
Stella yang mendengar bagaimana Ayahnya itu malah marah padanya, dan bahkan malah menyalahkan dirinya, bahwa dirinya kurang bersyukur itu jelas menjadi marah.
Stella hanya benar-benar tidak mengira jika Ayahnya bisa seperti itu.
Ayahnya yang kelihatannya dari awal sampai akhir tidak mau mengakui dirinya sebagai Putri Kandungnya.
Hanya memanfaatkan dirinya untuk keuntungannya sendiri.
Misalnya, dulu karena wajahnya kebetulan mirip dengan Cynthia, jadi dia membuat dirinya berpura-pura menjadi Cynthia didepan Istrinya itu.
Pada akhirnya, percakapan antara Stella dengan Ayahnya itu tidak berakhir dengan baik, malah hanya membuat Stella semakin sedih dan kesal.
Stella yang sudah tidak tahan dengan kata-kata Ayah Kandungnya itu, segera pergi dari sana dan kembali ke kamarnya merasa jika tidak ada gunanya berbicara dengan orang itu.
Perasaan Stella langsung menjadi begitu sedih, Felix yang awalnya bersantai dikamar itu jelas bisa melihat ekpersi sedih itu.
Kurang lebih dirinya juga sudah memperkirakan hal ini, jika tidak ada yang baik untuk memulai percakapan itu.
"Apakah kamu tidak apa?" tanya Felix yang merasa cukup khawatir setelah melihat ekspresi yang dimiliki Stella.
Stella yang berbaring ditempat tidur itu, tentu saja mendengar ucapan Felix itu, sebenarnya cukup malu untuk penampilannya yang seperti ini dilihat oleh orang lain, penampilannya yang sangat menyedihkan ini.
"Semua percakapan itu sesuai apa yang aku kira. Awalnya aku sudah mencoba untuk mempersiapkan diriku ketika benar-benar mendengarnya namun ketika kenyataan benar-benar ada di hadapanku walaupun aku sudah mempersiapkan hatiku entah bagaimana semuanya runtuh,"
Felix sekali lagi tidak tahu harus merespon seperti apa, hanya bisa berkata,
"Ya, itu pasti berat,"
"Aku benar-benar benci dengan Ayahku sekarang, hanya didepanku dia kadang berpura-pura baik, namun jika sudah ada Ibu Angkatku, dia tidak berbekas kasihan padaku.... Padahal dia juga tau aku Putri Kandungannya.... Tapi dia... Dia bahkan tidak rela mengakui sampai akhir,"
"Dia memang keterlaluan,"
"Memang, jelas aku tahu juga alasannya, mungkin dia takut di usir dari Rumah Keluarga Chastalope oleh Ibu angkatku, semua harta itu adalah milik Keluarga Ibu Angkatku,"
Disana, Stella mulai kembali menagis memikirkan tentang hidupnya.
Felix tentu saja masih ragu untuk menghiburnya.
Dirinya jadi teringat tentang terakhir kalinya gadis itu menangis saat masih memikirkan soal hal yang sama.
Felix yang melihat itu, mencoba menarik Stella dalam pelukannya.
Dan benar saja, Stella menerima pelukan itu, mencoba meluapkan emosi dalam dirinya yang dipendam itu, mencoba menenangkannya diri dari kehagatan yang dirinya terima.
"Aku penasaran, kenapa hanya ada laki-laki Brengsek dalam hidupku, Ayahku yang Brengsek dan Penipu itu, lalu Allen Brengsek yang berselingkuh di belakangku sampai menghamili wanita lain.... Dan bisa-bisanya aku percaya pada mereka berdua...."
Felix yang mendengar itu tentu saja masih tidak bisa merespon, namun kemudian Stella segera melanjutkannya,
__ADS_1
"Dan tentu saja Paman Felix tidak termasuk dalam kategori itu, Paman Felix sangat baik... Ku pikir aku beruntung menikah dengan Paman,"
Mendengar kata-kata itu, Felix minta bagaimana merasa hatinya sedikit tersentuh, namun kemudian dirinya juga teringat beberapa kenangan masa lalu.
Dirinya mungkin termasuk dalam kategori laki-laki brengsek yang Stella katakan?
Hal-hal yang dirinya lakukan dimasalalu mungkin tidak kalah jahat dari orang-orang itu.
