
Satu bulan setelah insiden memilukan itu, Damian dan Grace mulai melanjutkan hidup. Berhasil keluar dari zona keterpurukan, Grace menjadi sedikit pendiam.
Terkadang sikap cuek Grace menyusahkan Damian. Ingin meminta jatah tapi tidak bisa karena sikap dingin Grace.
Apalagi setelah Lucas menyatakan Grace benar-benar sembuh total, membuat Damian bersemangat. Sebulan berpuasa membuat juniornya tersiksa. Damian tak berniat mencari pelampiasan, karena hanya Grace yang bisa memuaskan birahinya.
"Sayang, makan sarapan mu. Kita harus segera berangkat. Ingat, hari ini kak Lucas akan menikah!" seru Grace lembut, sifatnya berubah menjadi keibuan. Grace yang gemar membangkang dan bar-bar telah mati.
Damian tersenyum, lalu menarik Grace sampai menabrak dada bidangnya. "Ini masih pagi, jangan memulainya sayang!"
Alih-alih patuh, Damian malah mendaratkan sebuah ciuman di pagi buta. Diraupnya bibir pink natural itu dengan rakus, membuat Grace sesak tidak bisa memasok oksigen.
"Sayang, berikan jatah ku. Sudah lama aku ingin itu!" rengek Damian, tidak tahan dengan sikap dingin Grace.
"Kenapa kau tidak pernah bilang. Baiklah kita lakukan nanti malam!" serunya, mengedipkan sebelah mata dan membelai lembut dada bidang Damian. Menggoda.
"Kau berubah!" Semudah ini, tahu begini Damian meminta jatah dari kemarin.
"Aku masih sama, sayang. Aku hanya ingin menjadi ibu yang lebih baik. Maaf, jika kamu tidak nyaman dengan perubahan sikap ku!"
"Tidak masalah, asal istri ku tidak melupakan aku!" katanya. Mendaratkan kecupan berulang-ulang di semua bagian wajah.
"Sekarang, ayo sarapan. Kita akan terlambat nanti. Aku tidak ingin mengecewakan kak Lucas dan Kate!" Damian mengangguk singkat. Membiarkan Grace menuntunnya ke meja makan.
"Kau sudah menyiapkan hadiah untuk mereka?" tanya Grace lagi. Damian mengangguk, "yah, aku menghadiahi mereka salah satu rumah sakit milik ku!"
Sedikit tercengang, namun tak se- terkejut itu. Grace mulai terbiasa dengan kehidupan seorang Damian. Hadiah mewah seakan menjadi tradisi keluarga Wilson.
Damian hendak mengajaknya keluar, namun Grace berhenti di tempat. Tak bergeming. "Sayang, bagaimana jika kita memulai semuanya dari awal. Malam ini!" Damian menautkan sebelah alisnya, tak mengerti arah pembicaraan sang istri.
βApanya?β tanya Damian, membuat Grace melengos kesal. "Membuat anak!" ketus Grace langsung. To the poin tanpa kode ataupun isyarat. Gelak tawa terdengar nyaring, Damian tak menduga Grace mengajaknya secara terang-terangan.
"Baiklah, kau mau berapa ronde, baby. Aku akan melayani mu dengan segenap jiwaku!" bisik Damian, mengusap lembut bibir Grace dengan ibu jari. Menatapnya dengan penuh arti.
"Tentu saja seperti biasa, aku rindu sifat liar mu sayang!" Grace tersenyum nakal, menggoda suaminya. Damian menatapnya datar, namun mendaratkan kecupan singkat di seluruh bagian wajah Grace. Gemas.
Semakin lama semakin turun, membuat beberapa bekas kemerahan di leher Grace. " Sayang! jangan sekarang. Kita akan pergi ke tempat ramai," ucap Grace, mendorong pelan tubuh Damian. Membuat jarak.
Tingkahnya yang malu membuat Damian gemas. Akhirnya merekapun pun keluar dari kamar. Damian merangkul pinggang ramping Grace, turun kebawah bak pengantin baru yang habis melalui malam pertama.
Di ruang tamu, Adam menunggu tuan dan nyonya mudanya sembari menggendong Xavier. "Dam berikan Xavier padaku!" pinta Damian, Adam menoleh memberi hormat kepada mereka sebelum menyodorkan Xavier kedalam pelukan sang ayah.
Keduanya berjalan berdampingan, dengan ditemani beberapa bodyguard. Adam bergegas membuka pintu mobil, mempersilahkan mereka masuk. Mobil merah darah itu melaju sedang membelah jalanan kota New York.
