MENTARI HILANG DI UPUK SENJA

MENTARI HILANG DI UPUK SENJA
Acara lamaran Gio


__ADS_3

Siap magrib mereka hari ini akan ikut acara lamaran Gio kerumah orang tua Ajeng, Zaki dan tari hari ini juga ikut dengan mereka semua kerena keluaga dari Tari yang dimintak oleh Gio untuk melamarkan Ajeng untuk menjadi istrinya.


Sebelum berangkat Tari bersiap dikamar lebih dahulu, Zaki melihat istrinya itu lagi berdandan sedikit cantik, Zaki senang Tari tamapak cantik Seperti saat ini dengan hijabnya den berbalaut tumbuh kecil itu dengan Sar'ihnya yang cantik dan sedikit berkesan mewah.


"Kamu cantik sekali Sayang!! " puji Zaki melihat istrinya itu berdandan beda malam ini.


"Cantik dari mananya mas,aku biasa saja." kata Tari menjawab kata suaminya itu.


"Benar kamu sangat cantik, aku gak bohong sayang."kata Zaki lagi.


"Mas kamu ini, membuat aku malu saja!! " jawab Tari sedikit tersipu malu pada suaminya itu.


"Cepatan sayang Kamu bersiapnya entar kita terlambat,ini sudah lewat jam tujuh, pangil tu Lira sekalian, apa dia jadi ikut kita malam ini?" kata Zaki.


"Sabar bos, suami ku, CEO tampanku." canda Tari pada suaminya itu.


"Benar seprti itu,aku dimata kamu?" kata Zaki lagi terseyum saja mendegar kata istrinya barusan.


"Ya benarlah suamiku yang tampan."kata Tari duduk dipelukanmu Zaki yang lagi duduk disofa tidak jauh dari kaca hiyasnya itu.


Tari merangkul kedua tangannya dileher suaminya itu dengan senyuman dibibir cantik itu.


"Jangan menggodaku sekarang, nantik kita bakal tidak jadi kerumah Ajeng." kata Zaki mengingatkan istrinya itu.


"Siapa yang mengoda kamu CEO tampan,aku ingin dedikit bermanja saja,dan sedikit ingin memeluk kamu." kata Tari santai berada dipelukan suaminya itu.


"Apa mau kamu sayang?" kata Zaki tahu keinginan istrinya itu.


Zaki mencium bibir tipis istrinya itu dengan lembut sebagai tanda dia sangat meyayangi istrinya itu.


"Terimakasih sudah kembali mengasih aku enaergi lagi, kata Tari manja dipelukan suaminya itu.


"Kamu tambah lama,kamu sudah sangat berani dengan ku sayang." kata Zaki memeluk pinang istrinya itu yang ada dipankuanya itu.


"Sudah saatnya kita berangkatnya Mas!! "kata Tari mengingatkan suaminya itu.


"Ya sudah, kamu turun dulu dari pahaku sayang, jika kamu seperti ini bagai mana kita akan pergi." kata Zaki lagi.


"Lupa!! " cigigir Tari.

__ADS_1


"Ahh kamu mau yang lebih bukan, jika itu nantik kita sambung lagi pulang dari acara lamaran Gio." bisik Zaki ditelinga istrinya itu.


Tari hanya tersenyum saja mendegar kata suaminya itu,yang selalu membuat dia senang berada disisi suaminya itu.


"Ayok kita turun kebawah sayang, pangil gadis nakal itu, seharinya bikin Reza kesal saja sama dia." kata Zaki berkata sambil berdiri dari duduknya.


"Ya sudah, kita turun sekarang." kata Tari ikut dibelakang suaminya itu berjalan ke lantai bawah.


Sampai bawah Tari sudah melihat Lira sudah menunggu mereka berdua, Lira hanya santai saja melihat pasangan yang ada dihadapanya itu.


"Kamu cantik sekali hari ini Dek?" kata Tari pada Lira.


"Ya tentu dong Mbak, masak aku mau ketemu Om ganteng, masak gak cantik, bagai mana bisa aku mendaptkan hatinya Mbak!! " kata Lira suka asal.


"Kamu ini ngomongnya suka asal." kata Tari memang butuh sabar sama Lira.


"Itu kenyataannya lho mbak, aku suka sama itu si om tampan, tapi dia orangnya sangat susah untuk mendapatkan hatinya,dingin bangat." kata Lira Kurang semagat.


"Maka berjuang untuk kamu bisa memenagkan hati si om itu." sambung Zaki juga ikut-ikutan dalam pembicaraan mereka.


"Kamu ini satu,biarkan saja jadi urusan Lira sama Di om tampannya itu, kamu Jagan ikutan." kata Tari pada suaminya itu.


