, melihat pemandangan dari atas ini sebenarnya cukup indah.


Felix lalu mulai berdiri disamping Stella juga, melakukan hal yang Stella lakukan.


Menatap kearah langit, dan pemandangan dari sana.


Tiba-tiba ada keheningan di sana untuk sesaat, sampai Stella yang tidak tahan dengan keheningan itu mulai bertanya pada pria di samping itu.


"Kenapa Paman tidak peka? Setidaknya bertanya kek, apa aku baik-baik saja, atau bertanya kenapa aku sedih, bukan malah diam saja,"


Felix lalu segera mengalihkan tatapannya kearah wanita disampaignya.


"Kamu itu banyak maunya,"


"Siapa yang bilang aku banyak maunya? Aku bahkan tidak meminta apa-apa,"


Merasa wanita disampaignya itu yang jelas lebih mudah dari dirinya itu jelas tidak berniat mengalah, akhirnya Felix yang mengalah dan mulai bertanya,


"Baiklah, sekarang aku akan bertanya, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Hanya aku barusaja menerima beberapa Informasi tidak terduga,"


"Apa itu? Ini ada hubungannya dengan Allen?"

__ADS_1


Felix jelas merasa curiga jika ini ada hubungannya dengan Putranya, dirinya dengar sebelumnya jika sempat ada pertengkaran di restoran depan kantor.


Kira-kira apa yang mereka perdebatkan sampai membuta Stella menagis begitu menyedihkan seperti ini?


Dirinya sebenarnya memiliki beberapa hipotesis.


Jangan bilang, Putranya Allen itu sempat keceposan soal Kehamilan Cynthia?


Jelas, kabar ini mungkin akan membawa kesedihan yang mendalam pada Stella, yang ternyata sudah dikhianati dan di selingkuh di lebih lama daripada yang Stella kira.


"Aku sebenarnya adalah anak haram dari Keluarga Chastalope, anak dari hasil perselingkuh. Ayah Angkatku yang aku kira hanya Ayah angkat, ternyata dia adalah Ayah Kandungku, yang dulu pernah menjalin sebuah perselingkuhan dengan Ibu Kandungku. Dan bagaimana Ayahku dengan berani membawa aku ke dalam keluarganya sebagai anak angkat, membuat diriku dibenci dari kecil oleh Keluarga aslinya,"


Mendengar hal itu, Felix cukup kaget dan tidak akan pernah menyerah jika ada hal-hal seperti itu.


Tenyata, wanita dihadapanya itu memiliki massa lalu yang lebih gelap daripada yang dirinya kira.


"Bagaimana kamu tahu?"


"Dari Cynthia,"


"Gadis itu? kamu sungguh percaya omong kosong yang mungkin dia katakan? Bisa saja dia hanya mengarang cerita,"


Stella lalu mengeleng-gelengkan kepalanya, dan berkata,


"Tentu saja aku tidak akan pernah percaya pada kata-kata miliknya itu. Namun setelah aku memikirkannya, hal-hal ini terlihat sangat masuk akal, ini menjelaskan begitu banyak hal yang selalu menjadi pertanyaan dalam hidupku selama ini," kata Stella merasa sedikit lega.


"Jadi begitu, walaupun hal hal ini adalah kenyataan yang menyakitkan, namun itu juga membuatmu merasa lega karena akhirnya kamu tahu semua alasan tentang hal-hal yang menimpamu?"


"Stella, kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, lagipula soal Perselingkuhan yang salah adalah Ayahmu, kamu hanya anak yang kebetulan saja terlahir karena hal-hal itu, kamu benar-benar tidak salah apa-apa hanya korban,"


Stella terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata dari Paman Felix itu.


Jadi apakah karena hal itu juga Paman Felix ini masih merawat Allen dengan baik?


Bahkan setelah tahu, jika Allen bukan Putra Kandungnya?


Namun jelas, Stella tidak berani bertanya soal itu di hadapannya langsung.


Hal-hal ini sensitif dari pada yang dirinya kita.


"Ya aku tahu. Entah ini salah siapa, yang bisa aku lakukan hanya menerima kenyataan ini. Namun tetap saja ini semua masih membuatku sangat kesal. Aku benar-benar sangat membenci Perselingkuhan, dan lagi sebelumnya aku sudah mengalami bagaimana itu diselingkuhi, aku merasa cukup iba pada Ibu Angkatku, namun itu bukan alasan untuk dia memperlakukan ku seperti itu,"


"Kamu benar,"


"Sungguh, sampai sekarang aku bahkan masih sangat kesal jika memikirkan perselingkuhan Allen.... Kita berdua mungkin sama-sama pernah mengalami hal-hal ini, jadi aku rasa Paman cukup paham,"


"Siapa yang sama seperti mu? Aku tidak pernah di Selingkuhi," kata Felix tanpa sadar.


"Lalu...."


Felix akhirnya sadar apa yang barusan dirinya ucapkan tentang hal-hal di masa lalu.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan terlalu banyak bertanya, kamu masih bocah nama mengerti,"


"Baik-baik, Paman. Aku tidak akan bertanya lagi. Hanya saja, aku penasaran dengan masalalu Paman,"


"Itu bukan hal yang baik untuk diceritakan. Mari segera kembali bekerja, udah berapa lama waktu yang tepat buang-buang untuk berada di sini melakukan hal-hal yang tidak jelas?"


Melihat Pria didepannya itu jelas mengalihkan pembicaraan, Stella tidak mengatakan apa-apa lagi, dan hanya mengiyakan.


"Tentu, saja mari kembali bekerja,"


Namun tiba-tiba setelah mengatakan itu, perut Stella berbunyi.


Felix jelas mendengar suara perut Stella itu, dan Stella jelas merasa sangat malu.


"Sepertinya kita pergi makan dulu, kamu sepertinya sangat kelaparan,"


Stella yang merasa malu itu tentu mencoba mengelak,


"Bukankah Paman yang lapar?"


"Apa? Aku sungguh tidak lapar,"


Namun setelah mengatakan itu, perut Felix berbunyi.


Sekarang Stella yang tertawa dan Felix yang merasa malu.


Felix menyalakan perutnya yang benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.


"Baik-baik Paman, mari segera pergi makan,"


Felix hanya bisa membuang rasa malunya itu dan mengiyakan.


Siang itu, mereka pergi makan siang bersama, dan Stella lalu saja mencoba menarik perhatian Felix.


Hal-hal itu tiba-tiba berjalan secara natural, bahkan sampai mereka kembali bekerja.


Felix banyak memberikan tugas ke Stella, namun Stella tetap menyelesaikannya dengan baik, jujur itu membuat Felix cukup terkejut betapa cakapnya Stella.


Stella ini, dirinya rasa tidak buruk juga.


Stella yang melihat Felix menatapnya itu setelah dirinya memberikan pekerjaannya, lalu segera mengoda,


"Kenapa Paman Felix menatapku? Apakah sekarang Paman Felix mulai kagum padaku dan menyukaiku?"


Felix yang mendengar itu jelas sekarang menolak.


"Jangan bicara omong kosong, siapa yang menyukaimu? Sana kembali ke mejamu,"


Mendengar itu, Stella lalu tertawa.


Sepertinya, jarak mereka menjadi lebih dekat?

__ADS_1


Ini adalah hal baik.


__ADS_2