MENJADI PENGUASA HUTAN NERAKA

MENJADI PENGUASA HUTAN NERAKA
Part 88


__ADS_3

Sesampainya di hutan perbatasan, kaisar Yongsheng pun di buat tertegun dengan kekacauan besar yang nampak di depan matanya, seratus jenazah prajurit masih bertumpukkan di sana, apalagi dengan kawah besar bekas pertempuran pun masih belum di bereskan.


Kaisar Yongsheng segera mengeluarkan bola hitam dari dari cincin penyimpanan nya, mata dia melotot tak percaya melihat bola hitam itu telah retak.


Dengan tergesa-gesa dia pun segera berlari kesana kesini mencari keberadaan calon permaisuri nya, kaisar Yongsheng sudah menebak jika saat ini Feng May dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Tapi semakin dia mencari, semakin sulit juga baginya untuk mendeteksi aura keberadaan Feng May, aura itu seakan hilang tertelan bumi.


Bola hitam itu pun tak bisa menunjukkan posisi keberadaan Feng May, sejak tadi tak ada sedikit pun cahaya yang memancar dari bola hitam nya.


Sementara di tempat lain, seorang gadis terbaring dengan luka di seluruh tubuh nya, bahkan satu-satunya dentian yang dia miliki pun telah rusak dan berhasil di hancurkan oleh orang lain membuat gadis itu terlihat semakin mengenaskan.


Pria tua berjanggut putih dengan pakaian serba putih pun datang menghampirinya dan segera mengecek nadi gadis itu, mata pria itu terlihat terus berkerut, pertanda dia merasakan hal yang aneh dalam tubuh gadis yang tersedot ke dalam dimensi jiwa milik nya.


Tanpa banyak kata, pria itu segera memasukan pil penyembuh ke dalam mulut gadis itu, dia juga dengan cepat membuat sebuah ramuan dari buah lou han ko yang di percaya kala itu bisa menyembuhkan segala penyakit dan juga menghidupkan kembali seseorang yang sekarat meskipun hanya satu hela nafas yang tersisa.


"Benar-benar gadis yang menarik.." ucap pria itu sambil duduk menghadap ke arah sang gadis, tangan kanannya mengelus janggut putih di dagunya sambil terus saja berkomat-kamit.


Setelah tiga dupa, gadis itu pun mulai menunjukkan kesadarannya, tubuh yang tadi di penuhi luka kini telah sembuh tak berbekas, bahkan kulit nya kini semakin halus dan putih bak porselen.


Mata gadis itu mengerjap perlahan-lahan, tangan nya masih memegangi kepalanya yang terus berdenyut.


Kepingan ingatan yang belum sempurna membuat gadis itu berkali-kali memukul-mukul kepalanya sambil menggeleng.


"Kau sadar juga akhirnya gadis kecil!" ucap pria tua itu sambil memandang si gadis yang kini mulai mencoba untuk bangkit duduk di hadapan pria tua.


"Hmm.." sangat singkat ucapan dari gadis itu hingga membuat si pria tua itu berdecih sesaat sambil memalingkan pandangannya.

__ADS_1


"Dimana ini?" tanya si gadis sambil menatap tajam pada si pria tua.


"Ini adalah dimensi kecil milik ku!" ucap si pria tua dengan sombong.


Berharap gadis itu akan terkejut dan juga kagum dengan dimensi milik nya, sayang sekali gadis itu tak melakukan apa yang di inginkan si pria tua dan hanya mengangguk kecil pertanda paham.


"Kau yang menolong ku?" tanya gadis itu kembali masih dengan nada yang sama, pria itu pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan gadis itu.


"Siapa nama mu?" kali ini pria tua itu bertanya dengan sangat serius.


Gadis itu hanya tertawa mendengar pertanyaan yang di ajukan pria itu, sambil sedikit menggulung lengan hanfu nya.


"Jika aku mengatakan siapa diriku, maka aku yakin kau tak akan percaya kakek tua!" ucap nya di selingi seringaian kecil.


