
Malam Zhidan masih saja migat apa yang dikatakan oleh adiknya itu,Zhidan berjalan kearah lemari, dan membukak laci itu,Zhidan mengambil selembar photo yang satu-satunya yang dia punya kebersamaan nya dengan Mekar waktu Sekolah.
"Hanya ini yang aku miliki sekarang,dan kenangan kita yang tidak pernah aku lupakan tentang kita, sampai sekarang aku belum bisa membuka hati ini untuk gadis manapu, masih nama kamu yang masih bersarang dihati ini." kata Zhidan megusap photo kebersamaaannya berdua itu.
"Aku harus apa Mekar, tidak bisa melupakan kamu, ditanya aku bisa iklas kerena kepergian kamu,aku pasti jawab tidak Mekar, sampai sekarang aku tidak bisa mengiklas dirimu,walau dunia kita sudah berbeda, aku masih sama seperti dulu mencintaimu." tangis Zhidan pecah disaat seperti ini, duka yang mendalam bertahun-tahun dia semuyikan sendiri hanya orang terdekat saja yang tahu tentang kesakitan itu, setiap hari dirinya tampak baik saja tapi tidak dengan hatinya, dia melihatkan kesemua orang tidak ada apa-apa terjadi pada dirinya sampai saat ini hanya Zaki dan Syarif yang tahu tentang Mekar.
"Apa aku harus melupakan kamu Mekar?itu tidak mungkin akan aku lakukan!!Aku tahu kamu tidak tenang disana tapi perasaan ini tidak bisa membohongi diriku sendiri." kata Zhidan dengan linangan air mata, disaat seperti ini dirinya sangat rapu, seperti inilah setiap hari yang terjadi jika sepi menemaninya,Zhidan sangat rapuh.
"Aku akan mencoba mulai saat ini untuk meniklaskan kamu,tenanglah kamu disana, sampai kapanpun aku akan mengingat kenangan kita." ucapnya pada selembar photo itu.
Zhidan mulai megemas barang-barang peninggalan Mekar saat kebersamaan mereka saat itu,kini semua ini hanya masa lalu untuk Zhidan, hanya sebuah nama itu tidak akan bisa terhapus dari hatinya, nama itu akan tatap ada dihatinya untuk selamanya.
Zhidan megemas itu semua, dan meyunsun kedalam kotak dan meyipannya jauh darinya agar tidak bisa terlihat lagi, dia tidak memampang lagi kenangan itu di dekatnya agr dia bisa melupakan itu semua, mengikhlaskan kepergia Mekar.
Zhidan Masuk ke gudang dia meyipan barang-barang yang berhubungan Dengan Mekar didalam gudang rumah miliknya itu, disatu tempat yang tidak akan ada yang bisa membukak tempat itu.
"Hari ini kamu istirahatlah dengan tenang sayang, aku akan mencoba sekuat aku, agar kamu nyaman disana." kata Zhidan menutup lemari itu lagi.
"Semoga dikehidupan lain nantik kita bisa bertemu dan bersatu Mekar, walau didunia ini kita tidak ditakdirkan untuk bersama,kamu bukan jodoh untukku." kata Zaki lagi sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Nak apa yang kamu lakukan dari gudang?" tanya Buk Mai.
"Aku baru saja meyipan semua kenangan Mekar Buk,agar aku bisa mengikhlaskan dia, aku juga ingin dia tenang disana, aku akan mencobanya buk." kata Zhidan agak kurang semagat berjalan kemeja makan yang dekat dengan gudang itu.
"Tidak apa nak,sudah waktunya kamu untuk melupakan masa lalu itu, yang tidak akan membuat dia kembali lagi,biarkan Mekar tenang disana." kata Buk mau, megusap punggung putranya itu dengan senyuman.
"Iya buk, aku akan mencoba, untuk kebaikan diriku sendiri."
"Ibu yakin kamu pasti bisa sayang,sudah bertahun-tahun kamu hidup dalam masa lalu itu, ini sudah saatnya kamu untuk membuka lembaran baru untuk kehidupan kamu, untuk masa depan kamu, dan ibu juga ingin kamu bisa mencari gadis sebaik Mekar lagi Nak, lihatlah adik kamu sekarang sudah bahagia dengan keluarga kecilnya, ibu juga ingin melihat kamu hidup bahagia seperti Tari." jelas buk Mai pada putranya itu.
"Semoga saja setelah ini aku bisa menemukan jodoh yang baik seperti Mekar buk, agar aku bisa melupan dia." kata Zhidan pada ibunya.
"Yakinlah pada yang diatas nak, mungkin bukan Mekar jodoh untuk kamu, tapi ada yang lebih dari Mekar, itu semua sudah rencana yang diatas nak." kata Buk Mai lagi mengingatkan Putranya itu.
"Terimakasih buk selalu mengingatkan itu semua, aku bangga punya ibu yang selalu mengerti kami." kata Zhidan memeluk ibunya itu.
__ADS_1
"Sekarang Makanlah,ibu pangil Ayah kamu dulu, biar makan malam bersama kita.
"Ibu duduk sini saja biar aku yang pangil Ayah. " kata Zhidan Berjalan kearah kamar Ayahnya saat ini.
Mereka bertiga makan malam sambil bercerita,sampai selesai mkan malam itu, mereka semua bersantai diruang tengah rumah milik Zhidan itu,melanjutkan obrolan mereka tadi dimeja makan dengan segelas kopi dimeja menemani mereka malam ini.
