
"Sialan! di mana Brian?" gerutu seorang gadis cantik berbalut baju pengantin bewarna putih. Bias kegelisahan terlihat jelas di wajah yang sudah di poles make up tipis itu.
Pasalnya acara pemberkatan akan segera di langsungkan dan mempelai pria masih belum datang. Sudah satu jam Serra menunggu. Namun, sang pujaan hati tidak kunjung datang.
"Serra, di mana Brian?"tanya seorang wanita paruh baya berusaha memendam amarah. Tidak ingin memarahi Serra di waktu bahagia.
"Aku tidak tau mom. Brian bilang dia masih dalam perjalanan!" jawab Serra. Matanya mulai berkaca-kaca. Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Antara kecelakaan atau melarikan diri. Serra takut Brian mengalami salah satu dari dua alasan itu.
Persiapan acara sudah selesai. Kursi tamu pun tidak ada yang kosong. Semua orang mulai berbisik-bisik. Kesal, lantaran acara tidak kunjung di mulai. Seandainya acara pernikahan ini di batalkan bisa tercoreng nama keluarga mereka. Apalagi Serra merupakan tokoh publik figur yang di gemari masyarakat luas. Serra seorang model dan aktor terkenal.
"Dua jam lalu kau juga mengatakan hal yang sama. Kau yakin Brian tidak melarikan diri?" sungut Rachel mulai meninggikan suara. Lelah mengahadapi sifat keras kepala putrinya ini.
"Brian tidak mungkin meninggalkan ku mom! Kami berdua saling mencintai. Dia tidak akan meninggalkan ku sendiri!" sanggah Serra.
Ting!
Serra bergegas membuka layar ponsel tatkala melihat satu pesan baru masuk. Mungkin saja pesan itu dari Brian.
My future husbandđź–¤
maaf Serra, aku tidak bisa datang sekarang! Ada masalah penting yang harus aku tangani. Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti!
Sontak seluruh tubuh Serra lemas seketika. Handphone itu terjatuh dari tangannya. Serra terduduk di tempat dengan tatapan kosong.
"Ada apa?" tanya Rachel khawatir. Mengambil handphone Serra dan membaca pesan singkat yang di kirimkan Brian.
Mata Rachel membulat dengan sempurna. Tidak menyangka Brian meninggalkan Serra di hari pernikahan. "Kau lihat! Brian meninggalkan mu Serra!" sentak Rachel.
Habis sudah kesabarannya. Dari awal Rachel tidak suka Serra menjalin hubungan dengan Brian. Tapi, Serra malah merengek pada sang ayah dan memaksanya merestui hubungan itu.
"Brian tidak mungkin meninggalkan ku mom. Tidak mungkin...aku akan menghubunginya kembali dan menyuruhnya datang." Serra meraih ponselnya dan kembali menghubungi Brian.
__ADS_1
"Sadarlah Serra, Brian tidak ingin menikahi mu. Sudah berapa kali mommy peringatkan. Tapi kau tidak menanggapi ku dan malah merengek pada ayah mu. Sekarang mommy harus bagaimana? katakan Serra, mommy harus berbuat apa?" sentak Rachel di iringi isak tangis yang terdengar ironi.
Rachel menangisi masa depan Serra yang mendekati kata kehancuran. Siapa yang mau menikah dengan gadis yang di tinggal pergi mempelai pria. Belum lagi Serra juga seorang model terkenal. Bisa hancur karir yang sudah Serra bangun dengan susah payah.
"Ada apa ini?" Peter datang menghampiri anak dan istrinya. Tadinya Peter ingin bertanya pada Serra tentang Brian. Namun, Peter melupakan niat dan malah fokus pada pertikaian antara anak dan ibu.
"Sayang, lihat kelakuan Putri mu. Ini semua terjadi karena kau terlalu memanjakannya. Dia jadi gadis keras kepala yang tidak mau menurut pada orang tua.” Teriak Rachel terus memarahi Serra.
“Apa maksudmu Re?” tanya Peter dengan dahi berkerut. Tidak mengerti arah pembicaraan Rachel.
“Brian, kekasih putri mu itu melarikan diri. Dia tidak ingin menikah dengan Serra.” Jelas Rachel. Sontak Peter membulatkan mata. Terkejut mendengar pernyataan Rachel barusan. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak karena terlalu shock.
Serra menghapus air mata dan mendekati sang ayah. “Dad, kau tidak papa?” Tanya Serra kala melihat ayahnya memegang dadanya erat dengan wajah yang amat pucat.
“Menyingkir!” Rachel mendorong Serra dan menuntun Peter duduk di pinggiran ranjang.