"Aku tidak sebaik yang kamu kira. Kamu hanya tidak mengenalku,"
Stella lalu melepaskan pelukannya, dan menatap Felix dengan seksama.
"Tapi aku merasa Paman Felix sangat baik. Entah kenapa sekarang perasaanku bilang begitu,"
"Aku rasa kamu memiliki penilaian yang buruk pada seorang Pria,"
"Kali ini aku yakin, aku yakin tidak salah," kata Stella lagi dengan penuh keyakinan.
"Kamu salah,"
Felix masih mencoba menyangka tentang pernyataan Stella, karena dirinya selalu tidak merasa seperti Pria yang baik, seperti yang Stella kira.
"Kenapa Paman seperti itu? Padahal harusnya Paman senang aku puji seperti itu, Paman itu aneh,"
"Aku melihat kamu sepertinya sudah baikan? Kenapa tidak tidur saja? lupakan hal-hal malam ini dan tidurlah dengan nyenyak tidak ada artinya kamu memikirkan hal-hal itu yang hanya akan merusak hatimu sendiri,"
Stella kata-kata penuh perhatian itu tentu saja menjadi pendiam, namun Stella juga tahu, sepertinya Pria dihadapannya itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Mendengar pertanyaan itu, kali ini Felix yang menjadi terdiam dan teringat kembali pertemuan nya hari ini dengan Richard.
Teringat juga tentang Shopia....
Semua kenangan dari masa lalu mulai perlahan-lahan memenuhi pikirannya.
Perasaan di khianati yang muncul, dan mengakibatkan rasa sakit ketika Felix mulai mengingat hal haji masa lalu.
"Aku tidak ingin membicarakannya,"
Stella juga melihat wajah Felix terlihat menjadi tidak bahagia.
Ini mengingatkan Stella tentang pertemuan tadi siang dengan Pria Misterius itu.
Soal jika Paman Felix tidak seperti yang dirinya kira.
Seperti itu memang memiliki kisah yang panjang...
Stella tidak ingin menebak membuat tentang apa yang terjadi, karena mungkin pernyataan yang sesungguhnya bisa jauh dari sesuatu yang dirinya duga.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, aku mengerti Paman,"
Tidak ada lagi percakapan antara keduanya. Stella mulai berbaring ditempat tidur, tentunya Felix juga merasa sangat lelah karena hari ini emosinya sedang diuji itu, juga ikut berbaring disana.
Stella yang melihat Pria disampaignya itu mulai berbaring, tidak lupa mengambil kesempatan ini.
Stella segera mendekat kearah Felix, lalu mulai memeluknya.
Felix jelas merasa kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu.
"Kamu apa-apaan,"
"Paman diam saja, aku butuh dihibur semalaman jadi biarkan aku untuk memeluk Paman semalaman,"
"Ini terlihat seperti tugas yang berat,"
"Paman terlalu banyak bicara,"
Felix yang juga sudah merasa lelah tidak ingin untuk berdebat lebih banyak.
Dia segera mengalah dan membiarkan Stella memeluknya.
Namun melihat Stella yang perlahan-lahan tertidur dalam pelukannya itu, perasaan Felix menjadi aneh.
Hal-hal seperti ini harusnya tidak bisa terjadi....
Ini salah....
Dirinya tidak memiliki niat untuk dekat dengan Mantan Tunangan Putranya ini...
Namun kenapa begitu sulit untuk mencoba menghindari dia?
Seolah ada lem lengket yang membuat Stella ini selalu menempel pada nya.
Perasaan ini entah kenapa sedikit mengagu dirinya.
Melihat Stella sepertinya sudah cukup lelap tertidur, jelas Felix tidak bisa tidur itu mencoba melupakan pelukan itu.
Dirinya tidak boleh terlalu dekat dengannya....
Cinta nya hanya untuk Shopia.....
Namun bagaimana cara dirinya menjauh?
Felix memiliki pemikiran yang rumit seperti.
Dan ketika Felix berhasil melepaskan pelukan itu, Stella yang merasa kurang nyaman dalam tidurnya itu segera bergerak dan memeluk Felix lagi, membuat Felix kerepotan.
__ADS_1
Sial, kenapa Stella bahkan dalam tidurnya bisa seperti ini?
Dirinya benar-benar tidak tahu bagaimana berurusan dengannya....