
Setengah jam menunggu, akhirnya pintu kamar mandi terbuka. Keenan keluar dengan keadaan rambut yang basah. Tanpa memakai atasan, sehingga Belle bisa melihat perut seksinya dengan jelas.
"Sudah selesai? sekarang antar aku pulang." teriaknya sambil mendelik tajam ke arah Keenan.
Bukannya menuruti permintaan wanita itu Keenan malah menaikkan sebelah alisnya. Mengambil handuk kecil yang tergantung di lemari pakaian.
"Keringkan rambut ku terlebih dulu, baru setelah itu aku akan mengantarmu." balasnya seraya melemparkan handuk tersebut ke muka Belle.
Hening, Belle meraih handuk tersebut dengan kasar. "Keenan bangsat!" umpatnya. Lalu, menyuruh pria itu untuk mendekat.
"Cepatlah, aku tidak punya waktu untuk meladeni pria merepotkan seperti mu!" gunjing Belle sarkasme. Tidak peduli apakah Keenan sakit hati atau tidak karena ucapannya itu.
Alih-alih tersinggung dengan perkataan Belle. Keenan malah tersenyum penuh kemenangan, setidaknya wanita itu bisa dia manfaatkan sekarang. Atau lebih tepatnya Keenan senang Belle menetap lebih lama.
Belle menggosok kepala Keenan dengan menggunakan handuk. Awal mula gerakan tangan Belle sangatlah lemah dan nyaman. Tapi lama kelamaan gosokkan itu semakin cepat dan kencang. Membuat Keenan sakit kepala seketika.
"Sudah, sekarang antar aku pulang. Abigail membutuhkan ku dungu!" ujar Belle tatkala merasa rambut Keenan sudah kering.
"Ayo!" Keenan mengambil kaos lengan pendek bewarna hitam. Tampan sekali, Keenan sangat cocok dengan pakaian santai.
Belle mengikuti langkah Keenan dari belakang. Akhirnya setelah melewati banyak rintangan, pria itu mau menepati janji dengan mengantarnya pulang ke mansion Damian.
jarak antara apartemen Keenan dan mansion tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit. Dan selama setengah jam itu keduanya sama-sama membisu. Tidak ada percakapan lagi. Hanya ada suara deru napas saja.
"Kau yakin tidak ingin menemui putri mu meskipun hanya sebentar saja?" tanya Belle begitu sampai di halaman mansion.
"Tidak!" jawab Keenan ragu.
"Padahal putri mu Sangat ingin bertemu dengan mu. Kau tidak merasa kasihan padanya?" tanya Belle memelas.
"Sesuai dengan kesepakatan kita, aku akan menemui putri mu nanti setelah pekerjaan ku selesai." jawab Keenan tanpa menatap mata sayu Belle.
"Kau harus menepati janji mu. Abigail sudah sangat merindukan ayahnya. Jadi aku mohon, jangan kecewakan putri ku!"
Setelah berkata demikian Belle keluar dari mobil Keenan dan masuk kedalam mansion Damian. Keenan sempat terdiam kala mendengar perkataan Belle barusan.
"Maaf, tapi aku tidak ingin kalian terluka dengan tinggal bersama ku!" gumamnya. Sebelum akhirnya kembali menancap gas dan pergi menjauh dari mansion Damian.
...🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1
Malam semakin larut, semua orang kebingungan mencari keberadaan Belle. Abigail terus menangis mencari ibunya. Kini semua orang berkumpul di ruang tamu. Mencoba menghubungi nomor telpon Belle.
"Di mana Belle, aku akan membawa Abigail ke kamar. sepertinya dia mulai kelelahan dan mengantuk." ucap Ara. Tangannya tak berhenti menepuk-nepuk punggung bergetar milik Abigail. Mencoba meredakan tangis anak kecil itu.
Damian dan Grace hanya mengangguk singkat. Membiarkan Ara pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kak Belle!" panggil Grace.
"Kak! dari mana saja kau?"
Terlihat dari arah pintu masuk Belle datang dengan keadaan yang memprihatinkan. Tatapan wanita itu kosong, di tambah rambutnya berantakan dan bekas kemerahan memenuhi area lehernya.