"Hahaha... Kau benar-benar iblis kecil yang menarik" ucap pria tua itu sambil tertawa terpingkal-pingkal hingga ujung matanya tertarik dan menyipit.


Gadis itu pun mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Kau tahu pria tua? Namaku Alicia Ricardo, aku seorang jendral dan telah mati. Tapi jiwaku berkelana dan menempati tubuh seirang putri terbuang bernama Feng May, kemudian aku kembali mati, tapi sepertinya neraka pun enggan menerima ku dan mengirimkan kembali jiwaku pada tubuh seorang putri yang di ramalkan akan menjadi petaka dari sebuah kekaisaran. Namaku sekarang Xiu Juan" ucap gadis itu sambil tertawa paksa.


"Aku melihat ketangguhanmu gadis kecil, meskipun dentianmu telah rusak tapi kau masih memiliki kekuatan tubuh yang sangat bagus" ucap kakek Baiyin


Xiu Juan hanya menggeleng sambil meluruskan kedua kakinya.


"Aku harus segera kuat agar bisa meratakan kekaisaran bulan. Bukankah mereka mempercayai ramalan dari pria bau tanah itu yang mengatakan bahwa aku adalah sumber petaka dan juga kekacauan yang akan terjadi di kekaisaran bulan? Kali ini aku akan memperlihatkan pada mereka seperti apa petaka yang bisa ku buat" ucap Xiu Juan


"Jika begitu aku akan membantu mu gadis kecil, mulai sekarang kau bisa menjadi murid ku. Saat ini kesadaranku semakin menipis, dan aku mungkin akan segera menghilang dari dunia ini dalam waktu yang tak lama lagi" ucap nya.

__ADS_1


Xiu Juan pun segera berdiri dan menuangkan teh kedalam cangkir, kemudian melakukan penghormatan sebagai seorang murid terhadap gurunya.


Xiu Juan juga menyerahkan teh di dalam cangkir itu sebagai wujud dari pengakuan nya terhadap Baiyin, sang guru.


"Masuklah ke dalam kolam obat yang ada di sana, dan ingat! Sesakit apa pun itu kau harus berusaha untuk menahannya, jika kau kehilangan kesadaran mu, maka kau akan mati!" ucap Baiyin.


Tak menyia-nyiakan waktu, Xiu Juan pun segera melangkahkan kakinya menuju kolam obat itu dengan langkah yang tegas dan yakin.


Bau herbal menyeruak dari kolam yang berwarna hijau karena ramuan itu, Xiu Juan melangkahkan kakinya terus ke dalam kolam dan langsung merendam seluruh badan nya, hanya menyisakan kepalanya saja.


Tak lama rasa sakit dan juga perih mulai menjalar dari tubuh Xiu Juan, dia dengan sekuat tenaga menjaga kesadaran tubuh nya, bahkan kini giginya mulai bergemelutuk merasakan siksaan dari kolam obat.


"Aaaakh.." terdengar teriakan demi teriakan yang terus menggema disana, tapi Xiu Juan tak patah srmangat, meskipun kali ini tubuhnya semakin lama semakin sakit, tapi dia mengukuhkan niat nya dan juga meyakinkan dirinya sendiri akan menjadi kuat demi bisa membalaskan dendam pada seluruh kekaisaran Bulan.


Kratak...


Kratak...


Kraak...


Setelah 7 hari menahan sakit dan perih, di hari ke delapan tubuh Xiu Juan mulai terasa seperti seluruh tulang nya di remukkan, hancur berkeping tanpa sisa.


Xiu Juan berusaha berpegangan pada atas kolam agar tak tenggelam, karena tubuh nya di buat benar-benar rapuh tak bertulang.


Tangannya terlihat menggapai-gapai sesuatu yang bisa menjaga tubuh nya agar tetap stabil di tempat.


"Aaaakh.." teriakan Xiu Juan kembali menggema, gadis itu merasakan kesakitan yang lebih sakit bahkan lebih dari peristiwa kematian yang menimpanya di dua kehidupan sebelum nya.

__ADS_1


__ADS_2