Mereka tidak sendiri, dibelakang satu mobil hitam berisi 10 bodyguard membuntuti atas perintah Damian. Yah semenjak kejadian tak mengenakkan itu, Damian bertindak lebih waspada tidak ingin kejadian itu terjadi untuk kedua kali. Baginya Grace adalah segalanya.
Mendengar erangan Grace, Adam melirik ke atas spion. Melihat bos dan nyonya mudanya menempel seperti perekat membuatnya menjadi tenang. Ia berpikir Grace yang memiliki sifat pemalu dan pemberontak sudah kembali.
Jauh dalam relung hatinya, Adam merindukan Grace berbuat onar. Selama satu bulan terakhir, wanita itu berhasil mengacaukan kehidupan Damian.
__ADS_1
Kepalanya berdenyut sejak satu bulan terakhir. Sebab hampir setiap hari Damian mengeluh tentang perubahan sikap istrinya.
Melihat situasi yang terjadi sekarang. Adam yakin semua sudah kembali seperti semula. Kebahagiaan terpancar dari bias wajah sang tuan muda. Akhirnya setelah sekian lama Adam bisa tidur dengan tenang.
...π¦π¦π¦π¦...
Setibanya mereka di tempat acara. Damian menyuruh Grace merangkul lengannya. Sepi, sebab Lucas bukanlah figur publik seperti Damian dan Peter.
Lucas pria sederhana yang bekerja di rumah sakit kota. Memang kaya, tapi pria itu tidak menunjukkan kehidupan mewahnya pada dunia.
Memang tidak ada wartawan di sini. Namun deretan mobil mewah berjejer rapi memenuhi halaman depan gedung bercakar langit. Dipastikan tamu yang di undang bukan dari kalangan menengah kebawah.
Grace mengamati lingkungan sekitar, dekorasi sederhana namun terlihat mewah dan elegan. Semua dekorasi yang terpasang memang atas permintaan Kate sendiri.
Sesuai dengan kepribadiannya yang sederhana, anggun, dan berkelas. Grace bisa mendengar grasak-grusuk bisikan dari beberapa tamu. Mereka berniat menyewa wedding organizer yang sama karena suka dengan dekorasi yang ada.
Kehadiran Damian dan Grace menjadi pusat perhatian. Tak sedikit pula para pebisnis baru mendekati mereka untuk sekedar menyapa. Banyak juga yang berkata manis, hendak mencari muka. Grace menanggapi mereka semua dengan senyum tipis.
Tapi tidak dengan Damian. Dia tahu maksud dari pebisnis-pebisnis itu. Muak, tapi Damian sudah terbiasa.
"Ayo kita ke sana!" ajak Damian. Menarik pergelangan tangan Grace dan membawanya naik keatas pelaminan.
"Selamat atas pernikahan kalian!" Grace memeluk Kate, ikut andil dalam kebahagiaan mereka.
"Terimakasih Grace." jawab Kate.
"Kau tidak mengucapkan selamat padaku dude? ah iya kau kan batu mana mungkin bisa bicara. Ngomong-ngomong terimakasih atas hadiah rumah sakit yang kau berikan pada kami. Jika bisa berikan aku salah satu perusahaan mu!" cibir Lucas tak tahu malu. Sudah di beri hati malah meminta jantung.
"Grace! bulan depan aku akan mengadakan program kehamilan untuk ibu-ibu. Kau mau bergabung, aku tidak memaksa. Aku berpikir kau mungkin tertarik ikut." tawar Kate.
"Tentu saja aku mau, kau tahu aku ingin merasakan hamil untuk yang kesekian kali." jawab Grace cepat, matanya berbinar menyiratkan semangat.
"Baiklah, aku akan mengabari mu jika aku sudah menentukan tanggal yang pasti!" Grace mengangguk.
"Sayang! jangan membahas pekerjaan di momen kebahagiaan kita. Bukankah aku menyuruh mu untuk cuti selama beberapa bulan?"
"sayang, aku kan sudah bilang acaranya bulan depan. Jangan khawatir aku akan tetap fokus padamu!" cibir Kate, kemudian mencium singkat bibir pria yang baru saja menyandang status sebagai suaminya itu.
"Kau lebay sekali!" Damian menyahut, membuat orang yang disinggung mengumpat tak jelas.
Obrolan mereka tersanggah ketika mendengar suara cempreng Rachel menyapa. "Apa kami datang terlambat?"