"Apa Keenan melakukan hal yang buruk pada mu kak?" tanya Grace. Hatinya teriris melihat kondisi Belle sekarang.
"Tidak Grace. Kami hanya mengobrol sebentar dan membuat kesepakatan!"
"Kesepakatan apa?"
"Keenan mau menemui Abigail tapi ada harga yang harus aku bayar." ujar Belle dengan suara dan raut muka sedih.
"Bayaran?" Belle mengangguk.
"Jadi apa Keenan berubah pikiran? apa dia mau bertanggung jawab?" tanya Grace memastikan.
"Tidak, keputusannya masih tetap sama. Ini pertemuan pertama dan terakhir mereka Grace. setelah itu aku dan Abigail akan kembali ke London." ujar Belle menjawab.
Grace menatap Belle iba. "Tidak usah khawatir Grace. Aku bisa membesarkan Abigail sendiri!"
"Kau yakin bisa melakukannya kak?"
"jika selama 4 tahun saja bisa, kenapa tidak untuk 40 tahun ke depan. Terimakasih atas bantuan mu karena mempertemukan aku dengan ayah kandung Abigail."
"Dimana Abigail?" celingak-celinguk mencari putri kecilnya.
"Abigail menangis karena kau pergi cukup lama, karena lelah menangis dia tertidur. Ara menemaninya di atas!" Belle mengangguk mengerti, ia menyeret kakinya menaiki tangga menuju kamar tamu yang ada dilantai dua.
Belle sengaja tidak memakai lift, agar kakinya lelah dan dia bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan masalah yang menimpa dirinya.
"Kak Elle akhirnya kau datang juga!"
__ADS_1
Belle tersenyum tipis, "maafkan aku Ara, pasti merepotkan mengurus anak nakal seperti Abigail. Sekarang kau bisa istirahat biar aku yang menjaga anak-anak!"
"Iya kak, panggil aku jika Alessio mencari keberadaan ku. Aku akan pergi makan malam sebentar!" Belle mengiyakan dan membiarkan Ara pergi.
Penglihatannya terpaku pada Putri semata wayangnya. Matanya berkaca-kaca mengingat semua penolakan yang dilontarkan Keenan tadi.
"Kak Elle temani aku makan, aku tidak tahu ternyata makan malam bersamanya sudah selesai!" secepat mungkin Belle menghapus air matanya dan tersenyum manis pada Ara.
"Aku akan menemanimu!" seru Belle kemudian duduk di samping Ara.
"Apa semuanya baik-baik saja kak?" sontak Belle menoleh.
"Semuanya baik-baik saja Ara, mataku kemasukan debu tadi makanya terlihat seperti menangis!" dalih Belle menambah sebuah senyuman diakhirnya guna meyakinkan wanita yang akan menjadi saudara iparnya.
"Kalau begitu bagaimana jika kita makan bersama saja?" Ara menaik turunkan alisnya, membuat Belle tidak bisa menolak karena gemas.
"Okey."
Dengan susah payah Belle menelan makanan yang tersaji. Bertemu dengan Keenan membuat napsu makannya menghilang. Padahal sedari pagi Belle tidak menelan apapun. Tapi perutnya masih kenyang sampai sekarang.
"Ara sebenarnya aku sudah makan diluar tadi. Aku sudah kenyang, kau lanjutkan saja makan mu. Aku akan mandi!"
"Ya."
Belle masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat. Ia menyalakan shower dan berdiri di bawah guyuran air tersebut. Sontak tangisnya pecah,
tanpa membuka pakaiannya Belle meringkuk dibawah lantai membiarkan air shower mengguyur tubuhnya.
Rasanya Belle ingin angkat tangan melawan semua masalah yang diberikan tuhan kepadanya, namun masih ada satu nyawa yang harus ia pertahankan.
Belle rela melewati jalanan yang dipenuhi batu bara dan pecahan kaca hanya untuk membahagiakan Abigail. Besok ia akan membawa Abigail bertemu Keenan untuk yang pertama dan terakhir kalinya.
Semoga semuanya berjalan lancar tanpa lika liku, dan Belle bisa melanjutkan hidupnya seperti semula.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏
__ADS_1