Setelah sampai mereka langsung menuju rumah Ajeng,menempuh Jarak Tidak sampai 30 menit kerumah Ajeng.


"Lo kok gak tenang gitu dari tadi gue perhatian sih Gio? Lo gerogi ya?" tanya Zhidan pada Gio.


"Bagai mana tidak Idan, hari ini hari penentuan dia apa terpilih jadi menatu dikeluarga Ajeng." kata Syarif menganggu sahabatnya itu.


"Diam lo Sya, bikin gue cemas saja lo." kata Gio.


"Yang benar saja putra kita setampan ini tidak diterima oleh keluarga Ajeng Buk." kata Pak Rahman pada istrinya yang ikut bicara dalam perjalanan mereka menuju rumah Ajeng.


"Maka rugilah keluarga mereka kalau sampai tidak menerimanya Pak." canda buk Mai pada Gio.


"Sudah buk jangan lanjutkan lagi pembicaraannya, lihat wajahnya sudah sepeti kepiting rebus." kata Pak Rahman ketawa melihat wajah Gio sudah sangat gelisah dan merasa takut jika benar apa yang mereka bicarakan barusan.


"Sudah, jangan lo pikirkan, didengar dulu dari pihak keluaga Ajeng nantik, janag cemas gitu kepa lo Sih Gio! " kata Zhidan.


"Lo gak Bakal bisa merasain apa yang gue rasakan saat ini." kesal Gio pada Zhidan.

__ADS_1


"Kalau Zhidan dia bakal jadi bujang lapuk tu seumur hidupnya memikirkan Mekar sampai tua,sudah ada Lira yang suka sama dia mala dianggurin !! " kata Syari Tidak bisa diam mulutnya itu.


"Diam lo, jangan bicara lagi." kata Zhidan kesal.


"Yang benar saja Kamu Sya, Lira suka sama Zhidan?" tanya Ibuk Mai.


"Benar Bik,apa bibik mau gak Lira jadi menatu Bibik?" kata Syarif lagi.


" Ya pasti lah, gadis itu sangat baik, tingkahnya suka asal itu membuat bibik tambah suka sama dia,dia itu gadis yang baik nak, jika itu benar kamu mau." kata Ibunya Zhidan .


"Apaan sih buk."


"Ayah juga mendukung jika kamu sama Lira." kata Ayahnya itu.


"Ahhh kalian ini sama saja,kenapa semua orang menjodokan gue sama tu gadis ." kata Zhidan tidak abis pikir.


"Mana saja lo jodoh sama tu Lira. " Sambung Syarif lagi.


"Diam lo Sya,pusing kepala gue dengar lo bicara." kata Zhidan lagi.


Tidak lama mereka semua sampai di rumah Ajeng, yang sudah ditunggu kedatangan oleh keluaga Ajeng malam ini dengan ramah.


Setelah Satu jam mereka melakukan dan pembicaraan lamaran akhirnya selesai juga acara itu, hati Gio tengan saat ini sudah diterima lamarannya oleh keluaga Ajeng, mungkanya yang takut tadi sudah berubah sangat senang.


Saat ini mereka semua lagi menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh keluarga Ajeng, Zhidan Yang tidak jauh duduk dari Lira masih juga memperhatikan gadis itu, sambil menyuap makanan di mejanya itu.


"Lo memang gak suka sama tu gadis, tapi dari tadi gue perhatiin lo masih saja melihatnya." kata Gio lagi membuat Zhidan sedikit kaget.


"Lo ini bikin gue kaget saja, pelan napa tu sih mulut lo bicara." kata Zhidan pada Gio yang tersenyum padanya.


"Ya biarkan saja biar tu Lira dengar sekalian, itu juga keluaga lo suka tu sama gadis itu, apa salahnya lo mencoba." kata Lagi.


"Diamlah Gio, nantik gue sumpal ni mulut pakai keripuk ini. " kata Zhidan sangat malas menderagar kata sahabatnya itu.


"Coba lo pikir sendiri, lo renungi,selama bertahun-tahun lo mikirkan tentang Mekar, apa yang lao dapat hanya kesedihan dan rasa bersalah lo,lo harus bisa lupakan dia, coba lo sedikit saja pikirkan gadis lain dihati lo, pasti lo akan mendapatkan kebahagia lain dari biasanya Idan." kata Gio sedikit santai bicara dan mengigatkan sahabatnya itu,biar Zhidan tidak selalu sepeti ini.


Lama Zhidan terdiam oleh perkataan Gio barusan,ada benarnya juga kata sahabatnya itu, bertahun-tahun dia memikirkannya Mekar tapi rasa sedih dan bersalahnya bertambah besar pada Mekar yang tidak akan pernah kembali lagi padanya.


******************

__ADS_1


__ADS_2