"Yah kau sangat terlambat!" kekeh Grace, kemudian memeluk erat sahabatnya.
Dibelakang terlihat Keenan menggandeng dua wanita penting dalam hidupnya. Abigail dan Belle, mereka tampak seperti keluarga bahagia.
Melihat Keenan beberapa kali menawarkan ini itu untuk di makan Belle membuat Grace yakin jika pria itu telah jatuh cinta hati pada kakaknya.
Entah hanya perasaan atau bagaimana, wajah Belle terlihat berseri memancarkan aura kebahagiaan yang ketara. Tunggu bukan hanya wajah, namun sepertinya tubuh Belle juga nampak berisi.
__ADS_1
Apa Belle hamil? melihat wanita itu mengusap perut yang sedikit memuncak, membuat Grace semakin yakin jika kakaknya itu tengah isi.
"Kak, apa kau..?" menggantungkan kalimatnya. Melihat Belle mengangguk malu-malu. Sontak Grace menghampiri Belle.
"Wah selamat, kenapa kau tidak tidak pernah memberitahu ku?" kesal Grace, mengerucutkan bibirnya tebal.
"Aku juga baru tahu kemarin Grace!" jawab Belle lembut sambil memeluk adiknya. Melepas rindu.
"Aku jadi iri!" lirih Grace, namun masih bisa di tangkap oleh pendengaran Belle.
"Shuttt...kau tidak boleh iri Grace. Aku yakin sebentar lagi kau akan hamil. Mungkin Tuhan memberkati mu dengan anak kembar. Jadi bersabarlah!" kata Belle, menenangkan adiknya.
"Sudah hentikan acara melodinya, ini acara bahagia. Jangan menangis dan membuat mereka khawatir!" lanjut Belle Grace mengangguk tiga pertanda jika dia paham.
"Dimana Ara?" tanya Belle celingak-celinguk mencari adik iparnya.
"Hai semua! Ratu dan sang pangeran telah datang!" heboh Ara, sambil menggenggam tangan Alessio. Keduanya melewati pintu utama dan menghampiri keluarga.
Dibelakang sana Steven menggelengkan kepala sembari mengusap dadanya sabar. Tidak menyangka sikap kekanakan istrinya membuat seluruh pasang mata menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.
"Akhirnya dia datang, meskipun sangat terlambat." cibir Lucas, disetujui mereka yang berada di atas pelaminan.
Kedatangan Ara dan juga Alessio semakin membuat pesta pernikahan Lucas dan Kate meriah. Suara cempreng gadis itu benar-benar bisa terdengar sampai penjuru ruangan.
"Bagaimana kalau kita mengambil foto bersama?" tiba-tiba Ara menyarankan ide. Berhubung dia bertemu dengan keluarganya di sini. Ara rasa mereka harus foto bersama.
"Baiklah, tapi siapa yang akan mengambil fotonya?" tanya Lucas. Ara terdiam sejenak, lalu mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Sorot matanya tertuju pada arah samping. Tepat di mana Adam berada.
"Adam saja, dia kan jomblo akut!" tunjuk Ara. Adam mengusap dadanya sabar, menarik napasnya panjang-panjang guna menetralisir rasa kesal yang menjalar ke seluruh jiwa dan raga.
"Ara! jangan bercanda!" tegur Damian.
Ara terkekeh, "maafkan aku, jangan diambil hati ya. Aku hanya bercanda!"
"Tidak masalah nona!" seru Adam seraya membenahi dasinya.
"Kemari! ikut foto bersama kami!" ajak Grace. Adam tersenyum tipis lalu ikut bergabung kedalam barisan.
"Tuan bisa kau mengambil foto untuk kami?" Grace meminta pertolongan salah satu pelayan yang bertugas.
"Tentu nona!" pelayan tersebut tersenyum, dan mengambil kameranya.
"Tolong berhitung ya!" pinta Ara. Pelayan itu mengangguk paham.
"Satu.... dua....tiga.... cekrek!"
Gambar seluruh teman dan keluarga diambil dihari pernikahan Lucas dan Kate. Masing-masing dari mereka tersenyum penuh kebahagiaan, bahkan Damian dan Peter pun tersenyum tipis sambil merangkul pundak istrinya masing-masing.
Perjuangan Damian membuktikan jika usaha tidak akan pernah sia-sia. Luka memang berakhir dengan duka. Tapi bukan berarti kita tidak pernah sembuh. Sesakit apapun luka yang kita alami, pasti akan sembuh jika kita mau menyembuhkan luka itu sendiri.
__ADS_1
...The End...