Serra mengambil segelas air hendak menyerahkan pada Daddy. Tapi mommy lebih dulu menyahut gelas sambil menatapnya dengan sorot mata sinis.
"Berhenti memarahi putri ku Re. Lihat dia, kau membuatnya menangis." suara lirih Peter terdengar. Pria paruh baya itu membela Serra.
"Kau masih membelanya? “Tanya Rachel geram. Pasalnya di saat Serra membuat kesalahan sebesar ini Peter masih membela.
“Aku tidak tega melihat wajah sedih putri ku. Jadi jangan memarahinya.” Ujar peter. Terdengar lirih, namun sorot matanya menatap Rachel dengan penuh penekanan.
“Sekarang aku tidak mau mendengarkan siapapun apapun. Serra harus menuruti ku!" sahut Rachel cepat. Tidak ingin di bantah ataupun di sanggah.
"Apa yang kau inginkan mom? aku akan menuruti mu." jawab Serra tanpa pikir panjang. Tak enak hati setelah menyebabkan masalah sebesar ini.
"Aku akan meminta bantuan Grace. Agat dia mau membujuk Xavier menjadi mempelai pria. Kau harus menikah dengan Xavier." ucap Rachel bak memberi ultimatum.
"Mom....aku mau menuruti semua permintaan mu kecuali yang satu ini. Aku tidak mau menikah dengan Xavier." tolak Serra dengan mata berkaca-kaca. Di saat-saat menegangkan seperti ini. Apakah Serra masih berhak memilih?
__ADS_1
Mendengar penolakan putrinya Rachel mendelik. Menatap Serra dengan sorot mata penuh kemarahan. "Mommy tanya padamu, apakah kita masih ada pilihan lain, Serra?"
Gadis itu terdiam di tempat. Yang mommy katakan benar adanya. Dia tidak punya pilihan lain selain menurut. Tapi kenapa harus Xavier, kenapa tidak pria lain saja.
"Aku tidak mencintai Xavier mom. Aku tidak mau menikah dengannya." masih merengek. Menolak keputusan sang ibu.
Peter masih membisu, menenangkan diri sebelum ikut andil dalam perdebatan itu. Jauh dari dalam lubuk hati, Peter mau Serra menikah dengan pemuda bertanggung jawab seperti Xavier. Tapi Serra malah memilih Brian dan menolak Xavier dengan alasan dia tidak akan bahagia hidup bersama sepupunya itu.
Peter tidak memaksakan kehendak. Baginya, kebahagiaan Serra itu paling penting. Karena itu Peter terpaksa merestui hubungan Serra dan Brian.
"Mommy tidak peduli. Cinta atau tidak kau harus mau menikah dengan Xavier. Lagi pula ini semua mommy lakukan demi kebaikanmu." ujar Rachel. Jujur saja Rachel tidak begitu peduli tentang reputasi keluarga. Yang dia khawatirkan adalah masa depan putri kesayangannya itu. Rachel keluar kamar meninggalkan mereka berdua.
Serra menundukkan kepala. Menumpahkan tangis dalam diam. "Kemari sayang!" Peter menarik pergelangan tangan Serra. Menyuruh gadis kecilnya duduk di samping. Peter tidak tega melihat Serra sedih.
“Dad, aku tidak mau menikah dengan Xavier." Serra mengadu. Berharap daddy mau membela dan menghentikan langkah mommy.
Peter terdiam sejenak sebelum menggerakkan telapak tangan, mengusap rambut hitam Serra dengan penuh kasih sayang. "Sayang, kenapa tidak di coba dulu?"
Serra mendongakkan kepala. Jadi daddy mendukung keputusan mommy. Padahal Serra berharap daddy mau membela dan menghentikan keputusan mommy.
"Dengarkan daddy nak. Kita tidak punya pilihan lain sekarang. Brian meninggalkan mu dan para tamu sudah menunggu. Dad tidak ingin putri kesayangan dad ini malu." menjelaskan maksud dari kalimatnya. Peter tidak membela Rachel.
"Tapi dad.."
"Selama ini dad selalu menuruti semua keinginan mu dan tidak menuntut apapun. Kali ini bisakah Daddy meminta sesuatu?"
"Turuti mommy mu dan menikahlah dengan Xavier. Lebih baik daddy mati dari pada melihat putri kesayangan Daddy ini di permalukan." Peter meraih kedua telapak tangan Serra dan menggenggamnya dengan erat.
Serra membisu, tidak tahu harus menjawab apa. Yang daddy katakan benar. Selama ini kedua orangtuanya tuanya tidak pernah menuntut apapun dan selalu menuruti semua keinginannya. Tidak bisakah Serra gantian menuruti mereka sekarang.
"Baiklah, aku akan menikah dengan Xavier!"
__ADS_1
TBC