Gio datang lagi bersama Syarif yang juga baru dari rumah sakit yang disuruh Gio untuk mengantikan dia.
"Asalamualaikum...!! salam mereka berdua.
"Walaikumsalam...!! jawab Zhidan dan ibunya dari dalam.
"Ehhh lo,ngapain kesini?udah malam ini. " kata Zhudan santai.
"Jagan gitu bro, gue lagi suntuk saja dirumah." kata Gio duduk disampingnya itu.
"Lo ngapin kesini Sya?suntuk juga?" kata Zhidan lagi.
"Gue memang ingin kesini seminggu ini gue tidur disini saja dari sendiri diapetemen, lebih baik disini, ada bibik dan paman." jelasnya pada Sepupunya itu.
"Pukkk...!! "
"Enak aja lo ngatain gue datang bulan, jaga mulut tu jika ngomong." balas Zhidan santai.
"Sangaka gue lo lagi datang bulan." senyum Gio pada sahabatnya itu.
"Diam lo,gue tabok pakek bantal ini baru rasa."
"Ep Jangan dong!! " kata Gio lagi.
"Lo emosi aja Idan, kenapa sih?" tanya Syarif lagi.
"Kalian berbicanglah kita masuk dulu ya." kata Ibunya Zhidan masuk dan ayahnya kekamar.
"Masak masuk bik, kita baru datang bibik masuk!!! " kata Syarif lesu.
__ADS_1
"Kamu istirahatlah dimeja makan sudah ada lauk sana kalian makan dulu, nak Gio juga makan sana." kata Buk Mai, senang melihat mereka bertiga.
"Bentar lagi buk,kita mau berbicang dulu, ibuk kalau mau istirahat, pergilah." kata Gio sopan dan ramah pada orang tua sahabatnya itu.
"Ya sudah kita masuk dulu, jangan lupa makan malam dulu nak. " kata ayahnya Zhidan berjalan masuk ke kamarnya.
"Idan,lo gak bisa lama kayaknya disini Minggu ini akan ada audit data perusahaan untuk semua cabang perusahaan kita, lo sebagai ceo diperusahaan di Inggris harus kembali, kerena gue gak mau, perusahaan gue ada yang memaafkannya, disini sudah ada yang bermain dengan kita." kata Gio pada sahabatnya itu.
"Gue sudah bilang sama lo dari beberapa bulan yang lalu tapi lo menyikapinya dengan santai, ya elo sendiri saja yang bekerja, perusahaan gue aman-aman saja sampai saat ini, kerena gue tegas sama karyawan gue."kata Zhidan santai.
"Elo tahu siapa yang bermain di diperusahaan cabang yang di canada?" kata Gio pada sahabatnya itu.
"Lo coba bukak tu Imell yang gue kirim dari dua bulan yang lalu, makanya jangan terlalu sibuk dengan Kekasih lo, jadi mengabaikan ini semua."
"Anrit lo, mana gitu setan,lo tahu kita pada sibuk gurus Tari beberapa bulan ini, mana ada gue sempat lihat itu." kesal Gio pada Sahabatnya itu.
"Lo nikah aja dulu tu sama Ajeng dari pada pikiran lo ngelantur kemana-mana, jadi gak konsen jika bekerja, unjung-ujungnya gue juga yang lo suruh urus semua." kata Zhidan acuh saja berkata gitu.
"Jika dia mau gue ajak nikah, udah gue nikahan dia dari dulu bro!! namun dia mintak gue menjalankan hubungan kita satu tahun ini, apa gue betul-betul serius sama dia." jawab Gio lagi.
"Maka lo dari dulu serius sama Ajeng,gue tahu dari zaman kuliah dia itu cinta mati ama lo, tapi lo aja yang gak peka atas perasaan dia, maka sekarang dia jadi kurang yakin sama lo." jelas Zhidan pada Gio.
"Itu sudah kebiasaan dia dari dulu, mana ada dia peka sama perasaan orang, kadang gue jadi kasihan sendiri sama Ajeng, jika ingat dulu,dia menagis kerena lo gak pernah membalas rasa suka dia sama lo,setiap harinya lo hanya sibuk, bekerja, megurus perusahaan orang tua lo, kita tahu hanya elo yang bisa ada di keluarga lo setelah kecelakan orang tua lo, tapi elo juga tahu batas untuk hati lo, dan sedikit membalas persaan Ajeng." jelas Syarif pada Gio, baru kali ini Syarif megatakann semua tentang diri ajeng pada Gio.
"Kenapa lo gak pernah cerita sama gue Sya?gue gak pernah tahu selama ini,gue memang suka sama dia dari dulu, tapi gue juga berpikir dia tidak pernah suka sama gue."kaget Gio
"Baru tahu lo,makanya luangkan waktu lo Gio untuk orang yang lo cintai." kata Zhidan.
"Lo harus juga Idan, sampai kapan lo akan larut dalam masa lalu yang akan membuat lo selalau megenangnya, itu tidak akan membuat dia bisa kembali lagi pada lo,iklaskan itu Idan, sudah saatnya lo untuk mengikhlaskan Mekar, biar dia pergi dengan tenang." kata Syarif menatap sepupunya itu.
"Gue selalu akan berusaha Zya. " kata Zhidan sendu.
"Ini kenapa?ada yang gue tidak tahu?apa yang elo sembunyikan dari gue selama ini Idan ?" tanya Gio tidak tahu tentang Zhidan.
************
__ADS_1